
Tak .... Tak .... Tak .... Tak ....
Suara ketikan kini memenuhi ruangan. diseberang layar yang menyala, wanita itu tengah fokus untuk terus mengetik dengan cepat sebelum berhenti karena panggilan yang masuk.
Dia melirik nama pemanggil sebelum menerima panggilan dan mendekatkan smartphone pada telinganya ”ya, kak Lia.”
“ apa kamu sudah menulis semua ceritanya, ini sudah hampir jam delapan malam.” suara di seberang telepon itu cemas.
“Iya sedikit lagi, lagi pula bagaimanapun lomba novel kali ini harus mengirimkan berkas, bukankah seharusnya email lebih mudah.” wanita itu bersandar sambil melihat komputer yang penuh dengan tulisan yang telah ia tulis.
“Mereka membuat peraturan berbeda. Terserah, yang penting kamu harus menyelesaikannya segera, jangan tidur terlalu malam." ucap Lia dengan penegasan.
“ya kakak, saya segera selesai” dalam cahaya sudut bibir wanita itu melengkung mendengar perkataan dari Lia.
“Baiklah sebaiknya kamu segera menyelesaikannya dan tidur Melisa” dengan perkataan yang diakhiri helaan nafas itu, telepon terputus.
Melisa tersenyum, baginya Lia adalah orang yang paling dekat dengannya dan selalu cemas untuk nya. Melisa sama sekali tidak menyalahkan atau jengkel padanya.
Lia adalah kakak sepupu Melisa dan mereka telah akrab sejak kecil.
Setelah ibu Melisa meninggal ia tinggal bersama Lia yang kebetulan rumahnya tepat di sebelah, Menurutnya Lia sangat perhatian dengannya walau kadang dia cerewet. Sedangkan Ayahnya selalu berangkat pagi dan pulang malam saat ia masih atau telah tertidur sehingga ia menjadi asing dengan ayahnya.
Saat ini Lia telah memiliki suami dan satu anak laki-laki, sikapnya pun menjadi semakin parah. Tapi Melisa senang karena kakaknya tidak melupakannya walau kini sudah berkeluarga.
Menghilangkan pikirannya, Melisa terus menulis kata demi kata pada laptopnya dan segera berhasil menyelesaikan bagian akhir ceritanya. Melisa lega, akhirnya ia telah menyelesaikan karyanya ini.
Saat bersiap untuk mencetak tulisannya. Melisa mendapati kertasnya telah habis terpakai dan dia lupa membeli kertas HVS. Melisa tercengang karena kebodohannya sebelum mengambil dompetnya, memakai jaket dan segera keluar untuk membeli kertas.
Melisa tidak tau apakah toko serba ada di dekat sini masih buka. Setelah sekitar 5 menit perjalanan Melisa merasa jalan yang ia lalui asing. karena kepanikan, ia telah mengambil jalan yang salah. Sambil mendesah pelan, Melisa hendak berbalik ke jalan yang ia lewati tadi.
'Untung saja aku tidak buta arah' ucap Melisa dalam hati.
__ADS_1
Saat Melisa hendak berbalik ia tiba-tiba melihat sebuah toko yang menarik baginya. Toko itu memiliki suasana antik. Tertulis di plakat atas adalah toko dimensi dengan huruf yang sangat besar dan bercahaya, terdapat pula aksara Jawa yang sangat kecil di pojok bawah yang jika dibaca berarti penghubung.
Melisa terus tertarik pada toko itu seolah ada yang membisikkan sesuatu bahwa toko itu memiliki apa yang dia cari. Setelah sedikit ragu, Melisa tetap berjalan dan memasuki toko tersebut.
Seperti bagian luar, bagian dalamnya pun sangat antik dengan ukiran-ukiran pada perabot. Suasana itu sangat tenang dan halus. Walau begitu, isi didalamnya tetap sama seperti toko serba ada lainnya, Tapi jika dilihat dengan jelas banyak pula benda yang seharusnya tidak ada didalam toko serba ada lainnya.
Melisa melihat ke arah meja pembayaran, seorang pria paruh baya tengah berdiri tersenyum menatapnya dan berkata “Halo, selamat datang pelanggan”
Melisa tersenyum tipis dan dengan ragu bertanya, “paman apakah ini benar-benar toko serba ada?”
Paman itu berkata dengan lembut. “Ya, apa yang anda cari?”
Melisa menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari yang ia inginkan sebelum bertanya, “apa ada kertas HVS ?”
“ya, tentu saja.” paman itu mencari di rak kaca samping sebelum memberikan setumpuk kertas pada Melisa.
“ini, apa tidak ada yang masih utuh?” Melisa memandang bingung pada kertas di tangannya.
“tidak, itu pasti cukup. Harganya Rp xx.000,-“ kata paman itu sambil tetap mempertahankan senyumnya.
Paman menerima uang, lalu melambaikan tangannya, “ya, selamat tinggal, semoga anda membuat cerita bagus”
Dengan perkataan paman ini Melisa tersadar dan buru-buru kembali ke kontrakan tanpa merasakan keanehan dengan apa yang dikatakan pria paruh baya itu.
Melisa segera menuju kontrakannya dengan tergesa-gesa tampa melihat kebelakang.
Dalam kegelapan seorang misterius terus memperhatikan Melisa sampai dia masuk ke kontrakannya.
“Mereka telah kembali,” setelah mengucapkan kata-kata itu, orang misterius itu pergi.
Beberapa saat lalu, toko dimensi.
__ADS_1
Pria paruh baya itu terus menatap pintu yang ditinggalkan Melisa sebelum sebuah suara mengganggunya.
“wah, pelanggan pertama setelah kembali ke sini." seorang pria tampan tengah keluar dari pintu bagian dalam toko.
" ya, sangat menyenangkan disini." pria paruh baya itu menarik nafasnya seolah menikmati udara yang telah lama dia rindukan.
"bukankah paman Hyde ditempatkan di cabang ini dulu, dan terdapat masalah sehingga paman Hyde menunda ke sini lagi.” pria tampan itu mengambil makanan ringan dengan sembarangan dan mulai memakannya.
“seseorang juga sudah tau bahwa saya telah kembali." Hyde Blackwell tersenyum.
"wow, bukankah itu orang istimewa yang bisa mengetahui toko ini tanpa harus dipilih olehnya." pria itu menjawab setelah dia mengingat pernah membaca tentang masalah serupa.
Hyde mengangguk dengan ringan sebelum sadar tengah berbicara pada siapa dirinya. " Eugene Wolfgang, kenapa bocah sepertimu ada disini ?"
“Oh, sekarang ini aku adalah pengantar." pria itu berkata sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
“iya-iya, saya akan kembali dulu sebelum mencari pelanggan berikutnya,” Hyde berjalan ke pintu untuk membalik papan dari buka menjadi tutup sebelum berjalan ke pintu toko bagian dalam diikuti oleh Eugene di belakangnya.
******
Melisa yang telah menyelesaikan semuanya menghela nafas lega. dia telah membaca karyanya ulang untuk memastikan pengerjaannya. Sebenarnya Melisa merasa protagonis dalam ceritanya terlalu berlebihan dan terkesan seperti pencari perhatian.
Tapi untuk menonjolkan dunia berpihak padanya dan semua orang menyayanginya dia tetap menulisnya seperti itu.
Suatu saat Dia bisa merasa bahwa pembaca akan membencinya karena membuat sebuah tokoh menjadi menderita tanpa alasan. namun menurutnya itu hanya sebuah cerita yang dia buat dan tidak terlalu merasa bersalah untuknya.
Tanpa karakter seperti itu bagaimana cerita tetap berlangsung. Bukankah itu akan membosankan. Mungkin juga karakter lain sangat tidak masuk akal, tapi memangnya kenapa, bukankah itu tidak masalah asal cerita itu menjadi menarik karenanya.
para pembaca hanya akan memperhatikan protagonis dan bukan karakter yang berlawanan darinya. seberapa liciknya protagonis atau seberapa jahatnya dia, para pembaca akan toleran padanya.
Sedangkan karakter lainnya hanya akan dilirik oleh mereka jika dia dekat dengan protagonis. Antagonis akan diabaikan dan di musuhi walau memiliki masa lalu yang kacau sekalipun.
__ADS_1
Melisa kemudian menghilangkan pikiran yang menggangu dan beranjak dari kursinya untuk tidur. Dia berbaring pada kasurnya dan menyelimuti dirinya.
Melisa memejamkan matanya dan tidur dengan lelap beberapa saat kemudian. Melisa bahkan tidak tahu sesuatu telah terjadi di sekitarnya. kertas yang berisi cerita yang ditulisnya itu tengah memancarkan cahaya samar. Setiap kata padanya juga seakan mengalir keluar dan menari di sekitar ruangan. Cahaya terus menguat sampai menutupi seluruh ruangan dan menelan Melisa yang telah terlelap.