The Last Prince

The Last Prince
#12


__ADS_3

"Bagaimana mungkin, bukankah anak sang Dewi sudah lahir ribuan tahun yang lalu"


Alethia memahami kebingungan damar biru, ia pastilah mengira bagaimana mungkin seseorang yang lahir ribuan tahun yang lalu masih hidup sampai saat ini.


"Ada sebuah alasan yang tidak bisa aku beritahukan kepadamu"


Damar biru menatap wajah dari patung wanita itu, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh seperti memiliki suatu ikatan dengan dari pemilik patung itu.


Ia berjalan kembali kedalam kamarnya dengan penuh pertanyaaan, damar biru baru menyadari bahwa tujuan awal ia menemui Alethia adalah untuk menanyakan mengapa ia bisa berada di daerah Sotery.


Namun karena rasa penasaran nya terhadap patung wanita itu membuatnya melupakan tujuan utamanya.


sebelum damar biru pergi Alethia memberikannya sebuah kepingan logam berbentuk kepala singa seukuran telapak tangannya. Ia berkata logam itu akan membantunya jika damar biru sedang terancam.


Meskipun begitu damar biru tidak dapat mengetahui apa fungsi utama dari ukiran kepala singa itu, saat ia akan sampai ke kamarnya Sekar cendana tiba tiba memukul bahunya sehingga damar biru harus mundur beberapa langkah.


"Apakah kau ingin membunuhku?"


"Apakah kau sudah betah tinggal disini sehingga sengaja berlama lama hanya untuk berpamitan?"


Sekar cendana menatap damar biru dengan wajah yang sangat kesal, damar biru menyuruhnya bersiap saat matahari belum terbit dan bilang akan menyusulnya setelah ia berpamitan kepada seseorang.


Tetapi sampai matahari sudah berada tepat diatas kepalanya damar biru belum juga muncul sehingga membuat Sekar cendana marah sampai ke tulang.


"Aku punya alasan tersendiri, lagi pula kau tidak perlu memukulku sampa bahuku mati rasa"


Damar biru mengelus bahu kanannya yang terasa sangat sakit dan hampir mati rasa, ia berfikir bahwa Sekar Cendana memang berniat membunuhnya kali ini.


Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke gerbang besar pintu satu satunya untuk masuk ataupun keluar dari tempat itu, setelah berjalan beberapa jam mereka sampai di sebuah pasar yang sangat ramai. Tempat ini sangat ramai dengan orang yang berlalu lalang serta banyak sekali kereta kuda yang parkir di tepi jalan


Beraneka macam toko makanan serta barang barang lain berjejer di sana, yang tidak mereka duga adalah disana juga banyak pendekar dengan pedang yang ada di punggung mereka


"Apakah kau tau kita sedang berada di mana?"


"Apakah kau ini bodoh, jika kau yang seorang putri saja tidak tau apa lagi denganku?"


Sekar cendana merasa kesal yang mendalam, seumur hidupnya ia tidak pernah mendengar seseorang berani mengata ngatai nya.


"Maksutku jika tempat ini terkenal pastilah aku pernah mendengar namanya, di kerajaan bukan hanya ada satu tempat yang seperti ini. Tetapi bukankah sebelumnya kita berada di perbatasan? Setahuku di daerah perbatasan tidak ada tempat seperti ini"


Damar biru baru menyadari bahwa ucapan Sekar cendana memang ada benarnya , ia juga tau di daerah perbatasan tidak ada kota apa lagi desa seperti ini


Damar biru memutuskan untuk pergi ketempat makan sambil mencari tau nama dari tempat ini.

__ADS_1


Tempat makan yang mereka datangi terlihat sangat mewah, saat mereka masuk banyak sekali orang yang berpakaian mahal serta pendekar kelas tinggi yang duduk disana.


Mereka memilih untuk duduk di ujung ruangan yang sedikit lebih tenang dari percakapan para tamu yang terdengar sangat keras.


Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita mendatangi meja mereka.


"Tuan dan nona apa yang ingin kalian pesan? Hari ini kami memiliki menu spesial bebek panggang"


"Baiklah, bawakan aku bebek panggang dan sayur serta menu favorit lainnya"


Pelayan itu menulis pesanan Sekar cendana, saat ia akan meninggalkan meja mereka damar biru menahannya.


"Ada apa tuan"


"Apa nama dari daerah ini?"


"Oh apakah tuan pendatang baru? Nama tempat ini adalah kota mutiara timur, sama dengan sekte besar yang tidak jauh dari tempat ini"


Damar biru dan Sekar Cendana saling menatap, mutiara timur adalah ibu kota dari kerajaan Angin Utara. Bagaimana mungkin mereka berdua bisa berada di tempat ini? Itu lah pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab.


"Tanggal berapa sekarang?"


"Tanggal 5 tahun emas"


Sekar cendana dan damar biru kembani saling menatap, setelah pelayan itu pergi Sekar cendana menarik nafas panjang.


Dugaan damar biru memanglah tepat, Sotery berada di dimensi yang lain sehingga tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan nya.


Dimensi ruang dan waktu yang mereka miliki mengantarkan damar biru ke kerajaan Angin Utara dengan tanggal dan waktu yang sama saat mereka memasuki Sotery, bisa di bilang bahwa saat mereka berada di Sotery seakan akan waktu terhenti.


Jika seseorang masuk ke Sotery saat keluar maka mereka akan berada di tempat yang berbeda saat mereka masuk.


Setelah menunggu akhirnya makanan mereka datang, Sekar Cendana tanpa basa basi langsung memakan bebek panggang dengan asap yang masih mengepul tepat di hadapan mereka. Sementara damar biru, ia memperhatikan sekitarnya saat matanya melihat sosok yang tidak asing tengah mengobrol dengan seseorang di sebelahnya.


"Kau pasti tidak akan menyangka"


Sekar cendana yang tengah asik memakan bebek panggang nya tiba tiba berhenti dan melihat kearah yang yang sama dengan damar biru.


Matanya melebar saat mengetahui siapa sosok itu, ia langsung berdiri dan berjalan menghampiri meja dari orang yang sedang tertawa dengan seorang gadis.


"Ternyata kakakku hebat juga, baru beberapa hari pergi sudah mendapatkan seorang gadis"


Meskipun perkataan Sekar cendana terdengar sedang memuji tetapi nada suaranya membuat seseorang yang mendengar merasa merinding.

__ADS_1


Saat pria itu berbalik ia membulatkan matanya tak percaya, senyuman lebar langsung menghiasi bibirnya. Tanpa basa basi ia langsung berdiri dan memeluk gadis itu, sedangkan wanita yang sedari tadi duduk di hadapannya langsung menunjukan wajah yang seakan akan tidak percaya.


"Bagaimana kau bisa berada disini?"


Sekar Cendana langsung melepaskan diri dari pelukan pria itu yang tidak lain adalah kakaknya Bara.


"Kakak siapa wanita itu?"


Sekar cendana berbisik di telinga Bara, ia menatap gadis dihadapannya dengan tatapan tidak suka. Sebenarnya gadis itu terlihat lumayan cantik, tetapi wajahnya menunjukan bahwa sepertinya gadis itu bukanlah gadis yang baik.


Kita memanglah tidak dapat Menilai seseorang berdasarkan fisiknya saja, tetapi entah mengapa Sekar cendana tidak dapat menemukan kesan yang baik saat pertama kali melihatnya.


"Dia adalah putri wali kota, dia juga merupakan murid utama dari sekte Mutiara Timur"


Bara membalas ucapan Sekar cendana dengan kembali berbisik membuat suasana terkesan aneh.


"Bara siapa gadis ini?"


"Oh maaf, dimana kesopananku. Perkenalkan dia adalah adikku Sekar cendana"


"Namaku Himawari, selamat datang di kota mutiara timur"


Sekar Cendana mencoba tersenyum ramah kepada gadis di hadapannya, ia lalu teringat bahwa ia melupakan seseorang.


"Kakak sepertinya aku melupakan seseorang"


Sekar cendana berjalan menghampiri seseorang yang tengah makan dengan santainya.


"Ikutlah denganku"


"Aku lapar, biarkan aku makan dengan tenang. Lagi pula kau bisa mengobrol dengan kakakmu sepuasnya, aku akan makan disini dan tidak akan mengganggumu"


Damar biru berkata dengan malas dan kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


"Sepertinya kau menyukai kehidupan seperti ini"


Tiba tiba Bara datang dan duduk di sebelah damar biru, sedangkan damar biru hanya menatapnya malas.


"Apakah kalian adik dan kakak berniat mengganggu ku, aku hanya ingin makan dengan tenang kenapa sulit sekali"


Bara tertawa pelan, ia menepuk bahu damar biru pelan lalu mempersilahkannya untuk kembali melanjutkan makannya.


Tidak disangka Himawari datang menghampiri mereka, ia tersenyum manis kearah damar biru yang terlihat seperti senyuman penyihir di mata pria itu.

__ADS_1


"Bolehkah aku duduk disini, aku merasa kesepian jika harus makan sendirian"


Mereka bertiga tidak ada yang berniat menolak sehingga gadis itu segera mengambil tempat duduk di sebelah Sekar cendana dan bara.


__ADS_2