THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )

THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )
adinda


__ADS_3

pesta sudah usai, semuanya pergi ke restaurant untuk di traktir oleh zein.


kecuali dinda, dia mendapat telpon dari tetangganya bahwa ibunya di bawa ke rumah sakit.


awalnya ia ingin pergi sendiri, tapi alex memaksa untuk mengantarnya.


"lo bukan orang sini, gue gak mau malah repot gara gara lo." ucapan itu memang singkat, tapi saat alex tau arti dari ucapan itu ia pun mengurungkan niatnya untuk memaksa dinda.


di sepanjang jalan, dinda sangat khawatir. ibunya memang sakit keras, dan ibunya adalah satu-satunya orang berharga dinda.


sesampainya di rumah sakit, dinda memakai tongkatnya untuk berjalan. ia sedikit kesulitan, tapi tiba-tiba ada orang yang memegang tangannya.


"siapa?"


"alex," ucap alex seraya tersenyum.


"lo cuman bakal ngerepotin gue, jadi pliss lo pergi aja."


"dinda, ini aku amira. alex maksa banget pengen bantu kamu,"


dinda melepas tangannya dari tangan alex, lalu amira berjalan ke arah resepsionis.


"siapa yang sakit," tanya amira.


dinda berdiri disamping amira,"mama saya atas nama reina, dia baru aja masuk rumah sakit."


"nanti ya, saya liat dulu."


"ibu reina saat ini sedang ada di UGD,"


"ah makasih," amira menuntun dinda menuju ruang UGD, sesampainya disana ada seorang wanita paruh baya menghampiri dinda.


"dinda, dokter bilang mama kamu mengalami serangan jantung. untungnya mama kamu bisa diselamatkan,"


"hahhh,,, bi bawa aku ke mama." wanita paruh baya itu menuntun dinda ke ranjang mamanya, amira dan alex mengikuti dari belakang.


"dinda, kenapa kamu repot-repot datang kesini."


"ma, kenapa mama bilang gitu. ya kau mesti datanglah."


"mereka siapa din,"


"oh,,, mereka...


dinda menatap keduanya, pikirnya jika ia bilang amira dan alex temannya itu sangat mustahil tapi ia juga merasa tak enak jika bilang mereka berdua bukan siapa-siapanya.


" oh kenalin tan, saya amira dan ini alex kita temennya dinda."


dinda terdiam, teman. baru kali ini ada yang mengakuinya sebagai teman.


"kalian benar temannya dinda,"


"iya tan,,"


"tante seneng banget kalo dinda emang punya temen, semenjak dinda kehilangan penglihatannya dinda jadi...


"eh,,, kalian mending pulang. makasih udah bantu aku,"


amira dan alex saling melirik," yaudah, tante cepet sembuh ya."


"makasih nak," amira dan alex pun pergi, dinda memegang tangan reina.


"ma, aku kan udah bilang. gak perlu ungkit masalah penglihatanku, asalkan mama ada disamping aku, aku gak butuh apa-apa lagi."


"jangan bicara begitu, dinda. mama merasa mama gak akan lama lagi, jadi nanti setelah kamu bisa liat lagi. mama mau kamu jangan menutupi diri lagi, mama udah siapin semuanya buat kamu nanti."


"nggak ma, mama bakal sembuh." reina mengusap rambut dinda, rasanya pedih jika memikirkan ia akan meninggalkan dinda seorang diri.


2 BULAN KEMUDIAN...


afirah kuliah seperti biasanya dengan charlotte, ia merasa tenang karna mellisa tak lagi mengganggunya.


2 bulan ini, afirah akhirnya dapat merasakan hidup tanpa masalah.


tapi berbeda dengan alex, alex memang masih bekerja di caffe tapi ntah mengapa pikirannya terus tertuju pada perempuan yang menghilang selama 2 bulan ini.


"lex, kamu masih mikirin dinda."


"fix lex, kamu suka sama tu cewek." ucap alya.


"aku gak suka dia, aku cuma khawatir aja. semenjak aku sama amira liat keadaan ibunya di rumah sakit, tiba-tiba dia menghilang begitu aja."


"cih,,, gak suka tapi khawatir sampe segitunya. denger ya, buat orang yang gak suka itu biasanya khawatirnya cuma sekedarnya aja. lah kamu, sampe ngelamun segala. aku yakin banget kalo kamu suka sama dinda,"


alex menghela nafas, ia berpikir apa benar ia menyukai dinda. tapi ia juga kadang menyangkal perasaannya itu.


"udah ngelamunnya, sekarang kamu beli buah gih." perintah arthur.

__ADS_1


"tuh denger, gak baik ngelamun terus."


alex melepas celemeknya, lalu ia keluar dari caffe dan hendak untuk membeli buah.


2 bulan ini, alex sudah bisa bahasa indonesia dengan lancar. itu juga berkat bantuan dari amira, alya, dan anissa. tak hanya alex, james dan yang lainnya pun juga sudah lancar.


alex berjalan menuju halte bus, sesampainya di halte bus ia berdiri menunggu bus datang. waktu itu halte penuh orang, hingga saat bus datang semuanya serempak masuk kedalam bus tapi saat alex ingin masuk. dia melihat seorang perempuan mirip dengan dinda, tapi anehnya perempuan itu berjalan seperti biasanya tanpa sebuah tongkat dan tanpa meraba-raba.


alex menggelengkan kepalanya, ia pun masuk kedalam bus. dan alex duduk tepat disamping perempuan itu, ia menatap lekat.


dengan memakai topi, dan headset alex pun yakin jika perempuan disampingnya adalah dinda.


( dinda, dia sudah bisa melihat. tapi bagaimana bisa, dan kemana dia selama 2 bulan ini.) pikir alex yang masih menatap dinda.


"cih, dasar cowok mesum." perempuan itu memaki, alex celingak celinguk.


( dia membicarakan siapa?)


"heuhh,,, gak tau malu banget si." umpatnya lagi.


"aku,,


" ya elo lah, cowok tapi cara mikirnya lelet amat."


"tunggu, salah aku ap...


" dari tadi lo liatin gue mulu, kalo gak mesum apa."


alex mengerjapkan matanya, ya perempuan didepannya adalah dinda.


"kamu dinda?"


dinda mengerutkan keningnya," udah mesum, suka nguntit lagi. gak guna banget jadi cowok."


alex menutup matanya menahan emosi, ia merasa lebih baik tak bisa bahasa indonesia saja. mendengar makian dari perempuan yang disukainya itu membuatnya sedikit tersinggung.


tunggu, suka. yang benar saja?


"jadi kamu bener dinda,"


dinda menatap alex dari atas sampai bawah.


"kamu gak inget aku,"


"ohh,, gue inget. lo cowok sinting yang suka ganggu gue kan, siapa itu namanya filex atau golex."


"alex,"


"kamu pikir bus ini milik kamu aja. aku mau ke toserba,"


dinda mengendikkan bahunya, tapi diam-diam tanpa sepengetahuan alex dinda tersenyum.


"ngapain kamu ngikutin aku," alex bertanya saat melihat dinda ada dibelakangnya.


"lo pikir ini tempat lo, gue juga mau ke toserba."


dinda berjalan mendahului, alex pun mengsejajarkan langkahnya dengan dinda.


"beli apa?"


"kepo?"


"bantu aku beli buah ya,"


"ogah,"


"pulangnya bareng mau gak,"


"ogah,"


"eh tapi, aku bingung kok kamu bisa langsung nebak kalo aku itu alex."


dinda mengangkat alisnya, "banyak tanya lo." ucapnya kemudian.


alex berjalan disisi keranjang buah-buahan, tapi ia malah melupakan kerangjangnya.


saat ia hendak pergi mengambil keranjang, dinda datang dengan membawa dua keranjang.


"ngapain,"


"beli buah lah,"


"belinya banyak banget ya, sampe bawa 2 keranjang."


dinda melirik keranjangnya," gue gak sadar bawa 2, gue simpen dulu deh."


"eh tunggu,"

__ADS_1


"apa?"


"buat gue aja keranjangnya, gue lupa bawa keranjang."


"eeuuhh, oke." dinda menyimpan keranjang yang lain dilantai, dia pun langsung memilih buah-buahan.


begitu juga dengan alex.


"kamu beneran gak sengaja bawa 2 keranjangnya,"


"jangan mikir kalo gue sengaja bawa-in lo, mimpi."


"sempet mikir si,"


"cih,,"


dinda pergi ketempat lain, alex juga sudah selesai membeli buah-buahan. ia berpikir untuk mencari dinda, dan tepat saat ia ke lantai 2 ia melihat dinda tengah kesusahan mengambil sebuah novel di rak paling atas.


alex mrnghampiri dinda tanpa sepengetahuan dinda, ia lalu mengambilkan novel yang diinginkan dinda. dinda membalikkan badannya dan melihat alex mengambilkan buku itu untuknya.


alex menurunkan tatapannya pada dinda, mata mereka berdua terkunci.


dinda tersadar, dan secara tak disengaja dinda meninju perut alex.


"aww,,, apa kamu memang suka memukul orang."


"lagian lo ngapain si,"


"aku liat kamu tadi kesusahan ngambil novel ini."


"gue gak butuh bantuan lo," dinda mengambil novel itu dari tangan alex, alex menunjuk dinda kesal.


"setidaknya bilang terimakasih,"


"thank you," ucap dinda seraya mengangkat novelnya.


"isshh,,"


afirah menepuk punggung zein, saat ini mereka berdua sedang ada diruang tengah. zein fokus dengan bukunya, berbeda dengan afirah yang mengelus-elus pipi zein.


"kulit kakak mulus banget si,"


"kenapa? kamu iri."


"iyalah, kalo dibandingin ya kak. aku ngerasa kalo aku kalah cantik sama kakak,"


zein berdiri, tatapannya seperti sedang mengintimidasi afirah.


"aku itu ganteng bukan cantik, yang cantik itu kamu."


"aku gak bohong kak, kakak itu cantik banget."


zein mengusap dadanya, statusnya sebagai pria tampan sudah tercoreng gara-gara istrinya sendiri, afirah.


"afirah, kamu kok ganteng banget ya."


"aku itu cewek kak, gak mungkin ganteng."


"aku gak bohong, kamu itu ganteng banget."


"tau akh, aku ngambek."


zein memeluk afirah," aku aja tadi dibilang cantik gak ngambek, lha kamu malah ngambek."


"oohh,,, jadi kamu balas dendam."


"balas dendam, balas dendam karna apa?"


"ya karna aku bilang kamu cantik,"


"ini namanya bukan balas dendam,"


"aku cuma nguji kamu,"


"nguji? nguji apa,"


"kalo kamu itu makin kesini makin cerewet, makin cepet ngambek,"


"lho, kakak juga sama."


"apa?"


"..."


"apa coba?"


*cup* afirah mencium bibir zein singkat.

__ADS_1


"dasar curang," ucap zein lalu menghujani afirah dengan ciumannya.


__ADS_2