Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 32


__ADS_3

Melisa membuka matanya dan telah sampai dalam ruangan yang serba putih. Melihat sekeliling, ruangan itu sangat polos dan tanpa ujung. membuatnya merasa bahwa dia akan tersesat dan tidak bisa kembali saat pergi dari tempatnya berdiri.


Saat ini, sebuah suara yang telah lama hilang terdengar, "Halo Host, Kita bertemu kembali."


Melisa yang mendengarkan suara sistem yang tidak berguna itu mengernyitkan dahinya. Melihat sekeliling untuk mencari tubuh virtual sistem, Melisa bingung karena tidak menemukannya.


"Host, aku tidak ada dimana pun. tapi aku juga dimana pun." Sistem itu menjawab setelah merasakan kebingungan Melisa.


"Apa maksudmu?" Mengernyit kesal.


Dengan suara yang ceria sistem berkata pada Melisa, "Host, Aku adalah ruangan putih itu sendiri dan tidak memiliki tubuh fisik yang spesifik di sini. Jadi secara otomatis aku ada di sekelilingmu tapi kamu tidak bisa melihat itu."


"Jadi, bagaimana aku ada di sini?" Melisa merasa berbicara dengan sistem ini sangat menjengkelkan dan ingin segera pergi ke manapun yang tidak ada dia.


"Karena tugas anda selesai dan anda mati. Kamu bisa kembali ke duniamu lagi Host." Sistem berbicara seakan kematian itu adalah biasa.


Perkataan itu mengingatkan Melisa bahwa dia telah mati, rasa sakit yang menimpanya masih melekat dalam pikirannya. Dengan itu, mungkin Melisa bisa dibilang pernah mati sekali.


"Host, Jangan terlalu sedih. Anda akan bisa kembali ke tempat asli anda. Kalau begitu, selamat tinggal Host." Suara itu membuat Melisa membayangkan seorang gadis sedang melambaikan tangannya dengan sedih untuk perpisahan. Itu sangat menyentuh dan membuat melisa merasa sistem tidak seburuk itu.


"Jadi bagaimana aku harus pergi." Melisa membayangkan sesuatu seperti pintu atau dia langsung bangun, atau terowongan saat dia keluar.


Sistem yang mendengarnya bingung, "Host, tidak perlu pergi kemanapun. berdiri saja di situ."

__ADS_1


Mengangguk, Melisa menunggu hanya untuk melihat lubang yang dalam dan gelap tiba-tiba muncul di bawah kakinya. Dengan kepala yang penuh tanda tanya, Melisa jatuh dengan bebas ke bawah. Dia merasa bahwa sistem tetap buruk dan mengumpat dengan kesal sambil jatuh.


Kejutan perasaan jatuh bebas, Melisa kemudian terbangun dengan perasaan jantung yang melayang. Namun saat melihat langit-langit dan ruangan yang familiar dia merasa lega dan senang. Walau dia merasa bahwa sesuatu dihatinya merasa tidak nyaman, dia tetap tersenyum.


Melihat tanggal yang ada di ponselnya, dia mendapati bahwa tanggal itu tepat keesokan harinya setelah dia tertidur. Seakan-akan semua yang dialaminya itu adalah sebuah mimpi dalam tidurnya yang singkat. Mengingat lagi, dia telah mengatur semuanya untuk Nico dan Ray , sehingga dia tidak terlalu khawatir tentang mereka. Dia juga berharap mereka bisa hidup normal tanpanya.


Menatap telponnya dengan linglung, Melisa mengingat sesuatu yang sangat ingin dia lakukan saat kembali ke dunia aslinya. Mencari nomor itu, dia menekan tombol telepon dengan gugup.


Setelah beberapa saat berdering, telepon diangkat dari sisi berlawanan.


"Halo?" Suara yang telah lama tidak didengarnya akhirnya datang dari ponselnya. Suara itu terlihat serak dan lelah, namun sedikit antisipasi juga tercampur dalam nadanya.


"Halo, Ayah." Akhirnya sebuah kata keluar dari bibirnya. Sebuah kata yang telah lama tidak diucapkannya.


"Ya Melisa, Ada apa? Apa sesuatu terjadi padamu? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Atau uang sekolah masih kurang?" Suara disebrang bertanya dengan cepat yang membuat Melisa sedikit terpana.


Namun dalam dunia itu dia juga sadar, mungkin ayahnya juga ingin banyak berbicara dengannya. ingin dekat dengan putrinya dan mendengarnya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini. Meskipun istirahat itu mungkin terganggu, namun sebuah cerita tidak akan lama, dan semua kelelahan akan tersapu karena dia bisa tau bahwa putrinya hidup dengan baik.


"Tidak, semua baik-baik saja. Aku hanya ingin menelpon Ayah saja." Melisa berbicara dengan sedikit senyuman di bibirnya. Karena dia sangat ingin menelpon ayahnya saat di dunia itu juga.


"Ah... Baiklah. Apa ada sesuatu yang membuat Melisa cemas?" Ayahnya berbicara dengan kekhawatiran yang terlihat dari suaranya.


"Tidak, hanya saja aku mengalami mimpi buruk dan ingin berbicara dengan ayah." Melisa mendengar kekhawatiran ayahnya dan membalas dengan tenang.

__ADS_1


"Jika seperti itu, mungkin itu sangat buruk sehingga melisa kita yang kuat takut." Suara tawa yang samar terdengar dan menunjukkan bahwa Ayahnya tertawa saat ini.


"Iya, itu mungkin buruk tapi juga tidak. Tapi tetap saja, itu membuatku merasa bahwa aku harus menelpon ayah."


"Baiklah, Apa tulisan melisa telah selesai? Ayah dengar kamu akan menyerahkannya hari ini." Ayahnya berbicara dengan lembut dan suara rendah.


"Iya, Apa ayah mendengar itu dari kak Lia?" Sedikit kesedihan muncul dalam matanya. perkataan ayahnya itu membuatnya menyadari betapa dia sangat jauh dari ayahnya. Bahkan ayahnya harus tau apa yang dilakukannya dari orang lain.


Ayahnya yang selalu tenang dan kuat mungkin juga memiliki keinginan yang sama dengan Melisa di dunia itu. Berharap mereka dekat kembali, Namun takut akan menganggu anaknya. Mereka ingin mengambil inisiatif untuk mendekat, tapi juga ingin anaknya yang mengambil inisiatif. Selalu berharap mereka kembali menjadi keluarga yang seperti dulu.


"Iya, dia berbicara banyak tentangmu." Ayahnya terlihat senang di sebrang telepon.


"Benar, kamu harus cepat untuk bangun dan mandi sebelum terlambat. Ayah menjadi banyak bicara kali ini."


Melisa tersenyum dan berkata menenangkan, "Tidak apa. Melisa juga ingin mendengar suara ayah."


Berbicara dengan senang, "oke, cepat untuk mandi. Ayah akan mematikan telponnya."


"Iya." dengan bunyi telepon dimatikan. Melisa meletakkan ponselnya dengan tenang. Dia merasa ringan dan senang saat ini seolah semua beban telah hilang.


Namun itu tidak bertahan lama karena saat tidak sengaja melihat jam, dia melihat bahwa waktu menipis dan dia akan terlambat jika tidak segera mandi dan bergegas.


Jadi, dengan tergesa-gesa dia mandi dan pergi dengan cepat untuk menunggu bus yang akan lewat di jam ini. Menunggu dengan kelelahan dan sedikit kegelisahan, Melisa akhirnya sedikit tenang setelah masuk dalam bus dan duduk. Setelah tenang, dia melihat bus yang berjalan dan pemandangan yang berganti dengan cepat.

__ADS_1


Melalui jendela dia melihat dunia yang berbeda dari yang dialaminya. membuatnya sadar bahwa dia telah kembali ke dunianya. Walaupun di dunia manapun dia memiliki seseorang yang penting, tapi dunia ini adalah dunia aslinya yang bisa membuatnya tenang.


Bersandar pada kursi, Melisa sedikit enggan. Tapi jika harus memilih, dunia ini memang yang tetap akan dia pilih. Karena semua kenangan ada di dunia ini, Ayah dan kakaknya juga disini. Sesulit apapun, dia hanya bisa berharap dia akan hidup damai di sini.


__ADS_2