
Beberapa minggu ini saat Ray pulang ke rumah dia selalu melihat Nico ada di rumah. Begitu juga minggu ini. Pastinya Nico tidak tinggal di asrama seperti dirinya.
Setelah memasuki pintu dan melihat Nico, dia hanya melihat sekilas dan pergi ke atas untuk menunggu ibunya. Dia menyalakan smartphone nya dan bermain game untuk menunggu.
Nico sendiri sebenarnya merasa tidak nyaman ada di rumah ini. Dia akan mengusahakan pulang selarut mungkin. Tapi karena kali ini dia tidak memiliki alasan untuk keluar, dia takut jika Melisa bertanya nanti.
Dia sendiri tidak memiliki teman. Jadi, dia tidak mungkin berbohong dia pergi bersama teman. Saat berpapasan dengan Ray tadi pun, dia merasa Ray tidak suka padanya. Jadi dia lebih gelisah karenanya.
Di luar, langit berangsur-angsur gelap. Malam tiba dengan cepat dan jam berlalu. Melisa yang ada di jalan juga lelah saat ini. Pekerjaan hari ini membuatnya pusing dan masalah di kantor juga. Dia ingin segera beristirahat di rumah.
Sampai di rumah dia melihat Ray yang turun dari tangga dengan muka kesal dan marah. Dengan bingung Melisa bertanya. "Ada apa Ray?"
"Tidak apa-apa." Ray berjalan ke ruang makan dan mengabaikan melisa.
"Ray apa ada sesuatu disekolah? kenapa kamu marah?" Melisa mendekat pada Ray dan mengusap atas kepalanya.
"Tidak." Ray menepis tangan Melisa yang ada di kepalanya. Dia merasa Melisa telah sangat baik pada Pria itu dan telah melupakannya.
"Ray marah pada ibu? Kenapa? Ayo cerita, agar ibu tau." Melisa yang melihat Ray marah seperti itu tetap tersenyum ringan dan berkata dengan toleran.
"Itu tentang aku pergi ke asrama." Ray berkata langsung setelah mengumpulkan keberaniannya. "Kenapa dia tidak pergi ke asrama dan aku harus? Apa ibu lebih peduli padanya daripada aku?"
"Tidak Ray, Itu karena ibu berharap kamu memiliki teman." Melisa berkata jujur tentang tujuannya. dia memang ingin Ray lebih terbuka dan memiliki teman jika pergi ke asrama.
__ADS_1
"Lalu dia juga tidak memilikinya kan. Mengapa dia tinggal di rumah." Ray berkata dengan marah sambil menunjuk Nico. Air mata telah jatuh dan semakin sering. Suaranya bahkan sedikit gemetar saat ini.
Nico di samping menundukkan kepalanya karena perasaan bersalah. Apa dia memang pembawa sial sehingga seseorang yang baik padanya juga mengalami nasib ini. Memang benar dia tidak boleh merasa bahagia.
"Nico, pergi ke ruang kerjaku." Melisa yang melihat Nico menundukkan kepalanya semakin pusing. Pasti Nico telah menyalahkan dirinya sendiri didalam hatinya.
Mengangkat kepala untuk menatap Melisa, Nico mengangguk dan pergi keruang kerja Melisa.
Setelah itu melisa menatap Ray kembali. Menghela nafas dia memijat pelipisnya karena mereka. "Ray kalian berbeda. Kamu hanya perlu lebih mengenal orang dan sedikit dekat dengan mereka jika kamu ingin berteman. Sedangkan Nico sangat sulit untuk itu. Karena itu ibu tidak meletakkannya di asrama."
"Apanya yang berbeda. bukankah karena dia kekasih ibu dan ibu tidak lagi menyayangi Ray." Ray telah memperhatikan Nico dari tadi juga lebih marah dan sedih. Bukankah baru saja ibunya juga menjaga pria itu.
"Cukup Ray." Melisa yang telah lelah menjadi marah saat ini. Dia secara tidak sengaja telah membentak Ray.
Ray tersentak karena bentakan Melisa. Keluhan yang lebih dari sebelumnya terlihat jelas diwajahnya. Saat dia akan berbalik Melisa langsung memeluknya.
"Maafkan ibu Ray, ibu tidak sengaja membentak kamu." Melisa melepas pelukannya dan memegang pundak Ray. Dia takut Ray akan berlari ke kamar karenanya.
"Bukankah karena ibu tidak peduli pada Ray lagi ibu membentakku." Ray menatap mata melisa dengan tekad.
"Tidak seperti itu. Bukankah ibu juga sering menelepon kamu? Mengapa kamu merasa bahwa ibu tidak menyayangi kamu." Melisa berkata dengan lembut.
Mengingat Ray juga terdiam karenanya. Ibunya memang sering menelponnya hanya untuk menanyakan kabarnya. sepertinya dia memang telah melupakannya karena merasa ibunya lebih peduli dengan Nico itu.
__ADS_1
"Ibu tidak pernah tidak menyayangi Ray. Ibu hanya takut mendekat kepada Ray, karena Ray terlihat ketakutan dan tidak nyaman jika ada ibu." Melisa juga menjelaskan alasan Melisa terdahulu menjauhi Ray. Jika bujukan ini berhasil, bukankah Ray akan lebih dekat dan lebih terbuka untuk bercerita kepada ibunya.
Ray memang takut pada ibunya. Ibunya dulu selalu memiliki wajah dingin dan terasing. Saat dia dekat dengannya dia selalu merasa ibunya tidak menyukainya karena tatapan tajam dan keterasingan dalam dirinya. Dia memang tidak pernah benar-benar berusaha untuk dekat dengan ibunya.
Bibi Ifa lah yang selalu berkata untuknya agar lebih dekat dengan ibunya. Bibi selalu berkata ibu selalu menyayanginya dan tidak akan marah padanya tanpa alasan. Jadi apa kali ini salah nya sendiri.
Ray pun semakin dekat dengan ibunya belakangan karena perasaan terasing disekitar ibunya sepertinya telah hilang. Ibunya juga tidak lagi dingin didepannya.
Jika melisa tau apa yang dipikirkan Ray dia akan berkata bahwa memang mereka dua orang yang berbeda. Melisa terdahulu begitu dingin dan terasing karena dia tumbuh dengan didikan seperti itu. Dia anak satu-satunya dalam keluarga. Dia harus mengurus perusahaan dan intrik didalamnya juga.
Suaminya dulu yang melakukan pernikahan bisnis dengannya juga muak dengan sifat Melisa. Jadi setelah kematian kedua orang tua melisa dalam kecelakaan, suami itu berani untuk menjalin hubungan dengan pacarnya.
Saat Melisa tau pun dia tidak peduli dan semakin acuh dengan suami itu. bahkan mereka bercerai dengan damai.
Sedangkan Melisa sendiri adalah orang yang bebas. Walau dia memiliki masalah dengan ayahnya, setidaknya dia memiliki orang disampingnya yang akan menghiburnya dan menjaganya.
Ray Sendiri juga merasa egois karena memikirkan dirinya sendiri. Dia tidak terlalu memikirkan perasaan ibunya. Jadi Ray memutuskan untuk lebih dekat lagi kepada ibunya. "Maaf ibu."
"Tidak apa-apa." Melisa mengangguk sambil tersenyum dan menyuruh bibi Ifa untuk mengantar Ray kekamarnya.
Melisa juga menyuruh bibi Ifa untuk membawakan makanan Ray kekamarnya. Dia berharap Ray menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Melihat Ray yang naik tangga perlahan dia juga berpikir bahwa kekhawatiran dirinya benar-benar terjadi. Untung saja itu berlalu dengan damai atau dia akan lebih pusing harus memikirkan jalan tengah untuk itu.
__ADS_1
Saat Ray sudah tidak terlihat lagi Melisa mengalihkan pandangannya ke arah ruang kerjanya. Sepertinya dia juga harus menjelaskan kepada Nico. Pria itu akan terus menyalahkan dirinya dan bahkan akan dengan sukarela pergi dari rumah ini.
Berjalan menuju ruang kerja Melisa berpikir lebih baik memang seperti ini. Ray mungkin akan menjadi lebih terbuka dan lebih dekat padanya.