Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 24


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kejadian itu, Dekan Ikhsan menelpon Melisa. Melisa yang sedang menangani pekerjaan ditangannya melihat bahwa itu paman Ikhsan dan segera menganggkat nya. Namun yang didengarnya adalah suara raungan dari sebrang, telpon "Mengapa Nico tinggal di asrama, apa kalian bertengkar atau sesuatu?"


Melisa yang mendengarnya sedikit bingung, dan menceritakan kejadian kemarin. Dia telah menganggap Paman Ikhsan sebagai tetua jadi, bercerita dengannya tidak masalah sama sekali.


Setelah mendengarkan cerita dari Melisa, dekan semakin marah padanya. "Mengapa kamu sagat tidak peka."


Melisa yang merasa bahwa dia cukup peka juga bertanya, "Paman, bagaimana saya tidak peka?"


"Lihat kamu tidak peka sama sekali. Kamu memang seperti ayahmu, untung saja ibumu cukup agresif jika tidak ayahmu akan melajang." Dekan Ikhsan marah dan hampir melempar tanaman kesayangannya.


Ayah melisa asli memang orang yang mati rasa, benar-benar definisi CEO yang dingin. Jika bukan karena Ibu melisa yang ceria dan sedikit berani, hubungan mereka tidak akan berjalan mulus sama sekali.


Dekan yang tenang meletakkan pot bunganya menjauh karena takut dia akan memecahkannya. "Baiklah, aku tidak bisa berkata dengan langsung seperti itu padamu. Kamu harus mencari tahu sendiri bagaimana perasaan kamu untuknya."


"Iya, paman." Melisa berkata tanpa daya.


"Jangan sampai menyakiti anak itu terus-menerus, jawab saja langsung. jika kamu menolak, mungkin dia akan mendapat orang yang lebih baik nanti." Dengan perkataan Itu paman Ikhsan mematikan teleponnya.


Melisa memijat pelipisnya dan melempar smartphone nya di meja kerjanya. Dia merasa baik bahwa Nico akan keluar dan menjadi lebih termotivasi. Namun jika dia tidak meletakkan Nico di depan matanya dia takut insiden penculikan yang asli itu juga terulang.


Pulang di malam harinya, Melisa merasa bahwa rumah besar itu kosong. Dia tidak pernah merasakan itu bahkan saat Nico belum tinggal di sini. Entah karena apa, Melisa merasa sedih dan bingung. Dia hanya mengaitkan nya pada kepergian Nico, mungkin dia hanya sudah terbiasa Nico ada di sini.


Melisa juga harus merenungkan perasaannya pada Nico atas instruksi paman Ikhsan. Dia sendiri tidak tau, perasaan apa yang dimilikinya pada Nico.


Hari pengambilan raport Ray segera tiba. Ray yang membawa undangan dari gurunya pulang dan akan mencari Nico. Tapi saat dia mencarinya di seluruh mansion dia tidak menemukan Nico sama sekali. Jadi dengan berat hati dia bertanya pada bibi Ifa. "Bibi, kenapa kak Nico tidak ada di rumah?"


"Oh, tuan Nico pindah ke asrama sekolah. Dia tidak tinggal lagi di sini." Bibi Ifa memberitahu Ray dengan hati-hati.


"Apakah seperti itu?" Ray sedih mendengarnya, Padahal dia ingin Nico lah yang mengambil raport untuknya.

__ADS_1


Melihat Ray sedih bibi Ifa bertanya, "Jadi, apa yang tuan muda lakukan untuk mencari tuan Nico?"


"Aku ingin kak Nico yang mengambil raport untukku, sayang sekali dia tidak ada." Nico menjelaskan pada bibi Ifa.


"Kalau seperti itu biarkan ibu yang mengambilnya." Melisa yang baru saja pulang juga mendengar percakapan mereka. Dia berinisiatif untuk mengajukan dirinya.


Menoleh, Ray ragu-ragu sejenak sebelum berkata, "Tapi ibu akan sibuk bekerja. Aku ingin kak Nico yang mengambilnya."


Melisa menaikkan alisnya, berkata. "Jika ingin kak Nico yang mengambilkannya, telpon saja."


"Bolehkah?" Ray berkata dengan bersemangat.


"Iya." Melisa tersenyum dan mengusap kepala Ray.


Jadi keesokan harinya, Supir menjemput Nico untuk menuju ke sekolah Ray. Saat sampai, Nico melihat sekeliling yang ramai dengan orang tua atau wali siswa. Nico bisa melihat Ray yang melambai padanya di kejauhan.


"Terima kasih telah menunggu." Nico tersenyum dan menghampiri Ray.


Masuk ke kelas, Ray membisikkan dimana bangkunya berada kepada Nico. Nico yang mendengar tersenyum ringan dan pergi menuju tempat duduk Ray. Menunggu guru, dia diajak berbicara oleh seorang ayah di sampingnya.


"Apakah anda kakak dari Ray atau ayahnya?" pria itu bertanya kepada Nico dengan senyuman. Karena putrinya selalu bercerita tentang Ray jadi dia sedikit penasaran.


Nico sedikit gugup dan bingung untuk menjawab, karena dia belum bisa mendapat status ayah dari Ray. Dia juga tidak ingin menjadi kakak Ray, jadi dia tidak tau harus menjawab apa.


Untung saja guru segera datang untuk membuat pengumuman di depan. Nico menghela nafas lega karena bisa menghindari percakapan dengan ayah Eshal untuk sementara.


Di sisi lain Ray tengah berbicara dengan teman-temannya, Beberapa kagum pada Ray karena memiliki ayah yang masih tampan dan muda. "Ray ayahmu sangat tampan."


"Benar, berbeda sekali dengan ayahku." Siswa itu menoleh untuk melihat ayahnya yang memiliki rambut jarang dan perut yang buncit.

__ADS_1


"Tentu saja berbeda, kamu membandingkan ayah Ray dengan Ayahmu." Siswa lain menanggapi dengan candaan.


Segera tawa pecah dari para siswa dan siswi yang tengah membandingkan ayah maupun ibu mereka ini.


Siswa yang diejek itu mencibir dan berkata dengan bangga, "Ayahku juga tampan dulu, dia hanya banyak bekerja saja. Itulah yang dia katakan."


"Kamu masih percaya, bukankah kamu bodoh. Ibu Ray yang mengantarnya saat pindah ke sini juga cantik walau dia juga bekerja." Siswa lain mengejek lagi.


"Itu karena ayah jarang olahraga, makanya ibu selalu menyuruhku olahraga. Hmph..." Siswa itu marah.


Ray yang mendengarnya kesal dan berkata, "Bisakah kalian diam saja jika ingin melihat."


Ray yang memarahi langsung dicekal oleh Eshal dan diseret pergi, "Teman-teman Jangan dibawa ke hati, kita akan pergi dulu."


Eshal telah berusaha untuk mencegah Ray berdebat dan membawanya pergi. "Jangan menanggapi mereka. Mereka hanya ingin bersenang-senang."


"Bagaimana bisa mereka bersenang-senang dengan membawa kak Nico." Ray mendengus kesal.


"Tapi bukankah benar bahwa kak Nico tampan, mengapa harus kesal?" Eshal menenangkan Ray.


"Itu juga benar." Ray sedikit tenang dengan perkataan Eshal.


"Baiklah, kita sebaiknya ke kantin saja. Aku telah memberitahu Ayah untuk mencari ku ke kantin saat selesai." Eshal menggandeng tangan Nico menuju kantin.


"Tapi bagaimana dengan kak Nico?" Ray menghentikan Eshal dari terus menarik nya.


"Tidak apa, Ayah akan mengajaknya juga. Aku sering berbicara tentang kamu kepada ayah, jadi dia akan langsung tau siapa yang duduk di sampingnya."


"Baiklah jika seperti itu."

__ADS_1


Dengan itu, mereka pergi ke kantin untuk menunggu orang dewasa selesai dengan ceramah itu. Mereka bisa menunggunya sambil memakan camilan atau sesuatu dari pada terus berdiri di depan kelas seperti beberapa anak itu.


__ADS_2