
Di kantin sekolah, Afirah, Alya, Anissa, dan Amira sedang menikmati makanan mereka.
4A, itulah orang orang menyebut persahabatan mereka berempat. Kenapa 4A, karna nama mereka diawali dengan huruf A. Dan pastinya sifat mereka berempat juga berbeda, Alya bersifat tomboy dan galak tapi dia amat perhatian. Anissa, dia orang yg humoris juga suka blak-blakan dalam bicara. Amira, dia cuek tapi punya sisi manis yang bisa membuat para pria jatuh hati padanya. Dan Afirah, dia lebih bersifat feminim dia juga pandai menutupi masalahnya. Tapi adakalanya afirah menjadi sangat cerewet, dia juga sangat kepo-an.
Diantara mereka ber4, yang paling populer adalah amira dan afirah. Tapi meski begitu mereka berdua tidak pernah pacaran.
"UA udah sebentar lagi, kalian niatnya mau ngelanjutin kuliah kemana." Tanya Alya.
"Aku sih niatnya bakal ikut orang tua keluar kota dan kuliah disana." Ucap amira.
"Lha berarti kita bakal pisah sama kamu donk," Tanya afirah.
Amira mengangkat bahunya sedih, "Kamu sendiri afirah."
Yang ditanya malah terdiam, Aku juga mau kuliah hiks. Batin afirah.
"Tau ah,, yang penting aku lanjut kuliah daripada nggak." Ucap anissa tiba tiba.
"Kebayang ya, nanti udah dewasa kita kuliah cari kerja terus ketemu pria idaman nikah deh?" Ucap anissa.
"Kalau ngomongin nikah, kira kira siapa ya yang bakal lebih dulu nikah diantara kita ber4," Ucap amira.
"Kalau menurutku sih kayanya kamu ra, terus ke anissa terus aku terakhir afirah." Ucap alya.
"Lho, kok aku yang pertama."
Hei, aku yang duluan. Aku, kalian tidak tau. huhhh,,, batin afirah.
"Gak tau, insting ajah gitu,"
"Intinya aku bakal jadi perawan tua gitu," Gertuk afirah.
"Hahaha, yaa mungkin."
"Pokoknya siapapun yg pertama nikah nanti, kalian harus ingat kalau disini ada sahabat yang harus kalian undang, oke??"
"Syiapp," Ucap anissa dan alya, afirah hanya tersenyum menanggapi ketiga temannya itu.
08××××××××××××
Afirah, nanti pulang sekolah
aku jemput?
Afirah mengerutkan keningnya, siapa no baru yang mengirim pesan padanya.
AFIRAH
Ini siapa yaa?
08××××××××××××
__ADS_1
Ini aku zein.
AFIRAH
ohh,, kak zein ternyata.
iya kak aku tunggu?
Dipikir - pikir ucapan ayah ada benernya juga, kalo kata orang tua jaman sekarang mah kak zein itu paket lengkap. Orangnya baik, pinter, ganteng pula. Bodoh banget kalo aku gak suka sama kak zein, tapi kenyataannya aku memang belum suka sama kak zein. Lalu afirah menyimpan no zein, dengan nama kak zein. sangat sederhana??
"Hoiii," Alya, anissa, dan amira berucap bersamaan.
"E- copot," Afirah melatah karna kaget, ketiga temannya tertawa.
"Ihh,, kalian kenapa ngagetin aku si,"
"Lagian dipanggil daritadi gak nyaut nyaut, malah bengong. Kesambet tau rasa," Ucap anissa.
afirah hanya memutar bola matanya malas.
@pulang sekolah, digerbang.
"Afirah, bareng aku aja. Yang lain udah pada pulang," Ajak mira.
"nggak usah, kamu pulang duluan aja. Aku pake angkot aja,"
"Yakin,"
"Yaudah aku duluan yaa,"
"Iya hati hati,"
Amira menjalankan motornya meninggalkan fira sendiri, lalu fira berjalan kearah mobil berwarna putih yang terparkir.
Kaca mobil itu perlahan terbuka, "Ayo masuk," Afirah menganggukan kepalanya lalu masuk, ia duduk disamping kursi pengemudi atau disamping zein tepatnya.
"Maaf kak, aku cuma pengen temen - temen aku jangan pada tau dulu,"
"Gak papa," Ucap zein seraya tersenyum.
Afirah membalas senyuman zein, zein memang pria yang sangat baik. Didalam mobil hening, zein sedang fokus mengemudi, Sementara Afirah lebih memilih melihat pemandangan.
"Eh, kak? kok arahnya kesini, rumahku kan diarah sana. Kita mau kemana dulu,"
"Liat aja nanti," ucap zein seraya menatap fira dengan senyumnya.
Ya ampun, kenapa daritadi dia senyum mulu. udah tau senyumnya manis banget, kalo nanti aku diabetes kan jadi repot. Batin afirah seraya mengusap kedua pipinya.
Afirah berjalan disamping zein, ia terpaku saat dihadapannya ada butik khusus baju pengantin yang terkenal sangat mewah dan berkelas.
"Apa ini tidak terlalu cepat kak,"
"Kenapa, UA tinggal 3 hari lagi. Dan kamu lulus hanya tinggal 1 bulan lagi, setelah lulus kita akan segera menikah."
Afirah menahan nafasnya, ia sungguh tak menyangka, secepat itukah?
__ADS_1
"ini permintaan ayahmu,"
Afirah menganggukan kepalanya lemas, zein hanya menggelengkan kepalanya.
"Berikan dia baju yang sudah aku pilih waktu itu," Sang pelayan mengangguk.
"Ayo ikut saya," Afirah mengangguk lalu mengikuti si pelayan menuju ruang ganti.
Zein mendapat telpon dari ayahnya,
"*Z*ein, kamu dimana?"
"Aku dibutik yah, bersama afirah."
"*Y*asudah,, ingat? jangan bikin afirah kecewa oke, dan kamu harus pilih baju pengantin terbaik untuk afirah. Mengingat sekarang ayah afirah sangat kritis, ayah tidak mau kalau kesedihan afirah bertambah karna dikecewakan olehmu?"
"Ayah tenang saja, aku sudah berjanji akan menjaga afirah dengan baik?"
"*T*api zein, apa waktu itu. Yang kamu ucapkan pada ayah benar, jika kamu memang menyukai afirah dari pertama kamu melihatnya."
Zein menyampirkan rambutnya "Apa ayah meragukanku,"
"*T*idak, ayah senang kalau akhirnya kamu bisa menyukai seorang wanita, ayah selalu berfikir apa anak ayah ini normal."
"Ayah, buang jauh jauh fikiran ayah itu. masa ayah berfikir kalau aku tidak normal sih, aku normal ayah. Hanya saja aku memang belum memberikan hatiku pada wanita manapun, dan sekarang aku yakin dengan apa yang aku rasakan saat bersama afirah."
"*B*aguslah,,,
BOHONG. Apa yang di ucapkan zein adapah kebohongan besar, mengenai ia belum memberikan hatinya pada wanita manapun. Karna faktanya, zein saat ini masih mencintai cinta pertamanya.
"Tuan," Zein melirik asal suara, ia terpaku saat melihat afirah yg berbalut gaun pengantin. Gaun pengantin yg dirancang khusus, dengan banyak permata dibagian dada dan tentunya sangat - sangat mewah.
Meski afirah tidak berdandan, namun kecantikannya mampu membuat zein terpesona.
"Ekhem,," Sang pelayan berdehem.
"Eeh," Zein tersadar, afirah menundukan kepalanya malu.
"Ayah, aku matikan telponnya." Ucap zein mematikan sambungan telpon dengan ayahnya, ia lalu berdiri dan menghampiri afirah.
"Afirah, kamu sangat cantik dengan gaun ini."
" Benarkah? tapi, sepertinya gaun ini sangat mahal."
"Jangan cemaskan masalah harganya, gaun ini sangat cocok dengan mu. Apa kamu nyaman dengan gaun ini,"
"Aku suka gaun ini, tapi harganya...
"Syutt," Zein menempelkan ibu jarinya di bibir afirah, saat itu juga wajah afirah memanas dan memerah.
Afirah melepas ibu jari zein dari bibirnya, zein tersenyum melihat afirah salah tingkah.
"Asalkan kamu nyaman, aku tidak peduli dengan harganya." Ucap zein.
"Terserah," Afirah menjulurkan lidahnya.
Lucu juga dia. Batin zein gemas.
__ADS_1
Ya ampun, jantungku ini kenapa si. Batin afirah menahan malu.