
Damar Biru perlahan membuka matanya, ia sudah menunggu sekian lama tapi tidak merasakan tubuhnya dihantam air ataupun batu. Sebelumnya Damar Biru mengira jurang ini sangat dalam sehingga perlu waktu untuk sampai ke dasar, tetapi setelah sekian lama momen itu tak kunjung tiba
Setelah matanya terbuka sepenuhnya hanya ada kegelapan, Damar Biru dapat merasakan bahwa tubuhnya sudah berhenti terjatuh, tapi anehnya ia tidak dapat merasakan apapun dibawahnya seolah olah ia.. melayang?
"Selamat datang calon ahli waris, ini adalah ujian pertamamu. Jika kau lulus kau akan dapat melanjutkan ke tes berikutnya, tetapi jika kau gagal kau akan berada disini selamanya"
Suara misterius menggema di telinga Damar Biru, ia mengerutkan keningnya ketika mendengar bahwa ia adalah calon ahli waris, biasanya ahli waris adalah orang yang akan mendapatkan peninggalan dari orang tertentu. Damar Biru dapat menerka secara kasar posisinya saat ini,
Setelah suara itu menghilang Damar Biru dapat merasakan lantai yang sangat dingin di bawah kakinya meskipun ia memakai sepatu
Damar biru menebak bahwa ia telah masuk kedalam sebuah situs makam kuno, tempat seorang ahli bela diri dimakamkan. Entah bagaimana Damar Biru langsung memicu tes pertama tanpa tau apa yang terjadi
entah ia harus tertawa atau menangis, jika beruntung pasti kekuatannya akan bertambah besar tetapi jika ia gagal ia akan mati di tempat ini tanpa persiapan sama sekali
saat ia mengingat tentang Gumilang Damar Biru bingung harus bereaksi seperti apa, disatu sisi pria tua itu ingin membantunya tetapi disisi lain ia secara tidak langsung membunuh pemuda itu
Damar Biru berusaha untuk tenang, ia harus menyelesaikan tes ini dengan segera. Perlahan Damar Biru mulai bergerak ke depan, setelah berjalan hampir 20 meter di kegelapan ia dapat merasakan dinding yang sangat halus. Damar Biru meraba seluruh bagian dinding berharap bahwa ia dapat menemukan sesuatu, tetapi ia tidak dapat menemukan apapun setelah berjalan lebih dari 50 meter
Damar Biru ingin membuka cincin dimensinya tetapi kekuatannya seolah olah lenyap, sekarang ia hanyalah seorang manusia biasa. tanpa menggunakan kekuatan dari fikirannya cincin dimensi tidak akan pernah terbuka
"Jika terus seperti ini sampai kapanpun aku tidak akan dapat menemukan apapun"
__ADS_1
Damar biru duduk di lantai, ia memikirkan segala macam cara untuk memecahkan tes pertama.
"Tempat ini gelap, tidak ada cahaya. Mungkinkah aku harus menemukan sebuah tombol atau sesuatu?...tidak
Pasti tidak sesederhana itu, atau mungkinkah?"
Setelah Damar Biru bergumam pada dirinya sendiri, ia bangkit dari duduk nya dan menarik nafas panjang.
'Bukkh'
'bukkh'
'bukkh'
Tangan Damar Biru sudah ternoda dengan darahnya sendiri, jari jari tangannya sudah retak. Sekarang Damar Biru mencoba menendang dinding itu sekuat tenaga sampai kakinya mati rasa
Tubuh Damar Biru sudah dipenuhi dengan darah dan beberapa tulang nya patah, ia duduk sambil bersandar di dinding. Seluruh energinya sudah habis dan tubuhnya dipenuhi dengan rasa sakit
"Apakah tebakanku salah? Tidak mungkin, aku yakin hal yang kulakukan itu benar"
Damar Biru mencoba untuk bangkit sekali lagi tetapi tubuhnya sangat lemas, saat kesadarannya akan menghilang ia melihat sebuah cahaya samar membungkus seluruh tubuhnya sebelum kesadarannya benar benar menghilang
__ADS_1
Ditempat lain dua orang pria tua tengah duduk berhadapan dengan ekspresi tidak senang, semenjak Panglima Langit menyadari bahwa murid satu satunya sudah Gumilang lemparkan kedalam jurang ia merajuk seperti anak kecil.
Meskipun Panglima langit sudah mengetahui alasan dibalik itu semua ia tetap merasa tidak senang, Damar Biru adalah murid satu satunya dan orang lain melakukan sesuatu tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu
"Sampai kapan tuan akan menatapku seperti itu"
Panglima langit masih menatap Gumilang dengan datar, membuat Gumilang menjadi serba salah
"Baiklah aku minta maaf karena tidak meminta ijinmu terlebih dahulu, bagaimana dengan ini, aku akan membawakanmu 10 batu roh tetapi kau harus memaafkan ku"
Gumilang mengambil sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di hadapan panglima langit, pria itu hanya menatapnya sekilas dengan ekspresi jijik yang terlukis jelas di wajahnya
"Kau ingin membujukku hanya dengan 10 batu roh? 500 batu roh baru aku akan mempertimbangkan untuk memaafkannya"
"500 batu roh? Apakah kau gila? Aku hanya memiliki 10 batu roh sejak ratusan tahun di sini. Kau tau bahwa di dunia ini sangat miskin, kau tidak akan menemukan batu roh berserakan seperti kerikil di jalanan"
Gumilang menatap Panglima langit dengan ganas, pria ini memiliki sifat serakah dan tamak semenjak ratusan tahun yang lalu. Bahkan meskipun ia hanya dalam wujud rohnya saja keserakahan nya masih melekat erat pada pria tua itu
"Kau memang sangat miskin, baiklah aku akan mengambil 10 batu roh ini sekaligus pedang yang ada di cincin dimensimu"
Gumilang melotot marah saat melihat panglima langit membuat senyum sinis, saat seseorang sudah mencapai tahap semesta, ia akan dapat melihat isi dari cincin dimensi milik orang lain meskipun tanpa seijinnya
__ADS_1
"Jika kau tidak memaafkan ku tidak masalah, yang menjadi masalah adalah aku akan menjadi orang miskin jika harus tawar menawar denganmu"
senyum Panglima Langit menghilang seketika saat Gumilang berniat untuk pergi meninggalkannya, niatnya untuk mendapatkan barang bagus Solah akan lenyap seiring dengan langkah kaki Gumilang yang semakin menjauh