
Menunggu bus untuk sampai ditujuan Melisa mengeluarkan tulisan yang telah dicetaknya untuk dibaca, dia akan melihat apakah tulisan itu baik-baik saja. Namun dia terkejut karena mendapati bahwa tulisan itu telah diubah bahkan judulnya.
Lebih tepatnya semua tulisannya berubah, namun itu tetap memiliki gaya penulisan yang sama dengan dirinya. Membuatnya berpikir bahwa mungkin dialah yang telah menulis itu.
Membaca kembali awal cerita, itu adalah tentang dirinya yang masuk ke dalam novel itu sendiri. pemeran utama bukan lagi Fiolyn melainkan menjadi dirinya sendiri. sedangkan pemeran pria menjadi Nico.
Dengan penasaran Melisa membalik cerita itu dengan cepat dan membacanya dengan acak. Semua itu adalah cerita yang telah dijalaninya di dunia itu. Itu adalah kisahnya sendiri.
Membalik ke bagian akhir cerita dimana dia mati, Melisa mendapati bahwa cerita itu masih berjalan. Setelah kematiannya, Ray banyak menangis dan terpuruk. Eshal selalu membuatnya tersenyum dan Ray menganggapnya sebagai cahayanya.
Sedangkan Nico tidak memiliki ekspresi apapun dan menjadi dingin dari hari kehari. Dia menjauhi wanita manapun dan menjaga jarak saat bekerja sama dengan mereka. Dia terus fokus pada pekerjaannya dan menjalankan perusahaan Melisa juga.
Ray Menikah dengan Eshal setelah mereka lulus dari universitas dan memiliki seorang putra setelahnya. Sesekali Nico akan berkunjung ditengah kesibukannya.
Saat umurnya yang ke 60 tahun, Nico memutuskan untuk pensiun dan memberikan perusahaan pada anak Ray. Setiap hari dia hanya akan duduk untuk beristirahat dan banyak melamun, dengan tubuhnya dia juga sering sakit dan semakin parah belakangan.
Itu seolah-olah dia telah kehilangan penopangnya dan semangat hidupnya. Kehilangan alasan lagi untuk kehidupannya. Saat merasa akhirnya telah dekat, Nico memutuskan untuk pergi ke makam melisa tanpa sepengetahuan orang lain.
Berjalan menuju makamnya lagi setelah lama, Nico segera menundukkan kepalanya saat telah sampai disana. Suara angin yang berhembus dan keheningan yang sepi memberikan perasaan bahwa dia sendirian dan selalu seperti itu.
"Aku akan segera menyusulmu, namun aku bahkan tidak tau apakah kita bisa bertemu atau tidak." Berkata dengan senyuman, Nico duduk dengan tenang disamping makam Melisa.
"Maaf, karena tidak pernah datang ke sini. Karena aku tidak pernah berani untuk menerima kenyataan."
"Melisa, banyak sekali yang telah terjadi tanpamu disini. Bagaimana kamu tiba-tiba meninggalkanku saat itu? Kamu benar-benar sangat jahat."
__ADS_1
Disana Nico berbicara dengan makam dan meneteskan air matanya untuk pertama kalinya sejak melisa meninggal. Karena dia juga lelah untuk mencoba kuat selama ini tanpanya.
"Sebenarnya aku bahkan tidak tau bagaimana aku jatuh cinta padamu, Apa itu saat kamu menolongku untuk pertama kalinya, atau karena kamu yang selalu berdiri disampingku."
"Ada saat aku berpikir bahwa jika saja aku tidak jatuh cinta padamu, aku tidak akan sedih seperti itu."
"Namun saat ini aku berterimakasih karena kamu pernah ada di sisiku, walau itu hanya seperti kilat yang hilang dengan cepat."
"Aku senang karena itu." Dengan kata itu matanya yang penuh cahaya mulai meredup dan menutup.
Bersandar pada batu nisan, Nico memiliki senyum di sudut bibirnya. Di kejauhan, Ray yang mendengarkan kabar kehilangan Nico langsung menuju ke makam melisa dan melihat Nico telah meninggal.
Keesokan harinya pemakaman diadakan ditengah hujan. Setelah pemakaman semua orang meninggalkan makam kecuali keluarga Ray. Mereka mengingat masalalu dan kemudian bercerita betapa baik ibunya dan betapa setia Nico. Itu berakhir dengan perkataan Ray.
Tes, tes, tes.
Hati nuraninya terasa tertusuk saat ini, dia merasa semua kemalangan Nico lebih parah karena kedatangannya.
Bukankah dia malah menjadikan Nico orang yang kesepian lagi setelah kepergiannya. Dia telah menjadi orang egois yang memberikan harapan pada Nico dan meninggalkannya.
Saat dia linglung dan terperangkap dalam kesedihan, Sebuah tangan terulur dan membangunkannya. Tangan itu memberi isyarat bahwa Melisa telah sampai di tujuannya.
Dengan rasa terimakasih, Melisa sedikit menunduk sebelum berlari ke luar untuk pergi. Namun dia bahkan tidak mempertanyakan mengapa orang yang membangunkannya dari linglung bisa tahu dimana dia turun.
Didalam bus, seseorang yang membangunkan Melisa beberapa saat lalu mengenakan Earphone dan berpura-pura mendapat telpon. Namun hanya dia yang tau seseorang yang tidak memiliki entitas tengah mempertanyakannya.
__ADS_1
"Kamu membantunya? Itu tidak seperti kamu saja Eugene."
"Yah, dia berbeda karena dia target misi. Aku harus memantaunya sampai dia bertemu takdirnya. itulah tugasku." Eugene berkata dengan pelan pada suara itu.
"Yah, teruskan saja pekerjaanmu dengan benar dan jangan sampai mengacau seperti saat di simulasi." Suara itu berkata dengan pasrah dan peringatan yang jelas.
"Tentu saja, karena ini nyata dan bukan tempat virtual itu." Eugene tersenyum kepada suara itu.
Jika melisa juga mendengarkan suara yang didengar Eugene sekarang, dia akan langsung mengenalinya karena itu adalah sistem menyebalkan yang telah membuatnya jatuh tanpa aba-aba.
"Bersikaplah profesional walau itu virtual. bukankah mereka juga hidup di dunia virtual mereka." Sistem itu memberitahu Eugene dengan sesikit kesal.
"Ah, aku ingin segera pensiun dan tidak lagi bekerja bersama kalian." Eugene berkata dengan melankolis dan sedih.
"Masih lama untuk itu, tapi juga cepat untukmu." Sistem yang tau rahasia orang dalam sedikit berkata.
"Apa itu, apa aku pengecualian." Eugene senang karena tidak harus hidup di dunia itu lagi.
"Yah, jadilah baik atau aku akan mengadukannya pada ayahmu." Sistem memberikan sedikit ancaman pada Eugene yang sepertinya berpikir untuk membuat masalah.
"Oh, tidak akan." Jawab Eugene yang kehilangan semangatnya.
Disisi lain Melisa bergegas menuju tempat pengumpulan. Setelah menyerahkan pekerjaannya pada orang yang bersangkutan dia segera pergi untuk pulang.
Saat ini dia merasa beristirahat dan menata pikirannya adalah hal yang baik. Suasana hati yang rumit membuatnya merasa buruk dan kondisinya menurun. Pergi dengan mobil online agar sampai cepat, Melisa tidak lagi memikirkan berapa uang yang akan keluar dari sakunya lagi.
__ADS_1
Itu bukan karena terbiasa dengan kekayaan Melisa di buku melainkan karena dia tidak mau memikirkan hal lainnya dulu. Dia berpikir dia tidak bisa lagi membalas Nico atas cinta tulusnya, karena bahkan dunia dan waktu mereka yang berbeda.
Melisa yang juga memiliki perasaan yang sama dengan Nico merasa hatinya goyah dan tidak bisa menerima semua itu. Andai saja Nico juga ada di sini, dia mungkin akan segera berjanji padanya untuk membayarkan waktu yang dihabiskan Nico untuknya.