The Last Prince

The Last Prince
#6


__ADS_3

satu bulan telah berlalu dengan cepat, kekuatan Damar Biru, putri Sekar Cendana, serta pangeran Bara meningkatkan dengan pesat.


putri Sekar Cendana dan pangeran Bara yang awalnya berada pada tingkat langit level 9 sekarang sudah mencapai tingkat angkasa level 3. sedangkan Damar Biru siapa yang menyangka bahwa sekarang ia sudah mencapai tingkat langit level 5.


pencapaian Damar Biru membuat seluruh orang di istana terkejut, tak terkecuali raja dan ratu. bagaimana mungkin seorang anak yang berada pada tingkat bumi level 3 dalam waktu satu Bulang berhasil naik ke tingkat langit level 5.


sebuah pencapaian yang sangat ajaib bagi mereka yang mendengarnya, satu hal yang membuat Damar Biru sangat terkejut adalah bahwa ucapan gurunya panglima langit bahwa pangeran Bara dan putri Sekar Cendana akan meninggalkan istana benar adanya.


hal itu merupakan sebuah tradisi kerajaan, disaat seorang pangeran dan putri raja mencapai tingkat praktik angkasa, mereka diharuskan pergi berkelana dengan tujuan mencari pengalaman di luar istana sampai mereka berada pada tingkat semesta.


mereka tidak diberikan batasan waktu tertentu, mereka juga tidak ditemani oleh para pengawal istana. mereka benar benar dituntut untuk menjadi seseorang yang mandiri, dan yang lebih menyedihkan jika mereka dalam masalah mereka tidak bisa menggunakan identitas asli mereka sebagai anggota kerajaan atau nyawa mereka akan semakin terancam.


hari ini tiba waktunya bagi mereka bertiga untuk pergi, raja dan ratu mengantar mereka sampai ke gerbang istana. sang ratu terlihat sedikit murung karena tidak rela bahwa putra dan putrinya akan pergi jauh darinya dengan kurun waktu yang tidak dapat di pastikan.


"Sekar ambilah kalung ini, jika nyawamu terancam maka kalung ini akan menolongmu"


sang raja memberikan sebuah kalung dengan liontin berwarna merah kepada putri Sekar Cendana. kalung itu adalah warisan turun temurun keluar karajaan, jika pemiliknya dalam bahaya maka binatang berbentuk poenix akan keluar. binatang itu berada pada tingkat semesta level akhir sehingga ia akan dengan mudah mengalahkan musuh yang levelnya berada di bawahnya.


"untuk mu putraku, ini adalah senjata kebanggaan ku. didalamnya terdapat arwah macan putih pada tingkat semesta level akhir. gunakan ini saat kau merasa benar benar terdesak, jika tidak maka orang orang akan mengincar nyawamu."


sang raja menyerahkan sebuah pedang yang sangat panjang kepada pangeran Bara, pedang itu hanya ada satu di kerajaan Agrasia sehingga menjadi incaran bagi para ahli yang sudah berada pada tingkat praktik yang tinggi.


"dan untukmu Damar Biru, karna Sekar Cendana bersikeras untuk mengajakmu maka kaupun layak mendapatkan hadiah dariku," sang raja lalu memberikan sebuah pedang kepada Damar Biru, meskipun kualitas pedang itu jauh dibawah milik dari pangeran Bara, tetapi tetap saja bahwa pedang itu adalah pusaka level tinggi.

__ADS_1


mereka bertiga kemudian memasukan hadiah mereka masing-masing kedalam cincin dimensi agar tidak menarik perhatian. tentulah kualitas cincin mereka dibawah milik Damar Biru, meskipun awalnya sang raja dan ratu curiga akan cincin itu tetapi Damar biru berhasil meyakinkan mereka bahwa cincin itu adalah pusaka warisan keluarga nya.


setelah itu sang raja mengibaskan tangannya lalu sesaat kemudian muncul sebuah pintu dimensi berbentuk seperti Lubang hitam yang dapat membuat mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat.


"pangeran Bara dan putri Sekar tidak dapat berada di tempat yang sama karena mereka akan saling mengandalkan satu sama lain. oleh karena itu mereka akan di tempat kan di tempat yang berbeda"


ucapan sang ratu bagai petir yang menyambar hati keduanya, sedari kecil mereka selalu pergi kemanapun bersama sama tetapi sekarang mereka harus berpisah dengan jangka waktu yang tidak diketahui.


meskipun pangeran Bara sangatlah sedih ia tidak ingin mempermasalahkan nya lebih jauh karena keputusan itu tidak akan bisa diubah. ia lebih memilih langsung masuk kedalam pintu dimensi, Sekar Cendana yang melihat hal itu tidak dapat berkata apa apa. ia segera menyusul Bara masuk ke pintu dimensi dan diikuti oleh Damar biru.


Damar Biru dan putri Sekar Cendana tiba di sebuah hutan yang sangat lebat, pohon pohon dihutan itu sangat tinggi sehingga cahaya matahari tidak dapat menembus dedaunan yang sangat lebat.


"ini adalah hutan belantara, letaknya kurang lebih dua hari perjalanan jika menggunakan kuda ke kerajaan Agrasia" Panglima Langit yang sejak tadi hanya diam tiba tiba berbicara.


"disini banyak bintang siluman, meskipun hanya berada pada tingkat bumi tetapi tetap saja kau harus berhati hati"


setelah matahari hampir terbenam mereka berdua tiba di sebuah desa yang sangat kumuh. rumah rumah disana terlihat hampir roboh, bahkan jika terkena angin yang cukup besar desa mereka akan rata dengan tanah. beberapa penduduk yang mereka lihat juga memiliki badan yang sangat kurus serta pakaian yang compang camping. beberapa dari mereka memperhatikan Damar dan Sekar Cendana seolah meminta bantuan.


setelah berjalan beberapa lama mereka tiba di sebuah penginapan yang kondisinya tidaklah jauh lebih baik dari rumah warga desa, setidaknya tempat itu baru dibangun sehingga tidak terlalu khawatir akan roboh.


"aku pesan dua kamar"


"satu kamar biayanya 2 keping perak permalam"

__ADS_1


seorang gadis muda menyambut mereka dengan hangat, kondisinya tidak lebih baik dari warga desa yang lain. dengan badan yang sangat kurus serta wajah yang pucat seolah-olah ia dapat tumbang kapan saja.


Sekar Cendana mengeluarkan lima keping emas kepada gadis dihadapannya, gadis itu terlihat terkejut saat wanita dihadapanya dapat mengeluarkan koin emas dengan sangat mudah.


"maaf nona tapi ini terlalu banyak, anda akan menginap berapa lama"


wanita itu masih belum mengambil koin emas yang ada dihadapannya, ia tidak ingin merepotkan tamunya karna ia tidak bisa memberikan pelayanan yang maksimal.


"aku hanya menginap selama satu malam, gunakan sisanya untuk membeli makanan dan bagikan kepada warga desa" gadis itu awalnya ragu, tetapi ia segera mengambil uang itu takut jika ada yang melihat mereka pasti akan dalam masalah karena membawa uang dalam jumlah besar.


gadis bernama Murni itu langsung mengantarkan mereka kedalam kamarnya masing masing, ia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk kedua tamunya serta makanan untuk dibagikan kepada warga desa.


Damar Biru merebahkan tubuh nya di kasur, kakinya sepeti mati rasa setelah berjalan seharian. ia masih memikirkan kondisi warga desa yang tadi ia lihat, entah mengapa ia merasa ada masalah besar yang sedang terjadi di desa ini.


"guru, apakah kau tahu sesuatu tentang penyebab dari kondisi warga desa?"


"menurutku kondisi desa sepertinya adalah akibat dari banyaknya binatang siluman yang berada di hutan yang mengelilingi desa. karna mereka semua adalah manusia, mereka tidak bisa melawan hingga lebih memilih pasrah"


"bisakah kita membantu mereka"


"tentu"


sesaat kemudian Panglima Langit muncul di hadapan Damar Biru, ia menyuruh Damar Biru untuk memilih salah satu benda pusaka yang berada di dalam cincin dimensinya.

__ADS_1


Damar pun memilih pedang karena benda itu lebih mudah digunakan dan ia sudah beberapa kali berlatih menggunakan senjata itu.


"malam ini kau akan berburu"


__ADS_2