Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 17


__ADS_3

Bibi Ifa yang membawa makan malam mengetuk pintu tuan mudanya. Dia berharap tuan muda segera tenang. Nyonya dan tuan muda selalu saja memikirkan satu sama lain namun mereka jarang untuk berani mendekat. Dia berharap mereka segera baikan dan bisa bersatu seperti orang tua dan anak lainnya.


Ray yang mendengar ketukan itu mempersilahkan Bibi masuk. Dia telah menenangkan dirinya dan duduk di sofa kamarnya.


Bibi membawa nampan makanan dan meletakkannya didepan Ray. “Jika tuan muda sudah tenang, makanlah sekarang.”


“Iya.” Ray makan perlahan dan mendongak pada bibi dengan penasaran. Dia bertanya, “Apa benar ibu juga ingin dekat pada Ray?”


“Benar.” Bibi Ifa bercerita tentang betapa canggungnya Melisa dulu. Dia juga bercerita walaupun pernikahan nyonya ya dulu adalah pernikahan bisnis dan mereka bercerai kemudian karena ayah Ray mencintai orang lain. Melisa tetap Menyukai Ray.


Bibi juga bercerita bahwa ayah Ray dulu ingin tinggal bersama kekasihnya dan menyerahkan Ray pada nyonya Melisa. Walau nyonya Melisa sibuk sekalipun dia akan menyisihkan waktu hanya untuk melihat Ray.


Namun saat Ray semakin besar dia takut dekat dengan Nyonya Melisa sehingga Nyonya Melisa hanya bisa melihat dari jauh dan tidak berani mendekat.


"Benarkah?" Ray mendengar sambil memakan makanannya. Dia mendengar semua, bukankah ibunya tidak terlalu dekat dengannya karena menjaga perasaannya.


"Nyonya Melisa dulu juga pernah memperjuangkan hak asuh tuan muda." Bibi berkata sambil mengingat masa lalu.


"Bukankah bibi berkata bahwa ayah pergi bersama kekasihnya dan tidak membawa Ray?" Ray bertanya dengan bingung.


"Iya, Ayahmu kemudian tau bahwa istri barunya yang dia cintai tidak bisa mengandung. Jadi dia datang untuk merebut anda yang menjadi satu-satunya darah dagingnya." Bibi menjelaskan pada Ray.


Bibi Ifa bercerita sambil mengingat masa lalu. Saat itu ayah Ray, Tuan Davis datang langsung ke pintu dengan istrinya, Nona Dira. Dia ingin memberitahu Melisa bahwa dia akan merebut hak asuh Ray kembali.

__ADS_1


Melisa keluar dari pintu dan mendapati pasangan yang telah lama tidak dilihatnya. Mendengar khayalan mereka Melisa hanya mencibir, "Mengapa kau tidak mencoba. Coba saja jika bisa merebutnya dariku."


"Apa kau begitu semena-mena, Aku juga Ayahnya. Aku berhak juga atas Ray." Davis berkata dengan marah.


"Saya yang akan mengantarnya ketempat anda sekali atau dua kali seminggu jika dia ingin. Tapi jangan bermimpi untuk Hak asuhnya." Melisa kesal. Dia tidak tau apa yang dipikirkan mantan suaminya ini. Dialah yang secara sukarela memberikan hak asuh pada dirinya sendiri dulu, mengapa sekarang membuat keributan.


"Saya akan tetap mengajukannya, sebaiknya anda bersiap." Davis telah Kalah dari momentum mantan istrinya ini. Namun dia tidak akan mundur untuk mendapat Hak asuh dari anaknya.


"Kamulah yang harusnya bersiap. Kamu harus mencari pengacara yang lebih hebat dari pengacara saya kan." Melisa menatap Davis dengan sarkas. Dia yakin bahwa pengacara pribadinya mungkin lebih baik dari pengacara Davis. Kecuali Davis mau mengeluarkan uang yang besar untuk menyewa pengacara yang lebih baik.


Mendengar fakta itu Davis mengertak kan giginya dengan geram. Dia memang tidak bisa membayar mahal untuk mencari pengacara yang lebih baik dari milik Melisa. Jika dia ingin, Dia harus mengambil uang perusahaan yang akan mengacaukan rantai modal.


Satu-satunya cara adalah memohon pada kakaknya yang menjalankan perusahaan keluarga. Kakak ini juga sangat menyukai melisa dulu, jadi mungkin sulit untuk meyakinkannya.


"Aku akan tetap bisa mendapatkannya, kamu hanya harus menunggu." Davis pergi dengan istrinya setelah itu.


Namun kejadian yang tidak terduga terjadi. Kakak dari Davis mengalami kecelakaan bersama istrinya dan meninggal ditempat. Surat wasiat itu mengatakan untuk memberikan semua properti dan saham atas namanya kepada anaknya satu-satunya. Anak itu berusia sembilan tahun waktu itu. Jadi dia membutuhkan orang yang bisa membesarkannya.


Davis yang tau langsung mengajukan diri dan berkata bahwa dia akan merawatnya dengan baik. Karena dia juga tidak bisa memiliki anak jadi para kerabat membiarkannya membesarkan anak itu.


Karena takut anak itu merasa bukan keluarganya dia membatalkan dan menyerah untuk hak asuh Ray. Di pengadilan dia membawa pengacara yang telah pasti kalah. Dengan itu dia tidak lagi menganggu Melisa dan berkata agar Melisa juga tidak mengganggunya.


Mendengar cerita itu, Ray kemudian tau bahwa Ayahnya takut anak kakaknya itu tidak berbakti kepadanya. Karena jika itu terjadi kehidupan tuanya yang mewah tidak akan terjamin.

__ADS_1


Selesai makan bibi Ifa juga permisi untuk pergi sambil tersenyum. Ray berdiri di balkon dan menikmati angin malam yang berhembus tepat disamping telinganya. Dia berharap dia segera bisa dekat dengan Nico itu dan tau sifatnya. Dengan itu dia juga bisa baik padanya dan tidak terlalu membuat ibunya cemas.


Di ruang kerja Melisa, Nico telah berjalan mondar-mandir dengan perasaan bersalah. Dia tidak berani duduk dan menunggu Melisa.


Melihat pintu terbuka, Nico merasa seluruh tubuhnya tegang saat ini.


Melisa yang masuk dari pintu dan melihat Nico yang berdiri mengerutkan dahinya. "Mengapa kamu berdiri, duduk."


"i-iya." Nico duduk dengan sistematis.


"Jangan terlalu tegang, tenanglah oke." Melisa menghela nafas melihat Nico.


"Itu nyonya. sa-saya akan tinggal di kampus saja. saya akan mengajukan surat Izin tinggalnya sendiri." Nico menundukkan kepalanya, Saat berbicara suaranya semakin mengecil.


"Tidak perlu untuk itu. Kamu bisa terus tinggal disini selama yang kamu mau." Melisa menolak dengan tegas. Dia tidak mungkin bisa memantau keselamatan Nico jika dia pergi ke asrama. Pria ini selalu dikelilingi masalah dan dia akan terus memantaunya.


"Tapi nyonya, hubungan anda menjadi kacau karena saya. Bukankah sebaiknya saya pergi saja." Nico memainkan jarinya dengan gugup. Dia telah membuat masalah untuk orang lain. Mana mungkin dia tidak merasa bersalah.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. itu telah seperti itu sejak lama. Aku maupun Ray sama-sama tidak pernah berbicara secara terbuka jadi itu menjadi seperti ini." Melisa mengingat Dalam ingatan dan berkata lagi pada Nico, "Anda hanya sumbu terakhir untuk ini. selain itu karena teman barunya Ray juga menjadi terbuka."


Nico mendongak, mengintip reaksi Melisa. Dia kemudian menghela nafas lega melihat Melisa tidak menyalahkan dirinya seperti keluarga Helingga dulu.


"Kamu juga harus sedikit lebih terbuka juga, ceritakan saja apapun dan saya akan mendengarkan." Melisa juga mengisyaratkan pada Nico agar dia menjadi lebih ceria.

__ADS_1


"Hmm..." Nico hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak terlalu memperhatikan perkataan Melisa, karena tau bahwa Melisa bisa tahu jika dia menyelidikinya.


Dia hanya senang karena Melisa tidak menyalahkannya.


__ADS_2