The Last Prince

The Last Prince
#26


__ADS_3

Matahari sudah terbenam, malam ini cayaha bulan begitu terang mempermudah perjalan kedua orang itu.


Mereka sudah berjalan beberapa jam sebelum menemukan sebuah desa yang mereka tuju, Damar biru memilih beristirahat untuk memulihkan tenaganya sebelum bertemu dengan kultifator yang dimaksud oleh Rayandra.


Sebenarnya Damar Biru bisa berjalan lima kali lebih cepat, tetapi ia mengimbangi kecepatan Rayandra yang masih berada pada tingkat bumi.


"Dimana bantuan yang kau bilang?"


Rayandra menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari orang yang Damar Biru bilang sebagian bantuan, tetapi bantuan itu tidak kunjung tiba.


Rayandra berfikir Damar Biru berkata demikian hanya untuk menyenangkan dirinya agar tidak terlalu kawatir.


"Bantuan baru akan datang jika kita sudah benar benar terdesak, jadi jangan mengacaukan rencana"


Rayandra hanya mengangguk patuh, setelah beristirahat mereka mulai masuk kedalam desa.


Kondisi di desa ini sepertinya tidak begitu baik dilihat dari bangunan rumah rumah warga yang hanya sebuah gubuk kecil.


Meskipun begitu kondisi ini bisa dikatakan jauh lebih baik dari pada  desa Awan Kabut yang waktu itu ia dan Sekar Cendana datangi.


Setelah berjalan beberapa saat mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar, Rayandra berkata rumah itu dibangun oleh para warga desa saat pertama kali kultifator itu masuk ke desa dengan menjanjikan keamanan. Siapa yang akan menyangka bahwa kondisinya akan jauh lebih buruk


Didepan rumah itu terlihat kereta kuda yang terlihat lumayan mewah terparkir disana, saat itu Damar Biru baru menyadari bahwa tubuh Rayandra menegang.


Ia menatap kereta kuda itu dengan tatapan tidak percaya, Damar Biru tidak tau harus bereaksi seperti apa. Ia lalu menarik Rayandra untuk menyelinap masuk melalui pintu belakang karena ada beberapa penjaga yang berjaga di depan, ia tidak ingin menarik perhatian dan membuat orang orang yang ada di dalam menyerang ia dan Rayandra.


Damar biru mengintip melalui jendela yang ada di samping, ada 4 orang tengah duduk sambil membicarakan sesuatu.


Salah satu orang itu berpakain seperti seorang bangsawan, ia terlihat marah kepada 3 orang dihadapannya.


Damar Biru tidak dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka, jarak jendela dengan mereka berempat lumayan jauh.


"Mengapa kau dari tadi hanya diam saja? Apakah kau mengenal salah satu dari mereka?"


"Dia kakak tertuaku, khandra"


Damar Biru menaikkan sebelah alisnya, mengapa kakak dari Rayandra ada disini?


'Sepertinya masalahnya lebih rumit dari yang ku duga'


Damar Biru  menyuruh Rayandra untuk masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan istrinya, sementara Damar Biru akan menarik perhatian mereka sehingga Rayandra tidak akan mendapatkan kesulitan.


Damar biru berjalan kearah halaman depan rumah itu dan bersembunyi dibalik sebuah pohon, ia menghitung jumlah penjaga yang ada di depan rumah itu berjumlah sekitar 20 orang.  Damar Biru melemparkan bola api yang sangat besar membuat bagian depan rumah itu terbakar.

__ADS_1


Para penjaga bergegas memadamkan api itu dan sebagian mencari darimana api berasal.


Seluruh orang yang ada di dalam rumah itu keluar termasuk keempat orang yang tadi Damar Biru lihat melalui jendela.


Damar biru lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan mengeluarkan jurus Badai Pedang. Perlahan tubuh Damar Biru mengeluarkan cahaya terang dan ratusan pedang mengelilinginya, seorang penjaga menyadari kehadiran Damar Biru dan membuat orang yang ada di sana menjadi waspada.


Seseorang yang memakai pakaian bangsawan atau kakak dari Rayandra menghampiri Damar Biru, ia tidak terlihat gentar sama sekali.


"Masalah apa yang membuatmu datang kemari"


Suara pria itu terdengar ramah seperti menyambut seorang teman yang baru saja tiba, tetapi Damar Biru dapat merasakan bahwa pria dihadapannya sangatlah licik dan penuh siasat.


Damar Biru tau bahwa kakak dari Rayandra itu tubuhnya dipenuhi keringat karna ketakutan, tetapi ia tidak menunjukannya sama sekali membuat Damar Biru sedikit kagum kepada


"Temanku mengalami masalah disini, mungkin tuan mengenali nya"


Damar Biru berusaha mengikuti alur yang dibuat dari pria dihadapannya, ia ingin melihat sampai kapan pria itu akan bersikap manis kepada nya


"Benarkah? Mungkin kita dapat membicarakannya di dalam" khandra memperlihatkan senyuman liciknya setelah menyadari kehadiran dari prajurit yang diam diam ia panggil


Damar biru nampak tidak memperhatikan ucapan dari pria dihadapannya, Damar Biru tersenyum masam setalah menyadari ada lebih dari 50 orang yang saat ini tengah mengepungnya.


Saat ini ia tidak ingin melakukan sesuatu yang dapat membuat Rayandra dalam bahaya, sebelumnya Damar Biru sudah memberitahukan Rayandra dalam waktu 15 menit berhasil ataupun tidak ia harus segera meninggalkan rumah itu.


Masih terdapat waktu lima menit lagi sebelum Rayandra keluar,  para pengawal yang sudah berhasil memadamkan api segera berbaris di belakang kakak dari Rayandra.


"Kenapa kau diam? Ah, kau pasti sudah menyadari kehadiran teman temanku"


Khandara tertawa lantang dihadapan mereka semua, ia yakin dapat membunuh Damar Biru dengan mudah. Khandara meyakini Damar Biru tidak akan bisa lolos dari kepungan begitu abanyak orang dengan mudah


Damar biru masih menggunakan jurus Badai pedang sehingga ia cukup yakin tidak ada yang dapat melukainya kecuali yang berada pada tingkat semesta level akhir.


Khandara memberikan kode kepada dua puluh prajurit dibelakangnya untuk menyerang Damar Biru, tiga orang kultifator yang ada di sebelahnya hanya diam memperhatikan.


Ketiga orang itu memiliki firasat bahwa Damar Biru tidak datang sendirian, ia berfikir pemuda dihadapanya tidak akan seberani ini memasuki wilayah dengan tingkat praktiknya.


Setelah kedua puluh orang itu mendekati Damar Biru, pedang yang mengelilinginya mulai berpencar dan memenggal seluruh orang yang berusaha menyerangnya.


Seluruh orang yang ada disana menahan nafas mereka, kedua puluh orang itu memiliki kondisi yang mengenaskan dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Bahkan khandra yang berada pada tingkat langit level akhir membutuhkan waktu untuk menghadapi orang sebanyak itu.


Damar biru tersenyum kecil setelah pedangnya kembali membentuk formasi pertahanan, mereka semua tidak menyangka dengan umur yang masih sangat muda, Damar Biru dapat melakukan pembunuhan yang  begitu sadis.

__ADS_1


Bahkan para pembunuh bayaran sekalipun merasa tidak nyaman setelah membunuh orang. Tetapi pemuda dihadapan mereka terlihat biasa saja


Kelima puluh orang yang sedang mengepung Damar Biru merasa ragu untuk menyerang, bahkan mereka tidak melihat Damar Biru bergerak dari tempatnya tetapi lawannya sudah tidak bernyawa.


"Sepertinya aku harus menghadapimu sendiri"


Khandra mengeluarkan pedangnya yang berada pada tingkat emas, pedang itu mengeluarkan cayaha berwarna hijau yang sangat pekat.


"Racun!"


"Ternyata kau dapat merasakannya dalam sekali lihat"


Damar Biru dapat merasakan bahwa senjata yang digunakan oleh khandra dilapisi racun yang sangat kuat, Damar Biru segera meningkatkan kewaspadaannya agar tidak bersentuhan dengan pedang itu


Waktu 15 menit sudah habis, Damar biru tidak tau apakah Rayandra sudah keluar dari tempat itu ataukah belum. Damar Biru ingin segera melarikan diri tetapi takut jika pemuda itu masih berada di dalam.


"Apakah kau mencari temanmu?"


Wajah Damar Biru langsung berubah pucat, ternyata rencananya sudah disadari oleh khandra sejak awal.


Sekarang Damar Biru tidak bisa konsentrasi karena tau khandra dalam bahaya


"Tenang saja, anak buahku sudah mengurus nya"


Khandra langsung berlari kearah Damar Biru dan menyerangnya dengan membabi buta, Damar Biru berusaha sekuat tenaga menghindari pedang yang berada di tangan khandra dan akhirnya berhasil mendaratkan pukulan yang keras di dada pemuda itu.


Khandra mundur beberapa langkah dan menatap Damar Biru tidak percaya, ia mengumpat kesal karena menyadari Damar Biru bukan lawannya meskipun tingkat mereka tidak berbeda jauh dan ada pedang beracun di tangannya


Mengetahui Rayandra dalam bahaya, Damar Biru ingin segera mengakhiri pertarungan ini.  Ia mengeluarkan energi kehidupan dalam jumlah besar sehingga badai pedang yang mengelilingi nya semakin kuat.


Pedang itu lalu menyerang seluruh orang Yang mengepung Damar Biru, ketiga kultifator yang berada disebelah khandra yang awalnya hanya diam saja langsung menyerang Damar Biru,


Damar biru mengeluarkan pedangnya dan mulai menghadapi, ketiga kultifator itu. Baru beberapa serangan Damar Biru sudah Merasakan perbedaan kekuatan diantara mereka, apa lagi saat ini Damar Biru tengah diserang tiga orang sekaligus, jika bukan karena baju pelindung yang ia ambil dari cincin dimensi milik Panglima Langit Damar Biru pasti sudah berlumuran darah.


Ketiga orang yang menyerangnya hanya bisa mengumpat kesal karena  gerakan Damar Biru sangat lincah sehingga mereka sangat kesulitan untuk mendaratkan pukulan, justru mereka mengalami luka karena pedang yang digunakan oleh Damar Biru sangatlah tajam


Dengan kekuatan elemen angin yang dimiliknya, Damar Biru dapat menghindar dengan mudah. ketiga orang itu semakin geram karena pedang yang Damar Biru gunakan dapat membuat sebagian pakaian mereka sobek padahal pakaian yang bereka gunakan termasuk baju pelindung dengan tingkat perak.


Walaupun kebanyakan Damar Biru hanya menghindar, sekali ia menyerang maka ia akan melukai tubuh dari lawannya.


Pedang  dari jurus Badai pedang miliknya sudah menghabisi separuh dari para prajurit yang ada disana, karena sebagian memiliki senjata pusaka tertentu sehingga pedang itu tidak dapat menembus pertahanan dari para prajurit . Meskipun begitu, hal itu sudah cukup membuat Damar Biru tidak perlu berhadapan dengan lima puluh orang itu.


Khandra yang melihat sebagian prajuritnya mati dihadapannya hanya bisa mengumpat kesal, ia lalu tersadar akan sesuatu dan berteriak dengan kencang

__ADS_1


"Jika kau tidak ingin dia mati, berhenti menyerang"


.


__ADS_2