
Saat mendekati hari kelulusan Nico. Perusahaan Helingga menyatakan kebangkrutan dan diakuisisi oleh keluarga Grahadi. Saat ini berita itu menjadi trending, bukan karena keluarga Helingga terkenal. Tapi karena itu adalah perusahaan milik keluarga Helingga yang memiliki janji pertunangan dengan keluarga Grahadi.
Dengan kekacauan itu, tentu saja Maul menyamar menjadi pahlawan dan menenangkan Fiolyn. Dia berjanji akan tetap melanjutkan pernikahan mereka dan meminta pada keluarga Helingga untuk mempercepatnya setelah lulus kuliah. Maul juga memberikan 5% bagian dari perusahaan untuk Fiolyn, jadi orang tua bisa tenang.
Dengan janji dan beberapa bujukan. keluarga Helingga mau untuk tenang dan tidak mengganggu lagi. Walau ini tidak seperti keinginan mereka dan menggabungkan perusahaan, mereka tetap senang karena Fiolyn tetap menikah dengan Maul.
Jadi dengan gejolak yang terjadi di dunia luar, hari kelulusan segera di depan mata. Melisa yang baru saja datang ke ruang kelulusan melihat Nico mengucapkan sambutan dan menjadi perwakilan untuk naik ke panggung untuk pidato. Melisa yang melihat dari pintu membawa buket bunga dan berdiri menunggu Nico disana.
Tak lama untuk acara selesai dan Melisa tidak harus berdiri lama di sana. Nico yang melihat melisa sekilas juga segera Menghampiri Melisa.
Berjalan ke luar ruangan menuju mobil, Nico menerima bunga itu dengan senang hati. Mereka akan merayakannya di rumah dengan makan bersama. Nico juga akan tinggal di rumah Cardita lagi atas desakan Melisa.
Mereka bersama dan waktu tenang berjalan dengan cepat. Beberapa bulan berlalu dan Hari pernikahan Fiolyn dan Maul sudah didepan mata. Nico yang telah mengenakan jasnya menunggu Melisa. Mereka akan datang di perta pernikahan Fiolyn.
Disisi lain, Fiolyn gugup sekaligus merasa bahagia. Dia akan segera menikah dengan Maul, orang yang dicintainya. Dia merasa akan menjadi orang paling bahagia karena menikah dengan orang yang sangat baik.
Melihat dari jendela, dia bisa melihat aula pernikahan yang ada di luar. kain dan bunga berwarna putih memenuhi semua tempat. Karpet berwarna abu-abu yang akan dilaluinya juga penuh dengan kelopak bunga. Akhirnya, ada juga tempat dia akan duduk di depan dan melaksanakan pernikahan.
Saat ini, tamu mulai berdatangan. Wajah yang dikenal dan sering muncul di televisi atau majalah juga terlihat dimana-mana. Itu juga untuk mengetahui seberapa terpandang keluarga Grahadi.
Melihat semua orang sudah datang, Seseorang memanggilnya untuk keluar dan memulai acara pernikahan.
Berjalan menuju mempelai pria, Fiolyn sangat senang. Dia juga bisa melihat Kak Nico ada di sini, sepertinya dia datang karena undangannya. Keluarganya juga duduk dan melihatnya dengan senyum.
__ADS_1
Melakukan ritual pernikahan, dan duduk di kursi, Para tamu memberi selamat kepada mereka. berharap mereka bahagia. Itu membuat Fiolyn lebih senang dan terus tersenyum.
Acara selesai dengan cepat, dan Melisa juga pulang ke rumah bersama dengan Nico. Mereka merasa tinggal lebih lama tidak ada gunanya, jadi mereka pergi dengan cepat setelah acara selesai.
Beberapa hari setelahnya Melisa bersantai di rumah bersama Nico. Mereka merasa tenang karena tidak ada masalah yang terjadi belakangan. Untuk bisa bersama, Melisa membayar direktur profesional untuk perusahaannya.
Jadi jika tidak ada yang penting dia tidak perlu bekerja terlalu keras seperti dulu. Ray sendiri belakangan sering pergi dengan Eshal. Dia berkata dia telah muak dengan semua kemanisan mereka dan memutuskan untuk pergi bermain.
Nico sendiri sangat senang dengan ketenangan ini. Walau phobia yang dialaminya membuatnya selalu gelisah, Dia menahan kegelisahan itu untuk mempertahankan kebahagiaan yang langka dalam hidupnya.
Dengan saran Melisa, Nico juga berkonsultasi dengan psikiater untuk menghilangkan phobia nya.
Walau dia ingin tinggal bersama Melisa terus menerus, namun Nico menahannya. Dia akan membuat kejutan yang indah untuk Melisa dan melamarnya dengan benar. Saat itu, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
Namun Maul mengetahuinya dan langsung merampas smartphone nya sebelum dia sempat menelpon. Marah dengan itu, Maul mengunci Fiolyn di kamar seharian. Dia hanya memberikan makan dengan teratur, tapi mengurungnya dalam ruang gelap yang menyeramkan.
Fiolyn yang seperti bunga dalam rumah kaca kini mengerti apa itu angin kencang dan hujan. Dia tidak lagi se-naif itu dan bodoh seperti dulu.
Fiolyn menangis memeluk maul setelah dia dibebaskan dari ruangan itu pada keesokan harinya. "Tidak, saya tidak mau masuk ke sana lagi. Hiks hiks."
Mengusap pelan rambut Fiolyn, Maul berbicara dengan lembut, "Baiklah, dengarkan aku selanjutnya oke. jika kamu baik, tidak akan seperti itu."
Mendengarkan suara Maul yang menenangkan, Fiolyn tersenyum dan mengangguk dengan cepat tanda mengerti.
__ADS_1
Tentu saja, Maul juga tau bagaimana membuat Fiolyn hanya bergantung padanya. Ini seperti Fiolyn telah menderita sindrom Stockholm. Dan menjadi semakin dekat dan bergantung pada Maul.
Disisi lain, Nico telah membuat kejutan untuk Melisa dan menata tempat itu dengan baik. Dia ingin melamar Melisa saat ini. Menelpon Melisa, dia ingin Melisa datang ke sini setelah pekerjaannya selesai.
Memandang telponnya dengan senyum, Melisa segera mengemasi barang-barangnya dan bersiap pulang kerja. Dia akan pergi ketempat Nico dengan cepat.
Masuk ke dalam mobil, Melisa yang merasakan krisis dihatinya, mengabaikan insting dan berkendara menuju tempat janjian.
Hujan yang tidak diharapkan muncul, dan air turun dengan cepat mengisi jalan dan menjadi genangan air. Hujan yang deras menambahkan kabut pada jalan dan membuat melisa berkendara dengan hati-hati.
Tapi bukan berarti saat ini semua orang juga berhati-hati sepertinya. Di kejauhan, terlihat sebuah truk yang oleng dan menuju kearah mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Supir itu mengantuk dan kehilangan kendali pada truknya karena tergelincir hujan.
Melisa yang melihat itu berusaha untuk menyingkir dari jalur truk. Namun sepertinya keberuntungan tidak ada padanya. Truk itu melaju dan menabrak mobil Melisa, membuatnya harus merasakan benturan keras dan balikan mobilnya. menggantung terbalik, Melisa tersenyum mendengarkan sistem yang telah lama hilang di kepalanya. Sistem memberitahu bahwa itu adalah takdir pemilik asli yang tidak dapat dihindari.
Merasakan darah yang mengalir ke wajahnya, Melisa bisa tau bahwa tubuhnya juga tidak baik-baik saja. Sakit yang parah membuatnya pasrah dengan semua. Tapi, mengingat senyuman Nico, dia mungkin sedikit tidak tega untuk pergi darinya.
Melisa hanya berharap, Nico bisa hidup bahagia dan mendapatkan orang lain yang akan dicintainya. Dia mungkin akan lebih bahagia dari pada dengannya.
Secara bertahap, Melisa mulai kehilangan penglihatannya dan kegelapan menghampirinya.
Restoran, Nico yang merasakan kecemasan yang tidak berarti menjadi linglung dan sering melihat keluar pada langit gelap yang hujan. Ray dan Eshal yang ada di sana juga bersembunyi dan menunggu Melisa datang dengan gugup.
Menunggu Melisa, mereka malah dikagetkan dengan nada dering telpon yang tiba-tiba. Dengan candaan dan tawa, Nico mengangkat telpon dari Melisa.
__ADS_1
Namun, kabar dari sebrang telpon membuat Nico merasa bahwa dunianya telah runtuh saat ini.