
"Kevin, dia barusan nelpon."
*Cittt* Zein mengerem mobilnya, pandangannya langsung beralih ke anissa.
"Anissa, jangan bercanda." Ucap amira
"Aku gak bercanda, kevin beneran nelpon. Katanya mobil yang dia pakai dicuri, semua barang-barangnya ada didalam mobil."
"Tapi bagaimana bisa mobilnya dicuri,"
"Dia tak sempat cerita, tapi yang pasti sekarang dia ada di stasiun bandung."
"Oke, perjalanannya mungkin akan memakan waktu. Jadi lebih baik kalian tidur saja dulu,"
"Benar, kamu juga istirahatlah nissa."
Nissa mengangguk, dan dalam sekejap semuanya tertidur.
"Hei bangun, kita sudah sampai." Zein menepuk pipi afirah, dan afirah membangunkan amira dan nissa.
Semuanya keluar dari mobil, dan mulai mencari kevin. Menyusuri setiap tempat namun belum ada yang bertemu kevin.
"Nissa," Nissa berbalik, dia tersenyum saat mendapati kevin ada di hadapannya.
Nissa langsung memeluk kevin, "Bagaimana bisa mobilmu dicuri," Tanyanya.
"Ntahlah semuanya terjadi begitu saja,"
"Apa kamu tau,"
"Apa?"
"Mobilmu mengalami kecelakaan, dan pencurinya meninggal. Semua orang menganggap orang itu kamu,"
Kevin terdiam sejenak, lalu dia tersenyum.
"Apa kamu juga menganggap bahwa mayat itu aku,"
"Tentu saja tidak, aku sudah mengenalmu."
"Aku menyayangimu nissa," Kevin kembali memeluk nissa.
Afirah, zein dan amira menghampiri nissa. Mereka bertiga saling melempar senyum, dan mereka semua pun pulang.
Amira kini sedang mengerjakan tugas kampusnya, sampai ibunya memanggilnya.
"APA BU,,,"
"ADA RIAN DISINI,"
Amira membereskan bukunya lalu dia keluar dari kamarnya, amira mengerutkan keningnya saat rian datang bersama rudy.
"Kalian datang berdua,"
"Tau, si rudy maksa banget mau ikut."
"Ini minumannya," Ibu amira menyajikan tiga jus dan camilan.
"Makasih ma," Ucap rian dan rudy bersamaan.
"Ma, ma, tante." Amira dan ibunya tertawa kecil saat rian protes pada rudy karna rudy memanggil ibunya amira dengan sebutan mama.
"Kalian ngobrol aja ya,"
Rian dan rudy tersenyum, lalu ibunya amira pun pergi.
"Lo gak takut jadi obat nyamuk,"
"Gue gak peduli, daripada dirumah gimana kalo kita cari makan. Gue laper nih,"
"Ide bagus, aku juga mau cari udara segar. Kepalaku serasa mau meledak karna tugas kampus."
"Oke, ayok."
"Kalian mau kemana?"
"Bu, kita mau keluar sebentar."
"Jangan lama-lama,"
"Iya, sebentar kok."
"Ma, kita pergi dulu."
"Iya, hati-hati."
__ADS_1
Rudy berjalan lebih dulu, dia masuk ke pintu belakang lalu tiduran.
"Dasar jomblo," Gertuk rian seraya menyalakan mobilnya.
"Gue jomblo bukan berarti gue gak laku, banyak cewek yang ngatri pengen gue pacarin. Guenya aja belum dapet yang srek,"
"Belagu lu,"
"Kita kapan mau berangkatnya,"
"Kita berangkat sekarang sayang,"
Rudy sedang bermain pubg, sampai dia mendapat pesan grup. Dia membaca pesan itu, lalu bangun.
"Wih gila,"
"Apa," tanya rian.
"Ada berita yang katanya ada yang kabur dari militer, dia bawa bom sama senjata."
"Ngeri gue,"
Amira mengernyit, "Apa ada profil nya," Tanyanya.
"Ya, namanya kevin arya saputra. Fotonya juga ada, nih."
Amira mengambil hp rudy, seketika tubuhnya lemas saat melihat foto kevin. Pacarnya nissa.
"Mira, kenapa." Tanya rudy.
Rian menghentikan mobilnya, tatapannya beralih pada amira.
"Kenapa? kamu mengenalnya."
"Rian, apa kamu bisa antar aku ke rumah nissa."
"Kenapa?"
"Rian, antarkan saja aku."
"Baiklah,"
Amira memberikan hp rudy, lalu dia menelpon nissa. "Ada apa amira,"
"Nissa, kevin ada dimana?"
"Kenapa dia di rumahmu, ayahmu dimana?"
"Ayahku sedang diluar kota,"
"Nissa, aku mohon sekarang juga kamu keluar dari rumahmu. Tunggu aku, aku sedang kesana?"
"Tapi amira kenapa?"
"Keluarlah dulu dari rumahmu nissa," Ucap amira sedikit membentak.
"Nissa ada apa?" Amira mendengar suara kevin.
"Nissa aku tutup telponnya,"
Nissa membalikkan badannya, ia lihat kevin tengah tersenyum padanya.
"Kevin, kamu pasti lelah. Kamu harus tidur, ya..."
"Baiklah, kamu juga harus tidur."
Nissa mengangguk, setelah memastikan kevin masuk ke kamarnya nissa pun keluar.
Lama menunggu, akhirnya amira datang. Nissa langsung menghampiri amira dengan seribu tanda tanya diwajahnya.
"Amira, ada apa."
"Kamu tidak liat berita,"
"Apa, bicaralah yang benar. Aku sama sekali tak mengerti,"
"Liat ini,"
Nissa mengambil hp amira, dia tercengang dengan apa yang dia baca.
"Amira, ini gak bener kan?"
"Nissa, bagaimana pun juga kevin berbahaya. Kita harus serahkan dia ke kantor polisi,"
"Tapi,,,
__ADS_1
"Nissa, aku tau gimana perasaan kamu. Tapi kita harus menyerahkannya,"
Nissa tiba-tiba lari masuk kedalam rumahnya, dia membuka kamar kevin. Dan seperti yang dia duga, kevin menghilang.
Kini rian dan rudy juga mengerti permasalahannya, dia hampir menelpon polisi tapi anissa segera mencegahnya.
"Aku akan menemuinya dulu, setelah itu aku akan menyerahkannya pada polisi,"
"Tapi bagaimana kita tau dia dimana?"
"Aku tau,"
"Baiklah, tapi besok. Sekarang bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku,"
"Baiklah,"
Dan malam itu rian mengantarkan nissa dan mira pulang kerumah mira.
++++++
Afirah tengah menggigit apel di tangannya, baru saja ia mendaratkan gigitan yang kedua zein datang dan merampas apelnya.
"Kak, ambil sendiri napa?"
"Gak mau, aku maunya apel yang ini."
"Emangnya kakak gak jijik,"
"Ngapain jijik segala," Ucap zein lalu menyalakan televisi.
Afirah yang menghadap ke arah televisi langsung terdiam, berbeda dengan zein yang masih setia mengusili afirah.
"Kak,"
"..."
"Kak, liat beritanya."
"Apa sih,"
zein mengalihkan pandangannya, dan membeku saat foto kevin juga namanya terpampang jelas.
prajurit militer yang kabur dengan membawa bom dan senjata.
"Dia pacarnya nissa kan?"
"Tunggu kak," Afirah meraih ponselnya dan menelpon nissa.
"Nissa, kevin... Dia bener,,,
" Iya, dia buronan sekarang."
"Sekarang kevin ada dimana?"
"Dia kabur tadi malam,"
"kamu dimana?"
"Aku di rumahnya amira,"
"Oke, aku kesana ya."
Zein menatap afirah, "Jadi yang di berita itu beneran," Afirah mengangguk.
"Kak, aku mau ke rumahnya amira."
"Baiklah ayo," Tapi setelah mengiyakan afirah, ponsel zein berbunyi.
"Ada apa,"
"Hari ini rumah sakit butuh bantuanmu zein, kamu harus datang."
"Baiklah, aku kesana sekarang."
"Kenapa?"
"Ada masalah darurat di rumah sakit,"
"Yaudah, kakak pergi aja. Aku kan bisa naik taxi,"
"Nggak, gimana kalo di anter sama pak bayu."
"Gak usah, nanti papa nyariin. Aku naik taxi aja,"
"Yaudah, hati-hati."
__ADS_1
Afirah tersenyum, lalu zein lebih dulu pergi ke rumah sakit.