
"gk papa, kan kejutan."
———
kini zein tengah bersama dengan orang tuanya, dari semalam ia terus dirundungi pertanyaan pertanyaan tentang keberadaan afirah.
"ma, pa, kalian gk usah khawatir. afirah sebenarnya ada dirumah amira, dia berencana menginap lusa karna orang tua amira sedang keluar negri."
"hahh,, kenapa gak dari kemarin kamu kasih tau mama sama papa. kita kan jadi gak khawatir,"
"maafin zein ya,"
zein menepuk pahanya, ia menatap orang tuanya.
"kalo gitu zein pergi dulu ke RS ya, takutnya ada masalah darurat."
"iya, hati-hati dijalan."
"iya, zein berangkat dulu."
zein langsung berjalan keluar, tadinya ia berniat ke caffe nya tapi salah satu dokter di RS menelponnya jika ada korban kecelakaan bus. dengan segera zein menginjak gas mobilnya menuju RS.
zein segera memakai seragamnya, ia membantu korban korban lain. disibukkan dengan banyaknya korban dari kecelakaan bus, satu pasien kembali datang dan membuat semua orang tercengang.
bagaimana tidak? pasien itu tertusuk besi dibagian perutnya, darah mengalir dari besi tersebut dan berceceran dilantai.
zein segera menangani pasien itu, ia berusaha melakukan yang terbaik tapi sayangnya beberapa menit setelah datang ke RS pasien itu meninggal.
selesai menangani semua pasien korban kecelakaan bus, zein membuka seragam dan sarung tangannya. ia lalu mencuci tangannya dan duduk terdiam disalah satu kursi RS.
"zein," arya datang dan duduk disamping zein.
"kamu sudah melakukan yang terbaik," tambahnya.
"aku mau keluar dulu, jika ada hal yang mendesak kamu tinggal telpon aku."
"iya,"
zein berjalan di trotoar, meninggalkan mobilnya di RS dan lebih memilih untuk berjalan sendirian.
"afirah, apa kamu sudah makan, apa tidurmu nyenyak, dan apa kamu ketakutan disana. tunggu sebentar lagu, besok aku akan datang."
"hai," zein membalikkan badannya saat mendengar sapaan seorang wanita dibelakangnya.
"zein, sedang apa? tanya mellisa.
zein terus melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan mellisa, melihat mellisa membuatnya sedikit kesal dan marah.
__ADS_1
" zein, apa kamu mau ke caffe dulu."
"antar aku ke toko buku ya,,, pliss."
"tolong mellisa, aku gak mau ngapa-ngapa in sama kamu. aku gk mau ke caffe bareng kamu ataupun nganter kamu ke toko buku, kamu sendiri kan udah tau aku udah punya istri."
zein langsung pergi meninggalkan mellisa, mellisa mendecak kesal.
"aku gak peduli zein, sekarang aku hanya tau bahwa aku menyukaimu." teriak mellisa, tapi teriakannya benar benar tak didengarkan oleh zein.
zein malah langsung cepat cepat meninggalkan mellisa.
ia pergi ke caffe, ia duduk dengan lesu. alya menunjuk zein dengan wajahnya ke amira, amira mengangkat bahunya seraya tersenyum.
"kenapa? mana afirah, kok sendiri."
"dia dirumah, lagu gak enak badan."
"oohh,,, kalo gitu aku mau jenguk dia."
"gak usah,"
"lho kenapa?"
"ya,,, afirah lagi tidur dia harus istirahat gak boleh ada yang ganggu."
"oke, kalo afirah udah mendingan kamu harus kabarin aku."
"kamu mau minum apa," tanya amira.
"minuman penghilang stres,"
"pfftt, hhh,,, kamu kenapa? stres gara gara apa, karna afirah sakit."
"kamu benar, karna mikirin dia aku jadi stres."
"wah,,, kayaknya aku cuma nge khayal deh kalo pengen rian kayak kamu."
"malah gibahin si rian,"
"haha,,, yaudah aku siapin dulu."
zein mengangguk, malam ini ia akan pergi ke tempat yang dijanjikan si penculik. anehnya si penculik sama sekali tidak minta tebusan, zein hanya berpikir keselamatan afirah lebih penting dari apapun.
dan malampun tiba, pukul 23:30 zein keluar dari rumahnya seorang diri. tapi ntah kenapa ia merasa rumahnya sepi sekali, ia tahu rumahnya sepi karna kedua orangtuany sedang tidur tapi hawanya sangat berbeda.
zein masuk ke mobilnya lalu menjalankan mobilnya, dengan standar kecepatan sedang dalam 25 menit zein pun sampai ke gedung.
__ADS_1
suasana gedung pastinya gelap karna gedungnya belum selesai, atau masih dalam tahap pembangunan.
"afirah,,," panggil zein.
"afirah kamu dimana?"
"afirah,"
"hahaha,,,lo dateng juga."
"lepasin afirah,"
"gak semudah itu,"
pria bertopeng itu menarik afirah dengan kasar, mulut afirah dibungkam dengan kain.
"iisshh,,," pria bertopeng itu mendesis dan menatap tajam pada afirah, zein memicingkan matanya.
"kamu mau apa? aku akan berikan apapun asalkan kamu lepaskan afirah."
"hoho,,, lo mau dia. gimana ya,,, sebenarnya gue gak mau apa apa. gue cuma mau gadis ini jadi milik gue,"
"hahhh, jangan harap hal itu akan aku biarkan." zein berjalan perlahan dan mendekat.
pria itu menyeringai ia lalu mendorong afirah dengan kencang, zein berusaha menghampiri afirah tapi tanpa ia ketahui pria bertopeng itu sudah ada didepannya dan siap untuk memukulnya.
zein tak menghindar, ia hanya menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya.
*brukk* alhasil zein pun terjatuh, ia mengernyit.
"kenapa pukulannya sama sekali tidak menyakitiku," pikirnya.
zein melirik kearah afirah tadi terdorong, tapi disana afirah sudah menghilang dan membuatnya bingung.
"cari siapa?" zein membalikkan badannya, dan ia membeku saat melihat afirah tengah tersenyum dengan membawa kue ulang tahun di tangannya.
"selamat ulang tahun sayang," zein merasa sangat di bohongi, bukannya senang ia malah merasa kesal dan marah.
afirah mendekatinya dan dibelakangnya ada temannya dan teman afirah termasuk kedua orang tuanya.
zein masih terdiam," sayang, maaf aku ngelakuin ini buat kasih kamu kejutan." ucap afirah.
zein mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu ia menatap tajam pada afirah.
"kamu pikir aku akan suka kejutan seperti ini," ucap zein lalu pergi meninggalkan semua orang di gedung itu.
afirah terdiam, mencerna perkataan zein barusan.
__ADS_1