
Seorang pria menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan, ia melakukannya berkali kali untuk menghilangkan rasa gelisah akibat tuannya menatapnya dengan pandangan menusuk
Didepannya terdapat seorang gadis cantik yang tengah duduk dengan sikapnya yang dingin dan angkuh, cangkir kosong ditangannya kembali ia isi dengan arak kesukaannya tanpa memperdulikan seorang yang berada dihadapannya
"Nona, aku siap seandainya anda menginginkan nyawaku sebagai hukuman"Pria itu akhirnya memberanikan diri untuk mulai berbicara
ditatapnya sang anak buah yang tengah berlutut, sang gadis memiliki perasaan tidak tega karena pria dihadapannya sudah setia mengabdikan hidupnya selama bertahun-tahun.
"Sekarang dia sudah mengetahui identitas kalian bertiga, mau ditutupi bagaimanapun lagi ia akan segera mengetahuinya. kali ini aku tidak akan menghukummu, lanjutkan tugasmu untuk melindunginya, kau tau betapa pentingnya dia bagi klan kita, berikan ini kepadanya"
Wanita itu memberikan sebuah batu permata nerwarna hitam kepada pria dihadapannya, batu itu adalah sebuah alat untuk mengirimkan pesan secara Rahasia. Hanya pengirim dan penerima yang dapat membawa pesan itu, jika ada seseorang yang berusaha membacanya secara paksa maka batu itu akan hancur
"Hamba tidak akan mengecewakan Nona dan klan kita"
Pria itu akhirnya dapat bernafas lega, meskipun gadis dihadapannya masih sangat muda tetapi kekuatannya jauh di atas dirinya. Bisa dibilang ia adalah gadis terkuat diantara orang orang seusianya
"Sampai bertemu setahun lagi" wajahnya yang tanpa ekspresi perlahan mengguratkan senyum tipis yang begitu indah, sayangnya tidak ada yang pernah melihat senyuman itu.
*****
di tempat lain, Damar Biru tengah meloncat gembira setelah berhasil membuat pil tingkat 7 pertamanya,
Sudah hampir dua Minggu ia menempati rumah yang telah ia beli dengan harga fantastis.
Dirumah itu tidak ada pelayan, seluruh pekerjaan rumah dikerjakan oleh Rayandra, sedangkan Damar Biru tidak meninggalkan ruangannya selama lebih dari seminggu. Setiap waktu makan, Rayandra akan membawakn makanan kedalam ruangan Damar Biru.
"Punggungku seperti mau patah, bahkan wajahku yang tampan lebih buruk dari korban kebakaran"
Setalah merenggankan tubuhnya yang terasa kaku, Damar Biru bercermin dan melihat wajah dan pakainnya yang begitu menyedihkan. Seluruhnya berwarna hitam dengan beberapa sobekan
Ruangan tempatnya membuat pil ia lindungi dengan senjata pusaka, ia tidak ingin rumah yang baru saja ia beli dengan harga mahal harus ia renovasi
Setelah membersihkan dirinya damar biru keluar dari kamarnya setelah sekian lama
"Akhirnya kau keluar"
__ADS_1
Rayandra tersenyum gembira saat Damar Biru keluar dari ruangannya, akhir akhir ini ia merasa begitu kesepian karena tidak ada seorangpun yang dapat ia ajak bicara
"Sepertinya kau mengalami peningkatan, sekarang kau sudah berada ditingkat langit"
Damar biru menatap Rayandra dengan bangga, ia tidak menyangka meskipun hanya dapat berlatih di waktu senggang Rayandra dapat memanfaatkan waktunya dengan baik. Damar biru juga memberikannya pil yang dapat membantu menaikkan tingkat kultifasi ya
"Jika karna bukan kau aku juga tidak akan bisa seperti sekarang, suatu saat jika kau membutuhkan bantuan ku aku tidak akan bertanya alasannya dan langsung membantumu"
Damar biru tersenyum kecil menanggapi ucapan Rayandra, ia sudah mengatakan itu puluhan kali membuat Damar Biru sedikit merasa aneh
"Mungkin tidak sampai satu Minggu lagi aku tinggal disini, kau juga harus memulai hidup baru. Aku yakin dengan bakat dan pengalamanmu kau akan menjadi orang yang sukses"
Damar Biru mengeluarkan seluruh uang kertas yang ia miliki, ia tidak menggunakannya kemarin karena sudah menyiapkannya untuk Rayandra.
Pria itu membulatkan matanya saat menyadari uang yang Damar biru miliki seperti tidak ada habisnya, bahkan seorang pangeran tidak akan memiliki uang sebanyak yang Damar Biru miliki
"Gunakan uang ini sebagai modal, aku yakin akan cukup untuk memulai usahamu"
Rayandra tidak bergerak dari tempat nya, sudah berkali kali pemuda itu menolongnya. Bahkan ucapan terimakasih sudah tidak berarti lagi
"Aku tidak bisa menerimanya, bantuanmu sudah begitu banyak. Bahkan seumur hidup aku tidak dapat membalasnya"
Cuaca hari ini begitu cerah, Damar Biru memilih untuk berkeliling rumah barunya. Ia tidak sempat melakukannya kemarin karena terburu buru untuk membuat pil.
Akibat ia sering mengkonsumsi pil buatannya, sekarang ia sudah berada pada tingkat langit level 8. Meskipun begitu ia merasa tidak puas, ia masih begitu lemah jika mengingat kejadian dimana Rayandra hampir mati.
Damar biru berniat untuk menjadi lebih kuat agar dapat melindungi seseorang yang penting baginya dimasa depan, ia akan menyalahkan dirinya sendiri jika ia gagal
"Sepertinya kau sudah betah disini"
Damar biru tersenyum kecil saat melihat seseorang tengah duduk diatas pohon dihalaman rumahnya.
Orang itu meloncat dari atas pohon dan berdiri tepat dihadapan Damar Biru
"Rumahmu lumayan, aku tidak mengira kau begitu kaya sampai bisa membeli rumah"
__ADS_1
Seseorang berjubah hitam itu membuka topengnya, dibalik topeng itu ada wajah cantik yang tidak pernah terekspos.
Kulit putih serta bibir merah alami yang membuat pria terpesona jika melihatnya, sayangnya tidak ada pria seberuntung Damar Biru
"Dimana yang lainnya"
"Mereka pulang"
Damar Biru menaikkan sebelah alisnya, ia yakin 'pulang' yang dimaksud vajra artinya kembali ke Sotery.
Damar biru yakin jika mereka melaporkan kepada Alethia jika Damar Biru sudah mengetahui identitas mereka bertiga
Vajra berjalan kearah sebuah tempat duduk yang tidak jauh darinya, ia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Akibat terlalu sering menggunakan topeng ia bahkan tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya
"Bilang kepada temanmu makanan yang selalu ia buat terlalu asin, dia harus belajar masak"
Damar biru tersenyum kecil, ia tidak menyangka gadis disebelahnya ternyata sangat cerewet.
Semenjak kejadian waktu itu mereka tidak lagi selalu bersembunyi, Bima serta kakak beradik Cakra dan vajra sering menampakkan dirinya dan tinggal bersama nya di rumah ini
"Pantas saja kakakmu dan Bima tidak mengajakmu pulang, mereka pasti tidak betah dengan kau yang selalu mengoceh"
"Jaga bicaramu, aku bisa memenggal kepalamu sekarang juga"
Vajra menatap Damar Biru dengan tajam, sedangkan Damar Biru hanya tersenyum kecil. Ia tahu bahwa gadis dihadapannya tidak akan pernah melukainya, Jia ia vajra sudah melakukannya dari awal tanpa perlu mengancamnya
"Sepertinya gadis itu menyukaimu, aku melihat beberapa orang sering menyelinap kemari"
Saat vajra mengucapkan kata seorang gadis, Damar biru langsung teringat akan Tera, Damar menjanjikan waktu satu Minggu tetapi sudah hampir 3 Minggu Damar Biru tidak menemuinya.
"Gadis itu tidak menyukaiku, ia hanya khawatir aku melarikan diri sebelum membuat pil pembersih jiwa untuk kakaknya"
"Bukankah itu pil tingkat tinggi, aku tidak yakin aku bisa membuatnya"
Damar Biru menatap sinis kearah gadis disebelahnya, ucapannya terdengar sangat pedas.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita bertaruh, jika aku tidak dapat membuat pil itu aku akan menjadi pelayanan mu selama satu Minggu, jika sebaliknya maka..."
"Aku yang akan menjadi pelayanmu" lanjut vajra cepat, ia sangat yakin pemuda dihadapannya tidak akan bisa membuat pil itu