THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )

THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )
di apartement arum,,,


__ADS_3

charlotte duduk dibatu besar depan air terjun, ia memikirkan zein. orang asing yg sudah mencuri hatinya, ia benar benar merasa sesuatu tlah terjadi pada zein.


"kamu ingat will,"


charlotte tersenyum pada thomas, lalu ia kembali memandang air terjun.


"sepertinya kamu sangat menyukainya,"


"ntahlah thom, aku terkejut saat tau will sudah punya istri."


"char,, aku ingin mengatakan sesuatu."


"katakanlah? kenapa kau harus minta izin dariku dulu."


"char, aku menyukaimu. aku tak pernah menganggapmu sebagai adikku, tapi aku menganggapmu sebagai seorang wanita yg slama ini aku sukai. char, lupakanlah will. karna bagaimanapun dia sudah jadi milik orang lain, dan...


charlotte menatap thomas dalam dalam, antara terkejut, dan bingung keduanya menyatu. lalu ia tersenyum.


" sejak kapan kamu menyukaiku?"


"sejak orang tua mu meninggal, saat aku slalu berada disampingmu untuk menghiburmu, menemanimu,"


"lalu kenapa baru sekarang kamu memberitahuku, kalau kamu menyukaiku?"


"ntahlah? aku hanya merasa takut, aku takut kalau aku memberitahumu kalau aku menyukaimu kamu akan pergi menjauh dariku. aku benar benar tak mau hal itu terjadi, apa kamu tau setiap kali aku melihatmu bahagia bersama will. aku sangat cem,,,


*cup*


thomas mematung saat sebuah ciuman singkat mendarat dibibirnya, ia menatap charlotte dalam-dalam.


"kamu terlalu banyak bicara, hhhh... aku akan memikirkannya tapi setidaknya bantu aku agar bisa melupakan will,"


"baik tuan putri," thomas tersenyum bahagia, ia menatap charlotte. akhirnya perasaannya slama ini bisa tersampaikan dgn baik.


afirah pagi itu langsung bergegas, seperti yg dijanjikan waktu dan tempatnya. afirah langsung pergi ke caffe yg ada didekat rumahnya, ia tinggal menunggu azis datang.


"hai," afirah menengok ke belakang, ia sedikit terkejut melihat hyung seok ada dibelakangnya.


(kenapa aku sering bertemu dgnnya)batin fira.


"hallo, afirah. kamu mendengarku,"


"ah yaa,, ada apa."


"tidak, aku hanya menyapamu. kebetulan aku juga ada disini,"


"akh,, begitu yaa.."


"kamu sendiri,"


"aku sedang menunggu seseorang,"


"seseorang, siapa?"


"temanku,"


"ouhh, apa aku boleh bergabung dgn mu."


"maaf, tapi aku dan temanku harus membicarakan sesuatu yg sedikit rahasia."


"ahhh, oke. aku akan kembali ke mejaku,"


afirah akhirnya dapat mengusir hyung seok dgn halus, hingga tak lama azis pun datang bersama rian.


"fira, ini lokasi zein sekarang."

__ADS_1


azis menunjukan laptopnya pada fira.


"ini dimana?"


"ini pulau yg dibeli oleh arum."


"pulau,"


"tapi zis, anehnya sekarang lokasi zein jadi ada 3. apa kamu tau penyebabnya,"


"sepertinya arum yg sengaja melakukannya, aku belum bisa melakukan hal yg seperti ini."


hyung seok sedikit menguping, sebenarnya ia bingung mereka sedang mencari lokasi keberadaan siapa. lalu hyung seok berjalan kearah azis, ia menepuk pundak azis.


"apa aku boleh membantumu,"


"mksdmu,"


afirah, azis, dan rian menatap hyung seok bingung.


lalu hyung seok menarik laptop kearahnya, dan mengutak atik dgn lincah.


"jika lokasi seseorang menjadi bercabang, berarti salah satunya adalah lokasi yg benar. akan sulit jika mencari lokasi yg pria, tapi carilah lokasi si wanita yg menculik pria itu."


*click* hyung seok meng klik jarinya, lalu tersenyum pada azis.


"makasih atas bantuanmu kawand, jadi kita cari lokasi arum dimana berada."


"ketemu,"


"lho, ini kan apartement nya arum."


"benar, ayo sekarang kita kesana."


azis melirik hyung seok, afirah juga sedikit bimbang.


"oke, ikutlah?"


zein didorong oleh arum ke sofa, ia tersenyum senang.


"sekarang mereka tdk akan menemukan kita."


"arum, apa kamu sudah gila."


"ya,, aku sudah gila. aku gila karnamu zein."


zein memalingkan wajahnya yg sudah merah karna marah, ia menatap tajam arum.


"kenapa kamu menatapku seperti itu hah?"


"kamu pikir, dgn melakukan hal ini kamu bisa hidup dgn ku?"


"aku sudah menikah arum," tambah zein.


"aku gk perduli,"


zein memalingkan wajahnya geram, ia saat ini benar benar mengharapkan kedatangan afirah dan azis.


afirah, azis, rian, dan hyung seok sedang dalam perjalanan menuju apartementnya arum. tapi ntah kenapa, tiba tiba jalanan jadi macet.


"kenapa macetnya harus sekarang sih,"


"kayaknya didepan ada kecelakaan, trus kita harus bagaimana." tanya afirah.


"ini sih butuh waktu yg lama banget, kayaknya kita harus lari deh. apa masih jauh,"

__ADS_1


"masih jauh,"


afirah mendecak kesal, lalu ia tiba tiba keluar dari mobil azis. dan lari ke trotoar, hyung seok langsung lari mengikuti saat melihat afirah pergi.


"eh, mereka keluar."


"ian, lo ikutin mereka gih. gue gk bisa ninggalin mobil gitu aja?"


"oke? lu nyusul ya."


"siap,"


rian pun ikut berlari menuju apartement arum, setengah jam berlari. hyung seok yg sudah kehabisan nafas menarik tangan afirah.


"lepas, kak zein pasti lagi nunggu aku?"


"hei, sadarlah? kita naik taxi saja. jalanan sini gk macet,"


afirah menganggukan kepalanya, hyung seok pun menghentikan taxi. dan mereka berdua pun pergi.


afirah dan hyung seok sudah sampai diapartement nya arum, mereka berdua bingung karna disekeliling apartement ada penjaga.


"bagaimana ini?"


"mereka tdk mengenaliku, aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka."


"tapi aku takut ada yg jaga juga didalam, dan aku gk tau sandi masuk kesana."


"coba kamu telpon azis."


"ah benar," afirah langsung menelpon azis, dan untungnya azis tau karna ia dan teman teman yg lain sering main ke apartement arum.


"oke, aku kesana." hyung seok langsung berjalan dgn santai agar tak dicurigai.


"maaf, apa anda tau jalan kesini."


salah satu penjaga memberitahu hyung seok, tak terlihat raut curiga diwajah si penjaga. dgn hati hati, afirah berjalan menuju pintu apartement.


*klik* pintu terbuka, afirah tersenyum senang. ia langsung membuka pintu dan masuk, afirah pun menutupnya dgn pelan pelan.


tapi saat fira membalikkan badannya, ia mematung saat sebuah pistol sudah ada dihadapannya. arum tersenyum, menatap bodoh pada afirah.


@sebelum itu,,,


zein masih dgn setia menunggu kedatangan azis dan afirah, hingga pintu terbuka dan tampaklah seorang perempuan yg sangat membuatnya marah saat ini.


"zein, mereka gk akan dateng. gk ada yg peduli sama kamu,"


"cih,, memangnya mereka itu kamu."


arum mendekat, ia mengelus pipi zein dgn lembut. zein dgn kasar memalingkan wajahnya.


"cih, apapun yg terjadi. kamu hanya untukku," arum berjalan pergi, zein hanya bisa mendecih sebal.


hingga saat zein melirik kejendela, ia melihat afirah dan laki laki asing keluar dari taxi.


"afirah? tapi dia dgn siapa, siapa pria itu. ah, hari ini aku gk boleh mikir yg macam macam, aku harus bisa keluar dari kamar ini." zein berjalan kearah pintu, ia mencoba membuka pintu.


*bruk bruk* "aishh, kok sulit amat si." gerutu zein.


arum masuk ke kamarnya, ia mengambil pistol dan kemudian keluar. ia berniat mengancam zein, tapi saat ingin ke kamar zein ia melihat afirah masuk.


"bagaimana afirah bisa masuk kesini?" arum berjalan mendekati afirah, ia todongkan pistol ditangannya kearah afirah.


afirah yg sedang mengendap endap, membalikkan badannya. mata afirah dan mata arum pun terkunci, arum tersenyum licik sementara afirah terpaku karna takut melihat sebuah pistol dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2