THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )

THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )
kritis,,,


__ADS_3

*brukk*


afirah tergeletak, tapi matanya masih terbuka.


zein langsung melepaskan arum dan lari menghampiri afirah.


"afirah,," zein memeluk afirah, darah diperut afirah pun membanjiri baju zein.


rian dan azis menangani arum, hyung seok diam membeku melihat afirah.


"hyung seok, bawa mobilku dan antarkan afirah ke rumah sakit?" titah azis.


hyung seok diam tak mendengarkan ucapan azis, pikirannya kosong.


"HYUNG SEOKKK," bentak zein.


"e-eh, apa?" hyung seok tersadar.


"antarkan afirah ke RS, cepatt.. bawa saja mobilku!"


"baik," hyung seok membantu zein membawa afirah.


"ayo kak?"


zein mengangguk lalu menggendong afirah, memasukkan afirah kemobil azis dan membawanya ke RS bersama hyung seok.


"oke?, apa sekarang lo siap untuk menyerahkan dirimu kekantor polisi. arum?" ucap azis.


arum mendelikkan matanya tak menjawab omongan azis.


"tunggu?" rian menghentikkan langkah azis dan arum.


rian menghadap arum, ia menyeringai. lalu tersenyum sinis pada arum.


"apa lo tau, dulu gue bangga banget karna bisa disukai sama loe. tapi sekarang gue jijik liat lo rum,


gue gk nyangka banget lo ngelakuin hal kekanakkan kayak gini, sama zein lagi. sebenernya gue pengen banget nampar lo, tapi gue coba nahan tangan gue?"


"udah," tanya azis.


*pletak* rian memukul kepala azis.


"satt, lo malah motong omongan gue?"


"ishh, gk pake mukul juga kalii." protes azis seraya mengusap kepalanya.


"yuk akh, kita buru buru nganterin nie cewek ke kantor polisi. habis itu kita ke RS," ucap rian menyela.


azis mengangguk dan segera menyeret arum bersama rian.

__ADS_1


zein pun sampai di RS, beberapa perawat membantu memindahkan tubuh afirah ke ranjang dorong. zein dan hyung seok mengikuti afirah yg saat ini dibawa menuju ruang UGD.


zein dapat melihat dgn jelas afirah yg saat ini sedang ditangani oleh dokter melalui jendela pintu.


hyung seok melihat kekhawatiran yg sangat dimata zein.


(sebenarnya pria ini siapanya afirah) batin hyung seok.


"firaa,, kumohon bertahan." zein tak peduli dgn bajunya yg sudah dipenuhi darah, ia tak henti hentinya berharap.


*TIIINNNNN*


mata zein terpaku melihat layar EKG lurus, para perawat juga menyiapkan alat kejut jantung (defibrilator). setelahnya dokter pun menggunakannya pada afirah.


"nggak, afirah. dia gk mungkin,"


hyung seok juga tak kalah kaget melihat kondisi afirah yg makin kritis, lalu hyung seok menghampiri zein dan menepuk pundaknya. zein menatap hyung seok,


"aku tak tau kamu siapanya afirah, tapi aku yakin afirah gk akan semudah itu buat ninggalin kita."


zein dan hyung seok menghela nafas lega mengatahui jantung afirah kembali berdetak, zein tanpa sadar memeluk hyung seok. ia berterimakasih pada hyung seok karna tlah menenangkan dirinya.


"siapa namamu, dan bagaimana kamu kenal afirah."


"namaku hyung seok, masalah bagaimana aku kenal afirah. aku akan menceritakannya nanti?"


salah satu perawat keluar dan menghampiri zein juga hyung seok.


zein menyampirkan rambutnya frustasi, golongan darahnya AB. jadi zein tak bisa mendonorkan darahnya pada afirah, tapi tiba tiba hyung seok menghampiri si perawat.


"aku akan mendonorkan darahku, golongan darahku A."


"baik, ikuti saya."


"hyung seok,," zein memanggil, dan hyung seokpun menoleh.


"terimakasih banyak,"


hyung seok tersenyum lalu pergi, semetara zein kembali melihat afirah lewat kaca pintu. tak lama datang azis dan rian, mereka tak berdua. amira juga ada bersama mereka, dari yg terlihat mata amira sudah membengkak karna menangis.


"aku pikir lebih baik aku memberitahu salah satu temannya," ucap rian.


"terimakasih sudah memberitahuku?" ucap amira.


"bagaimana keadaan afirah" tambah amira.


"kalian tak akan menyangka hal ini, afirah baru saja selamat dari kematian. aku sungguh bersyukur, dan sekarang kondisinya sedikit stabil."


"lalu pria itu mana," tanya azis.

__ADS_1


"siapa," tanya balik rian.


"itu yg orang korea."


"akh, apakah yg kamu maksud itu hyung seok. afirah membutuhkan donor darah dan kebetulan golongan darahnya sama dgn afirah, dia beanr benar pria yg baik."


"ahh, syukurlah." ucap amira.


2 jam berlalu, saat ini afirah sudah dipindahkan keruang ICU. azis menghampiri zein yg masih setia menunggu afirah sadar.


"hei zein, aku sudah membeli baju untukmu. kamu harus mengganti bajumu,"


"tapi,,


" disini ada kami yg akan menjaga afirah, cepat sana?"


zein mengangguk, ia memeriksa tas berisi pakaiannya.


"kenapa kau tak membeli kemeja, aku tak biasa memakai hoodie."


"haduhh, jgn protes mulu. cepetan ganti sana,"


zein memonyongkan bibirnya lalu berjalan ke toilet, azis duduk disamping amira dan rian.


"nih, jgn nangis mulu. bentar lagi afirah bangun kok," ucap rian seraya memberikan sapu tangan pada amira.


"ekhemm, modus tuh modus." bisik azis.


"apa lu bilang,"


"gue gk bilang apa-apa,"


amira tersenyum, lalu ia mengambil sapu tangan dari rian.


"makasih,"


"hei, lo berdua bisa kan jagain afirah. fitri udah sampe katanya di kantor polisi, gue mana bisa ngebiarin dia sendiri."


"yaudah, lo pergi sana. eh tapi si korea itu dimana," tanya rian.


"katanya si dia mau pergi ke minimarket,"


"oohh,"


"okey, gue cabut yaa."


"siapp,"


"azis mana," zein yg baru selesai dari kamar mandi menanyakan azis.

__ADS_1


"mau ngurusin arum bareng fitri,"


"hmm," zein duduk dikursi, ia kembali memegangi tangan afirah. karna waktu sudah malam, mereka ber3 pun tertidur.


__ADS_2