The Last Prince

The Last Prince
#10


__ADS_3

Sekar cendana tengah duduk termenung di dalam kamarnya, ia merasa sudah sangat betah tinggal di desa ini bersama dengan orang orang yang sangat baik kepadanya.


Tetapi hari ini ia dan Damar Biru akan segera pergi meninggalkan desa ini, mereka harus segera pergi untuk menaikkan level sehingga dapat kembali lagi ke istana.


Meskipun Sekar Cendana mencoba tinggal beberapa hari lagi tetapi Damar Biru tetap memaksanya sehingga ia tidak punya pilihan lain.


Sekar cendana segera pergi meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang sangat berat.


Saat beberapa langkah lagi ia akan meninggalkan penginapan seorang memanggilnya dari arah belakang.


"Nona, kau akan pergi?"


Gadis itu menatap sendu Sekar Cendana , ia sudah lama tidak mendapatkan teman yang seumuran dengan nya karna mereka semua memilih pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan.


Kondisi desa ini tidak memungkinkan Mereka untuk hidup layak, seluruh wanita yang seumuran dengannya pergi beramai ramai sebulan sebelum para binatang siluman datang dan menempati hutan di sekitar desa awan hitam lima tahun yang lalu.


"Cepat atau lambat aku memang akan pergi dari sini,"


"Bagaimana aku bisa bertemu lagi dengan nona"


Sekar Cendana terdiam, dalam beberapa tahun ia tidak akan kembali ke istana dan menetap di suatu tempat dengan kurun waktu yang lama.


Melihat raut wajah Sekar cendana yang berubah membuat Murni tidak berani bertanya lebih lanjut, ia tau bahwa Sekar cendana dan Damar Biru bukan lah orang biasa, mereka pasti tidak akan mengatakan apapun karna hal itu akan membongkar jati diri mereka yang sebenarnya.


"Tidak perlu mencari ku, suatu saat aku yang akan datang mencari mu"


Sekar cendana melangkah keluar dari penginapan itu tanpa menoleh kebelakang. Ia tidak akan tega melihat raut wajah Murni yang menangisi kepergiannya.


Sekar cendana berjalan menemui Damar Biru yang menunggunya di gerbang desa.


Di lain tempat Damar Biru tengah berbicara serius dengan lembayung, mereka berdua masih berada di rumah kepala desa itu.


"Aku tidak menyangka tuan akan pergi dari desa ini begitu cepat"


" Aku hanyalah seorang pengelana yang kebetulan lewat, sebelum pergi aku ingin memberikanmu sesuatu'


Damar biru mengayunkan tangannya dan secara tiba tiba gundukan koin emas muncul dihadapan mereka, lembayung yang terkejut mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya yang tanpa sadar sudah terbuka. Dihadapannya terdapat tumpukan koin yang jumlahnya sekitar satu juta keping emas


"Tuan apa maksud semua ini"


"Ini adalah bantuan terakhir ku kepada desa ini, aku sudah menganggap desa ini seperti kampung halamanku sendiri. Gunakanlah uang  itu untuk membangun desa ini dan berikan kehidupan yang layak bagi seluruh warga yang tinggal disini, buatkanlah sekolah untuk anak anak agar mereka mendapatkan pendidikan yang layak"


"Kau bukanlah warga desa ini, mengapa kau membantu kami sampai sebanyak ini. aku tidak dapat menerimanya"


Lembayung merasa Damar Biru sudah memberikan bantuan terlalu banyak kepada desa ini, ia sadar bahwa sampai kapanpun mereka semua tidak akan dapat membalas kebaikannya.

__ADS_1


"Jangan menolak bantuanku, semua ini untuk kepentingan warga desa, mungkin suatu saat aku akan membutuhkan bantuan kalian"


Damar biru pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari lembayung, ia menggunakan kekuatan elemen anginnya agar lebih cepat sampai ke gerbang desa menemui Sekar cendana dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Ternyata kau begitu licik, kau memberikan bantuan yang besar kepada desa itu karena tempat itu akan menjadi tempat persinggahan para pedagang antar kerajaan. Kau akan mendapatkan untung berkali kali lipat jika memiliki pengaruh sang kuat di sana"


"Aku tidak licik guru, aku hanya berfikir ke depan, mungkin suatu saat aku akan membutuhkan bantuan mereka"


"Tapi yang kau pakai itu adalah uangku, aku mengizinkan mu menggunakan nya bukan berarti kau bisa seenaknya"


"Guru kau tau kan, jika aku sukses kau juga yang akan bangga menjadi guru ku. Lagi pula aku tidak menggunakan uang itu untuk bermain judi atau menyusahkan orang, dan juga kau hanyalah arwah sekarang apakah kau ingin membeli arak dengan kondisi mu yang seperti ini"


"Dasar anak kurang ajar kau pikir aku tidak bisa membunuhmu sekarang"


Damar biru tidak meladeni lebih lanjut ocehan panglima langit, ia terus berjalan dengan cepat menuju gerbang desa.


Terlihat Sekar Cendana tengah menatapnya dari kejauhan, Damar Biru dapat merasakan bahwa ia akan mendapatkan ocehan panjang lebar dari gadis ini.


"Mengapa kau terlambat?, kau yang menyuruhku datang kesini tetapi harus menunggumu hampir satu jam. Kau pikir kau itu siapa berani memerintahku?"


"Aku ada urusan penting"


"Mengapa kau tidak memberi tahuku, kau pasti sengaja membuat ku menunggu lama"


Damar biru sudah menduga akan hal ini, Sekar cendana memiliki mulut yang pedas dan kebiasaan nya yang suka banyak bicara. Ia menyesali mengapa ia tidak bersiap sejak awal.


Damar biru hanya memperhatikan sekitarnya, ia tahu bahwa di dekat sungai biasanya berkumpul binatang siluman ataupun berdiri sebuah desa di sekitar sini. Ia takut kalau tiba-tiba ada yang menyerangnya.


Baru saja Damar Biru akan mendekati sungai untuk minum air, sebuah panah menuju ke arahnya. karna instingnya sudah diasah saat memburu bintang siluman Damar Biru dapat menghindarinya dengan mudah, ia merasakan ada banyak sekali orang yang mengepungnya saat ini tengah berada di atas pohon.


Damar biru menyadari mereka memiliki sebuah pusaka yang dapat membuat Damar Biru tidak merasakan kehadiran mereka.


Satu persatu seseorang berpakain hitam dengan corak berwarna merah di bagian pinggang turun dari atas pohon dan menghampiri damar biru, jumlah mereka sangat banyak membuat Sekar Cendana berlari ke arah Damar Biru dan berdiri di sebelah nya.


Sekar Cendana tidak pernah merasa setakut ini, semua orang  yang mengepungnya memiliki kekuatan di tingkat angkasa level menengah, sama dengannya.


Jika hanya bertanding satu lawan satu Sekar Cendana dapat membunuh mereka dengan mudah, sayangnya mereka semua berkelompok.


"Apakah kau yakin ia adalah putri kerajaan Agrasia"


"Tentu saja, aku bekerja di istana cukup lama tidak mungkin aku sampai tidak mengenali wajahnya"


Dua orang dihadapan mereka tengah berbicara yang dapat di dengar dengan jelas olah Sekar Cendana dan damar biru.


Damar biru sendiri tengah menyusun strategi supaya mereka berdua dapat melarikan diri, ia tidak menyangka bahwa ada seseorang penghianat yang membocorkan kepergian mereka ke musuh.

__ADS_1


Mereka adalah mangsa yang sangat mudah saat ini karna tidak ada pengawalan sama sekali, mereka memanfaatkan kan kesempatan ini dengan begitu baik.


"Ternyata kalian lumayan kuat, jika tanding satu lawan satu aku yakin diantara kami tidak akan ada yang bisa melawan kalian. Sayangnya kami tidak akan melakukan itu, kami akan segera menyelesaikan ini dengan mudah"


Damar biru berusaha mencari celah sayangnya mereka sudah mengatur formasi yang sangat sulit untuk di tembus, jika hanya diam saja mereka berdua pasti akan mati hari ini.


"Guru apakah kau akan membiarkan muridmu satu satunya mati dengan cara seperti ini"


"Tenang saja, kau tidak akan mati hari ini"


Ucapan panglima langit tidak membuat damar biru merasa lebih tenang, sepertinya gurunya tidak akan membantunya kali ini


Tiba tiba sepuluh orang dihadapan mereka berlari cepat kearah damar biru dan Sekar cendana, pedang sudah berada di tangan mereka berdua bersiap untuk mempertahankan diri.


Akhirnya suara benturan pedang terdengar, Sekar cendana dan damar biru bergerak dengan sangat gesit.


Tiba tiba para musuh di hadapan mereka menegang karna tidak dapat bernafas, damar biru memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang.


Tubuh Sekar cendana mengeluarkan api yang menyala nyala lalu  membakar musuh di hadapan mereka, sebagian orang yang tidak dapat menghindar langsung berubah menjadi abu.


Damar biru berusaha menebas bagian leher mereka sehingga banyak sekali kepala yang sudah berpisah dari tubuhnya.


Sekar cendana sangat lemas karena jurus api abadi ini membutuhkan sangat banyak tenaga, sedangkan para musuh yang tadinya tidak dapat bernafas perlahan mendapatkan kembali oksigen yang mengalir ke paru paru mereka.


Separuh musuh sudah binasa, tetapi saat ini mereka berdua sudah kehabisan tenaga sehingga sangat sulit untuk sekedar bergerak.


Damar biru dengan langkah yang sangat berat menghampiri Sekar Cendana yang kondisinya sama buruknya dengannya.


"Aku tidak menduga akan mendapatkan perlawanan yang begitu sengit dari kalian"


Seorang pria berbadan besar mendekati damar biru dan Sekar Cendana. Orang itu adalah pemimpin dari kelompok itu


"Aku mengira pekerjaan ini akan sangat mudah, ternyata aku terlalu meremehkan kalian."


Tiba tiba orang orang yang tersisa mengeluarkan cahanya dari tangan mereka bersiap menyerang dua orang yang tidak berdaya itu secara bersama sama.


Sekar cendana menggenggam tangan damar biru dengan sangat erat, saat mereka semua menyerang damar biru dan Sekar cendana tiba tiba tubuh mereka bersinar sangat terang.


Seekor poenix sangat besar dengan dilapisi api yang menyala nyala terbang diatas tubuh Sekar Cendana dan damar biru, para musuh di sekitarnya mundur beberapa langkah. Mereka semua tidak menyangka bahwa Arity Akan datang.


"Ternyata raja sudah memberikan kalung itu kepada gadis ini, cepat mundur atau kalian semua akan mati hari ini"


Para penjahat itu, lari tunggang langgang. Tiba tiba burung Phoenix itu mengibaskan sayapnya dan api yang sangat besar membakar tubuh seluruh penjahat serta pohon pohon di sekitar Mereke juga ikut hangus tak tersisa.


Sekar cendana dan damar biru bernafas lega, tiba tiba burung itu berubah menjadi butiran cahaya dan masuk ke dalam kalung yang dikenakan Sekar cendana.

__ADS_1


Tubuh Sekar cendana tiba-tiba lemas dan langsung tersungkur ke tanah, damar biru merusaha membangunkan Sekar cendana tetapi rupanya Sekar cendana akan kehinafan kesadaran dengan waktu yang lama karna energinya yang sudah benar benar habis.


Tiba tiba tubuh Damar biru merasakan sakit yang teramat sangat sehingga membuatnya pingsan di samping Sekar cendana. Damar biru terkena efek dari jurus penghilang nafas yang tadi ia gunakan, seharusnya damar biru menggunakan jurus itu saat berada di tingkat angkasa karena terdesak terpaksa ia harus menggunakannya saat itu juga.


__ADS_2