
Setelah selesai dengan pengambilan raport, Nico keluar untuk mencari Ray. Namun dia tidak bisa melihat Ray di manapun. Namun pria yang berbicara dengannya tadi telah menunggunya untuk keluar.
"Apa kamu mencari Ray?" Pria itu tersenyum dan berjalan ke samping Nico.
"Ah iya, apa anda melihatnya?" Nico bertanya pada pria itu.
"Ayo pergi, Ray sepertinya akan bersama dengan putriku." Pria itu tersenyum dan berjalan dulu untuk memberi isyarat agar Nico mengikutinya.
Nico juga mengingat teman perempuan Ray dan mengikuti pria itu, "Apa anda Ayah Eshal?"
Pria itu tersenyum dan menjawab, "Iya, Saya bahkan tidak tau bahwa Eshal suatu saat akan mau berteman dengan teman laki-laki. Dia selalu berkata teman laki-laki itu menyebalkan."
Nico tersenyum mendengarkan cerita itu dan menjawab jika di tanya. mereka terus berbincang sampai mereka tiba di kanton sekolah.
Mereka bisa melihat bahwa Ray dan Eshal sedang berbicara juga sambil makan makanan ringan. Beberapa bungkus makanan ringan juga telah tersebar di meja mereka.
Setelah menemukan nya, mereka berpisah dan pergi ke arah mereka masing-masing. Nico juga dengan sopan melihat pria itu pergi sebelum masuk ke mobil dan pulang ke rumah Melisa.
Saat mereka sampai, Ray juga menuntun Nico untuk masuk ke dalam. Secara kebetulan Melisa juga ada di rumah kali ini. Melihat satu sama lain, Melisa dan Nico tertegun lama sebelum menjadi biasa lagi.
Dengan lembut Nico berbicara, "Melisa, kamu di rumah."
"Iya." Melisa merasa sedikit canggung saat ini. Pertama kali dalam hidupnya saat ini atau sebelumnya dia disukai oleh seseorang. Belakangan ini dia juga mulai mengerti perasaannya sendiri. Jadi melihat orang yang dipikirkannya berulang kali belakangan ini membuatnya bingung.
Nico hanya tersenyum dan tidak menanyakan masalah waktu itu. Nico kemudian naik bersama Ray untuk ke kamar Ray sambil menunggu makan siang.
Melisa yang melihat punggungnya juga menghela nafas dan kembali ke ruang kerjanya. Dia memang berniat untuk keluar dan minum air tadi, jadi dia tidak menyangka dan tertegun saat melihat Nico.
Beberapa saat kemudian,bibi Ifa juga selesai memasak dan memanggil Nico dan Ray untuk turun. Saat melisa keluar dari ruang kerja dia melihat Ray dan Nico sudah ada di meja makan.
__ADS_1
Mereka makan dengan sunyi. sesekali, Nico akan meletakkan makanan pada piring Melisa dan saat Melisa menoleh untuk melihatnya dia akan tersenyum.
Malamnya, Melisa yang tidak bisa menahan kegelisahan dihatinya menghampiri Nico yang ada di ruang musik.
Saat di depan pintu dia bisa mendengarkan lagu yang dimainkan oleh Nico samar-samar. Menunggu lagu selesai, Melisa masuk ke ruang musik menuju Nico.
Tersenyum cerah, Nico juga menatap Melisa. "Kamu di sini."
"Iya." Melisa menjawab dengan singkat.
Nico menatap melisa dan berkata, "Melisa, mungkin kita akan cocok."
Nico tau bahwa dia telah egois untuk bersama Melisa. Nico merasa tidak ada yang memandangnya dengan cinta dan kelembutan kecuali Melisa, seolah-olah dia pantas mendapat semua kebahagiaan. Melisa juga baik dan lembut. Dia telah mendambakan perawatan seperti ini dan juga keluarga miliknya sendiri, itu yang membuatnya enggan berpisah dengan Melisa.
Nico tau, kedudukan sosial mereka berbeda, seperti langit dan bumi. Tapi Nico telah berusaha belakangan ini. Dia telah membuka perusahaan game dengan beberapa teman yang berpikiran sama dan baik. Jadi dia akan disibukkan dengan itu. Dia tidak tau kapan bisa istirahat, tapi yang pasti dia akan meluangkan waktunya untuk melisa.
Melisa yang telah mengetahui perasaannya kepada Nico berkata, "Kamu mungkin hanya merasa nyaman denganku karena aku baik kepadamu."
Melisa yang melihat tampilan Nico itu langsung berkata, "Bagaimana jika semua kemalangan itu karena aku? Apa kamu akan tetap menyukaiku?"
Nico tertegun sejenak, tersenyum dan berkata, "Apa kamu yang menyuruh orang untuk menculik dan menukar bayi saat itu?"
Mendengar itu, dengan tegas Melisa menjawab, "Tidak, itu bukan aku."
Dengan jawaban itu, senyum Nico semakin lembut dan terus bertanya. "Lalu apa kamu yang memerintahkan keluarga Helingga untuk membenciku?"
"Tidak."
"Jadi mengapa aku harus membencimu, kamulah yang menolongku dan menarik ku dari jurang kegelapan itu." Nico menatap melisa dengan menenangkan.
__ADS_1
"Bagaimana jika semua itu adalah tulisan tanganku?" Melisa berkata dengan frustasi. Dia tau bahwa tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa ini semua adalah Novel, dan Nico adalah karakter di dalamnya. Tapi dia mengucapkannya secara samar.
Mendengar itu Nico menyipitkan matanya dan tersenyum lebih lebar, "Bagaimana jika seperti itu, Anggap saja aku memiliki cinta yang tidak berdasar. Aku tidak memiliki garis bawah dan Bahkan mencintai musuh terbesarku."
"Tapi itu tidak menutupi semua kebaikan dan ketulusan kamu, Mungkin juga aku harus bersyukur. Karena dengan itu semua, aku bisa memiliki kamu Melisa, diantara banyak orang yang membenciku."
Melihat langit malam di luar jendela, Nico yang diam sejenak menambahkan. "Apa kamu akan menerima perasaanku jika seperti ini. Semua kekhawatiran kamu telah terselesaikan bukan?"
Menatap mata tulus Nico, Melisa sedikit terguncang. Namun dia tetap menjawab, "Tidak, aku tidak bisa menerima perasaan itu. Maafkan aku."
Melisa merasa bahwa suatu saat, sistem akan membawanya kembali ke dunia aslinya. jadi, dia tidak mungkin untuk tinggal lama di sini. Selain itu tubuhnya juga dua puluh tahun lebih tua dari Nico, tidak mungkin mereka bersama.
Pandangan orang tentang itu juga buruk, jadi Melisa tidak ingin menghancurkan Nico.
"Mengapa? Apa karena perbedaan umur kita? Saya tidak masalah." Nico berkata jujur, Karena dia telah melewati semua pandangan itu beberapa bulan lalu.
"Kamu mungkin seperti itu, tapi masyarakat lebih kejam dari perkiraan kamu." Melisa menatap Nico tegas dan khawatir, "Gosip di universitas tidak akan seberapa dengan itu. Aku takut kamu tidak akan bisa menahannya."
Nico yang melihat kekhawatiran Melisa berkata, "Apa yang tidak bisa. Aku telah melalui semua kekejaman, cemoohan, dan kebencian dari orang lain. Aku selalu hidup di atas seutas benang yang akan terputus kapanpun."
"Apa menurutmu mentalitas ku tidak cukup kuat untuk melewati semua itu. Aku sendiri saat itu. Tapi jika kamu setuju, kita akan melewati bersama."
Melihat Melisa yang tetap bungkam Nico melanjutkan, "Tidak apa-apa jika kamu tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi aku mohon jangan mendorongku, jangan mengabaikan aku juga."
"Jangan juga untuk menyuruhku untuk menghilangkan perasaan ku padamu. Sekalipun kamu tidak akan pernah menerimaku, aku akan tetap menunggu dan hidup di sampingmu."
"Aku akan mengejar mu, agar aku bisa di sampingmu. Sampai kamu tidak lagi memikirkan semua kekhawatiran juga."
Dengan itu, Nico mendekati melisa yang berdiri dengan kosong. Dia meletakkan tangannya pada dahi Melisa dan mencium punggung tangannya sendiri.
__ADS_1
Itu sangat singkat dan lembut, Melisa tertegun dan membeku karenanya. Disisi lain Nico tersenyum dan pergi untuk kembali ke asrama, meninggalkan Melisa yang terkejut di ruangan itu sendirian.