
Afirah fov.
Tak terasa UA pun berakhir, dan kata Kak Zein malam ini dia dan keluarganya akan datang ke rumah untuk melamar.
Aku duduk dikursi depan meja riasku, meski disana hanya ada bedak dan lip tint saja. Aku memang jarang make up, alasannya sederhana ya karna aku malas.
Pukul 19:15 aku sudah bersiap dengan memakai dress selutut juga tak terlalu terbuka di bagian dada, aku juga memakai sedikit riasan. Hanya tinggal menunggu ayah memanggil, ayah memang sengaja pulang sehari sebelum acara lamaran.
"Ya, aku harus bicarakan ini pada Kak Zein." ucapnya.
Zein fov.
Zein sedang dalam perjalanan bersama kedua orang tuanya, meski dari luar Zein terlihat tenang tenang saja sebenarnya dia sangat gugup sekali.
(Nggak papa Zein, ayah sudah mempercayakan ini padaku. Aku tidak boleh mengecewakan ayah dan ibu. Meski sebenarnya aku belum punya perasaan apa apa pada afirah, tapi seiring berjalannya waktu aku pasti menyukainya) batin Zein.
Tak butuh waktu lama, mobil Zein dan kedua orang tuanya pun sampai dirumah Afirah.
*Tiinn toongg* suara bel berbunyi, Afirah yang masih dikamar mendengar bel rumahnya sudah berbunyi. Begitupun Ayahnya yang ada diruang tamu.
Sang ayah langsung menghampiri pintu dan membukanya, seulas senyuman muncul di bibirnya.
"Kalian sudah datang, masuklah?"
Kedua orangtua Zein tersenyum lalu masuk diikuti oleh zein di belakang, "Duduklah,"
"Terimakasih,"
"Afirah, keluarlah."
Afirah yang merasa dipanggil oleh Ayahnya menghela napas, lalu ia berdiri dan keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
Acara lamaran sudah selesai, orang tua Zein dan ayah afirah sedang mengobrol.
Afirah dan Zein, mereka berdua sedang ada diteras. dan tak ada yg memulai pembicaraan, hanya ada keheningan.
"Kak," Zein melirik Afirah yang ada disampingnya.
"Sesudah menikah, aku masih bisa kuliah kan?" Zein tersenyum.
"Tentu saja kamu akan lanjut kuliah, tenang saja."
Afirah menghela napas lega, Zein tersenyum menatap Afirah.
( Kenapa tidak, Afirah wanita yg manis. dan aku nyaman bersamanya,) batin Zein tenang.
DAN HARI H PUN TIBA.
Afirah mengenakan gaun pernikahan yang sangat indah dan mewah, riasannya membuatnya menjadi sangat cantik.
Mahkota dikepalanya juga membuat Afirah seperti seorang putri dari kerajaan.
Siapapun yang melihatnya pasti akan sangat takjub padanya, Ayah Afirah masuk keruangan dimana Afirah sedang menatap dirinya dicermin.
"Afirah,"
Afirah membalikkan badannya, ia tersenyum melihat Ayahnya.
"Kamu sangat cantik, nak."
"Terimakasih,"
"Apa kamu bahagia," tanya Ayahnya.
Sesaat Afirah terdiam, lalu iapun tersenyum.
"Aku saaangat bahagia, Ayah. kenapa tidak, Kak Zein kan baik, ganteng lagi. Hanya wanita bodoh yang tidak mau menikah dengannya."
Ayahnya tersenyum, "Syukurlah, kalo kamu bahagia. Ya sudah ayah keluar dulu, kalau sudah waktunya keluar akan ada yang memberitahumu."
"Baik yah," Afirah tersenyum menatap Ayahnya yang pergi keluar.
Zein dan penghulu sudah duduk dikursi masing masing, "Tolong panggilkan pengantin wanitanya kesini," ucap Penghulu.
Zein terpaku, ia benar benar dibuat terpesona dengan kecantikan Afirah.
Afirah yang menundukan kepalanya duduk disamping Zein.
Penghulu mengulurkan tangannya, tapi Zein tak membalas uluran tangan penghulu. Ia malah masih menatap Afirah.
"Ekhem, apa menatapnya sudah selesai."
Zein tersadar, ia merasa malu. Semua yang hadir tertawa kecil, melihat tingkah sang pengantin pria. Afirah tersenyum dengan pipi yang memerah, Zein pun membalas uluran tangan penghulu.
Dan ijab qobul pun dimulai.
.
.
.
"Bagaimana sah,"
"SAHHH," ucap semua tamu serentak, yg paling kencang adalah ketiga teman Afirah. Alya, Anissa, dan Amira.
harus kalian tau, sangat sulit bagi Afirah untuk memberitahu pernikahannya pada ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Flashback off
Sore itu, tiga hari sebelum pernikahan Afirah. afirah mengajak ketuga sahabatnya untuk ketemuan di caffe.
"Ada yang ingin aku bicarakan,"
Ketiga sahabatnya menatap afirah, lalu saling melirik.
"Kamu mau bilang apa, kok tegang gitu." tanya Amira.
"Hmm...hmm..."
(Haduhh, gimana cara ngomongnya yahh.)
"Afirah, kenapa?" kali ini nisa yang bertanya.
"Aku aku...
"Kamu kenapa? apa yang ingin kamu bicarakan pada kami." tanya Amira.
"Iya, kok kamu tegang gitu." tambah Alya.
Afirah memejamkan matanya.
"Aku akan menikah," ucap Afirah lantang, singkat, padat, dan jelas.
Afirah tidak berani membuka matanya, ketiga sahabatnya hening. Tidak ada yang bicara.
"Pffttt,,,,, HAHAHAHA😂😂😂😂," Afirah mengerutkan keningnya, ia membuka matanya dan melihat ketiga sahabatnya tertawa keras.
"Kamu kenapa sih, fir... Ada ada aja," ucap Alya.
"Jadi kamu nyuruh kita datang kesini mau ngasih tau becandaan kamu," tambah Anissa.
"Baru kali ini lho aku liat kamu becanda sampe segininya." ucap Amira.
"Aku serius, aku gk lagi becanda." Afirah membuka tasnya, lalu ia mengambil undangan pernikahannya.
Ia simpan undangan pernikahannya diatas meja.
"Apa ini," tanya Anisa.
"Liat aja sendiri,"
Anisa mengambil undangan itu, mereka bertiga melihat nama siapa yang ada diundangan.
lama, mungkin masih meneliti. "HAHHH..." ketiga nya berteriak, dengan menatap Afirah tak percaya.
"Telat kalian kagetnya," ucap Afirah jengkel.
"Nggak, ini bukan bercanda. Aku memang akan menikah tiga hari lagi,"
"Tapi fir, kok mendadak banget."
"Sebenarnya udah 1 bulanan."
"Dan kamu gak ngasih tau kita," ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kompak amat, lagian jangan keras keras. Malu diliatin orang daritadi."
"Aku malu ngomongnya, berani-berani yaa sekarang."
"Tapi fir, siapa calon suami kamu. Apa sebelumnya kamu kenal dia."
"Nggak, dia cowok pilihan Ayahku."
"Lah, berarti kamu belum suka donk sama dia."
"Kamu ada fotonya gak, aku mau lihat."
Afirah membuka galeri, disana ada foto Zein dengan balutan seragam dokter. Ia memberikannya pada ketiga sahabatnya.
"Wahhh, ini sih ganteng banget. Kayak orang korea fir," ucap nisa.
"Diaa kerja jadi dokter yaa,"
"Paket komplit ini mh,"
"Dia dokter, namanya Kak Zein. Dia juga baik banget,"
Anisa, Amira, dan Alya memegang pundak fira. Afirah menatap aneh, "Kenapa?"
"Kami merestuimu!"
Afirah memutar bola mata malas,
"Kirain mo ngomong apa,"
Flashback on
Afirah berdiri dipelaminan bersama Zein, sudah puluhan orang yang ia salami. Hingga tibalah Anisa, Alya, dan Amira.
Kenapa mereka gak dateng pas awal Afirah dan Zein kepelaminan, karna mereka terlebih dahulu menyerbu prasmanan.
"Udah kenyang?" tanya Afirah.
"Udah buncit noh,"
__ADS_1
"Ekhem," Zein mendehem, Afirah tersadar dan ketiga sahabat Afirah tertawa kecil.
"Oh Kak Zein, mereka ini temen aku. Ini Amira, yang ini Nisa, dan yang ini Alya."
"Terimakasih sudah datang,"
"Masa iya kami gak dateng, ini kan pernikahan temen kita," ucap Nisa.
"Hai Zein," Zein, Afirah dan ketiga sahabatnya melirik asal suara. Zein mengenal mereka tapi fira tidak, karna yang datang teman Zein sewaktu kuliah.
"Hahaha, gimana kabar lu zein," tanya Rudy.
"Nikah kok gak ajak ajak kita si," ucap Rian
"apa kabar Zein?" tanya Arum.
"Udah nikah aja lu bro," ucap Azis.
"Makanya jangan pacaran mulu, kapan nikahnya coba," timpal Fitri.
Mereka semua berlima, yang laki laki ada tiga diantaranya, Azis, Rudy, dan Rian. Dan yang perempuan ada Fitri juga Arum.
"Kalau gitu lu mau gak nikah ma gue...?" canda azis pada fitri.
"Dih mit amit, yang ada gue kena sial mulu nikah ma lo," mereka semua tertawa.
"Ekhem," kali ini Afirah yg berdehem, dan Zein pun langsung tersadar.
"Eh kalian disini mau undangan atau mau gombal gombalan sih, ini kok pengantinnya malah dicuekkin." ucap Zein.
"Eh sorry sorry, gara gara si fitri nih." ucap Azis.
"Zein, kamu punya lem gak," tanya Rian.
"Nggak, buat apa,"
"Greget gue pengen nge-lem mulut si Azis,"
Afirah melirik Amira, Amira saat itu seperti sedang menatap seseorang dihadapannya. Afira melirik arah yang dilihat Amira, ternyata Amira sedang menatap pria yang ada disamping Zein.
"Udah udah, kenalin ini istri aku namanya Afirah."
"Wahh zein kecil kita udah punya ISTRI.," ucap Azis dan dengan sengaja membisikkan kata istri.
Kesal, Zein pun menjewer telinga Azis.
"Azis, kamu kayaknya mau di tendang keluar dari sini ya," ucap Zein.
"AAA...iya iya sorry, lepasin tangan lo, sakit nih telinga gue."
"Dan mereka bertiga temennya Afirah, yang ini Anisa, terus ini Amira, dan Alya." ucap Zein setelah melepas tangannya dari telinga Azis.
"Hai, gue Azis,"
"Gue Rian,"
"Gue Fitri,"
"Gue Rudy,"
"Aku Arum,"
Lama mengobrol, akhirnya Afirah tau siapa yang Amira tatap ternyata pria itu adalah Rian. Tapi ia juga merasa sangat tidak enak karna ia merasa Arum selalu menatapnya, ntah kenapa?
Lalu berakhir, dengan berfoto bersama.
"Zein kita gak bisa lama-lama, jadi sebelum kita pergi, lo harus lempar bunganya dulu," ucap Azis.
"Bener-bener pengen nikah lu," ucap Rian.
"Nikah aja sama fitri," ucap Rudy.
"Dih napa jadi gue yg kena,"
"Udahlah, nikah aja lo berdua," ucap Rian.
"Aduhh,, tangan gue kok gatel yaa. Rasanya pengen mukul gitu,"
"yaudah kumpul dibawah sana," ucap Zein kemudian, lalu mereka berlima turun kebawah siap menangkap bunga.
"Kalian bertiga juga,"
"Kita," ucap Amira.
"Iyalah, gih cepet." ucap Zein.
Afirah tersenyum,(Dia mudah akrab juga ternyata) batinnya.
"SATU DUA TIIGA" bunga dilempar Zein dan Afirah saat hitungan ketiga, mereka berdua langsung melihat siapa yang berhasil menangkap bunganya.
Amira dan Rian bertatapan, mereka berdua yang berhasil menangkap bunga yang dilempar Zein dan Afirah.
"Cieeeee," ucap semuanya serentak.
Afirah tertawa menyaksikannya, Zein yang melihat Afirah tertawa langsung tersenyum.
(Akhirnya aku menemukan kebahagiaan ku) batin keduanya...
__ADS_1