THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )

THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )
Last The Perfect Husband


__ADS_3

3 tahun kemudian...


Afirah, amira, alya, anissa dan charlote. Mereka berlima telah menyelesaikan kuliah.


Banyak yang berubah setelah 3 tahun, semuanya masing masing mempunyai mimpi yang harus mereka capai.


Zein, ia kini telah menjadi wakil direktur di rumah sakitnya. Afirah sudah menjadi magang di salah satu rumah sakit di jakarta, ia sengaja bekerja di rumah sakit lain alih - alih rumah sakit milik mertuanya. Karna jika sudah bersama zein, mungkin ia akan melupakan pekerjaannya.


Amira dan rian sama - sama bekerja di perusahaan yang sama, dengan posisi rian sebagai manager sementara amira karyawan biasa.


Charlotte, ia mendirikan sebuah klinik gratis dan menjadi dokter. Dan thomas, jabatannya kini naik sebagai wakil direktur. Mereka berdua, telah menikah 1 tahun yang lalu.


Bertolak belakang dengan sifatnya yang tomboy alya malah tertarik sebagai seorang desainer. Sementara hyung seok menjadi dosen.


Anissa, dia masih dengan setia menemui kevin.


Alex dan dinda, mereka berdua membuka sebuah toko roti. Sedangkan caffe afirah masih di kelola oleh ketiga teman alex. James, arthur dan jack.


++++++


Zein duduk di samping afirah, ia langsung memeluk afirah dengan raut wajah yang sulit di tebak.


"Suami dateng kok di cuekkin,"


Afirah mengalihkan pandangannya dari televisi dan menatap zein.


"Kamu kenapa?"


"Sayang, kamu kan udah jadi sarjana nih."


"Terus,"


"Kamu juga pasti bakal dapet pekerjaan dengan mudah karna nilai kamu bagus,"


"Kamu mau bilang apa si," Tanya afirah seraya menatap manik mata zein.


Sebelum menjawab, zein memangku afirah. Afirah tersenyum kebingungan dengan prilaku suaminya.


Sementara yang di kasih senyum hanya diam dan mulai berjalan menuju kamar.


"Mau ngapain,"


"Gimana kalo kamu berenti magang dulu,"


"Lho, kenapa?"


"Kamu tau kan ayah sama ibu udah gak sabar banget mau punya,,,


Afirah memelototkan matanya, " Serius," Tanya afirah.


"Aku mau kita punya anak,"


"Tapi sayang,,,


"Kamu gak kasian liat ayah sama ibu," Zein mengeluarkan senjata andalannya, yaitu membuat wajahnya sememelas mungkin.


"Kak,,, mukanya jangan melas gitu dong. Aku kan jadi kasian,"


Zein mendekatkan wajahnya, afirah menutup matanya dan merasakan sentuhan bibir zein di bibirnya. Semakin lama ciumannya semakin panas, zein juga dengan perlahan membaringkan tubuh afirah ke kasur.


Afirah menepuk dada zein, pertanda jika ia sudah kehabisan nafas. Zein pun melepas ciumannya, ia tersenyum dan mengusap mata afirah.


"Siap - siap besok kamu bakal gak bisa jalan," Ucap zein dengan sorot mata tajam.


"Ngomong apa si," Afirah menahan senyumnya, lalu zein kembali mencium bibir afirah.


.


.


.


"Arghh,,,"


Charlotte meringis, tangannya teriris pisau. Thomas yang saat itu tengah sibuk dengan berangkas dan laptopnya langsung mengalihkan pandangannya, saat mendengar suara charlotte.


"Kenapa?" Tanya thomas khawatir.


"Jari aku, keiris pisau." Thomas menahan gemasnya saat melihat wajah charlotte.


"Ya ampun, kamu kok bisa ceroboh gini si." Thomas segera menghisap darah di jari charlotte.


"Pelan - pelan, kayak vampire aja." Gerutu charlotte.


"Darah kamu enak ya,"

__ADS_1


"Ishh,,," Charlotte mengerucutkan bibirnya.


*cup* thomas mencium bibir char sekilas.


"Iiii,,, orang lagi kesakitan kayak gini malah di cium."


Protes charlotte dan semakin memonyongkan bibirnya.


"Aduh,,, bibir kamu nih masalahnya."


"Lho,"


"Dari wajah kamu yang paling ngalihin perhatian aku itu cuma bibir kamu,"


"..."


"Makanya aku suka gemes dan hilang kendali deh,"


"Iiihhh, kamu ya." Charlotte mencubit pipi thomas.


.


.


.


"Hei, itu roti di oven jangan sampe gosong." Alex segera lepas landas segera setelah kaptennya memerintah.


"Siap kapt."


"Aduh,,, bentar lagi kita buka lho. Cepet cepet," Ucap dinda.


"Dinda, selai nanas yang kamu buat kemarin di simpen dimana."


"Selai nanas, dimana ya. Aku lupa," Dinda memasang wajah memelas.


"Lagian ngapain si kamu kasih cuti sama dika, jadi repot kan?" Tambah dinda.


"Ya ampun, kamu gak kasian. Adiknya kan ulang tahun,"


"Ini salah kamu,"


"Kamu juga jangan terlalu tegas, kasian dika."


"Lagi - lagi aku yang salah,"


"Cowok emang selalu salah,"


"Cowok salah juga gara - gara cewek,"


"Lho, kok malah nyalahin cewek sih. Cewek gak pernah salah ya,"


"Cowok juga gak harus selalu di salahin,"


"Ishh,,, ngalah dikit kek."


"Stok buat aku ngalah sama kamu udah habis,"


"Kayak gitu aja harus ada stok,"


"Ya ada dong,"


"Tau akh, aku marah." Dinda melipat tangannya.


"Aku juga marah," Alex juga melipat tangannya.


"..."


"Aku marah nih," Ucap alex.


"..."


"Aku marah, aku marah, aku marah." Alex terus bicara, tapi dinda malah memalingkan wajahnya.


Alex berjalan ke adonan yang belum jadi dengan muka masam. Ia mengaduk adonan dengan kasar, Dan saat ia hendak mengambil sendok yang jatuh. tepung di samping adonan itu jatuh dan menimpa kepala alex. Alhasil, rambut dan wajah alex semuanya menjadi putih.


"Pffftt, hahahaha." Dinda sudah tak bisa menahan tawanya, ia menepuk tangannya dan terus tertawa.


"Muka, muka kamu. Hahaha,"


Alex mengambil tepung dan menghampiri Dinda, dengan penuh tekad dan keberanian alex melayangkan tangannya.


*plukk*


Dinda terdiam, dadanya sudah turun naik. Sementara Alex mengangkat kedua tangannya seolah itu bukan perbuatannya.

__ADS_1


"Oops, aku gak sengaja." Ucap alex dengan langkah mundurnya.


"Alex,,, kamu kayaknya butuh obat deh." Ucap Dinda seraya mengambil tepung dan siap melayangkannya ke wajah alex.


Namun alex dengan sigap segera berlari menghindar, akhirnya terjadilah kejar mengejar tanpa tahu jika waktunya untuk buka sudah lewat.


.


.


.


Alya melirik jam tangannya, ini bukan ke berapa kalinya hyung seok terlambat.


Hari ini ia akan pergi menonton, tapi karna pekerjaan hyung seok. Alya harus bisa merelakan jika film yang ingin di tontonnya terlewat.


"Heii,,, sendiri aja neng." Seorang pria dengan kesan yang sangat norak menurut alya duduk di sampingnya.


"Ishh,,, mimpi apa aku semalam di panggil eneng."


"Galak amat,"


"Ikut AA yuk,"


What the, dia bilang apa. Aa, astagfirullah. Sabar alya sabar. Batin alya geram.


"Aa, eneng gak mau ikut aa. Jadi aa pergi aja," Rasanya alya ingin memelintir lidahnya.


"Ah, si eneng sok gituh."


Alya mencoba terus sabar, kenapa hyung seok lama sekali. Pikirnya.


"Alya, kamu nunggu lama." Alya menghela nafas lega, yang ia tunggu datang juga.


"Siapa?" Bisik hyung seok, dan alya mengangkat kedua bahunya.


"Neng, siapa cowok jelek ini."


Hyung seok merangkul pundak alya, "Maaf om, dia pacar saya." Ucapnya lalu membawa alya pergi.


"Hei, saya masih 20 tahun ya." Teriak pria itu.


"Gila, kenapa gantengan kamu ya. Padahal umur kamu udah mau 23,"


Hyung seok mengendikkan bahunya seraya tersenyum.


.


.


.


"Aku kangen, pengen di peluk sama kamu." Ucap anissa.


"Aku juga," Kevin juga ikut - ikutan memelas.


Mereka berdua pun berpelukan, seperti biasanya anissa membawa makanan untuk kevin.


"Aaa,,, Kamu harus makan yang banyak, supaya kamu sehat terus." Ucap anissa seraya menyuapi kevin.


"Nissa, lain kali kamu gak usah bawa makanan."


"Gak papa, di rumah aku gak ada kerjaan."


"Tapi tetep aja kamu harus istirahat, kalo nanti kamu sakit gimana. Karna terlalu kebanyakan mikirin komik online mu itu,"


"Gak usah khawatirin aku, aaa... Makan lagi,"


.


.


.


Randy menopang dagunya, ia melirik ke kanan dan kirinya.


Ada tasya dan ardi sedang bermesraan, ia benar - benar menjadi obat nyamuk.


"Tasya, ngapain lo ngajak gue coba."


"Randy, gue tau lo belum makan. Cepet pesen sana,"


"Ck,,,"


Nie cewek suka perhatian sama gue, tapi kenapa dia gak pernah peka sama sikap gue sama dia yang kesannya terlalu berlebihan jika hanya di sebut sahabat. Batin randy...

__ADS_1


__ADS_2