Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 28


__ADS_3

Belakangan ini, Melisa telah mendengar bahwa proyek Investasi nya di keluarga Helingga mengalami masalah. Masalah terjadi terus menerus dan Melisa sendiri menggunakan uang pribadinya yang tidak akan berpengaruh pada perusahaannya.


Dia telah menggunakan ini untuk bertransaksi dengan mereka dan dia juga tidak akan mau jika mereka datang dan memohon untuk membantu. Karena dia telah memberikannya pada keluarga Helingga untuk mengurus dia tidak terlalu peduli.


Menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, Melisa berencana untuk pergi kepada Nico. Berjalan keluar dari perusahaan, dia mengendarai mobilnya menuju universitas Nico berada.


Memarkir mobilnya, Melisa pergi ke ruangan paman Ikhsan terlebih dahulu untuk menyapanya. Dia menebak bahwa paman akan marah dan banyak bicara jika dia tidak mengunjunginya saat datang ke Universitas.


Mendorong pintu dan memasuki ruangan, dia melihat pamannya sedang duduk bersantai dan bermain dengan bunga di mejanya. Memotong daun yang tidak berguna, dan merawat bunga itu dengan hati-hati.


"Paman." Melisa berjalan menuju kursi didepan meja paman Ikhsan dan duduk.


"Ah, kamu. Aku mengira kamu tidak akan mengunjungi ku dan lupa." Ikhsan berkata dengan nada menyalahkan. "Kita juga termasuk keluargamu, jika tidak ada yang penting kamu menjadi malas untuk menghubungi kami."


"Bukan seperti itu paman. Kamu sendiri tau bahwa pekerjaan aku banyak." Melisa berkata dengan perasaan bersalah.


"Aku tau." Ikhsan meletakkan bunganya.


Melisa menghela nafas lega, atau dia akan merasa telinganya kapalan karena ceramah paman Ikhsan. Dia sedikit tidak mau untuk mendengarkan omelan darinya. Dia tidak bisa melawan paman ini karena selain senioritas paman juga sangat pandai untuk berargumen yang membuatnya sedikit kewalahan jika berdebat.


Tentu saja saat dulu dia memutuskan untuk diam dan membiarkannya berbicara agar omelan itu cepat selesai.


"Jadi mengapa kamu datang ke sini?" Ikhsan bertanya dengan penasaran.


"Aku akan menemui Nico. Jadi aku mampir juga kesini." Melisa benar-benar ingin mengejutkan Nico.


"jadi seperti itu, Aku tau bahwa dia sering datang membawakan makan siang untukmu. Apa hubungan kalian menjadi lebih baik." Ikhsan menatap anak sahabatnya yang terkenal dingin.

__ADS_1


"Itu memang jauh lebih baik." Melisa berkata dengan jujur. Dia dan Nico memang menjadi lebih baik.


"Jadi apa kalian kekasih atau kau ingin pertunangan saja?" Ikhsan bertanya pada Melisa tentang tindak lanjut hubungan mereka saat ini.


"Tidak, tidak ada yang akan berubah sampai kita memutuskan akan menikah suatu saat nanti." Melisa berkata dengan tegas tentang itu.


"Mengapa, jika kamu bahkan tidak mengikatnya. Dia akan kabur dari kamu." Paman Ikhsan menatap Melisa dengan bingung.


"Yah, aku berharap seperti itu. jika dia tidak lagi ingin denganku atau pergi dengan gadis lain sebelum nya, aku tidak masalah." Melisa berpikir dan menambahkan, "Namun jika dia memang bertahan terhadapku, kita bisa melanjutkannya."


paman Ikhsan sendiri tidak lagi membalas perkataan Melisa. Dia tau, Hubungan mereka sendiri cukup sulit. Perbedaan usia yang jauh, perbedaan pendapat karena generasi yang berbeda, dan banyak lainnya.


Semua itu Bukan hanya tantangan Untuk Nico, Tapi juga untuk Melisa. Mungkin mereka akan belajar di saat ini untuk saling pengertian dari pada melakukan pertunjukan cinta yang berapi-api seperti pasangan muda.


"Hmph... Jika sudah pergi saja. Aku tidak ingin menganggu kalian." Dengan pengertian, Ikhsan membuka laci dan melempar kartu masuk perpustakaan pada Melisa.


Dengan itu, Melisa keluar begitu saja dan berjalan menuju perpustakaan. Melisa sendiri tau, bahwa Nico suka belajar di perpustakaan lantai dua. Jadi setelah masuk, Melisa naik menuju lantai dua.


Melihat sekelilingnya Melisa bisa melihat banyak siswa yang sedang meninjau akhir semester, Kepala mereka diam-diam terkubur diantara buku-buku mereka. Langkah Melisa sangat ringan agar tidak menggangu bacaan mereka.


Dia datang seolah-olah dia adalah bagian dari mereka yang datang juga untuk belajar. Dia melihat sekeliling untuk menemukan Nico diantara mereka dan segera menemukan sosok lurus Nico diantara siswa-siswa itu. Diam-diam dia menunjukkan senyum ceria saat menemukan Nico diantara mereka.


Akhir-akhir ini, Nico sering ke perpustakaan karena akhir semester hampir tiba. Selain sibuk untuk mengurus perusahaan game yang baru didirikan tanpa sepengetahuan semua orang, Dia juga berusaha untuk meninjau pengetahuan lagi.


Nico yang fokus untuk membaca saat ini merasakan seseorang mendekatinya, Langkah kaki di tempat yang sunyi ini seolah bergema ditelinga Nico dan mengingatkan nya pada saat pertama kali dia bertemu Melisa.


Mendongakkan kepalanya dan melihat orang yang akrab itu, Dia tersenyum. Nico melihat gerakan Melisa yang menyuruhnya diam dan terus membaca, Jadi dia hanya mengangguk dan terus membaca bukunya.

__ADS_1


Dia bisa merasakan Melisa duduk disampingnya dan menatapnya yang saat ini membaca. Merasakan tatapan itu, Nico mempercepat membaca dan segera membawa Melisa keluar dari perpustakaan.


Berjalan disekitar Universitas, dan menikmati angin yang berhembus di malam hari ini. Nico menatap Melisa dan berkata, "Maafkan aku karena membuat kamu menunggu. Apa kamu bosan saat itu?"


Melisa, "Tidak membosankan sama sekali."


Nico, "Baiklah jika seperti itu. Aku harap kamu merasa nyaman."


"Jangan berbicara seperti itu, Kamu juga akan menungguku untuk pulang bersama kan. Itu hanya sebentar saat aku menunggumu, jadi tidak apa-apa." Melisa tersenyum untuk menenangkan Nico.


Nico menundukkan kepalanya dan dengan ragu berkata, "Apa kamu merindukanku, karena kita jarang untuk bertemu saat kita berdua semakin sibuk."


Nico berkata dengan ragu karena sepertinya dia berkata tidak pada tempatnya. Walau tau Melisa tidak akan menjawabnya, Dia tetap ingin bertanya.


"Hmm.." Melisa bergumam untuk mengiyakan perkataan Nico.


"Ya." Nico mendongak dengan bingung karena jawaban Melisa.


"Iya, aku merindukanmu." Melisa menjawab dengan lugas kali ini. Dia berharap mereka bisa saling mengerti dan belajar satu sama lain. Agar jika hubungan ini bertahan, mereka bisa lebih memahami.


Berjalan menuju ke kantin universitas mereka berjalan di sekitar taman yang indah. Karena pamannya menyukai tanaman, taman ini juga penuh vitalitas. Angin malam menggoyangkan daun dan membuat suara gemerisik.


Melihat semua ini, Melisa menarik nafas dalam-dalam dengan nostalgia dan berkata, "Aku dulu juga sering kesini dengan teman-teman sekelas ku sebelumnya ketika aku masih di universitas. Tapi sepertinya banyak perubahan yang tidak bisa aku kenali lagi." Melisa berjalan perlahan seolah menghabiskan waktu dan tiba-tiba berkata dengan nada melankolis yang samar, "Sudah lama sekali saat itu, Aku sudah sangat tua."


Nico meliriknya dan dengan cepat berkata, "Kamu tidak tua sama sekali."


Melisa yang mendengarnya tersenyum dan tidak menanggapi, Jadi mereka berjalan dengan diam menuju kantin untuk makan malam.

__ADS_1


Namun suasana diantara mereka sangat halus dan tidak ada kecanggungan sama sekali.


__ADS_2