
Cayaha Matahari sudah bersinar terang sedari tadi, tetapi damar biru masih belum juga menumbangkan pohon yang berada dihadapannya.
Meskipun pohon itu sudah terpotong lebih dari separuh sehingga memunculkan sebuah goresan yang sangat besar, tetapi tidak ada tanda tanda bahwa ia akan tumbang.
Pikiran damar biru sedari tadi teralihkan kepada warga desa saat ia merasakan kehadiran beberapa orang yang tidak diketahui tingkat kekuatannya, ia takut bahwa mereka adalah musuh yang datang untuk meratakan desa itu.
Mengingat bahwa tidak ada satupun dari warga desa adalah seorang kultifator membuat kecemasan damar biru memuncak, ia tidak ingin desa itu akan bernasib sama dengan desa yang dulu ia tinggali.
"Guru, sampai kapan kau terus mengaliri energi kehidupan ke pohon itu, jika seperti ini terus maka sampai malam tiba aku tidak akan bisa menumbangkan pohon itu."
Damar biru menyadari bahwa gurunya selalu mengalirkan energi kehupan yang membuat pohon itu tidak kunjung tumbang, kesabarannya sekarang sudah menipis seiring dengan kekhawatiran nya terhadap warga desa
"Tenang saja, tidak sampai satu jam kau akan dapat menumbangkan pohon ini. Dan juga, orang orang yang datang ke desa ini bukanlah para penjahat tetapi sekelompok pedagang"
"Dari mana kau tau bahwa mereka bukanlah orang yang berbahaya?"
"Tentu saja aku tau, aku berada pada kasta dewa dan kau masih meragukan ku? Dasar bocah"
Damar biru mendengus kesal, ia sangat membenci watak gurunya yang sangat suka membanggakan kekuatannya. Hal itu membuat damar biru ingin sekali memutus jalinan mata hatinya agar ia tidak bisa mendengar ocehan gurunya, tetapi bila itu terjadi tentu saja ia yang akan merugi.
Siapa yang menyangka perkataan gurunya terbukti benar, setelah satu jam berlalu pohon itu akhirnya tumbang, damar biru bergegas pergi kembali ke desa kabut hitam.
Di depan rumah kepala desa damar biru melihat ada sekitar sepuluh kereta kuda yang membawa barang, dan tiga kereta kuda untuk penumpang.
Ia segera masuk kedalam rumah itu, disana ia melihat ada lima orang laki laki serta dua orang wanita. Kelima pria itu adalah para pedagang sedangkan wanita yang duduk di hadapannya adalah lembayung dan Sekar Cendana.
"Damar Biru, dari mana saja kau tidak pulang semalaman. Aku mencarimu keseluruhan desa tetapi tidak ada yang melihat mu?"
__ADS_1
Sesaat setelah damar biru sampai, Sekar cendana menariknya keruangan yang berada di sebelahnya dan memberikan berbagai macam pertanyaan.
Damar biru menggaruk kepalanya lalu perlahan mulai menjelaskan kepada Sekar cendana bahwa ia semalam pergi untuk berlatih di hutan. Meskipun awalnya Sekar Cendana tidak percaya ia lebih memilih bungkam dan kembali ke tempat lembayung dan kelima pedagang itu.
"Tuan tolong kurangi sedikit lagi harganya, setelah sekian lama akhirnya ada pedagang yang mampir ke desa ini. Desa kamu sangat membutuhkan bahan makanan itu"
Lembayung berucap dengan nada putus asa, ia sudah mengumpulkan uang dari seluruh warga di desa ini tetapi jumlahnya tidak lebih dari dua keping emas.
Semenjak kedatangan hewan siluman, warga desa kehilangan mata pencaharian nya. Mereka tidak dapat lagi menjual hasil panen sehingga tidak dapat menghasilkan uang sama sekali. Mereka hidup hanya mengandalkan tumbuhan dan buah buahan yang berada di hutan yang mengelilingi desa meskipun puluhan binatang siluman mengintai.
"Maaf tetapi kami tidak dapat menjual dengan harga serendah itu, dua keping emas hanya cukup untuk membeli satu kereta kuda sedangkan kau menginginkan tiga kereta kuda dengan harga yang sama"
Sekar cendana sangat ingin membantu tetapi ia menyadari persediaan uang nya sangat terbatas, Ia tidak tau akan berapa lama berada di luar istana sehingga persediaan uangnya pasti akan habis.
Sekar cendana masih terus berfikir, sampai suara seorang tiba tiba mengejutkan sebuah orang.
Damar biru tiba tiba datang dan berdiri di hadapan kelima pedagang itu, ia sudah menyadari dari awal bahwa desa ini pasti tidak akan mampu membeli barang yang mereka bawa.
"Apakah kau bercanda, semua barang yang kami bawa bernilai sepuluh koin emas. Mana mungkin kau mampu membelinya"
"Aku bilang berikan semua barang yang kalian bawa, karna kalian tidak percaya kepada ku baiklah"
Damar biru melemparkan kantung berisi koin emas kepada para pedagang itu, Semuanya terkejut sekaligus bertanya tanya bagaimana mungkin damar biru mengeluarkan banyak koin emas tanpa berkedip.
Sedangkan Sekar Cendana mengira bahwa koin emas itu adalah uang saku yang diberikan oleh ayahnya untuk bertahan hidup, ia tidak tau bahwa damar biru memiliki cincin dimensi yang berisi gunungan koin emas. Koin emas sebanyak itu tentulah tidak ada artinya untuknya.
"Aku tidak menyangka ada orang yang memiliki uang yang banyak berada di desa ini"
__ADS_1
Para pedagang itu tersenyum puas saat menghitung koin emas itu yang jumlahnya ada 15 koin, ia mengira bahwa damar biru pastilah bukan berasal dari desa ini.
Mengeluarkan koin emas dengan begitu mudah pastilah ia berasal dari kalangan atas, karna tidak ingin menyinggung damar biru para pedagang itu segera mengajak mereka untuk pergi mengambil barang yang telah mereka beli.
"Aku akan menyuruh orang ku untuk memindahkannya"
"Tidak perlu, tinggalkan kereta kuda itu disini. Bukankah aku sudah membayar lebih"
Kelima pedagang itu saling menatap, tentu saja mereka membutuhkan kereta kuda itu untuk mengangkut barang dagangan mereka setelah ini.
"Tidak bisa, setelah ini kami akan pergi ke desa tetangga untuk mengangkut barang dagangan yang akan kami ambil, jika kami ingin membeli kereta kuda lagi tentu tidak cukup dengan lima keping koin emas"
Lembayung yang mendengar hal itu langsung mendekati Damar Biru dan menggelengkan kepalanya agar damar biru tidak lagi mengeluarkan uang untuk desa ini. Ia merasa tidak akan bisa membalas jasa damar biru jika terus menerus membantunya.
Damar biru sudah menduga hal ini akan terjadi, saat para pedagang itu mengetahui damar biru dapat mengeluarkan koin emas dengan mudah pastilah mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Pergilah"
senyum mereka sangat cerah saat damar biru melemparkan kantung kecil lainnya yang berisi 20 koin emas kepada pedagang itu. Lembayung yang melihat hal itu tidak bisa berkata kata, ia tidak mengira bahwa damar biru akan memiliki uang sebanyak itu.
Para pedang itu akhirnya pergi, sedangkan para warga akhirnya mendekati kediaman kepala desa dengan penuh harap, saat mereka melihat tumpukan bahan makanan di atas kereta kuda membuat mereka semua gembira.
Tetapi para warga desa tidak mengerti mengapa dua keping koin emas dapat membeli sebanyak ini.
Damar biru mengajak Sekar Cendana kembali ke penginapannya, ia sudah berpesan kepada lembayung bahwa warga desa tidak ada yang boleh tau bahwa ia tengah membantunya.
Damar biru segera masuk ke dalam kamar, ia segera membersihkan seluruh tubuhnya dan tidur pulas setelah nya.
__ADS_1