THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )

THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )
Aku akan menikahimu?


__ADS_3

Namaku afirah, aku anak tunggal dan ibuku sudah meninggal semenjak melahirkan ku.


Aku tinggal dengan ayah sampai aku berusia 18 tahun.


Di Rumah Sakit, aku sedang menemani ayahku yang sedang terbaring sakit di ranjang. Sudah 1 bulan ayah sakit, dia menderita penyakit kanker ganas stadium 4. Itulah kesalahanku, aku tidak pernah mencari tahu penyakit yang di derita ayahku. Tau - tau ayahku sudah terkapar dengan penyakitnya yang semakin memburuk.


Pintu terbuka, aku melirik dan tampaklah seorang dokter muda tampan dengan memakai kacamata. Aku akui dia sangat tampan.


"Saya disini yang akan memeriksa keadaan pasien,"


"Kemana dokter yang biasa memeriksa ayahku," Tanyaku.


"Dia sedang ditugaskan keluar kota, baiklah bisa anda menunggu diluar."


Aku mengangguk lalu pergi keluar, dari kaca pintu aku melihat ayahku yang sedang diperiksa.


Tak lama perawat keluar memberitahuku jika aku sudah bisa masuk, aku bergegas masuk dan langsung menghampiri ayahku.


"Bagaimana keadaan ayahku, apa dia membaik, apa dia akan sembuh?" Tanyaku seraya melirik dokter muda itu.


"Hhh" Bukannya mendapat jawaban dokter itu malah menghela napas.


"Afirah," Ayah menggenggam tanganku, aku menatapnya lekat.


"Nak, hidup ayah sudah tdk lama lagi. Dan ayah ingin sekali sebelum ayah pergi, ayah melihat kamu menikah." Aku terdiam.


"Kenapa ayah bicara seperti itu, ayah pasti sembuh kok. Afirah yakin?"


Ayah tersenyum padaku," Ayah ingin sekali melihatmu menikah nak,".


"Tapi ayah, aku akan menikah dgn siapa? Selama ini aku tdk pernah pacaran ataupun dekat dgn seorang pria," Ucapku bingung,


"Aku yang akan menikahimu, afirah?" Aku terkejut, siapa yang mengatakan itu. Aku melirik kebelakang dan hanya dokter muda itu yang ada disini.


"A- apa maksudmu,"


"Iya afirah, dia yang akan menikahimu?".


"Tapi ayah, aku,, siapa dia. Aku tidak mengenalnya."


"Dan lambat laun kamu pasti akan mengenalnya, afirah? Namanya zein, dia pria yg baik, pintar, tampan. Ayah sangat ingin melihatmu menikah dengannya," Aku berpikir untuk waktu yang lama.


"Aku keluar dulu yah," Ucapku lalu pergi keluar.


"Zein, zein apa kamu benar - benar akan melakukan keinginan ku,"


"Om gak usah khawatir, aku akan meyakinkan afirah. Dia pasti akan mau, aku janji akan menyayanginya dan menjaganya dengan baik. Dan mengingat ayah saya dan om berteman baik, aku gak mau bikin om kecewa."


"kamu memang anak yang baik, om akan selalu berterimakasih padamu." Dokter muda bernama zein itu mengangguk pelan.


Afirah sedang duduk dikursi taman RS, ia masih bingung dan keberatan dengan keinginan ayahnya.


"Aku akui dia memang tampan, tapi aku baru mengenalnya. Aku belum tau seberapa baik dia, tidak mungkin juga aku dan dia bisa bersama. Karna,,,,

__ADS_1


"Kamu meragukanku, apa wajahku terlihat seperti seorang pembohong. Apa aku harus melakukan sesuatu agar kamu mempercayaiku, atau apa aku harus...


Afirah terkejut saat tau dokter muda tampan itu sudah ada disampingnya.


"stop - stop, sebanyak apalagi kamu akan bicara." Ujar afirah. Apa seorang dokter memang selalu bicara banyak? Pikir afirah.


"ke- kenapa kamu mau menikah denganku, kamu pintar dan tampan. Bukankah masih ada perempuan lain yang lebih cocok denganmu, daripada mempertaruhkan kebahagiaanmu untuk menikah denganku, lebih baik kamu menikah dengan orang lain."


zein tertawa kecil, "Sebanyak apalagi kamu akan bicara,"


afirah menganga, "Itu kalimatku, kenapa kamu menggunakannya tanpa ijin dariku."


"Aku harus ijin dulu,"


"Tentu saja,"


"Afirah, apa kamu masih meragukanku. Setidaknya aku hanya ingin membuat ayahmu bahagia,"


"diakan ayahku, kenapa kamu harus menurutinya. Aku juga bisa membuatnya bahagia,"


"karna ayahmu sudah aku anggap sebagai ayah keduaku, ayahku dan ayahmu berteman baik."


"Tapi kenapa aku tidak tau, kenapa ayahku tidak pernah memberitahuku."


Zein mengendikkan kedua bahunya, "Aku tau, pernikahan itu bukanlah hal yang sepele. Tapi tidak ada salahnya kan jika kita ingin membahagiakan orang yang paling kita sayangi,"


Aku menatap zein, aku tidak mau menikah. Tapi mendengar ucapan zein membuatku merasa bersalah jika tak melakukannya.


"Seiring berjalannya waktu, kita pasti akan saling menyukai. kamu cantik dan aku tampan,,,


Afirah menatap dokter muda itu sekilas, "Bagaimana kamu bisa se-pede itu bicara jika kamu tampan,"


"Bukannya kamu sudah mengakuinya tadi,"


"Aku, kapan. Aku tidak pernah mengatakannya,"


"Yaya, terserah kamu. Tapi pepatah cinta pada pandangan pertama itu memang selalu berlaku kan?" Ucap zein seraya tersenyum.


(Tampan sekali,) Batin afirah.


"Baiklah, aku mau."


"Kamu yakin,"


"70% aku yakin,"


"Berarti 30% nya kamu masih ragu,"


"Sedikit," Ucap afirah dengan menyatukan ibu jari dan telunjuknya.


"oke, meski 30% kamu masih ragu. Aku akan membuat 30% itu menghilang dan menjadikan kamu 100% mempercayaiku,"


"Aku tantang kamu,"

__ADS_1


"Ayok,"


"Kemana?"


"Menemui ayahmu,"


"Tunggu,"


"Apalagi,"


"Usiamu berapa?"


"Aku 6 tahun lebih tua darimu,"


"Cih, tinggal bilang 23 tahun susah amat."


Zein menggaruk kepalanya, "Jadi apa aku harus panggil kakak, kak zein."


Zein mengusap wajahnya, ia menahan senyumnya. Aku dalam masalah, kenapa dia manis sekali. Batin zein.


"Ada apa, apa kak zein keberatan." Tanya afirah dengan alis mengangkat.


"A-aku tidak keberatan,"


"Pffft,,, hahahaha."


"Kenapa kamu tertawa,"


"kakak, kamu manis sekali. Hahaha,,,"


*Deg, dia bilang aku manis. Apa ini, dia bilang aku manis. Hoho,,, kenapa aku sangat senang*. Zein tak berhenti meracau dalam hatinya.


"Hallo,,," Afirah melambaikan tangannya di depan wajah zein.


"Ayok kita menemui ayah," Tambah afirah.


"Baiklah, ayo."


Ayah afirah sedang memikirkan bagaimana caranya agar afirah mau menikah dgn zein.


Hingga pintu terbuka dan terlihat olehnya, zein dan afirah masuk berbarengan.


"Zein, afirah.."


"Ayah,, aku mau menikah dengan kak zein."


Ayah afirah tersenyum bahagia, "Iya om, dan secepatnya kita berdua akan menikah."


"Afirah,, kamu yakin. Apa kamu menerima pernikahan ini dengan unsur paksaan."


"Tidak ayah,, tidak ada orang yg memaksa afirah."


Sebenarnya aku masih belum yakin apa keputusanku ini adalah hal yg benar, tapi tidak ada salahnya jika aku ingin membuat ayah bahagia. Lagipula, kak zein pria yang sangat baik. Batin afirah.

__ADS_1


__ADS_2