
kini afirah dan zein sedang dalam perjalanan pulang.
"kak, apa kakak suka kejutan."
"asalkan kejutannya menyenangkan aku pasti suka."
"kalo kejutannya gk menyenangkan gimana?"
"kamu ngomong apa si, aku suka dapat kejutan yang menyenangkan. aku juga suka dapat kejutan yang gak menyenangkan, asalkan ada kamu disamping aku. aku gk peduli,"
"kak, kalo aku tiba tiba menghilang dari hidup kakak gimana."
"fira, kamu kok ngomong makin ngelantur si."
"jawab dulu,"
"aku pasti bakal cari kamu sampai keujung dunia, meskipun ada banyak halangan di depanku aku gk akan menyerah."
"alay,"
"dih, katanya mau jawaban. ya aku kasih,"
"kak, kakak mau punya anak berapa."
"mmm,,, kalau kamu mau 12 ayok."
"ya allah, 12 yakin."
"yakinlah, tapi aku kan udah janji sama kamu. kita bakal tunda dulu punya anak sampe kamu lulus s3,"
"tapi itu masih lama lho,"
"jadi kamu maunya sekarang,"
"dih, siapa juga yg bilang kayak gitu."
hingga tak terasa, hujan turun sedikit demi sedikit.
"kak,"
"apa?"
"kita hujanan aja gk papa kan?"
"kamu yakin, nanti kamu sakit lho."
"gk papa kak, kalo aku sakit aku kan punya dokter pribadi."
"kalo aku yang sakit gimana?"
"aku bakal jadi dokter pribadi kak zein dong,"
zein tersenyum, ia lalu menjalankan motor sedikit pelan. agar ia dan afirah pulang dengan selamat.
"NGEBUT JUGA GK PAPA," ucap afirah sedikit keras agar zein dapat mendengarnya.
"TAPI KESELAMATAN KAMU LEBIH UTAMA BUAT AKU,"
afirah makin memper erat pelukannya,"ngapain aku bingung masalah kak mellisa, aku percaya kak zein dia gk mungkin mudah kegoda." gumam afirah.
"HAH,,,"
afirah mengernyit," kenapa kak,"
"kamu tadi manggil aku,"
"siapa yang manggil kakak,"
"kirain,"
"kak,,,"
"kakk,,,"
"apa,"
"kok baru nyaut,"
"kirain gk ada yg manggil."
"ishh,"
"mau apa?"
"berenti dulu dipom depan sana,"
"mau ngapain,"
__ADS_1
"ke toilet,"
"ngapain,"
"kebelet kak,,,"
zein tertawa, ia lalu berhenti dipom bensin. afirah langsung turun, ia memberikan ponselnya pada zein.
"pegangin ponsel aku dulu," ucapnya lalu lari ketoilet.
zein menunggu dengan setia, tapi sudah 15 menit afirah belum juga keluar. dengan sabar zein kembali menunggu, 30 menit dan afirah belum juga keluar.
ia turun dari motornya, menyusul ke toilet dan memanggil manggil nama afirah.
"pak, maaf. apa bapak tadi liat cewek cantik pake baju kemeja biru keluar dari toilet," tanya zein pada penjaga toilet.
"20 menit yang lalu saya liat perempuan pake baju kemeja biru keluar,"
"trus dia kemana?"
"saya gk tau pak,"
zein kembali ke motornya, ia menelpon afirah tapi tersadar jika ponsel afirah tertinggal saat ponsel afirah yang ada disakunya berdering.
"AFIRAH,,," teriak zein.
*drrttt* ponsel afirah berdering, zein langsung melihat siapa yg mengirim pesan.
085×××××××××
lusa, jam 12 malam datang ke gedung ×××××. itu jika kamu ingin bertemu dengan istrimu, tak percaya istrimu bersamaku. dengar ini?
@VN
"kak, tolong aku??"
zein mematikan ponselnya, baru saja ia tadi bersama afirah sekarang afirah diculik. situasi macam apa ini,,,
zein pulang kerumahnya, mengabaikan panggilan dari mama dan papanya zein langsung masuk kekamarnya.
"kenapa zein pulang sendiri, dimana afirah."
"aku akan bertanya padanya,"
"paman," panggil charlotte.
"biar aku saja, tidak apa apa kan?" papa zein mengangguk, lalu charlotte berjalan kearah kamar zein.
dari arah pintu, thomas datang. charlotte mengangkat jari tengahnya dibibir, thomas mengangguk lalu ikut duduk disamping zein.
"zein, are you okay."
zein tak menjawab, ia hanya menyembunyikkan kepalanya dibalik tangannya.
"zein,"
"char, thom. bantu aku," ucap zein tiba tiba seraya memegang tangan thomas dan charlotte.
"bantu, bantu apa?"
"afirah, dia...
" afirah kenapa,"
"dia,,,
" kenapa zein,"
"dia diculik,"
"hah,,, afirah diculik. bagaimana bisa," tanya charlotte dgn wajah kebingungan.
"ntahlah, yang pasti orang yang menculiknya ingin aku datang sendirian ke tempat yang sudah dia beritahu."
"nggak zein, kamu gk boleh sendiri. ijinkan kita ikut," pinta thomas.
"aku harus datang sendiri thom, aku takut dia ngapain ngapain afirah. aku gk akan pernah memaafkan mereka yang berani menyentuh afirahku,"
charlotte melirik thomas, ia mengangkat kepalanya sekilas. lalu thomas sedikit tersenyum, ia menepuk pundak zein.
"meskipun begitu, kita akan tetap bantu kamu."
zein tak menanggapi ucapan thomas.
—————
pagi hari pukul 11:22
__ADS_1
di caffe, seperti biasa ramai dan membuat alex dan kawannya sibuk melayani. hari ini azis, rian dan fitri pun datang.
pintu caffe terbuka, amira melirik dan melihat dinda bersama dengan arya, dokter di RS yang sama dengan zein.
"lex," alex melirik amira yang memanggilnya.
"tuh liat," amira menunjuk kearah pintu dgn mukanya, alex pun melihat kearah yang ditunjuk amira.
ya, dia melihat dinda bersama seorang pria.
"kenapa, apa ada masalah dengannya." tanya alex.
"cih, aku kira kamu bakal sedih."
"sedih, kenapa? karna liat perempuan itu bersama dengan pria lain, ayolah amira. aku tidak peduli, aku tidak mungkin sedih hanya denganelihatnya berduaan, apa kamu pikir aku menyukainya."
"ya, mungkin aja kan? kamu suka dia,"
"haha, mustahil. oke, aku kesana dulu."
alex berjalan ke tempat duduk arya dan dinda.
"ingin pesan apa,"
"americano, kamu mau pesan apa dinda."
"aku teh lemon aja,"
alex memiringkan kepalanya seraya berpikir,
"aku rasa didepan pria ini, sikapnya berubah 99%," pikir alex.
alex membungkukkan badannya lalu pergi, tapi langkahnya terhenti saat azis menyapa pria yang bersama dinda.
"arya, lo ngapain disini. siapa tu, gebetan." ucap azis seraya duduk.
"ciee,,, baguslah. lo itu udah tuwir jadi harus cepet nikah," sahut fitri.
"kalian apaan si, aku tadi pas mau kesini kebetulan liat dia kebingungan. aku tanya dia mau kemana, ya katanya mau kesini. sekalian aja,"
"oh," rian melambaikan tangannya dia didepan wajah dinda, dinda diam tak berkutik.
"iya, aku gk bisa liat. pake ngelambain tangan segala," celetuk dinda, rian menatap tangannya lalu menatap dinda.
"tapi bagaimana lo tau gue ngelambain tangan ke wajah lo,"
"mau tau aja lu," azis, arya, fitri, dan rian saling melirik.
alex menyeringai, lalu ia pergi kedapur untuk menyiapkan pesanan.
"pfftt,,, hahahaha," azis tertawa keras, seluruh pelanggan meliriknya.
"zis, ketawa kenceng banget. gk malu diliatin banyak orang lu,"
"gk tau habisnya ngakak banget, liat muka begonya sirian." ucap azis, rian memukul kepala azis.
"bodolah, gue mau nyamperin bebeb gue dulu."
rian berdiri dan berjalan menghampiri amira.
"beb, aku diketawa-in tuh sama si azis. dikata-in **** lagi, marahin dong."
"maaf ya rian, tapi aku juga tadi pengen ketawa liat muka kamu. kayak orang bodoh,"
"pfftt,,, hahahaha haha," azis kembali tertawa keras, sebagian pelanggan juga ada yang tertawa. rian menutup wajahnya malu, ia lalu melipat tangannya.
"aku marah nih sama kamu,"
"gk papa, nanti kamu juga bakal baik sendirinya."
"amira,,,"
"sumpah, si rian **** banget dah." ucap azis.
"ah, lu kalo ketawa gk ada habisnya. berenti napa?" ucap fitri.
dinda memutar bola matanya malas, dia paling malas jika harus mendengar suara berisik.
"ini minumannya," james datang dan menyimpan pesanan dinda dan arya.
dinda mengerutkan keningnya,"bukannya tadi suaranya si cowok sinting, kenapa sekarang berbeda."
"makasih," ucap arya.
sementara itu, alex sedang berada dilantai 2 bersama alya dan anissa.
"aku udah bicara-in ini sama amira, nanti kamu kasih tau james dan yang lain."
__ADS_1
"tapi ini beneran gk papa," ucap alex seraya meliriknya.
"gk papa, kan kejutan."