
matahari sehararusnya sudah terbit dari beberapa saat yang lalu, tetapi awan hitam menghalangi cahaya sehingga suasana terlihat sangat gelap.
melihat cuaca seperti ini hujan bisa turun kapan saja, Sekar cendana yang sudah bangun dari beberapa jam yang lalu karena ingin segera berlatih dengan ibunya harus memupuskan niatnya. ia tidaklah ingin saat sedang serius berlatih petir tiba tiba menyambar dirinya.
Sekar Cendana lebih memilih membaca buku dikamar nya, berusaha melupakan rasa kecewanya.
dilain tempat Damar Biru tengah memperhatikan cincin milik gurunya yang sedari kemarin membuatnya tidak bisa tidur.
ia penasaran dengan kekuatan dari cincin itu, ia ingin bertanya kepada gurunya tetapi ia segera mengurungkan niatnya.
Panglima Langit yang menyadari muridnya sangat gelisah sambil memperhatikan cincin miliknya, hanya bisa tersenyum masam.
ia tahu bahwa muridnya pasti mengira bahwa cincin itu memiliki kekuatan yang besar karena memunculkan aura yang sangat pekat.
"mengapa kau sampai gelisah memikirkan cincin itu, cincin permata biru hanyalah sebuah cincin dimensi yang membuat kita bisa menyimpan sesuatu didalam dimensi yang terdapat di dalamnya."
Damar Biru yang mendengar hal itu sedikit kecewa, ia berharap bahwa jika ia mengenakan cincin itu kekuatannya akan meningkat beberapa kali lipat. siapa yang menyangka bahwa cincin itu hanyalah sebuah cincin dimensi.
"apakah kau tidak ingin mengetahui isinya?"
"tentu saja aku ingin, hanya saja aku tidak mengetahui caranya"
jawaban Damar Biru membuat panglima langit mengumpatinya di dalam hati, muridnya ini benar benar bodoh. jika memang ia tidak bisa membukanya mengapa ia memilih diam dari pada bertanya kepadanya.
Panglima Langit mencoba tidak memaki murid satu satunya itu, dengan perlahan ia menjelaskan bahwa untuk membuka dimensi cincin itu Damar Biru hanya harus mengalirkan energinya ke arah cincin itu.
Damar Biru mencoba mengikuti arahan yang diberikan gurunya, sesaat kemudian tangannya yang menggenggam cincin itu mulai bersinar terang sehingga membuatnya memejamkan mata.
perlahan Damar biru membuka matanya dan menyadari dirinya tidak berada di tempat sebelumnya, saat ia menyadari sekelilingnya Damar Biru hampir pingsan ditempat. ia melihat di sebelah kanannya terdapat puluhan bahkan ratusan tumpukan emas seperti bukit yang tingginya puluhan meter berjejer rapi seperti tidak memiliki ujung, sebelah kirinya berjejer rapi senjata pusaka seperti pedang, tombak dan belasan jenis senjata lainnya yang berlevel tinggi dan jumlahnya puluhan, Damar Biru seakan ingin menangis melihat semua itu.
__ADS_1
tempat itu seperti sebuah ruangan tetapi ia tidak bisa melihat tembok ataupun atapnya, karna semuanya hanya terlihat berwarna putih tanpa ada batasnya. lantainya seperti terbuat dari marmer berwarna biru tua.
jika saja gurunya memberikan cincin itu kepadanya ia pasti menjadi orang terkaya di dunia ini, panglima Langit yang melihat muridnya terpana dengan tumpukan koin emas miliknya hanya bisa tersenyum kecut. pasalnya Damar Biru tidak mengetahui bagaimana usahanya untuk mengumpulkan semua itu serta membutuhkan waktu yang sangat lama.
tiba tiba sosok panglima langit muncul dihadapan damar biru, membuatnya mundur beberapa langkah.
"ternyata guru bisa keluar masuk ke dalam sumber kehidupanku"
"aku hanya bisa keluar selama 10 menit dalam sehari, jika seseorang menyadari kehadiranku kau bisa dalam bahaya"
panglima langit menjelaskan bahwa jika seseorang mengetahui bahwa ia tinggal di dalam sumber kehidupan Damar Biru maka orang orang akan beramai ramai mengincarnya untuk membuat Panglima Langit menjadi bawahannya.
karna jika roh Panglima Langit tinggal di dalam sebuah senjata, maka senjata itu akan menjadi tak terkalahkan karna ia berada pada tingkat dewa.
meskipun ia sangat kuat bukan berarti ia tak terkalahkan, jika dikepung dengan puluhan orang yang berada pada tingkat semesta ia pasti akan kalah karena ia tidak memiliki tubuh aslinya. ia hanya bisa menggunakan separuh kekuatannya saat ini.
Damar Biru bersorak gembira di dalam hatinya, ia sekarang menyadari betapa murah hati gurunya ini. ia menyadari bahwa mengumpulkan koin emas serta senjata kerkualitas tinggi seperti itu pastilah membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
ia pasti akan berusaha memanfaatkan nya sebaik mungkin agar tidak membuat gurunya kecewa
" satu bulan lagi putri Sekar Cendana dan pangeran Bara akan melakukan petualangan secara terpisah, dan aku yakin sang putri pasti akan mengajakmu. saat itu mampirlah ke sebuah tempat bernama Balai Langit Biru,"
sesaat setelah menyampaikan pesan itu Damar Biru tiba tiba berada di dalam kamar nya yang sebelumnya ia tempati, saat ia mencoba bertanya kepada gurunya ia tidak mendapatkan respon sama sekali.
ia memilih membaringkan tubuhnya di kasur sambil memikirkan ucapan gurunya bahwa putri Sekar Cendana dan pangeran Bara akan pergi dari istana untuk berpetualang.
dilain tempat seorang wanita tengah berjalan dengan tergesa gesa lalu mendorong sebuah pintu kamar hingga hancur berkeping-keping.
seorang gadis yang berada di dalam ruangan terkejut hingga terjatuh dari kursinya.
__ADS_1
"apa yang sedang kau lakukan, aku sudah menunggumu hampir dua jam dikamar ku tetapi kau tidak kunjung datang"
"maaf ibunda, sekarang sepertinya akan terjadi badai, jadi aku berfikir mungkin ibunda akan membatalkan jadwal latihanku"
seluruh tubuh putri Sekar Cendana bergetar hebat, ia tidak berfikir bahwa ibunya akan datang ke kamarnya dengan cara seperti ini.
jika ibunya marah mungkin seluruh kamar nya tidak akan tersisa.
"mengapa kau jadi lembek seperti ini, ini hanyalah badai kecil tidak akan terjadi apapun. sekarang ikutlah denganku kita akan berlatih di halaman istana, dan jangan membantah"
ratu Embun Alera segera pergi tanpa mendengarkan jawaban dari putrinya, Sekar Cendana segera berlari menyusul ibunya. takut jika ibundanya akan semakin marah padanya, jika itu terjadi bahkan ayahnya pun tidak bisa menolongnya.
saat ia telah sampai di halaman istana angin bertiup sangat kencang disertai dengan hujan yang sangat lebat. ratu Embun berdiri dengan pakaian yang kering seolah olah Air tidak bisa membuat pakainnya basah, jubah panjangnya berkibar tertiup angin menimbulkan kesan yang elegan dan juga angkuh.
"alirkan energi kehidupanmu ke seluruh tubuh, buatlah air hujan tidak bisa menyentuhmu."
putri Sekar Cendana menurut perintah ibunya, ia memejamkan matanya dan segera mengalirkan energi kehidupannya keseluruhan tubuh dengan perlahan, sekarang ia merasakan kehangatan didalam tubuhnya mengalir keseluruhan tubuh.
putri Sekar Cendana tidak lagi merasakan dingin nya air hujan serta hembusan angin yang begitu kuat. perlahan ia membuka matanya dan melihat bahwa air hujan jatuh melewatinya. ia tersenyum gembira karena usaha pertamanya berhasil.
"sekarang rasakan gerakan angin yang berada di sekitarmu, keluarkan jurus api abadi perlahan lahan" tiba tiba tubuh Sekar Cendana terbungkus oleh api yang semakin lama semakin membesar hingga tumbuh beberapa meter diatas kepalanya.
"bagus, sekarang buatlah apimu mengikuti gerakan angin yang berada di sekitarmu"
api yang sangat besar perlahan bergerak senada dengan hembusan angin, terkadang berputar, lalu bertambah besar ataupun kecil. api yang di keluarkan putri Sekar Cendana seakan menari nari bersama hembusan angin.
meskipun hujan sangat besar tidak membuat api itu meredup apa lagi sampai padam. ratu Embun Allera terus memberikan arahan yang membuat kekuatan Sekar Cendana meningkat dengan pesat.
setelah latihan selesai Sekar cendana baru menyadari bahwa Damar Biru tidak datang, 'bagaimana mungkin dia datang di tengah badai?'
__ADS_1