The Last Prince

The Last Prince
#24


__ADS_3

"Kau sudah menemukannya?"


"Maaf nona, kami sudah mencarinya ke seluruh kota tapi tidak ada jejak sama sekali"


Seorang wanita muda tengah berdiri dengan angkuh dihadapan dua orang bawahannya, mood nya sedang tidak bagus hari ini.


Sejak mendengar kejadian pembantaian di sebuah penginapan yang melibatkan Damar Biru, ia terus menerus mengutus bawahannya mencari dimana pemuda itu berada.


Sayangnya ia seperti hilang ditelan bumi, tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya setelah ia meninggalkan tempat penginapan itu.


"Terus cari dia"


Kedua bawahannya menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan, Tera menarik nafas panjang dan membaringkan dirinya disebuah kursi panjang.


Mata gadis itu menatap langit langit ruangan, sambil menerka apa yang sebenarnya terjadi sampai pemuda itu menghilang.


Tera bukan hanya khawatir karena hanya pemuda itu yang dapat membuat pil penyembuh untuk kakaknya, tetapi ada perasaan aneh saat mengetahui pemuda itu dalam bahaya


"Ada dimana kau?"


***


Seorang gadis berlari dengan perasaan cemas, setelah mendengar sebuah berita hatinya seakan tidak bisa tenang barang sedetikpun.


Hari ini ia tengah berjalan jalan disebuah pasar, saat melewati sebuah kedai ia mendengar telah terjadi sebuah pembantaian di penginapan yang dulu ia tempati.


Tanpa berfikir panjang ia berlari untuk mencari kakaknya


"Apa kau sudah mendengarnya?"


"Apa?"


Sekar Cendana menjelaskan bahwa ditempat penginapan yang dulu mereka tempati terjadi sebuah pembantaian.


Tetapi Sekar Cendana belum mendengar beritanya sampai habis, ia tidak tau siapa orang yang dibantai dan siapa yang membantai


Bara mendekati Sekar Cendana dengan tatapan aneh, perlahan Sekar cendana berjalan mundur sampai punggungnya terhalang oleh tembok.


Ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh kakak, ia merasa kakaknya akan memukulnya kali ini.

__ADS_1


Bara mengarahkan jari telunjuknya kearah kening gadis itu dan mendorongnya pelan


"Gadis bodoh, kau khawatir Damar Biru adalah korban dari pembunuhan itu? Apakah kau lupa bagaimana dia membunuh orang tanpa bangkit dari kursinya?"


Sekar Cendana terdiam, ia baru ingat bagaimana Damar Biru menghadapi orang orang yang ingin menyerangnya saat direstoran pada waktu itu.


"Mungkin aku terlalu khawatir"


***


Sedangkan seorang pemuda yang menjadi orang paling dicari di kota Mutiara Timur tengah tertidur pulas, semalaman ia kembali belajar membuat pil sampai matahari hampir terbit.


Damar Biru ingin segera membuat pil pembersih jiwa dan meninggalkan kota ini, ia tidak ingin berlama lama ditempat yang dapat membuatnya terbunuh kapan saja.


Baru beberapa menit ia terlelap seseorang mengetuk pintu kamarnya, Damar Biru ingin sekali pura pura tidak dengar dan melanjutkan tidurnya.


Tetapi sampai beberap menit orang itu tidak berhenti mengetuk, Damar Biru mengumpat dalam hati dan membuka pintu kamarnya


Seorang pemuda tengah membawa nampan berisi makanan yang asapnya masih mengepul, ia tersenyum manis kepada Damar Biru membuat pemuda itu ingin melemparnya


"Ada apa?"


Damar Biru menatap nampan yang tengah dibawa oleh Rayandra, ia menarik nafas panjang sebelum menyuruh pemuda itu masuk


Damar mengambil pil di dalam cincin dimensi miliknya agar tubuhnya menjadi lebih bertenaga dan menghilangkan rasa lelahnya, sebenarnya ia tidak ingin terlalu sering memakan pil karena dapat membuat praktiknya terhambat jika terus terus menerus dikonsumsi.


Saat ini Damar Biru belum mempelajari cara untuk dapat menyerap pil secara sempurna, sehingga ia tidak dapat menghilangkan efek samping dari memakan pil secara terus menerus.


"Apakah kau seorang ahli obat? Kamarmu memiliki aroma tanaman obat yang sangat kuat, tetapi...."


Rayandra tidak dapat melanjutkan kata katanya setelah menatap kamar Damar Biru yang sangat berantakan, kamar itu seperti habis digunakan untuk bertarung.


Sebagian dindingnya menghitam, dan kursi kayu yang ada di sudut ruangan sudah tidak berbentuk. Lantai kayunya juga banyak yang berlubang


Damar biru tidak menjawab pertanyaan dari Rayandra, ia melanjutkan makannya dengan santai.


"Setalah ini bawa aku ke desamu, kita akan membebaskan istrimu"


Rayandra menatap Damar Biru tidak percaya, ia tidak menyangka pemuda itu akan menepati janjinya.

__ADS_1


Meskipun begitu, Rayandra terlihat ragu ketika mengingat kultifator itu sangatlah kuat. Sekuat apapun Damar Biru ia tidak akan sanggup melawan lima orang itu sekaligus


Damar biru yang melihat keraguan dimata Rayandra hanya tersenyum tipis, ia mengerti bahwa Rayandra kawatir ia tidak akan bisa mengalahkan mereka semua.


"Tenang saja, kita akan dapat bantuan"


"Bantuan?"


"Kau akan mengerti saat kita sampai disana"


Damar biru mengeluarkan sekantung koin emas dari cincin dimensi miliknya dan menyerahkannya kepada Rayandra, pemuda itu terdiam menatap kantung itu.


"Saat kita pergi kau tidak bisa membawa anakmu, ia akan lebih aman bila dititipkan disini. Belilah keperluannya dan gunakan uang itu untuk membayar pengasuhnya"


Rayandra lagi lagi kagum kepada pemuda dihadapanya, Meraka baru saja bertemu tetapi Damar Biru sangatlah baik kepadanya.


Bahkan keluarga nya tidak akan menolongnya seperti yang Damar Biru lakukan.


"Aku tau kau bukan berasal dari keluarga biasa, aku bertaruh jika para kultifator itu ada hubungannya denganmu"


Rayandra terkejut atas pernyataan Damar Biru, ia menatapnya tidak percaya.


"Dari namamu saja aku tau kau bukan orang biasa, mungkin kau anak dari keluarga bangsawan atau dari pejabat negara"


Rayandra tidak dapat mengelak ucapan Damar Biru, ia memanglah anak dari seorang pejabat negara. Lebih tepatnya putra ke tiga dari seorang Mentri


"Mungkin aku memang seharusnya bercerita kepadamu"


Rayandra menarik nafas panjang dan akhirnya mulai bercerita ...


--------------------------------------------------------


**penulis mengucapkan terimakasih banyak atas dukungan para pembaca untuk karya ini.


untuk cerita TLP akan update setiap hari sebanyak 1 chapter dan 3 chapter pada malam Minggu.


jangan lupa dukung terus karya ini untuk memberi semangat kepada author.


Terimakasih**..

__ADS_1


.


__ADS_2