
Sudah beberapa jam semenjak Damar Biru mulai berburu binatang siluman, tenaganya sudah terkuras habis sehingga ia terkulai lemas dibawah sebuah pohon besar.
Sudah tak terhitung binatang siluman yang berhasil ia bunuh, berkat senjata pusaka yang diberikan oleh Panglima Langit, serta kemampuannya mengendalikan elemen udara dengan sangat baik membuatnya dapat bertahan tanpa luka.
Dari delapan elemen yang ia miliki damar biru baru menguasai secara penuh elemen udara, gurunya berkata bahwa ia baru bisa mempelajari elemen berikutnya jika sudah tergolong mahir dalam menggunakan elemen tersebut.
Tepat pukul tengah malam Damar Biru kembali ke penginapan, ia duduk di kasur sambil menyilangkan kakinya. Damar biru berusaha mengatur nafasnya yang sesak karena berlari cukup lama dari hutan yang letaknya cukuo jauh.
Ia mengeluarkan beberapa batu berwarna merah darah dari cincin dimensinya, batu itu adalah batu siluman yang ia dapatkan.
Batu siluman merupakan batu yang berasal dari tubuh hewan siluman, jika batu itu diambil maka hewan siluman itu akan mati seketika karna seluruh kekuatannya berada pada batu tersebut.
Jika manusia menyerap kekuatan yang berasal dari batu itu maka ia akan memiliki sebagian kekuatan dari binatang siluman saat masih hidup.
Semakin kuat hewan siluman maka semakin mahal pula harga dari batu itu, karna binatang siluman yang Damar Biru bunuh hanya berada pada tingkat bumi maka harga dari batu itu hanya beberapa keping koin perak.
"Dua batu siluman yang kau ambil adalah milik hewan siluman trenggiling dan harimau, jika kau menyerap kekuatan nya maka pertahanan dan kecepatan mu akan meningkat"
Perkataan Panglima Langit seperti angin segar di telinga Damar biru, pantas saja gurunya menyuruhnya untuk memungut batu itu. Ternyata batu siluman itu sangat berguna untuk nya.
Damar biru menggenggam kedua batu itu di kedua telapak tangannya. Perlahan tubuhnya diselimuti oleh cahaya berwarna merah, damar biru merasakan sensasi hangat yang menjalar dari telapak tangannya mengalir keseluruhan tubuh.
Tiba tiba pusat energi ditubuhnya bergejolak seperti ombak di lautan, pusat energi kehidupan di tubuhnya seolah olah menolak kekuatan yang berasal dari batu siluman itu. Keringat membanjiri pelipis Damar Biru, jika terus seperti ini maka pusat energi kehidupan di tubuhnya akan meledak dan ia akan mati seketika.
Damar Biru mencoba cara lain, ia lalu mengalirkan kekuatan yang berasal dari batu itu ke area kaki serta kulit diseluruh tubuhnya. Tanpa ada yang menduga cara itu membuat reaksi pusat energi kehidupan di tubuhnya mulai melemah dan berhenti.
"Sepertinya kau juga mendapatkan bonus kenaikan level"
Ucapan panglima langit membuat Damar Biru sangat terkejut, pasalnya baru beberapa hari yang lalu ia naik ke level 5 sekarang ia sudah kembali naik level selanjutnya.
Orang normal biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk naik level, tetapi hal itu tidak berlaku bagi keluarga kerajaan yang membuatnya dapat naik level dengan cepat akibat dari sumber daya yang melimpah. Sedangkan Damar Biru karena kondisinya yang abnormal sudah sewajarnya hal itu dapat terjadi.
Setelah selesai berkultifasi Damar Biru membaringkan tubuhnya dan berusaha untuk tidur.
__ADS_1
Di lain tempat Sekar Cendana masih termenung didepan jendela kamarnya, ia masih memikirkan kondisi desa ini yang sangat memprihatikan.
Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat kondisi separah ini meskipun beberapa kali ia keluar dari istana bersama pangeran Bara ataupun kedua orang tuanya.
Hal ini membuat hati kecilnya merasakan kesedihan yang mendalam. Ia lalu bertekad tidak akan meninggalkan desa sebelum kondisi desa ini mulai membaik.
Ia berfikir untuk memberikan koin emas yang ia miliki, disisi lain hal itu tidak akan banyak membantu karena masalah utama dari desa ini adalah adanya binatang siluman yang membuat warga desa tidak dapat pergi keluar dari desa ini.
Sekar Cendana berencana mengajak Damar Biru untuk berburu binatang siluman pada esok hari, jika Damar menolak ia akan memaksanya bagaimana pun caranya.
Keesokan paginya saat matahari baru akan terbit Sekar Cendana menggedor pintu kamar Damar biru, ia berencana untuk berburu binatang siluman pada saat seperti ini karena ia ingin menggunakan daging binatang siluman itu untuk dijadikan sarapan bagi penduduk desa.
Perlahan pintu mulai terbuka, seorang pemuda yang berada di balik pintu itu terlihat sangat kelelahan dengan mata merah serta pakaian yang beberapa sisinya dipenuhi oleh tanah.
"Apakah semalam kau mengigau hingga berguling guling di tanah?"
"Apa maksudmu?. Matahari saja belum terbit dan kau sudah menggangguku"
"Cepatlah ganti pakainmu dan kita akan berburu bintang siluman, aku berencana memasak daging binatang siluman itu untuk sarapan para warga desa"
Damar biru hanya menatap datar ke arah wanita di hadapannya, ia memiliki lebih dari cukup daging binatang siluman yang ada di cincin dimensi miliknya hasil dari ia berburu semalam.
Saat Sekar Sendana akan mengatakan sesuatu. Damar menutup pintu kamarnya dengan keras yang membuat Sekar cenca mundur beberapa langkah karna terkejut.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin membuat wajahku benjol?. Dasar pria kasar" Sekar Cendana memukul pintu kamar Damar biru dengan sangat keras, ia tidak menyangka seorang putri sepertinya di perlakukan seperti itu.
"Biarkan aku tidur sampai beberapa jam lagi, aku berjanji akan membuatkan daging panggang sesuai dengan keinginan mu."
"Aku tunggu dua jam dari sekarang, jika kau berbohong maka aku akan membakarmu hidup hidup"
Sekar Cendana lalu kembali kekamar nya dengan perasaan marah dan kesal membuat suhu di sekitarnya meningkat pesat, meskipun ia sangat ingin menyeret Damar Biru agar mematuhi ucapannya, ia sadar bahwa sekarang ia bukan berada di istana dimana ia bisa melakukan hal yang dia inginkan sesuka hatinya.
Sekarang ia berada di tempat asing, sehingga ia akan menjaga emosinya dengan sengat baik. Tiba tiba ia merasakan kerinduan yang mendalam terhadap kedua orang tuanya, serta kakak laki lakinya, ia berfikir apa yang sedang di lakukan mereka semua. Apakah mereka juga merindukannya?
__ADS_1
Sekar Cendana rasanya ingin kembali sekarang juga ke istana, ia baru pergi selama sehari dan ia sudah teramat merindukan keluarganya. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan sampai beberapa tahun.
Sekar cendana bertekad untuk segera mencapai tingkat praktik semesta agar ia dapat segera pulang.
Tanpa terasa dua jam telah berlalu, Sekar cendana sudah sampai di depan pintu kamar Damar Biru saat seseorang tiba tiba memanggil dari belakang.
"Apakah nona mencari tuan Damar?"
Suara seorang gadis mengagetkan Sekar cendana, ternyata gadis itu adalah Murni si pemilik tempat penginapan yang ia tinggali.
Senyum ramah selalu menghiasi bibir gadis itu meskipun tubuhnya seperti tinggal kulit dan tulang saja.
"Apakah kau mengetahui keberadaannya?"
"Sejak beberapa saat yang lalu tuan sudah membuat gempar seluruh desa"
"Apa maksudmu?"
" Mari ikut saya"
Murni membawa Sekar Cendana ke sebuah tempat yang terlihat seperti lapangan yang sudah sangat ramai orang, aroma daging panggang langsung menusuk hidung Sekar cendana.
"Maaf nona, kemarin aku tidak bisa membagikan makanan kepada warga desa karna persediaan di penginapan ini sudah habis, maka dari itu aku datang menemui nona untuk mengembalikan uang ini" murni menyerahkan koin emas yang kemarin Sekar Cendana berikan kepadanya
"Tidak perlu kau kembalikan, kau bisa menggunakannya untuk hal yang lain. Lagi pula seperti nya aku akan tinggal beberapa hari lagi di desa ini"
"Terimakasih Nona"
Murni menitikkan air mata bahagia, ia tidak menyangka ada seorang dermawan yang datang ke desa ini. Ia berjanji akan menggunakan uang itu untuk kepentingan warga di desa ini
Para warga desa di hadapannya terlihat sangat bahagia, para pria terlihat tengah memanggang daging sedangkan para istri menyiapkan tempat untuk mereka makan bersama.
Nampak seorang pemuda yang terlihat begitu mencolok tengah tertawa bersama anak anak desa itu. Tidak terlihat lagi ekspresi menyedihkan dari warga desa saat ia dan Damar Biru baru tiba di desa ini. Pemuda itu lalu menghampiri Sekar Cendana yang masih mematung
__ADS_1
"Apakah kau yang melakukan semua ini, bagaimana kau mendapatkan daging sebanyak itu dalam waktu dua jam"
Damar biru hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sekar Cendana, ia lalu menarik gadis itu ke tengah kerumunan.