
"tidak mungkin, ayahku hanyalah seorang manusia biasa. dia bahkan kesulitan hanya untuk menangkap seekor ayam, bagaimana mungkin ini menjadi miliknya"
Damar biru menatap dua gulungan yang berada ditangannya, gulungan itu berisi sebuah jurus untuk menyerap energi kehidupan dari cahaya bulan, matahari dan bintang. sedangkan untuk gulungan yang masih disegel Damar Biru tidak dapat menebak isinya sama ataukah berbeda yang jelas Damar Biru dapat merasakan energi misterius yang samar dari kedua gulungan
sebuah jurus atau buku manual praktik digolongkan menjadi empat tingkat, perunggu, perak, emas, dan yang terakhir misterius.
sebuah jurus yang berada pada tingkat emas sudah sangat sulit didapatkan bahkan digolongkan menjadi benda langka, tetapi yang berada ditangannya adalah jurus tingkat misterius. jika Gumilang berkata kedua gulungan itu adalah miliknya maka Damar Biru akan langsung percaya tanpa terkecuali, tetapi masalahnya adalah pria tua itu berkata bahwa kedua benda itu milik ayahnya, bagaimana mungkin ia tidak terkejut.
Biasanya untuk mendapatkan sebuah jurus tingkat misterius, seseorang harus pergi ke reruntuhan kuno peninggalan ahli di masa lalu. tempat itu sangat berbahaya dan bahkan dapat membunuh seorang ahli tingkat semesta jika tidak berhati-hati, dan untuk seorang manusia pasti akan langsung mati saat ia memulai
"itu memang milik ayahmu, sudahlah tidak usah difikirkan. yang terpenting untukmu adalah mempelajari jurus itu"
Damar Biru hanya dapat menggerutu di dalam hatinya, kenapa sifat orang tua ini benar benar sama dengan gurunya? Damar biru memasukan gulungan yang memiliki segel kedalam cincin dimensi dan membuka gulungan lainnya untuk di pelajari, setelah mempelajarinya ia tahu bahwa jurus itu dapat menyerap energi cahaya dan menjadikannya energi kehidupan. jika Damar Biru menggunakan jurus itu saat berkultifasi ia dapat menyerap energi kehidupan hingga lima kali lebih cepat dari pada biasanya.
karna ia memiliki delapan elemen, Damar Biru dapat menyerap energi kehidupan jauh lebih cepat dari pada orang normal yang hanya memiliki satu elemen, jika ditambah dengan jurus ini maka bukankah kekuatannya menyerap energi kehidupan menjadi sangat mengerikan?
"kau dapat mempelajarinya jurus itu nanti, aku sudah berjanji untuk membantumu naik level. sekarang ikutlah denganku"
Gumilang segera pergi meninggalkan halaman belakang, Damar biru merasakan bahwa sifat Gumilang sangat mirip dengan panglima langit. entah mengapa Damar Biru merasa bahwa panglima langit bangun dari tidurnya ditempat ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan karna ia sudah bangun dari awal dan dapat menyadari aura hari Gumilang sehingga ia memunculkan diri
setelah beberapa saat Damar Biru sampai di sebelah air terjun yang lumayan besar, suhu disekitarnya sangat dingin karna percikan air terjun sampai ketempat ia berdiri. Gumilang memandang sekitarnya sebelum memangguk puas.
"buka bajumu"
__ADS_1
"hah!"
"apakah kau tidak dengar buka bajumu, aku tau pakainmu adalah senjata pusaka"
Damar Biru memandang Gumilang dengan tatapan aneh, apakah pria tua ini cabul? Damar biru bergidik sebelum dengan Berat hati melepas pakaiannya. suhu dingin seolah-olah menusuk kulitnya sampai ke tulang, ia mengalirkan energi kehidupan diseluruh tubuh agar tubuhnya tetap hangat
tiba tiba hal yang tidak pernah ia duga terjadi, Gumilang bergerak cepat kearahnya dan menendang pantatnya samping ia terbang ke dasar air terjun. setelah Damar Biru sampai ke permukaan air wajahnya merah karna amarah
"berengsek, orang tua sialan. apa yang ingin kau lakukan kepadaku? jika kau ingin membunuhku maka langsung saja tidak perlu repot-repot membawaku kesini"
Damar Biru mengeluarkan seluruh amarahnya dalam perkataannya, sekarang seluruh tubuhnya terasa membeku karena suhu air yang ekstrim. seharusnya jika pemuda itu menggunakan inti energi untuk melindungi tubuhnya maka suhu dingin biasa tidak akan dapat mempengaruhi dirinya, tetapi kali ini berbeda, kekuatannya seolah-olah tidak dapat berfungsi
"apa yang terjadi?"
Damar Biru mulai panik, kakinya kram dan nafasnya mulai tersengal. Gumilang hanya memandangnya dengan tatapan dingin sama sekali tidak ada niat untuk menolong, tubuh Damar Biru perlahan mulai tenggelam seiring dengan kesadarannya yang perlahan mulai menghilang
Dilain tempat, dua orang pemuda tengah duduk bersama seorang gadis, ketiganya menggunakan topeng berwarna biru muda dan jubah hitam. ketiganya tengah duduk mengelilingi api unggun sambil memanggang beberapa ekor ikan yang baru saja mereka dapat
.
"besok kita akan sampai di gurun seribu matahari, menurutmu berapa lama ia akan sampai?"
vajra mengambil ikan yang sudah matang dan mulai memakannya, sedangkan kedua pria di sebelahnya sama sekali tidak perduli dengan ucapannya. gadis itu sangat kesal karena sudah di acuhkan dan tiba tiba mengeluarkan aura membunuh yang kuat membuat suhu disekitarnya menurun, kedua pria yang ada didekatnya mengernyitkan dahinya sebelum menatap aneh kearah gadis itu
__ADS_1
"apakah kau sudah tidak waras? kau mengeluarkan aura membunuh yang kuat seolah olah ingin mencekik kami"
Bima melirik kearah vajra dengan tatapan kesal, gadis itu memang memiliki emosi yang sedikit aneh. beberapa hari yang lalu ia berperilaku baik dan menjadi gadis yang pendiam, dan sekarang sepertinya sifatnya telah berubah lagi ke asalnya.
"memang. aku memang akan mencekik kalian berdua sampai mati, berani sekali kalian mengabaikanku"
vajra menatap tajam ke arah Bima sebelum beralih ke vajra yang tengah mengelap pedangnya dengan sapu tangan seialh olah tengah mengelap benda yang begitu berharga
"Berhentilah bersikap aneh, makan saja makananmu setelah itu tidur"
cakra memasukkan pedangnya kedalam sarungnya sebelum pergi ke atas dahan pohon dan mulai memejamkan matanya
"berhentilah bertingkah, aku akan pergi tidur"
Bima bangkit dari duduknya dan segera duduk di cabang pohon disebelah cakra., vajra masih duduk di tanah menikmati ikan bakarnya sambil bergumam dalam hati
"kapan kalian akan mengatakannya? bukankah seharusnya ia tau identitasnya"
Bima dan Cakra kompak membuka matanya secara berbarengan, keduanya saling melirik sebelum menghela nafas kasar.
"jika sudah waktunya kami pasti akan memberitahu, hanya saja bukan sekarang"
vajra bangkit dari tempat duduknya dan melompat ke sebelah Bima, ia menatap pria itu dengan tatapan aneh. Bima yang menyadari tatapan gadis itu langsung menyentil dahinya membuat vajra hampir terjatuh dari atas pohon
__ADS_1
"masalahnya bukanlah urusanmu sama sekali, kita hanya perlu untuk menjaganya agar ia tetap aman."
vajra memelototi Bima dengan tatapan kesal, dari dulu saudara laki lakinya ini memang sangat senang mengerjainya. Vajra memandang langit yang sangat cerah,bulan dan bintang terlihat sangat indah membuat matanya terpana tetapi entah mengapa ada perasaan aneh yang mengganjal dihatinya. perasaan yang seumur hidup belum pernah ia rasakan, gadis itu merindukan seseorang