
Thomas melepas pelukannya, ia tersenyum begitu juga charlotte.
"Aku hanya ingin mengatakan itu saja, kamu lanjutkan saja bekerja."
"Apa kamu hanya main - main mengatakan itu,"
"Tentu tidak, kita akan mulai kencan setelah kamu pulang kerja. Oke!!!"
Thomas menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya,
" Oke!!!"...
+++++++++
Charlotte dan thomas saling bertukar cincin, hari ini mereka berdua bertunangan. Tepat 2 minggu setelah mereka berpacaran.
"Yeaaa,,,, huuuu...." Afirah, zein dan yang lain bersorak.
Thomas tertawa kecil, lalu ia mencium bibir charlotte.
"Uwuuu,"
Alex menutup mata dinda dengan kedua tangannya.
"Anak kecil gak boleh liat,"
"Ck, isshhh... Gue udah kelas 12," Ucap dinda dengan sekuat tenaga melepas tangan alex, namun kekuataanya tentu tak bisa mengalahkan kekuatan alex.
"Sama aja, bagi aku kamu tuh masih anak kecil."
Dinda menggigit bawah bibirnya, ia lalu menginjak kaki alex. Alex mengaduh kesakitan, sementara dinda hanya mengibaskan rambutnya tak peduli.
"Tuh kan?" Dinda memelototkan kedua matanya pada Alex karena Ia melihat Charlotte dan Thomas selesai berciuman, Alex hanya menjulurkan lidahnya.
" Dinda ikut aku sebentar yuk!" Alex menarik tangan dinda ke tempat yang sedikit sepi.
"Ishh, ngapain kita kesini."
"Kenapa? Kamu takut,"
"Sorry, dalam kamus hidup gue. Gue gak pernah ngerasa takut,"
"Aku tau," Ucap alex seraya mendekatkan wajahnya pada dinda, spontan dinda mundur.
"Mau ngapain si,"
"Duduk dulu,"
"Disini," Dinda menunjuk ke rerumputan yang di injaknya.
"Iya,"
"Kamu,,, pernah gak sih suka sama cowok."
"Lu nanya ma gue,"
"Iyalah, kalo kamu yang nanya. Berarti aku yang harus jawab,"
Dinda mengangguk, " Gue terakhir kali suka sama kakel gue,"
"Kakel, apa itu."
"Hhh,,, dasar katro."
"Katro juga apa?"
"Udik,"
"Udik apaan juga tuh,"
__ADS_1
Dinda memijit keningnya, ia lalu memegang bahu alex.
"Kakel, kakak kelas gue. Kalo katro sama udik lu gak usah tau deh,"
Alex memutar bola matanya malas, lalu ia menatap langit.
"Kamu suka banget sama cowok itu,"
"Dulu sih iya, sekarang udah nggak."
Alex mengangguk, seulas senyuman muncul di bibirnya.
"Terus sekarang gak ada cowok yang kamu suka gitu,"
"Gimana ya, sekarang aku lagi tertarik sama satu cowok."
"Siapa?"
"Kepo,"
"Apa kamu sangat menyukainya,"
"Nggak, tapi gue sayang sama dia." Ucap dinda seraya melirik alex, dan alex pun turut melirik hingga mereka berdua bertatapan.
"Hhh,,, alex menghela nafas kasar, ia tertawa kecil.
"Kamu ngomong kayak gitu sambil liat aku, aku jadi ngerasa lho."
"Emang dari tadi lo gak ngerasain apa - apa,"
"Maksudnya,"
Dinda memalingkan wajahnya, ia lalu berdiri.
"Gue masuk duluan," Ucapnya seraya pergi, alex masih berpikir keras.
Ia lalu berdiri seolah ia dapat suatu pencerahan, ia kejar dinda. Sesaat setelah dinda sudah di depannya, alex menarik tangannya dan mencium bibir dinda.
"Katakan,"
"Katakan apa?" Tanya balik dinda.
"Apa itu buatku,"
"Itu apa? Yang mana,"
"Omonganmu yang tadi,"
"Omongan, gue. Tunggu dulu, lo berani - beraninya ngambil first kiss gue."
"Jadi bukan aku,"
"Apa si, udah nyium gak bilang - bilang. Ngomong gak jelas juga,"
Alex mendesis, ia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan dinda. Dinda melipat tangannya, tatapannya tajam namun beberapa saat dinda pun tersenyum.
Ia berlari dan memeluk alex dari belakang, alex tentu kaget.
"Gue,,,,,
"..."
"Suka,,,,,
"..." Alex menahan senyumnya.
"Sama,,,,,
"..." Masih menahan senyumnya.
__ADS_1
"James,"
*duarrr* alex melepas pelukan dinda, ia lalu menatap dinda. Raut wajahnya sudah tak beraturan.
"Kalo kamu suka james, kenapa bilangnya ke aku."
"Pffttt,,, hahahaha."
Alex semakin di buat bingung, ia hendak pergi lagi namun dengan cepat dinda menahan tangan alex.
"Aku suka kamu," Ucap dinda.
"Gak usah becanda," Ketus alex, tapi sebenarnya ia sedang menahan senyumnya karna ia mendengar pengakuan dinda dalam bahasa formal.
"Ngapain gue becanda, kalo gue suka james pasti yang gue peluk james lah bukannya elo."
Alex membenarkan ucapan dinda, namun pikirannya masih kosong.
"Hoiii, gini nih. Ini alesannya gue nyatain perasaan gue duluan,"
"Kenapa?"
"Ya, kalo nunggu elo. Kayaknya harus nunggu berabad abad lagi."
"Jadi sekarang gimana?"
"Haduhh,,, lo gak pernah pacaran."
"Nggak, kamu juga gak pernah kan?"
"Iya si,"
"Alex, daritadi gue yang ngomong terus giliran lo lah."
"Aku,"
"Iya, lo jawab gue. Lo suka gak sama gue,"
"Maaf dinda," Dinda menatap alex dalam - dalam.
"Aku gak bisa,"
"Gak, bisa. Gak bisa apa? Jadi selama ini lo sama sekali gak suka sama gue, terus kenapa lo bikin gue suka sama lo. Terus tadi, apa arti dari ciuman lo."
"Denger dulu,"
"Bacot,"
Alex mencengkram kedua pundak dinda, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu.
"Aku gak bisa, aku gak bisa nolak kamu."
Dinda melepas tangan alex dari pundaknya, ia memalingkan wajahnya. Alex yang gemas langsung memeluk dinda.
"Aku suka kamu udah dari dulu, cuma aku gak berani buat ngungkapin karna takutnya lo malah jauhin aku. Tapi amira bilang, kamu bukan tipe cewek yang bakal ninggalin cowok yang suka sama kamu. Aku ajak kamu kesini ya,,, karna aku mau ungkapin perasaan aku. Eh taunya kamu duluan yang bilang suka, aku bener - bener bahagia."
"Lebay,"
"Loh, kok lebay."
"Tau akh, gue sebel ama lo."
"Jadi sekarang kita udah resmi pacaran,"
"Kata siapa?"
"Kan kita berdua udah saling ngungkapin perasaan masing - masing."
"Gue masih kecil, gak boleh pacaran." Ucap dinda lalu pergi.
__ADS_1
"Eh, tunggu aku." Teriak alex dan lari mensejajarkan langkahnya dengan dinda.