The Last Prince

The Last Prince
#3


__ADS_3

Pesta rakyat yang diadakan kerajaan sudah berakhir, para tamu sudah meninggalkan kerajaan Agrasia menuju kerajaannya masing masing.


Mereka pasti merasa sangat beruntung, memasuki istana kerajaan sangatlah sulit dihari hari biasa, karna pesta ini mereka semua dapat mengagumi arsitektur istana yang hanya bisa mereka dengar dari orang yang pernah masuk ke dalam nya.


Seorang gadis nan ceria menghampiri seorang pria yang berumur sekitar 40 an, dibelakangnya terdapat seorang pemuda yang mengenakan pakaian layaknya seorang pelayan.


Tak luput dari perhatiannya prajurit yang tengah berlatih keras, sedangkan para prajurit menghentikan kegiatannya sejenak untuk sekedar memberi hormat.


Pemuda itu sangat kagum kepada seluruh prajurit di sana, rata rata mereka berada pada tingkat langit level 7 sedang kan yang paling lemah berada pada level 2. Pemuda itu sendiri baru berada pada tingkat bumi level 2 sungguh selisih yang sangat jauh sekali.


"Salam hormat kepada tuan putri Sekar Cendana" pria itu  membungkuk kan badannya sebagai tanda penghormatan.


"Paman Wira aku siap berlatih hari ini, rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku berkunjung ke sini"


putri Sekar Cendana menatap setiap jengkal dari tempat ini, rasa rindu saat masa masa latihan membuat langkahnya semakin ringan. Tempat latihan ini lebih mirip dengan sebuah Savana nan luas yang tepat berada di belakang istana, terdapat tembok tinggi yang mengelilingi .


"Tentu saja tuan putri, kau dapat memilih lawanmu"


Para prajurit terdiam, 'celaka' batin mereka. Tidak satupun prajurit bahkan pelatih sekalipun yang mau berlatih tarung dengan sang putri yang terkenal akan sifatnya yang suka balas dendam, ia akan menyerang bertubi tubi sampai lawan tidak dapat bangkit lagi, luka yang diterima dapat membuat seseorang terbaring lemah tidak kurang dari satu bulan.


Meskipun sang putri baru berusia 15 tahun, tetapi ia sudah berada pada tingkat langit level 9 satu langkah lagi menuju tingkat angkasa. Meskipun berada pada tingkatan yang sama perbedaan satu level saja memiliki selisih kekuatan yang sangat jauh sekali, belum lagi senjata pusaka yang dimiliki sang putri pastilah senjata tingkat tinggi.


Jika sang putri yang terkena serangan sekali saja maka jangan harap ia bisa keluar dari tempat latihan dengan keadaan selamat, sang ayahanda sendiri yang datang untuk memenggal prajurit yang berani melukai putri nya. Keadaan tersebut lah yang membuat prajurit Serba salah, kalah mati menangpun mati.


"Aku akan berlatih dengannya" putri Sekar Cendana menunjuk ke arah pemuda yang yang tadi datang bersamanya, para prajurit yang lain menarik nafas lega.


Sedangkan pemuda yang ditunjuk hanya diam mematung, ingin sekali ia melenyapkan gadis itu tetapi segera ia urungkan niatnya, setidaknya lima ratus prajurit berada di sekitar mereka. Sebelum pemuda itu menyentuh sang putri sudah dipastikan kepalanya yang akan Terpenggal terlebih dahulu.


"Mengapa kau diam saja, apa kau tidak dengar" putri Cendana menghampiri pria itu dan menarik tangannya ke arah sang pelatih


"Maaf tuan putri, tetapi dia baru berada pada tingkat bumi level 2 dia bisa langsung mati jika terkena seranganmu."


Pelatih Wira sangat khawatir dengan pemuda yang berada di hadapannya, ia tau bahwa pemuda itu memiliki potensi yang tinggi dengan melihat auranya. Dengan latihan yang keras serta sumber daya yang memadai, ia yakin bahwa dalam beberapa bulan pemuda itu dapat naik pada kasta langit, Ia tidak rela bila ada jenius yang akan mati sia sia


"Aku tidak akan membunuhnya paman, kau tak perlu khawatir" sang putri hanya tersenyum penuh arti


"Berikan dia senjata" salah satu prajurit yang berada di sebelahnya segera memberikan pedang miliknya


Pemuda itu dengan enggan menerima pedang yang diberikan kepadanya, ia mengetahui satu serangan Sekar Cendana dapat langsung membunuhnya seketika. maka dari itu demi kelangsungan hidupnya ia akan berusaha semaksimal mungkin menghindari serangan tenaga dalam. Meskipun ia mati setidaknya ia memberikan sedikit perlawanan.


"Sebelumnya, sebutkan namamu"


"Damar biru"

__ADS_1


Pemuda yang baru diketahui namanya yaitu Damar biru memasang kuda kuda yang dia pelajari dari ayahnya, tingkat kewaspadaan nya meningkat sepuluh kali lipat. Jika ia harus mati hari ini setidaknya ia memberikan sedikit perlawanan


Sedangkan putri Sekar Cendana menunjukan ekspresi wajah yang begitu tenang, perlahan telapak tangan nya mengeluarkan bola api berwarna merah kebiruan yang semakin lama bertambah besar, perlahan udara disekitar nya berubah menjadi panas.


Damar biru merasakan gemetar di seluruh tubuhnya serta keringat yang membanjiri pelipisnya. Tiba tiba Sekar Cendana melemparkan bola api itu ke arah damar bertubi tubi, damar berusaha terus menghindar tapi karena terlalu banyak ia tidak dapat menghindari semua nya alhasil ia terkena satu bola api dan langsung terpental beberapa meter.


Seluruh orang yang melihatnya mengira dia sudah mati, tetapi Wira memberitahu bahwa pemuda itu masih hidup dan menyuruh dua orang prajurit membawa nya ke balai pengobatan.


"Dia sangat lemah, aku baruengeluarkan satu jurus tetapi ia sudah pingsan"


Sekar Cendana berdecak kesal saat menatap pemuda di hadapannya. Ia tidak menyangka serangannya dapat membuat pemuda dihadapannya tumbang seketika


****


" Aku tau kau sudah sadar, jangan berpura pura pingsan di hadapan ku atau kubuat kau pingsan selamanya"


putri Sekar Cendana menatap sinis kearah pemuda dihadapannya, ia tau pemuda itu sudah sadar dari beberapa menit yang lalu tetapi karena menyadari kehadirannya ia tetap menutup matanya.


Damar langsung terduduk saat mendengar ucapan Sekar Cendana, rupanya gadis itu menyadari triknya dari beberapa menit yang lalu, untung saja dia tidak benar benar membunuhnya, setidaknya bukan hari ini.


"Berapa hari aku pingsan"


"Tujuh hari"


Rasanya damar ingin kembali pingsan, ia hanya terkena satu serangan dan pingsan selama tujuh hari itupun Sekar Cendana tidak sungguh sungguh melawannya, bila Sekar Cendana menganggap serius pertarungan itu maka ia dipastikan tidak akan terbangun di dunia ini lagi. Ia sangat menyesal karena menyia-nyiakan waktu latihan yang di berikan oleh ayahnya dulu


"Mengapa kau tidak membunuh ku"


"Karena kau budakku"


jawaban singkat Sekar Cendana membuat pemuda itu menyesal karena dirinya tidak langsung mati saja hari itu. Sekar cendana pasti akan menyiksanya tetapi tidak membunuhnya, karna Damar Biru adalah budaknya, sungguh ironis.


"Aku ingin tau mengapa kau bisa bertemu dengan kakak Bara".


"Mengapa kau ingin tau,"


pemuda itu langsung mengalihkan wajahnya saat melihat mata Sekar cendana menatapnya seolah olah ingin membunuhnya detik ini juga. Akhirnya pemuda itu menarik nafas panjang dan mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Bara.


---


Seorang pemuda tengah berlari mengejar seekor ayam hutan dari beberapa menit yang lalu, ia tanpa henti mengejar ayam itu dengan sesekali melompat menghindari akar pohon yang sangat banyak dihutan.


Setelah beberapa saat akhirnya ayam itu terperosok disebuah lubang , dengan cepat pemuda itu menarik ekor ayam itu dan memegangnya dengan erat.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa berlari dariku"


dengan senyum bangga pemuda itu membawa pulang ayam tangkapannya. Ia sangat ingin melihat senyuman sang ayah yang sedang sakit dari beberapa hari yang lalu.


Tanpa disangka pemandangan yang ia temui di desa tempat tinggalnya membuat lututnya lemas, beberapa rumah rusak bahkan sebagian ada yang terbakar dan banyak mayat yang tergeletak di tengah jalan. Tidak terlihat satupun orang yang masih hidup, ia berlari secepat mungkin menuju rumahnya tanpa memikirkan puluhan mayat yang tergeletak.


pemuda itu meyakinkan hatinya, bahwa keluarganya pasti masih hidup. Perlahan rumahnya terlihat, ia mempercepat langkahnya dan segera memasuki gubuk yang ia sebut rumah itu.


Matanya berkaca kaca, ia terlambat. Dihadapannya mayat seorang pria yang tengah memeluk tubuh seorang wanita dengan darah disekujur tubuhnya tergeletak di lantai. Seluruh tubuhnya memutih karna kehabisan darah, pemuda itu terduduk dilantai menatap kedua mayat yang sangat dikenalinya


"Ayah....ibu." pemuda itu berteriak sambil memeluk kedua mayat yang sudah kaku itu. Bagaimana mungkin ia hanya pergi sebentar dan semuanya berubah seketika. Tidak ada lagi kebisingan orang yang berlalu lalang, atau suara ibunya yang menyambut kepulangan nya semuanya hilang.


Ia pergi mengambil cangkul dan memakamkan kedua orang tua dengan layak. Ia sangat menyesal mengapa ia tidak ikut mati bersama orang tuanya dan puluhan warga desa yang lainnya.


Entah itu keberuntungan ataukah kutukan, Perlahan ia berjalan meninggalkan desa yang telah ia tinggali seumur hidupnya.


Pemuda itu berjalan menyusuri hutan, ia tidak tau harus berjalan ke mana. Ia tidak memiliki keluarga selain kedua orang tua nya yang sudah tiada, karna kelelahan dan kelaparan ia duduk dibawah pohon dan perlahan menutup matanya.


"Hey.. bangun"


ia merasa ada seseorang yang tengah menepuk wajahnya dan meneriakinya. Perlahan matanya terbuka dan dihadapannya terdapat puluhan prajurit bersenjata lengkap menatap kearahnya, ia hampir berteriak karena terkejut.


"Apakah kau salah satu warga desa yang selamat?" Pemuda yang tadi membangunkannya bertanya kepadanya.


"Entahlah" pemuda itu menjawab dengan lemah, salah satu orang dihadapannya mendekat dan menaruh banyak sekali makanan di hadapannya.


"Makanlah" setelah mendengar ucapan salah satu orang dihadapannya ia segera makan dengan tergesa gesa, ia sudah menahan lapar dari kemarin sehingga tidak dapat menahan godaan dihadapannya


"Ceritakan semuanya"


Pemuda itu mengangguk dengan patuh dan bercerita tentang ia yang pergi menangkap ayam hutan dan saat kembali seluruh warga didesanya sudah menjadi mayat termasuk kedua orang tuanya. Pemuda tampan dihadapannya hanya mematung mendengar seluruh ceritanya.


"Kalau begitu ikutlah denganku ke istana, kau bisa menjadi pelayan atupun prajurit" pemuda itu lalu terdiam, bagaimana mungkin pria dihadapannya dengan mudah mengajaknya ke istana.


"Siapa namamu"


"Damar Biru" pemuda tampan di dahadapannya hanya mengangguk. saat ia akan balik bertanya tentang identitas pemuda dihadapannya seorang prajurit berlari kearahnya


"Pangeran, prajurit lain yang anda kirim berhasil menangkap bandit itu"


"Baiklah, aku akan segera kesana"


Pemuda dengan nama Damar Biru hanya mematung dengan membuka mulutnya lebar-lebar 'pemuda dihadapanku adalah seorang pangeran? Astaga'

__ADS_1


Sedangkan pemuda yang dipanggil pangeran hanya tersenyum..


__ADS_2