
pagi ini begitu sejuk, udara segar terasa membuka paru paru. kicauan burung kenari mengiringi langkah dari sebuah rombongan yang terdiri dari empat orang itu. mereka semua bersemangat untuk memburu sebuah harapan yang sama. langkah mereka begitu cepat hingga sulit untuk dilihat oleh mata orang biasa, gerakan mereka seperti angin yang berhembus.
"aku akan pergi ke suatu tempat, kalian bisa menungguku di gurun seribu matahari"
sebelum ketiga orang lainnya menjawab Damar Biru merubah arahnya untuk menemui seseorang, entah apa yang akan dilakukan orang itu ketiga Damar Biru sampai disana.
Damar Biru segera mengurangi kecepatannya dan tiba disebuah tempat yang sangat ramai, seorang pelayan datang menghampiri Damar Biru dan segera membawanya ketempat tuan besar mereka.
"aku mengira kau akan kabur" Seorang gadis menatap sinis kearah Damar Biru, wajah cantiknya seolah menunjukan ekspresi yang tidak dapat dibaca oleh pemuda itu
"untuk apa aku kabur" Damar Biru tertawa kecil dan melemparkan sebuah kotak kayu kecil ke meja dihadapannya, gadis itu terlihat penasaran tetapi ia tidak kunjung membuka kotak itu meskipun rasa penasaran menjalar dihatinya
"aku sudah membuat pil pembersih jiwa, setelah ini mungkin aku tidak akan kembali lagi ke kota ini"
Tera menatap Damar Biru tidak percaya, ia membuka kotak kecil tersebut dan seketika bau obat obatan menyeruak dari dalam kotak itu, sebuah pil berwarna hijau terlihat bersinar didalamnya. mata Tera terlihat memerah, pil inilah yang selama ini ia harapkan. bulir air mata jatuh dari mata indahnya, ia memeluk kotak itu seakan tidak ingin ada orang berniat mengambilnya
"apa yang kau inginkan?, jika aku bisa aku pasti memberikannya kepadamu"
"tidak perlu, aku sudah mendapatkan keuntungan tersendiri. anggap saja sebagai hadiah perpisahan, dan cermin yang pernah aku berikan kepadamu kau bisa menyimpannya"
Damar Biru tersenyum sesaat sebelum melompat melalu jendela meninggalkan Tera yang masih membeku, ada perasaan tidak rela yang teramat besar ketiga pemuda itu mengatakan akan meninggalkan kota ini.
Damar Biru menolak permintaan terakhir yang menawarinya sesuatu, meskipun ia tau harga pil itu sangatlah mahal tetapi Damar Biru sudah mendapatkan sesuatu yang lebih besar, karena pil itu akhirnya ia berhasil membuat pil tingkat 7 dan menjadi tingkat raja obat tingkat tinggi, jika ia berhasil membuat pil tingkat 8 maka ia sudah berhasil mencapai ahli obat tingkat dewa atau biasa disebut dewa obat.
saat ini ia tengah menuju kesuatu tempat untuk menemui seseorang lainnya sebelum menuju ke gurun seribu matahari, Damar Biru sudah mendapatkan informasi bahwa senjata pusaka ilahi tersebut berada disana.
gurun seribu matahari sendiri terletak di daerah paling Utara kerajaan Empat Samudra, jarak dari kerajaan Angin Utara ke kerajaan tersebut setidaknya membutuhkan waktu tiga bulan, tetapi jika menggunakan hewan siluman dapat ditempuh dengan waktu setengah nya.
__ADS_1
diperjalanan Damar Biru melihat sebuah rombongan kereta kuda yang terlihat cukup mewah, para pengawalnya juga rata rata berada pada tingkat bumi level akhir serta tingkat langit tahap awal. jumlahnya juga lebih dari 50 orang
saat Damar Biru hampir mendahului rombongan itu ada beberapa orang yang menghadang dan menatapnya tidak suka
"jaga jarakmu dari rombongan kami, kau berniat mendahului rombongan kami? kau tidak tau siapa yang sedang kami kawal?"
damar biru menarik nafas kasar, memang terdapat sebuah kebiasaan bahwa seseorang tidak diperbolehkan mendahului sebuah rombongan yang mengantar seorang bangsawan kerajaan, jika ada penyerangan terjadi maka orang tersebutlah yang akan disalahkan karena dianggap menyebarkan berita bahwa ada rombongan kerajaan.
Damar biru juga mengetahui bahwa rombongan seperti ini sangat lah besar kepala dan mudah tersinggung, ia memilih memelankan langkahnya mengikuti kecepatan rombongan itu, ia tidak ingin mencari masalah yang tidak perlu.
beberapa orang yang semula menghentikannya kembali kebarisan, setelah lebih dari dua jam berada dibelakang rombongan, Damar Biru menyadari bahwa rombongan ini bergerak sangat lambat, ia akan membutuhkan waktu yang lama sebelum sampai ke desa atau kota padahal hari sudah hampir senja.
Damar biru memutuskan masuk kehutan dan melewati rombongan itu tetapi gerakannya disadari oleh para pengawal
"apa kau mau pergi dan melaporkan lokasi kami?"
"untuk apa aku melakukannya, hari sudah hampir malam dan jika aku terus menerus berada di belakang kalian kemungkinan aku sampai ke tujuan memakan waktu yang lama"
"kau pikir kami akan percaya"
orang orang yang ada di hadapan Damar Biru langsung menyerangnya, Damar Biru menggeleng pelan sebelum menghindari semua serangan dengan gerakan lincah, ia tidak ingin membunuh salah satu dari mereka karena akan dianggap sebagai pemberontakan.
pengawal lainnya yang menyadari ada nya pertarungan langsung menghentikan langkah mereka dan membuat formasi untuk melindungi kereta kuda yang ada di tengah barisan
"tuan tuan sekalian percayalah, aku bukan mata mata untuk membunuh kalian, aku hanya ingin pergi ke kota dan tidak ada hubungannya dengan kalian"
ucapan Damar Biru seperti angin lalu, tidak ada yang menanggapinya. sampai seseorang turun dari kereta kuda dan menyuruh para prajuritnya menghentikan pertarungan
__ADS_1
"apa yang kalian lakukan? kalian menyerang seseorang tanpa alasan. jika ia adalah mata mata tidak perlu menunggu waktu Berjam jam hanya untuk mengikuti kita dari belakang, ia pasti sudah melaporkan lokasi kita sejak awal"
para prajurit seperti menyadari sesuatu dan menyaring kan pedang mereka, meskipun begitu mereka tidak menurunkan kewaspadaannya
"maaf tuan, mungkin prajurit ku telah menyinggungmu" seorang gadis cantik yang berusia sekitar 15 tersenyum ramah kearah Damar Biru, ia hanya membalas dengan mencondongkan tubuhnya tanpa penghormatan.
"aku hanya ingin pergi ke kota seribu pedang, tolong jangan menghambat perjalanan ku"
gadis itu memperhatikan Damar biru dari atas sampai bawah untuk menelisik tingkat praktiknya, tetapi ia tidak bisa melihatnya menunjukkan bahwa pemuda dihadapannya memiliki tingkat praktik yang jauh diatasnya
"kebetulan sekali tujuan kita sama, jika kau mau kau bisa bergabung dengan rombongan kami"
Damar biru berfikir sejenak, jika ia menolak maka ia akan dianggap sebagi mata mata oleh para prajurit yang sejak tadi menatap tajam kearah nya, memang saat ini Damar Biru mengenakan topeng yang membuatnya terkesan misterius. tetapi jika ia menerima perjalanannya akan memakan waktu lebih lama, ia juga tau sebenarnya gadis itu ingin memanfaatkannya untuk berada di Rombongan nya agar ia lebih aman.
"baiklah"
gadis itu tersenyum manis sebelum menyuruh anak buahnya untuk membuat tenda, gadis itu lalu berjalan kearah Damar Biru penuh rasa penasaran
"namaku Delima, siapa namamu?"
"Biru"
Damar Biru mencoba memikirkan sebuah nama agar tidak membongkar identitas aslinya, dan pilihan nya jatuh pada nama belakang nya
"Biru" Delima mengulang kata itu dengan pelan, ia tersenyum manis setelahnya.
Damar biru tidak menyangka gadis itu ternyata banyak bicara, ia bahkan mengungkapkan identitas aslinya kepada Damar Biru meskipun pemuda itu hanya diam mendengarkan ceritanya, karna merasa tidak enak, sesekali ia akan menanggapi ucapannya agar gadis itu merasa di dengarkan
__ADS_1
dari pembicaraan tersebut, ternyata ia adalah putri ke delapan dari kerajaan Empat Samudra, ia datang kerajaan ini untuk menghadiri undangan acara ulang tahun dari ibu suri kerajaan Angin Utara.
melihat ekspresi Damar Biru tidak berubah setelah mengetahui identitasnya, membuat gadis itu semakin tertarik