Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 14


__ADS_3

Sinar matahari pertama menembus celah tirai, membangunkan Nico dari tidur nyenyak nya. Menyipitkan mata, Nico perlahan duduk dari tempat tidur. Dia merasa kepalanya sedikit pusing dan tenggorokannya kering saat ini.


Mendongak kan kepalanya, hal pertama yang dilihatnya setelah bangun adalah Melisa yang tengah tidur di sofa. Jadi sesaat kemudian, dia mengingat tentang demamnya tadi malam. Dia juga mengingat sifat kekanakan yang tidak sengaja dia lakukan. Dengan perasaan malu, Dia membenamkan kepalanya pada kakinya.


Melisa yang mendengar sedikit gerakan pada tempat tidur juga terbangun. Duduk, Melisa mengumpulkan kesadaran sebentar sebelum menengok Nico yang telah membenamkan kepalanya. Melisa yang khawatir bergegas ke samping Nico, "Apa kamu baik-baik saja? Demamnya tidak kambuh lagi kan?"


Nico Mendongakkan kepalanya dan menatap Melisa yang khawatir padanya. "Tidak, saya hanya sedikit pusing dan tenggorokan saya kering." Nico menjawab dengan jujur perkataan Melisa.


"Baiklah, aku akan pergi dahulu. Bibi Ifa akan membawakan kamu sarapan, Minumlah obatmu setelahnya." Dengan itu, Melisa menuangkan air minum untuk Nico. Dia menyerahkannya pada Nico dan meninggalkan kamar itu setelahnya.


Melisa harus bekerja nanti. Dia juga segera mandi dan turun untuk sarapan. Tidak lupa, dia memberitahu bibi Ifa untuk membuatkan Nico bubur dan mengantarnya Nanti. Setelah itu, Melisa hanya menunggu Ray yang akan turun untuk sarapan bersama.


Sedangkan Ray yang telah ditunggu Melisa, tengah menyelinap kedalam kamar Nico. Setelah memasuki pintu dengan takut Ray melihat Nico yang telah membuatnya kesal semenjak ada disini. "K..k.. kamu, Apa kamu benar-benar sakit?"


Dengan senyum, Nico menanggapi perkataan Ray itu, "Iya tuan muda."


"aku tidak akan merasa kasihan jika kamu sakit, jangan tersenyum kepadaku." Ray berkata dengan Kesal. Namun sesaat kemudian dia merasa ingin memukul bibirnya karena berkata buruk. Bukankah dia akan menyakiti hati orang.


Jadi dengan perasaan bersalah dia memberitahu tujuannya kemari. "Itu, Jika kamu akan benar-benar menjadi ayahku, aku tidak masalah. Selama kamu baik kepada ibuku. Tapi aku tidak tau apa aku bisa baik kepadamu."


Nico yang mendengar sedikit malu saat ini. Dia ingin menyangkal perkataan Ray. Namun dia sendiri tidak tau statusnya di rumah ini apa. Nico telah melupakan apa yang dikatakan Melisa bahwa dia adalah putra angkatnya. Dia merasa tidak percaya dengan itu.


"Hmph... tapi aku tidak mungkin memanggilmu ayahku." Dengan itu Ray meninggalkan kamar Nico dengan tergesa-gesa. Dia tidak tau bahwa dimasa depan, dia sendiri yang berinisiatif untuk memanggil Nico dengan sebutan ayah.

__ADS_1


Ray turun dengan cepat, menghilangkan rasa malu karena berbicara dengan aneh barusan. Melisa yang melihat itu hanya bisa menasihatinya agar turun perlahan.


Pagi ini, perasaan damai meresap dan Melisa merasakan itu. Ray sendiri merasa bersalah karena pergi ke kamar Nico tanpa sepengetahuan ibunya. Jadi, dia tidak marah atau Mengabaikan Melisa karena kejadian kemarin.


Jadi walau mereka tetap makan dengan tenang. Suasana tidak lagi stagnan dan berat seperti beberapa saat lalu.


Setelah sarapan, Ray bergegas pergi ke sekolah dengan cepat. Melisa sendiri Akan pergi ke bekerja. Sedangkan Nico akan dirumah beberapa hari untuk menyembuhkan diri.


Melisa mengingat sesaat kemudian, bahwa dia harus memindahkan Nico dari sekolah itu. Melisa tidak mungkin membiarkan Nico di sekolah yang telah lama menjadi budak Fiolyn itu. yang pasti Nico akan tidak nyaman disana.


Jadi, saat makan malam. Melisa benar-benar bertanya pada Nico apa dia ingin pindah sekolah. Sesaat setelah Melisa mengucapkannya, suara dentingan sendok dan piring segera terhenti.


Nico yang telah berhenti dari makannya mendongak dan memastikan apa yang dikatakan Melisa lagi, "hah... apa yang dikatakan nyonya tadi?"


"tapi... " Sesaat Nico juga mengingat tentang seberapa tidak ramahnya orang-orang padanya. Sepertinya tidak ada yang mengikatnya di universitas itu. dia bisa pindah, karena bahkan tidak ada orang yang disebut orang berharga baginya di sana. Jadi Nico mengangguk sesaat setelahnya.


Melisa senang mendengar itu dan menambahkan beberapa ayam pada piring Nico. Nico malu dan bingung apakah akan memakannya atau tidak. Namun dibawah tatapan Melisa Nico tetap memakannya. Melisa sendiri tidak merasakan apapun karena dia merasa seperti memberi hadiah pada anak yang patuh.


Disisi lain Fiolyn yang pergi ke taman bersama Maul merasa sedih dan bersalah. Dia merasa, karena dialah Nico keluar dari rumah. apalagi Nico tinggal dengan seorang yang umurnya dua kali lipat dari umurnya sendiri. Bukankah dia dipaksa atau sesuatu.


"Mengapa cemberut dan gelisah seperti itu?" Maul yang melihat Fiolyn seperti memikirkan sesuatu, segera bertanya.


"Bukankah Nico keluar dari rumah, aku sedang memikirkan itu. Dia telah pergi beberapa hari sebelumnya, dan setelah pulang dia ingin keluar dari keluarga." Fiolyn mengingat apa yang dikatakan ibunya lagi. Ibunya marah dan berkata bahwa Nico telah merayu wanita kaya dan akan tinggal bersamanya. Namun Nico tidak mungkin seperti itu kan. Dia pasti dipaksa oleh wanita itu.

__ADS_1


"Fiolyn jangan terus memikirkannya. pikirkan tentang dirimu sendiri, dan bahagia saja oke?" Maul tersenyum kepada Fiolyn.


"Tapi maul, Nico adalah kakakku. Aku akan menolongnya. Besok aku akan berbicara padanya saat di universitas." Fiolyn terus berkata sambil mengabaikan perkataan Maul sebelumnya. Dia tidak tau bahwa Maul kini terlihat kesal.


"Jangan terus memikirkan orang lain oke." Maul berbicara dengan senyum yang tidak tulus. jika dilihat dengan jelas matanya telah menyembunyikan arus gelap yang dalam.


"Maul kenapa?" Fiolyn bertanya karena melihat keengganan Maul. Tentu saja dia tidak bisa melihat arus gelap pada mata Maul.


"Bukankah aku hanya cemburu karena kamu memikirkan orang lain saat bersama ku." Maul sedikit menundukkan kepalanya dan cemberut, menampakkan tampang sedih.


"Maafkan aku, aku hanya khawatir dengan kak Nico." Fiolyn yang melihatnya sedih segera meminta maaf pada Maul. Dia yang telah mengajak Maul untuk jalan-jalan ke taman, dan dia juga yang memikirkan hal lainnya. Dia merasa bersalah juga.


"Baiklah, aku akan memaafkan kamu. jangan terus merasa bersalah." Maul kemudian memeluk Fiolyn yang memiliki suasana hati yang rendah. Maul menenangkan Fiolyn dan kemudian melepas pelukannya.


"Itu Maul, kamu juga akan jarang bertemu denganku lagi kan. Kamu akan segera menolong ayahmu mengurus perusahaan." Fiolyn berkata setelah berpikir tentang percakapan mereka beberapa hari lalu.


"Tidak apa-apa, aku akan mengusahakan menelpon atau melakukan panggilan video denganmu." Maul mengusap kepala Fiolyn membuat rambutnya yang telah berantakan karena angin semakin berantakan.


"Tapi Fiolyn merasa bersalah jika mengganggu kamu." Fiolyn berkata sambil cemberut. dia membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Ha ha ha... Kamu tidak menganggu sama sekali." Maul tersenyum sambil membantu Fiolyn menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangannya.


Fiolyn tersenyum mendengarnya. Maul memang selalu baik padanya. Dia yang selalu mengerti perasaannya dan mendukungnya selalu.

__ADS_1


Dengan suasana hati yang baik keduanya terus berjalan untuk menikmati pemandangan malam di taman. Meskipun taman sedikit ramai saat ini, itu tidak sampai memenuhinya dengan orang. Jadi mereka bisa berkeliling dengan tenang.


__ADS_2