Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 9


__ADS_3

Melisa mencondongkan tubuhnya ke arah Nico dan mengulurkan tangannya.


Nico yang tau gerakan Melisa segera menurunkan gelas yang ada di bibirnya dan memejamkan matanya. dia semakin dan semakin gugup saat ini.


Segera Nico merasakan seseorang tengah mengelus kepalanya. Dia membuka matanya dengan bingung. dia merasa wajahnya panas saat ini. dia malu dengan apa yang dipikirkan oleh dirinya sendiri dan ingin menemukan celah untuk bersembunyi.


Saat melisa melihat ujung telinga Nico yang memerah, tawa yang manis segera keluar dari bibirnya, " pffftt... ha ha ha. mengapa kamu begitu malu dan gugup"


Nico hanya menggelengkan kepalanya dengan kuat. Untung saja pintu terbuka dan bibi ifa pulang. ini menyelamatkan Nico untuk terus merasa malu.


Bibi ifa yang pulang melihat ada orang tambahan di rumah, langsung tahu bahwa ini adalah pemuda yang dibicarakan nyonya nya kemarin.


"apakah anda ingin minum sesuatu, saya akan mengambilkannya untuk anda." Bibi ifa berkata kepada Nico.


"tidak perlu, saya sudah minum. nyonya Melisa baru saja mengambilkan saya minuman." Nico berkata dengan sopan. saat ini di matanya terlintas ketidak nyamanan. Dia sangat aneh dan tidak terbiasa dengan kelembutan yang di tujukan padanya. karena bahkan pelayan keluarga Helingga sangat tidak menyukainya.


"Bibi Ifa akan mengantar kamu ke kamar." Melisa berkata kepada Nico sebelum melihat pada bibi Ifa,"bibi kamu bisa mengantarnya, aku akan pergi ke ruang belajar."


Dengan itu melisa pergi meninggalkan mereka berdua. Melisa pergi ke ruang belajarnya untuk bekerja lagi. ini memang tidak ada habisnya, Melisa yang asli terlalu perfeksionis dan selalu mengerjakan semuanya sendiri. sedangkan Melisa yang sekarang juga hampir sama. Jadi keadaan gila kerja ini tidak berubah.


Bibi Ifa menoleh pada Nico dan berkata, "Tuan mari ikut saya, saya akan mengantar anda ke kamar."


dengan itu bibi Ifa berjalan dan memberitahukan beberapa ruangan dan terus naik ke lantai dua. Sampai dia berhenti disebuah kamar, "ini akan menjadi kamar anda mulai sekarang, ini tidak jauh dari kamar nyonya dan tuan muda. jadi saya berharap anda juga akur dengan tuan muda."


"iya, terima kasih." Nico mengangguk dengan sopan.


Bibi Ifa tersenyum dan pergi. Dengan kesopanan Nico juga menunggu bibi ifa pergi sedikit jauh sebelum masuk ke dalam kamar. Kamar itu bahkan lebih besar dari kamarnya yang ada di keluarga Helingga. dengan dekorasi dan warna yang hangat. Sama seperti tempat lain itu juga sangat sederhana dan ringan.

__ADS_1


Nico yang ingin menata pakaiannya membawa kopernya masuk ke walk-in closet. Saat ingin menata pakaiannya dia membeku sejenak. Di dalamnya sudah terdapat beberapa pakaian. Nico sendiri malu untuk meletakkan pakaiannya yang murah untuk disandingkan dengan pakaian yang tampaknya mahal itu. jadi Nico hanya meletakkan pakaiannya di sudut dan pergi keluar menuju meja belajar, dia akan belajar untuk menghabiskan waktu.


Matahari segera condong ke barat dan Nico yang telah lama duduk untuk belajar juga merasa pegal. dia memijat ringan lehernya dan memutuskan untuk keluar dan minum. Dia akan istirahat sejenak.


Ray baru saja sampai di rumah. Karena dia tinggal di asrama dia hanya bisa pulang saat akhir pekan saja. Setelah mobil berhenti Ray segera masuk ke rumah. Dia akan menceritakan tentang Eshal juga pada bibi Ifa. selama dia di sekolah Eshal adalah teman yang baik untuknya. Dia tidak lagi penakut seperti dulu.


Eshal sendiri adalah anak yang ceria dan aktif jadi itu juga mempengaruhi Ray untuk menjadi lebih ceria juga. Ray berpikir dia juga bisa melihat lagi apa ibunya masih marah padanya atau tidak.


saat Ray ke dapur dia mendapati pria aneh ada di rumahnya saat ini. bahkan pria itu terlihat masih muda. Ray yang yang marah langsung meninggikan suaranya. " Siapa kamu? mengapa kamu dirumah saya?"


Nico yang mendengar teguran itu menoleh ke belakang. dia melihat seorang anak yang terlihat berusia tiga belas atau empat belas tahun. alis anak itu mengernyit dan kemarahan terlihat dari matanya. ketidaksukaan itu sangat lugas dalam nadanya.


Nico sendiri bingung dengan status dirinya di sini sehingga tidak tau harus berkata apa.


"Apa, mengapa anda tidak menjawabnya?" Matanya kini berkaca-kaca. Ray merasa bahwa dugaannya benar. pria di depannya ini pastilah calon ayah tirinya. apa ibunya membawa pria aneh ini untuk dikenalkan padanya? atau bahkan dia langsung tinggal di sini tanpa memberitahu dia.


"ibu, apa ibu tidak memberitahu saya terlebih dahulu saat akan membawa orang ke rumah." Nico yang masih takut mengungkapkan keluhannya berbicara dengan nada yang rendah.


"ah..." Melisa segera tau bahwa dia telah melupakannya. bagaimana bisa dia tidak lupa. dia sendiri adalah seorang yang tidak pernah menyentuh pria apa lagi memiliki anak. Melisa yang dulu sangat menyayangi Ray, itu juga mempengaruhinya sehingga dia sangat alami untuk perhatiannya pada Ray.


Tentu saja tidak menutup kemungkinan bahwa dia telah berubah orang beberapa hari lalu. Melisa menghela nafas dan berbicara selembut mungkin kepada Ray, "ayo bicara di ruang belajar."


"iya." Ray menunduk dan mengikuti Melisa menuju ruang belajar.


dalam ruang belajar Ray menundukkan kepalanya sedikit, mengerutkan kening dan berpikir. Apakah ibunya marah padanya karena pria itu.


Melisa berbalik sedikit, melihat anak itu menundukkan kepalanya dan berbicara dengan suara selembut mungkin. "maafkan ibu karena lupa untuk memberi tahu Ray."

__ADS_1


Ray mendongak dan bertemu dengan mata hangat Melisa, dengan berani dia berkata, "bukankah ibu bisa memberitahuku saat ibu menelpon di malam hari?"


"ibu baru saja mendapat surat adopsi kemarin. saat ibu ingin memberitahumu, kamu sedang bersama dengan teman gadismu, bagaimana ibu bisa berbicara hal pribadi." Melisa berkata dengan perasaan bersalah. dia sebenarnya ingin memberitahu Ray nanti malam. Siapa tahu Ray tiba-tiba pulang setelah sekolah usai dan bukannya besok.


suara Ray sedikit tersendat saat dia akan menjawab Melisa. Dia belum berbicara tentang sahabatnya Eshal. Jadi dia tidak bisa marah pada Melisa karena curiga dan tidak mempercayai Eshal. jadi Ray membalikkan pertanyaannya, "lalu siapa dia?"


Melisa menghela nafas lega karena Ray tidak terlalu marah lagi, dia kemudian membalas perkataan Ray dengan jujur. "sementara dia akan menjadi kakak kamu"


"itu, apa setelah 'sementara' itu dia bukan lagi kakak tapi ayah saya?" Ray menundukkan kepalanya dan menggertak kan giginya.


"tidak Ray, itu sementara karena mungkin suatu saat Nico mungkin keluar dari keluarga kita." Melisa menjelaskan dengan lembut. mengingat di novel ditulis dia akan mengembangkan perusahaan kecil sendiri. pastinya Nico akan keluar dari rumah ini.


"Benarkah?" Ray menatap ibunya dengan mata curiga. Dalam hati dia berpikir bahwa dia akhirnya tau nama pria aneh itu.


"iya, sayangku" Melisa tersenyum. dia merasa ingin mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Ray yang imut.


"Hmph... untuk sekarang aku akan percaya pada ibu." dengan perkataan itu Ray pergi meninggalkan ruang belajar.


Nico bingung dan merasa bersalah. dia memutuskan untuk menunggu mereka keluar. saat menunggu Nico merasa bahwa waktu berjalan lambat. Bahkan angin pun sepertinya bertiup dengan ringan dan sunyi. dia tidak tau harus meletakkan tangannya dimana.


Dia telah duduk dan bangun berulang kali dari kursi di meja makan untuk menunggu salah satu dari dua orang itu keluar. Kemudian suara pintu terbuka dan Nico sedikit berdiri menghadap orang yang baru saja keluar.


Ray yang melihat Nico masih di sana menatap tajam dan sedikit marah, berjalan dengan kesal Ray menaiki tangga menuju kamarnya.


Melisa yang keluar dibelakang Ray hanya menggelengkan kepalanya menatap putranya itu sebelum menoleh kearah Nico. Menatap pemuda itu Melisa tersenyum, "kamu sebaiknya juga kembali ke kamarmu, makan malam masih lama."


"iya" dengan jawaban itu Nico juga mengikuti jejak Ray dan kembali ke kamarnya sendiri. Sedangkan Melisa kembali ke ruang belajar dan terus tenggelam dalam pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2