Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 12


__ADS_3

Ray telah sampai di bazar dan berkeliling dengan Eshal. Tempat itu telah ramai dengan anak muda, dan orang tua yang mengajak anak mereka. Karena sekolah SHS adalah sekolah kejuruan dan minat, jadi sekolah ini lebih mementingkan prestasi non akademik. Mereka akan membuka Bazar dan Menjadikannya lomba antar kelas. Jadi ini juga merupakan Event yang ada setiap tahun.


Bau makanan melayang Di setiap sudut. jajanan dan makanan yang dijual sangat beragam. Ada juga banyak kerajinan dan sebagainya. Jadi itu masih menyenangkan untuk hanya berkeliling. Dengan barang-barang dan makanan ditangannya yang dibeli oleh Eshal, Ray menemukan orang yang tidak terduga di sana.


Ray melihat siswa berwajah garang yang memukulnya di sekolah dulu. Siswa itu juga membawa teman-temannya yang juga bermain di sini. Saat ini siswa itu juga melihat Ray dan menghampirinya.


"Wah, siapa ini?" siswa itu berkata sambil memandang Ray dengan merendahkan.


"benar bukankah ini si pendiam Ray." Teman siswa itu menyahuti dengan nada seperti melihat lelucon.


Saat Ray akan berbicara tiba-tiba Eshal maju dan mengangkat kepalanya dengan sombong, sambil berkata, "siapa kalian? apakah kalian berani berbicara seperti itu kepada temanku."


"Kenapa gadis ini? Apa kau melindunginya?" Siswa berwajah garang itu menunjuk Ray dengan mengejek.


"Bisakah kamu tenang, bukankah masalah yang lalu itu kesalahpahaman." Ray dengan lembut menyela mereka.


"apa yang kau katakan? kau sudah merebut orang yang aku suka. aku juga sudah mengejarnya sejak lama. bagaimana aku bisa tidak marah?" Siswa berwajah garang itu berkata dengan emosi yang meluap-luap.


"hmph, itu karena kau jelek dan jahat makanya dia tidak menyukaimu. mengapa kau menyalahkan Ray." Eshal mengangkat lehernya untuk membalas perkataan siswa berwajah garang itu. Gerakan itu terlihat anggun dan halus, mengungkapkan kelembutan. Namun perkataan yang keluar dari bibir imut itu adalah ejekan yang lengkap.

__ADS_1


Siswa berwajah garang itu semakin marah. wajahnya merah karena kemarahan, "kau... apa yang kau katakan? dasar kau" dengan itu siswa berwajah garang mengangkat tangannya untuk memukul Eshal.


Eshal memejamkan matanya dengan takut dan Ray mencoba menarik Eshal ke belakangnya. Namun sebuah suara menghentikan siswa itu untuk Meneruskan tangannya. "Apa yang kau lakukan? Aku akan memanggil guru disiplin jika kau tetap melakukannya."


Seorang siswi dengan pakaian olahraga menghampiri mereka, dia memiliki rambut halus yang di kuncir tinggi. Wajah tegas dan sikap tanpa cela saat berjalan, dengan tangan di pinggang dia memiliki momentum lebih menakutkan daripada siswa berwajah garang itu.


Siswa itu segera memilih mundur saat melihat gadis itu. Dia tidak takut pada gadis yang datang entah darimana itu. Namun dia takut pada guru disiplin yang ada di mulutnya. Guru disiplin Sekolah SHS terkenal sangat kejam dalam hukuman. Jadi dia memutuskan mundur sambil menatap mereka bertiga dengan tatapan kesal.


Setelah gadis itu datang Eshal mengenalkannya pada Ray dengan semangat, seolah insiden tadi tidak pernah terjadi, "Ray ini teman yang aku ceritakan padamu, dia Della. dia seorang atlet taekwondo. dan Della ini Ray teman baruku."


"halo" Della mengulurkan tangannya dengan semangat.


"halo juga." Ray menjabat tangan Della dengan canggung.


"kami membuat makanan, kamu harus datang dan mencobanya. aku telah menunggumu dan mencarimu karena kamu terlalu lama." Della telah lama menunggu Eshal untuk datang semenjak dia menelpon bahwa dia telah sampai. namun karena tau temannya akan berkeliling dia mencoba sabar untuk menunggunya. sampai dia memutuskan mencari karena merasa dia menunggu terlalu lama.


"wow, ayo Ray kita akan istirahat dan membantu Della sebelum pulang." Eshal melompat dengan ceria.


Ray mengikuti Eshal dengan Della juga. Eshal yang berjalan didepan terus menengok kebelakang untuk mengecek kedua orang yang menurutnya terlalu lambat itu.

__ADS_1


Jadi mereka bersantai di tempat Della dan membantu sebentar sebelum memutuskan pulang karena menjelang sore.


Nico terus bersama anak-anak sampai malam, dan dia juga makan malam bersama anak-anak. Melihat langit yang suram dan bulan yang tertutup awan. Nico melihat perkiraan cuaca, Hujan akan turun di daerahnya. Walau perkiraan cuaca kadang tidak akurat dia juga harus mempertimbangkan jika sewaktu-waktu hujan turun. Jadi Ray memutuskan untuk pamit dan segera pulang.


Menunggu di halte yang sepi dia harus menunggu lama karena bus jarang lewat daerah ini saat malam. Untung saja setelah beberapa saat menunggu, bus akhirnya telah tiba. Karena Nico sendiri disana, dia naik dan melihat bahwa bus juga memiliki beberapa orang didalamnya. Niko kemudian duduk di tempat kosong di samping jendela.


Menghela nafas Nico berpikir bahwa bus hari ini datang cepat, Dia tidak perlu khawatir jika hujan dan terjebak di halte. Namun saat Niko senang saat ini, sebuah kilatan cahaya dari petir membangunkannya dari pikiran. Saat suara guntur mengikuti, hujan juga turun dengan deras. Nico merasa dia tidak boleh terlalu bahagia saat ini. Saat dia merasa bahagia karena tidak hujan, saat berikutnya hujan turun dengan deras. Menghela nafas Nico bersandar pada kursi bus.


Ray yang telah pulang dari sore tadi dan saat ini tengah duduk untuk melihat hujan diluar. Bibi Ifa menyiapkan sup jahe dan meletakkan didepan Ray untuk diminumnya. Melihat hujan deras diluar bibi Ifa juga duduk dan berbicara dengan Ray.


Ray juga senang dengan itu, dia bercerita tentang bazar dan seberapa ramainya itu. dia tidak menceritakan tentang siswa berwajah garang itu karena dia tidak mau bibi Ifa khawatir. Dia membuat topik tentang seberapa enak dan banyaknya makanan disana. bibi Ifa juga tersenyum sambil menanggapi Ray.


Saat dia terus berbicara, Melisa telah pulang saat ini. Melihat Ray yang dengan ceria bisa berbicara dengan bibi Ifa, Melisa senang karenanya. Jika itu adalah Pemilik tubuh asli, dia tidak akan mendekat saat ini, dia takut Ray akan menjadi canggung dan tidak nyaman. Jadi dia akan pergi diam-diam ke kamarnya.


Dia hanya tidak tau, mata Ray selalu mengikutinya setelah dia masuk kedalam rumah, dan akan kecewa saat dia pergi tanpa menyapa. Melisa sendiri menatap Ray dan tau bahwa pria kecil itu meliriknya diam-diam. Sepertinya memang benar pemilik aslinya sangat tidak peka. bagaimana dia bisa melewatkan pandangan Ray yang berbinar dan ingin dia bergabung itu. Melisa sendiri bahkan tidak mengakui Bahwa dia juga tidak peka, padahal tubuh asli hampir seperti dirinya yang lain.


Saat Melisa akan menghampiri mereka, barulah dia sadar ada seseorang yang kurang saat ini. dengan lirikan pada tangga dia bertanya pada bibi Ifa, "bibi apa Nico sudah pulang tadi?"


"Sepertinya tuan Nico belum pulang. Saya belum melihatnya sedari tadi." Bibi Ifa berkata dengan sopan.

__ADS_1


Melisa yang mendengar bahwa Nico belum pulang panik saat ini. pasalnya hujan sangat lebat, dia khawatir jika Nico terjebak ditengah jalan atau sesuatu.


"Ray ibu akan mencari Nico dulu. Ray bisa bersantai dengan bibi Ifa dan tidak perlu menunggu ibu." Dengan perkataan itu Melisa bergegas keluar untuk mencari Nico. Di belakang mata Ray yang berbinar meredup. dengan kesal dia telah mengerucutkan bibirnya.


__ADS_2