Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 15


__ADS_3

Esoknya Melisa menuju Universitas MT untuk mengurus surat pindah Nico. Sebelum pergi untuk menuju ke universitas AN. Universitas AN sendiri adalah sekolah Melisa yang dulu. Kebetulan ayah Melisa memiliki teman di sini jadi lebih mudah untuk memindahkan Nico kesini.


Ini juga salah satu universitas terbaik. Jadi Pasti Nico tidak masalah untuk kesini. Berjalan di koridor menuju kantor Dekan universitas, Melisa juga melihat sekeliling. Tanaman terlihat hampir di setiap sudutnya. Universitas ini Memang terkenal akan banyaknya tumbuhan dan pepohonan nya.


Melisa sendiri juga tau ini karena teman ayahnya. paman itu menyukai tumbuhan dan bahkan pernah hampir mengambil kuliah dengan jurusan yang berhubungan dengan tanaman. Ayahnya dulu bilang bahwa Ayah dari paman tidak menyetujuinya dan mengancam akan memukulinya.


Wajar saja jika seperti itu. Paman ini adalah anak pertama yang akan mewarisi dan menjalankan perusahaan. Namun setelah itu pun paman tetap memilih menjalankan universitas ini dan menyerahkan perusahaan kepada adik laki-laki ketiganya untuk dijalankan.


Memasuki kantor dekan Melisa melihat seorang pria tua yang sedang duduk di mejanya dan mengutak-atik tanaman di pot kecil. Meski terlihat seperti anak kecil yang sedang senang untuk bermain, aura bermartabat ada di sekitarnya.


Perlahan dia mengangkat kepalanya menatap Melisa. “Huh, Sudah lama kamu tidak datang kesini. Jadi mengapa sekarang datang. Tidak mungkin kamu yang sibuk mengunjungi pria tua ini tanpa alasan.”


“Itu juga benar. Tapi aku juga sekalian melihat paman Ikhsan.” Melisa tersenyum sambil terus berjalan menuju kursi didepan meja Dekan.


“Apa yang kau katakan Bocah bau, aku tidak percaya itu. Jadi mengapa itu?” Paman Ikhsan meletakkan pot yang dimainkannya ke sudut meja.


“Aku berencana memindahkan orang. Karena disini ada paman juga, jadi pindahkan saja disini.” Melisa menjelaskan sambil menyerahkan formulir Nico.


“Jadi seperti itu.” Paman Ikhsan melihat formulir itu dengan tenang sebelum melihat Melisa dengan curiga. “Bukankah ini kekasihmu? Kamu memiliki kekasih yang masih muda?”


“Apa yang paman bicarakan, saya menganggapnya sebagai putra.” Melisa menekankan nya, karena paman ini juga seperti ayahnya.


“Ayo jangan menyangkalnya terlalu cepat. Mungkin suatu saat itu benar-benar terjadi.” Paman Ikhsan menggoda Melisa. Pasalnya dia tau bahwa Melisa sangat jarang untuk memperhatikan orang yang bukan siapa-siapa baginya. Jika tidak sekarang mungkin masa depan dia akan tenggelam dengan perasaannya sendiri. Putri temannya ini juga sangat tidak peka seperti almarhum temannya.


“Terserah paman saja. Jadi bagaimana mengurusnya. Kapan bisa untuk masuknya.” Melisa segera mengalihkan topik dengan cepat. Dia tidak bisa membiarkan paman ini terus bertanya.

__ADS_1


“Lusa tidak masalah. Aku akan mengurusnya dengan cepat.” Paman Ikhsan berkata dengan percaya diri. “Kamu harus berterima kasih karena paman menolong mu prosesnya bisa cepat.”


“Baiklah, aku akan mengunjungi paman dan bibi dalam waktu dekat.” Melisa tau bahwa paman Ikhsan ingin dia bertamu ke rumahnya. Jadi dia menjawab seperti itu. Dia juga tau bibi sering menanyakan tentangnya, karena dia telah dianggap sebagai anaknya sendiri.


“Bagus kalau begitu.” Terlihat sudut mulut paman Ikhsan sedikit naik keatas karena senyum, namun dipaksakan untuk tetap lurus.


“Baiklah aku akan kembali dan mengurus beberapa pekerjaanku.” Melisa membungkuk sedikit sebelum keluar.


Waktu berlalu dengan cepat. Akhirnya Hari ini adalah hari Nico untuk bisa ke kampus dengan normal. Melisa berharap Nico bisa mendapat teman baik karena itu.


Sekolah Internasional.


Ray telah keluar dari kelas. Kelas telah usai dan para siswa dan siswi berhamburan untuk keluar. Ray berjalan dengan Eshal yang tengah mencoba berjalan dengan arus.


“Tidak apa-apa, menyenangkan sekali.” Eshal merasa dia juga anak-anak yang pulang ke sekolah langsung karena di jeput. Dia sendiri tinggal di asrama, jadi perasaan berjalan dan menunggu orang tua sangat jarang baginya.


“Jangan menjawab seperti itu lagi, membuat pusing saja.” Ray telah mengatakan banyak hal dan jawaban Eshal selalu karena menyenangkan. Bahkan berteman dengan dirinya sendiri juga karena menyenangkan.


“Hey, jangan pusing. Bagaimana dengan ibumu?” Eshal bertanya karena penasaran.


“Dia masih sering untuk menelepon aku di malam hari.” Nico mengingat waktu berapa Melisa biasanya meneleponnya.


Eshal berpikir dan kemudian bertannya. “Berarti pria itu tidak memisahkan kalian dengan sengaja. Bukankah dia baik?”


“jangan terus memikirkannya.” Ray mengernyit tidak suka sebelum melihat mereka sampai di persimpangan, “kita telah sampai persimpangan asrama laki-laki dan perempuan. Jadi sampai jumpa besok?”

__ADS_1


“Ya, sampai jumpa juga.” Eshal melambai sambil berjalan menuju Asrama perempuan.


Ray juga menuju asramanya. Ray sekarang menjadi lebih ceria. Walau sifat pemalu itu sedikit hilang namun Ray bukan orang yang cocok untuk posisi pewaris keluarga Cardita. Melisa juga menyadari ini saat dia melakukan telepon atau video call. Ray mungkin berubah dan dia pintar. Namun memasuki badai dan mengurusnya membutuhkan lebih dari itu.


Selagi Melisa cemas karena ini. Dia juga mencemaskan Nico yang sepertinya menjadi lebih pendiam dan tertutup. Apalagi dia masih bekerja paruh waktu yang membuat Melisa pusing.


Dia telah mendapatkan laporan itu beberapa hari lalu. Dia melihat bahwa Nico sama sekali menghiraukan kartu pemberiannya. Dia sepertinya akan memojokkannya untuk membuat dirinya berhenti dari beberapa pekerjaan itu.


Nico pulang saat waktu makan malam. waktunya pulang hampir sama dengan waktu Melisa untuk pulang dari perusahaan. Jadi saat mereka telah menyelesaikan makan malam, Melisa bertanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Iya, saya baik-baik saja." Nico tersenyum enggan menjawab Melisa.


"Aku mendapat laporan bahwa kamu semakin tertutup dan tidak mau berinteraksi dengan orang." Melihat Nico yang sepertinya memaksakan senyumnya, Melisa menghela nafas. "Tidak masalah jika hanya itu, kamu telah seperti itu juga sebelumnya. Tapi mengapa kamu tetap bekerja di banyak tempat."


"Saya tidak mau untuk merepotkan anda." Nico sedikit menundukkan kepalanya. Takut untuk melihat melisa langsung.


Rasa rendah diri itu lagi. Melisa telah muak, ingin berteriak dan mengguncang Nico berkata bahwa tidak masalah jika tidak tau malu sesekali. Namun yang pasti Nico akan takut jika dia melakukannya.


Setelah tenang melisa berkata kepada Nico, "Kemudian tinggalkan satu atau dua pekerjaan yang bisa mengisi waktu luang kamu. Fokus saja belajar dan jangan memikirkan uang. Aku akan mengirim uang saku kamu di kartu yang saya berikan."


Melisa telah membuat konsensi untuk Nico. dia tidak bisa langsung menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaannya. Jika dia melakukan itu, pria ini pasti merasa dia tidak berguna lagi.


Mengerti maksud Melisa, Nico mengangguk ringan. Tanpa sepengetahuan dari dirinya sendiri. Dia telah membuka hatinya untuk Melisa sedikit demi sedikit.

__ADS_1


__ADS_2