THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )

THE PERFECT HUSBAND ( MY SASSY GIRL )
Malam pertama


__ADS_3

Afirah dan Zein pergi berdua ke hotel yg sudah dipesan. Afirah menghempaskan badannya, hari ini ia benar benar sangat letih.


“Mandilah dulu, baru tidur?” ucap Zein seraya mendudukan dirinya disofa.


Afirah langsung terbangun mendengar suara Zein, tidur. Diranjang, berdua.


(Iishh apa yg aku pikirkan) pikirnya.


Zein tertawa kecil melihat Afirah yg sepertinya tengah memikirkan sesuatu.


“Tenang saja, aku akan tidur disofa.”


“Eh,,” Afirah tersadar.


“A-aku akan mandi dulu,” ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.


Zein menggelengkan kepalanya, ia memijit keningnya. Sebenarnya ada yg mengganggu pikirannya sejak resepsi pernikahan.


lalu Zein berdiri dan melangkahkan kakinya menuju loteng, mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.


(Kenapa dia harus datang, dan tiba tiba bicara seperti itu) batin Zein.


“Aku menyukaimu zein, aku tau aku terlambat tapi bukankah kamu juga menyukaiku. Karna aku cinta pertamamu,” ucap perempuan dihadapan Zein dgn sorotan mata yg membuat Zein sulit untuk mulai melupakan perempuan yg ia sukai.


“Aishh,, kenapa aku memikirkan hal itu si. Zein, sekarang di hadapanmu sudah ada afirah. Dia baik dan cantik, aku tidak mau mengecewakannya.” ucap Zein lalu mengusap wajahnya mencoba menetralkan pikirannya.


“Kak Zein,”


Zein membalikkan badannya, ia terpaku melihat Afirah dibelakangnya dengan rambut yg masih basah.


“Aku sudah selesai mandi, sekarang kakak sudah bisa mandi.” ucap Afirah.


“I-iya,” Zein melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Afirah lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menyisirnya, setelah itu ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan terlelap.


Zein sudah selesai mandi, ia melihat afirah yang sudah tidur.


“Tidurpun dia terlihat sangat cantik,” ucapnya lalu membaringkan badannya di sofa.




Afirah terbangun, dan malam masih gelap. Ia lalu melihat Zein tidur di sofa tanpa bantal dan selimut.



“Bagaimana dia bisa tidur tanpa bantal dan selimut,” Afirah mengambil bantal dan selimutnya, lalu ia mengangkat kepala Zein dan membantalinya setelah itu ia memakaikan selimut ketubuh Zein.



Saat ia beranjak menuju ranjangnya, sebuah tangan memegang tangannya. menghentikan langkah Afirah, ia melirik ternyata Zein yg memegang tangannya.



Ia berjongkok, menatap wajah Zein. Dan seulas senyuman muncul dibibir mungil milik Afirah.



Afirah memegang tangan Zein mencoba melepas genggaman tangan Zein ditangannya.



“Kok erat banget ya, jadi susah kan. Kalau kekencengan ntar kak Zein bangun.” ucapnya pelan masih berusaha melepas tangan Zein.



Akhirnya Afirah menyerah, iapun memilih tidur dalam posisi duduk. Wajah mereka berdua berdekatan, hingga tak butuh waktu lama Afirah pun terlelap.



Pukul 04:59, Zein membuka matanya tapi ia di kejutkan dengan Afirah yg sedang tidur di hadapannya.



\(Apa yg terjadi, kok Afirah ada disini.\)



Zein bangun perlahan, ia pun sadar jika tangannya memegang tangan Afirah. Replek Zein langsung melepas tangannya.



“Apa Afirah tidur duduk seperti ini semalaman, dan kenapa aku memegang tangannya.”



Zein menepuk pelan pipi Afirah, perlahan mata Afirah terbuka.



“Bangunlah, kita sholat shubuh berjama'ah.”



“Eh,, i\-iya,”



Zein pun beranjak menuju kamar mandi duluan, Afirah merentangkan kaki dan tangannya. Rasanya tulangnya copot semua, ia sangat pegal.

__ADS_1



lalu Afirah langsung kekamar mandi, sesudah Zein keluar. Tak butuh waktu lama mereka berdua pun sholat shubuh berjama'ah.



“Hmm,, sekarang kamu berkemaslah.”



“Lho, kita mau kemana,”



“Aku dengar kamu itu pengen ke swiss. Jadi pagi ini kita akan liburan kesana,”



“HAHHH,,, beneran kak kita liburan ke swiss.” ucap Afirah seraya memegang tangan Zein saking senangnya.



“Iyaa, kamu seneng banget yaa.”



“Iyalah kak, pergi ke swiss mimpi aku dari smp. Wahh makasih kak, aku gk nyangka banget bisa pergi ke swiss bareng kakak lagi.”



“Yaudah,, siap siap gih.”



“Iya kak ...,” Afirah segera beranjak, menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa.



Zein hanya geleng geleng kepala, ia merasa gemas melihat tingkah Afirah yg kesenangan itu.



DIDALAM PESAWAT ✈


Selain ke swiss, Afirah juga sangat ingin pergi ke korea. Mengingat dia adalah seorang Fangirl dan sangat mengidolai salah satu boyband korea yaitu EXO.



“Nih makan, daritadi kamu belum makan apa apa lo.” Zein menyerahkan roti pada Afirah, Afirah tersenyum pada Zein membuat Zein sedikit salah tingkah.



“Makasih kak,”




“Kak, terimakasih.”



“Untuk apa,” Zein menghempaskan dirinya disofa.



“yaa, karna kakak sudah mau menjagaku dengan baik.”



“Itukan sudah jadi kewajibanku sebagai suamimu.”



Afirah menganggukan kepalanya ..\( Yaa, benar. Pria tampan dan baik ini sekarang suamiku\) batinnya senang.



\*Drrrtt\* Ponsel Afirah bergetar, ternyata Ayahnya menghubunginya lewat video\-call, Afirah langsung mengangkatnya.



“Ayah,, gimana kabar ayah.” tanya Afirah.



“Ayah sedikit lebih baik nak, apa kamu sudah sampai di swiss.”



“Iya yah, kami sedang istirahat.” Afirah duduk disofa, disamping Zein.



“Hallo yah,” sapa Zein.



“Ayah senang melihat kalian bahagia, ayah jadi tidak akan khawatir jika harus pergi sekarang.”


__ADS_1


“Hussh,, ayah bicara apasih. Harusnya Ayah lebih semangat lagi menjalani pengobatan agar Ayah semakin cepat sembuh,” ucap Afirah.



“Afirah benar, harusnya Ayah lebih semangat lagi. Apa ayah tidak mau melihat cucu ayah dulu,” canda Zein.



“Eh kakak bilang apasi,” Afirah menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.



“Hahaha,, kalian ada ada saja. Yasudah kalian nikmati saja honeymoon kalian, awas? Gak boleh sampai bertengkar.”



“Iya ayahkuuu,” ucap Afirah memonyongkan bibirnya, membuat Zein yang melihatnya gemas ingin mencomot bibir mungil itu.



“Ayah tutup ya, jaga kesehatan kalian.”



“Ayah juga,” ucap Zein dan Afirah bersamaan,


dan video\-call pun berakhir.



“Tidurlah,” ucap Zein.



“Kakak tidur dimana,”



“Disini,” Zein menepuk\-nepuk sofa.



“Tapi kak, aku ngerasa gk nyaman aja. Aku enak tidur diranjang sementara kakak disofa, nanti badan kakak pegel\-pegel,”



“Jadi kamu mau aku tidur diranjang gituuu,” Zein mengangkat alisnya menggoda.



“Bukannya gitu, kakak biar diranjang aja. Dan aku disofa,”



“Apa tuh? Nggak, kamu harus diranjang.”



“Tapi kak ...”



“Oke, aku akan tidur diranjang. Tapi kamu juga harus tidur diranjang,”



“Hahhh,”



“Tenang, aku tidak akan macam macam,”



Afirah tersenyum. “Maaf ya kak,”



“Untuk apa,”



“Kalau kakak nikahnya bukan sama aku, pasti kakak ...”



“Apa ...”



“Eh gak jadi, aku tidur duluan kak,” Afirah berjalan menuju ranjang, tapi langkahnya terhenti saat Zein memegang tangannya.



“Gak papa, lagian kan kamu harus lanjut kuliah.”



Afirah tersenyum. “Makasih kak?”


__ADS_1


Mereka berdua tidur satu ranjang dengan jarak yang sedikit berjauhan, Afirah menutup matanya tapi senyuman dibibirnya belum juga luntur.


__ADS_2