The Last Prince

The Last Prince
#35


__ADS_3

"Guru, kenapa kau tertidur sangat lama?"


"Lama? Aku masih beruntung bisa bangun dan kau protes karena aku tidur terlalu lama? Kau pikir kenapa aku sampai tertidur seperti itu, jika bukan karna kebodohanmu"


Tiba tiba Damar Biru merasakan tubuhnya bergetar karna munculnya niat membunuh yang besar. Damar biru merasa tercekik seolah olah oksigen menghilang dari sekitarnya


"Sialan, guru apa kau ingin membunuhku?"


"Kau masih berani mengumpatiku!"


Damar biru memuntahkan darah segar dari mulutnya dan tubuhnya pucat seolah olah darah menghilang dari wajahnya karena tekanan yang diberikan semakin besar, setelah beberapa saat aura membunuh itu akhirnya menghilang.


"Jika kau bukan muridku satu satunya aku tidak akan ragu menghabisimu"


Damar biru berusaha bangkit dari tanah untuk menstabilkan tubuhnya, saat ia bergerak Damar Biru merasa seperti tulang tulangnya patah, rasa sakit yang teramat sangat menyerang tubuhnya.


Setelah usaha yang besar Damar Biru akhirnya dapat duduk dan mulai mengalirkan energi kehidupan ketubuhnya


"Kau sudah berada di tingkat langit level 7, hanya ada sedikit penghalang untukmu naik level. Aku akan membawamu kesuatu tempat agar tingkat kultifasimu dapat naik"


'apa? Baru saja kau ingin membunuhku dan sekarang kau ingin membantuku naik level?' sambil berkultifasi Damar Biru hanya mengumpati Panglima Langit didalam hati


Setelah beberapa saat kondisi tubuh Damar Biru mulai stabil, ia membuka matanya dan melihat seorang pria tua berpakaian putih duduk dihadapannya. Pria tua itu tak lain adalah Panglima Langit yang juga tengah berkultifasi, tubuhnya memancarkan cahaya berwarna putih keemasan yang menyelimuti seluruh ruangan.


"Oh, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya"


Sebuah senyum misterius muncul di bibir Panglima langit, Damar Biru hanya dapat melihat sekilas sebelum suara ketukan pintu terdengar. Setelah pintu terbuka siluet pria berpakaian serba hitam muncul, kali ini dengan ekspresi yang berbeda antara penasaran dan juga ragu. Pria itu melirik kedalam kamar Damar Biru seolah mencari sesuatu


"Siapa orang yang baru saja ada di dalam kamar?"


Damar Biru sedikit terkejut, ternyata sesuai dugaannya bahwa pria ini bukan orang biasa. Damar Biru membuka pintunya lebih lebar mengizinkan pria tua itu masuk, baru beberapa langkah ia memasuki kamar cayaha terang memunculkan sesok seorang pria tua berjubah putih duduk diatas tempat tidur


Wajah pria berjuba hitam pucat seketika, ia mundur beberapa langkah karna terkejut. Panglima Langit menatap kearahnya sambil tersenyum kecil


"Lama tidak bertemu.... Gumilang"

__ADS_1


"Ternyata itu bener benar anda!"


Gumilang berlutut ke tanah, wajahnya yang sudah terlihat sangat tua tersenyum lebar sambil menitikkan air mata. Damar Biru yang berdiri disudut hanya bisa menatap bingung kearah keduanya, bagaimana bisa gurunya mengenal pria tua ini?


Damar biru membuka mulutnya beberapa kali bersiap untuk bertanya tetapi segera ia urungkan, ia takut suasana seperti ini akan berubah menjadi canggung


"Aku tidak pernah tau bahwa anda masih hidup"


Suara Gumilang berubah serak, ia menatap panglima langit dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada jeda yang cukup lama sebelum panglima langit mulai bicara


"Sudah lama sekali, aku bahkan tidak menyangka akan dapat bertahan dari situasi itu. Selama ini aku bersembunyi di kerajaan Agrasia untuk memulihkan kekuatanku, sekarang aku sudah kembali."


Ruangan itu begitu sunyi, hanya ada helaan nafas dari Damar Biru yang tidak memahami apapun yang tengah mereka bicarakan. Entah mengapa hari ini fikirannya terasa kacau, ia ingin melanjutkan berkultifasi tetapi disisi lain ia penasaran akan percakapan mereka


"Jika kau ingin pergi maka pergilah, aku tidak membutuhkanmu disini"


Tidak perlu bertanya bahwa ucapan sinis itu diarahkan untuk Damar Biru, pemuda itu mengangguk sekilas sebelum meninggalkan kamar


"Apakah ia penerusmu tuan?"


"Jika mereka sampai tau tuan masih hidup dan memiliki penerus, mereka pasti akan memburumu dan juga muridmu"


Setelah mendengar Gumilang bicara tentang 'mereka' wajah panglima langit berubah suram, ia tau betul apa yang dimaksud oleh Gumilang. Setelah menyadari perubahan ekspresi panglima langit pria berjubah hitam itu segera berbicara


"Aku akan membantumu menjaganya,  aku tidak akan membiarkan orang orang brengsek itu membunuhnya"


Mata Gumilang memancarkan tekad yang kuat, sudah ratusan tahun ia hidup sendiri menghindari dunia. Tetapi sekarang ia memiliki alasan untuk kembali menantang dunia dan melenyapkan musuhnya


"Aku tidak membutuhkan bantuanmu untuk melindunginya, biarkan ia menjalani takdirnya sendiri. Kita berdua hanya perlu menuntunnya"


Gumilang hanya mengangguk sekilas sebekum ekspresi di wajahnya tiba tiba berubah seolah-olah menyadari sesuatu


"Tuan, aku menyadari aura yang tidak asing dari muridmu. Apakah dia..-"


"Benar, dia adalah putra dari pria itu"

__ADS_1


Suasana tiba tiba berubah, muncul perasaan kaget dan gembira yang tidak dapat ditutupi dari wajah Gumilang. Meskipun begitu wajah Panglima langit masih dalam ekspresi yang sama, datar dan tanpa emosi.


Dilain tempat, Damar Biru tengah duduk di bawah pohon yang terletak di halaman penginapan, fikirannya masih tertuju kepada Panglima Langit dan Gumilang. Siapa yang menyangka  langkah kakinya ke penginapan ini membuat gurunya bertemu dengan teman lama.


Damar biru menatap langit sore yang indah, angin berhembus perlahan membuat rambut nya sedikit bergoyang. Suasana yang sunyi ini membuat hati dan fikiran' menjadi tenang, sesekali ia mengingat Sekar cendana dan Bara, bagaimana kondisinya ia tidak tau sama sekali. Sekarang tujuannya utamanya adalah bertemu kembali dengan kakak beradik itu dan menyusul Cakra Bima dan vajra.


"masuklah, aku sudah membuatkan makanan untukmu"


Damar Biru mengangguk sebelum mengikuti Gumilang masuk kedalam penginapan, ia dapat merasakan bahwa gurunya sudah kembali tinggal ke inti energi nya.


diatas meja sudah ada ayam bakar dan sup yang asapnya masih mengepul, Damar Biru sedikit penasaran bukankan pria tua itu baru saja selesai bicara dengan gurunya? kapan ia memiliki waktu untuk memasak?


"tidak perlu terlalu banyak berfikir, sekarang makan lalu istrirahat, tengah malam nanti temui aku dihalaman belakang"


sebelum Damar Biru menjawab, Gumilang sudah meninggalkannya dengan kecepatan kilat membuat sosoknya menghilang seketika.


tepat tengah malam Damar Biru pergi ke halaman belakang sesuai dengan perintah Gumilang, ia melihat seorang berjubah hitam tengah menatap bulan purnama dengan penuh minat. setelah menyadari kehadiran Damar Biru Gumilang membalikan tubuhnya dan menatap Damar Biru sesaat sebelum berjalan mendekat.


"malam ini aku akan membantumu menaikkan tingkat kultifasimu"


Damar biru sedikit terkejut saat mendengar ucapan Gumilang, Damar Biru berfikir bahwa pria tua itu pasti diperintahkan oleh Panglima Langit. karna mereka berdua terlihat sangat akrab Damar Biru dapat menebak bahwa tingkat kultifasi dari Gumilang tidak berbeda jauh dengan gurunya


"terimakasih karena sudah berniat membantuku, aku akan berlatih dengan giat"


setelah menyelesaikan kata-katanya Gumilang tiba tiba melemparkan dua buah gulungan kuno kearah Damar Biru, salah satu gulungan itu memiliki segel yang mencegah seseorang untuk membukanya secara paksa atau gulungan akan hancur seketika


"gulungan yang memiliki segel kau dapat membukanya setelah sampai ke tingkat angkasa, dan yang satunya lagi kau dapat mempelajarinya Sekarang"


"terimakasih tuan"


"tidak perlu berterima kasih, gulungan itu adalah milikmu"


"milikku?"


"itu milik ayahmu"

__ADS_1


__ADS_2