
zein mengusap rambut afirah, ia menatap afirah dgn penuh kasih sayang.
"fira, aku mohon. nanti kalau kamu punya masalah, kamu jgn sungkan untuk menceritakannya padaku. aku itu suami kamu, dan mendengarkan ceritamu itu adalah kewajibanku."
afirah meneteskan air matanya, sebenarnya sebelum zein masuk kekamarnya. ia sudah bangun, hanya saja afirah tidak berani menatap mata zein karna ia sudah menyueki zein tadi di mobil.
( aku bukannya gk mau cerita kak, aku cuma gk berani aja. aku gk mau ngebebanin kamu, aku,,, gk mau kak...)
zein mencium kening afirah, "aku pergi dulu, ada urusan di RS."
zein berdiri dan hendak pergi keluar, tapi afirah dgn sigap memegang tangan zein.
"kak," afirah bangun, ia tersenyum.
zein juga kembali duduk disisi kasur," charlotte nyerita-in semuanya ya,," zein mengangguk.
"maaf,"
"kenapa harus minta maaf, hmm daripada diem dirumah mending kamu ikut aku yuk ke RS."
"ngapain,"
"nanti setelah urusan aku udah beres, kita langsung jalan jalan. gimana?"
"ayo, aku juga udah lama gk jalan jalan."
"siap siap sana, aku tunggu di luar."
"siap,"
afirah hanya menguncir rambutnya, dan sedikit memakai make up. setelah itu ia pun keluar, ia lihat zein sedang memanaskan motornya.
"gk pake mobil,"
"nggak, motor kayaknya lebih baik. ayo naik,"
afirah pun naik dan melingkarkan tangannya dipinggang zein, zein tersenyum lalu mulai menjalankan motornya.
disepanjang perjalanan, afirah hanya menyenderkan kepalanya dipunggung zein seraya memejamkan matanya.
"kamu mau tunggu dimana?" tanya zein setelah memarkirkan motornya, afirah nampak berpikir.
"aku tunggu di caffe sana aja kak, lagian aku kurang suka bau RS."
"dih, padahal kamu sendiri nanti bakal jadi dokter."
afirah hanya terkekeh," yaudah aku masuk dulu,"
"iya," afirah berjalan ke caffe sebrang RS, sambil nunggu ia memesan bubble tea.
"hai,"
"eh,, kamu dokter...
" arya, padahal belum seminggu sejak aku ngenalin diri di caffe, tapi kamu udah lupa."
"ah maaf,"
"ngapain disini?"
"aku lagi nungguin kak zein, kamu sendiri."
"aku mau beli minuman, apa aku boleh duduk disini?"
"silahkan,"
arya duduk didepan afirah, melihat afirah yg cuek sambil memainkan ponselnya. membuat arya menjadi canggung.
"kamu suka banget sama zein ya,,,"
alya mengajak hyung seok ke caffe afirah, itung itung udah bantuin dia katanya.
"haii, gimana kabar caffe."
"rame,,, kemana aja dari kemarin gk keliatan."
"sorry, sibuk di kampus."
"mau minum apa," tanya alya pada hyung seok.
"milkshake,"
"milkshake 1, ama bubble tea."
"siap,,," arthur pergi untuk segera menyiapkan pesanan, alya melihat sekitar.
"james,"
"kenapa?"
"alex mana?"
"gk tau, katanya si tadi mau beli sesuatu. tapi udah 2 jam gk balik balik."
"kamu kenal mereka semua," tanya hyung seok.
alya menepuk jidatnya, "aku lupa ngasih tau ya, mereka itu temen temennya charlotte."
hyung seok hanya mengangguk.
sudah 1 jam alex mengikuti dinda, ia tak tahu apa yg ia pikirkan sampai mengikuti perempuan dgn sejuta rahasia itu.
tapi tiba tiba alex kehilangan dinda, ia celingak celinguk mencari.tiba tiba sebuah pukulan mendarat dikakinya.
"aww," alex membalikkan badannya dan kaget saat ada dinda didepannya.
__ADS_1
"feeling gue emang gk pernah salah, ngapain lo ikutin gue."
"apa si," gerutu alex, lagian ia harus jawab apa. semua ucapan dinda tak dapat ia mengerti.
"bukannya jelasin, malah diem." dinda melayangkan tongkatnya dan tepat mengenai kepala alex.
"hei,, stop. stop. heiiii,,,,
alex berusaha mungkin untuk mengambil tongkat ditangan dinda, tapi kakinya tersandung kakinya sendiri.
" ehh, eh,,,BRUKK...
alex dan dinda sama sama memelototkan matanya, bagaimana tidak. bibir mereka saling bersentuhan tepat setelah jatuh, dinda dgn sekuat tenaga mengangkat kakinya dgn kencang dan mengenai \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* alex.
"Aaaa,,,, perempuan gila." alex memegangi selangkangannya lalu pergi meninggalkan dinda.
"awas aja, sekali lagi gue ketemu lo. mati lo?" teriak dinda, ia pun mengusap kasar bibirnya.
\( sial,,, \) batin dinda, lalu ia mencari tongkatnya. setelah ketemu ia kembali berjalan.
"ishhh, nyesel aku ngikutin dia." alex tak henti hentinya menggerutu, tangannya pun tak berhenti mengusap bibirnya kasar.
"aaa,,," alex menutup wajahnya yg sudah merah padam.
afirah masih setia menunggu, arya sudah pergi daritadi. tapi sebelum dia pergi afirah menjawab pertanyaan arya dgn jelas,
" *tentu saja aku menyukainya, mungkin rasa suka tak cukup, aku sangat sangat mencintainya dan menyayanginya? kamu ingin tanya apalagi*,"
sampai yg ditunggu pun akhirnya datang.
"maaf, kamu pasti nunggunya lama banget."
"gk papa, ayo!"
zein memegang tangan afirah, mereka berdua pun langsung berangkat. zein mengajak afirah ke dufan, awalnya afirah enggan karna ia takut. tapi zein dgn rayuan mautnya berhasil membuat afirah masuk.
hampir semua permainan, mereka ber2 mainkan. afirah yg awalnya enggan pun malah yg paling bersemangat, sampai akhirnya zein mengajak afirah untuk masuk ke rumah hantu.
"ayo donk,"
"aku takut kak,"
"kan ada aku, ya ya."
"tapi,,,
afirah melirik zein, ia terpaku melihat raut wajah zein yg memelas.
\( kak zein licik, kenapa wajahnya sampe dibegitu\-in si\)
" iya iya,,"
"awas aja kalo kak zein ninggalin aku?"
"nggak lah, ayo?"
mereka berdua pun masuk, baru saja permulaan afirah sudah memegang erat tangan zein.
suasananya sangat menyeramkan, sampai membuat bulu kuduk afirah berdiri.
sampai saat sebuah boneka kuntilanak melayang diatas mereka berdua, afirah menjerit. ia lari meninggalkan zein, menutup ke2 telinganya dan memejamkan matanya. afirah lari tak tentu arah, sampai saat ia tersadar bahwa dirinya tak tau ada dimana.
"kak,,," panggil afirah, dirinya kini sudab dalam posisi jongkok.
begitupun dgn zein, yg kini sedang mencari afirah.
"AFIRAHHH,,, KAMU DIMANA??"
khawatir akan keberadaan afirah, membuatnya menjadi tak terkejut saat hantu hantu bermunculan.
ia hanya terus berusaha menemukan afirah.
"kakak,,, aku takut hiks..."
"KAK ZEINNN,,,,,"
__ADS_1
"aaaa,,,,, afirah meloncat dgn teriakannya yg nyaring, bagaimana tidak jika salah satu hantu itu datang menghampirinya dan memegang tangannya.
" hei,, jangan takut." suara lembut itu keluar dari seorang pria dgn wajah bermake up tebal.
"pergi,,, kenapa wajahmu buruk sekali... pergi,,, hiks."
"hei,,, wajahku tidak buruk. hanya saja make upnya yg membuat wajahku menjadi seperti ini,"
"aku tau, tapi wajahmu terlihat buruk sekali."
pria itu mendekati afirah, dan lagi lagi afirah berteriak.
"afirah, apa kamu disana." dari arah lain, zein datang.
"kakak,,," melihat zein afirah langsung lari dan memeluknya.
"ayo kita keluar,"
"iya ayo,,," zein menuntun afirah keluar, tapi tatapannya tak lepas dari pria bermake up seperti zombie.
"hhh," pria itu terkekeh, lalu ia kembali ketempatnya semula.
zein membelikkan afirah es krim untuk menenangkan tangis afirah.
"kenapa kakak ninggalin aku?"
"lho, orang kamu yg ninggalin aku."
"aku takut banget, apalagi pas hantu berwajah hancur itu mendekatiku."
"apa dia melakukan sesuatu padamu?"
"tidak, dia orang baik. hanya saja aku tak tahan melihat wajahnya yg menyeramkan."
"udah jgn dibahas lagi, sekarang kamu mau kemana."
"aku pengen ke tempat tempat yg indah aja kak."
"hmm,,, dimana ya."
"bentar lagi malam, aku bakal ajak kamu ke suatu tempat, ayok."
afirah mengangguk, zein pun membawa afirah ke sebuah gedung. gedung yg sudah tak dipakai, tapi saat malam hari area gedung itu selalu ramai.
"kenapa kesini,"
"kamu bakal tau nanti," zein terus membawa afirah masuk kedalam gedung itu, dan terus naik dan naik.
"kak,,, kita mau kema...
mata afirah terpaku, ketakjubannya membuat ucapannya terhenti. kini didepan afirah, dimana semua cahaya kota jakarta terlihat diatas gedung yg kini afirah pijaki.
" luar biasa,"
"kamu suka,"
"makasih kak,,, jarang banget aku liat yg kayak gini."
"1 lagi,"
"apa?"
"siap siap ya,,, 1, 2, 3,"
\*cuittttt,,,,, **DARR**\*
afirah menutup mulutnya, setelah zein mengucapkan angka 3. dari bawah muncul kembang api, yg naik keatas dan saat klimaks kembang api itu menunjukkan 4 kata.
**I LOVE YOU AFIRAH**
afirah tersenyum bahagia, iapun memeluk zein erat.
"makasih kak kejutannya, aku suka banget."
__ADS_1
"syukurlah kalau kamu suka." balas zein dan semakin mengeratkan pelukannya bersama afirah.