Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 13


__ADS_3

Melisa menerobos hujan dengan mobilnya. kilat menyambar sesekali menerangi lingkungan sekitarnya. Dia berharap bahwa Nico memilih menginap di panti asuhan saja dari pada dia melihatnya diluar dan kehujanan.


Saat mobilnya melewati Halte, dia melihat sosok yang dikenalnya tengah duduk disana. lampu redup tidak menghalangi Melisa untuk mengenal siapa yang duduk. saat mobil mendekat dan lampu darinya menyinari wajah orang itu. Benar saja itu adalah Nico.


Lampu mobil menerangi sisi wajahnya yang membuat Nico memejamkan matanya. Karena hujan yang deras, atap halte tidak lagi mampu untuk menutupinya. Hujan telah lama jatuh padanya, membuat pakaiannya basah kuyup.


Saat Melisa sampai disampingnya, dia mengambil payung dan turun dari mobil, menghampiri Nico. "bagaimana kamu bisa ada disini, ayo cepatlah masuk ke mobil."


Nico mendongak melihat melisa didepannya. walau hujan telah mengaburkan pendengarannya. Dia masih bisa samar-samar mendengar perkataan Melisa. "Tapi..."


Nico gelisah dan melihat pakaiannya yang telah basah kuyup. tidak mungkin dia bisa masuk ke mobil Melisa dengan keadaan seperti ini. Mobil itu sangat mahal, bukankah akan kotor karena dirinya.


Melisa menghela nafas ringan saat melihat kekhawatiran Nico. "Ayo, hujan sepertinya akan berlangsung lama. apa kamu akan tinggal disini?"


Dengan perkataan Melisa, Nico dengan ragu berdiri dan mengikuti Melisa menuju mobil. Saat melisa akan memayunginya dan berjalan disampingnya Nico terus menjauh, membuat melisa kesal karenanya. "Bisakah kamu lebih dekat. Kamu akan kehujanan jika terus menjauh."


"Tapi jika saya mendekati nyonya melisa, anda juga akan basah karena saya." Nico berkata sambil menundukkan kepalanya.


Dengan itu melisa tidak lagi mau untuk membalas perkataannya. Jadi dengan kesal Melisa mengulurkan tangannya di pinggang Nico dan membuatnya dekat dengannya. Melisa merasa karena perbedaan tinggi mereka, dia tidak akan bisa merangkul pundaknya jadi dia membuatnya seperti pose sekarang ini.

__ADS_1


Nico tertegun dengan bingung, dia berjalan dengan kaku saat melisa merangkul pinggangnya. Nico bereaksi seperti itu karena dia tidak pernah begitu dekat dengan wanita. Jadi dia seperti robot saat berjalan karena ini. Melisa sendiri tidak terlalu memikirkan apa yang dilakukannya. Dia hanya kesal karena Nico menjauh, jadi dia hanya membuatnya tidak bisa menjauh lagi.


Disamping mobil Melisa membukakan pintu untuk Nico, Merasa tidak nyaman Nico segera masuk dan mengenakan sabuk pengaman untuk dirinya sendiri dengan cepat. Dia takut jika melisa juga akan membantu mengenakan itu untuknya juga dan membuatnya lebih tidak nyaman. Dengan senyum Melisa juga segera duduk di kursi pengemudi.


Nico melihat Melisa yang tidak menyalakan mobil sedang mencari sesuatu saat ini. dengan bingung Nico berkata, "Apa yang anda cari, saya akan membantu mencarinya."


"tidak perlu." Dengan itu melisa menemukan handuk yang dia cari. Melisa memberikan handuk pada nico dan melihat wajahnya yang pucat. Melisa memarahi Nico, "mengapa kamu tidak naik mobil online atau taksi saja, kamu akan sakit jika seperti ini."


"maaf." dengan itu Nico menundukkan kepalanya, dia tidak tau bahwa hujan akan datang begitu cepat. Halte sangat jauh membuatnya tidak bisa berlari ditengah hujan. dia juga takut untuk merepotkan orang, jadi dia juga bingung untuk menunggu hujan reda.


Permintaan maaf itu juga membuat Melisa semakin kesal. Namun dia tetap diam untuk itu. dengan masalalu dan kepribadiannya Nico menjadi seperti ini, dia juga tidak punya tempat untuk menyalahkan orang lain. Dengan itu Melisa menyalakan mobil dan mengemudikannya untuk pulang.


Melisa memperhatikan Nico dengan seksama dan mendapati wajahnya memerah dengan tidak normal. Dia mendekati Nico dan Meletakkan punggung tangannya pada dahi Nico. Nico yang merasa linglung kaget dengan gerakan tiba-tiba melisa. Namun dia tetap tidak bergerak.


Melisa merasakan panas pada tangan yang menyentuh Nico. sepertinya pria ini demam dan dia sendiri tidak merasakannya. "apa yang membuatmu linglung, kamu demam saat ini. cepat ganti pakaianmu yang telah basah dan berbaring untuk istirahat."


"saya tidak apa-apa, itu hanya demam." Nico yang merasa demam itu biasa tidak merasa salah dengan perkataannya. dia sering demam dulu juga dan akan sembuh jika dia minum obat. mengingat saat kecil dia telah melakukan semua sendiri.


"apakah kamu ingin demam membakar mu menjadi bodoh, cepat ke kamar dan aku akan memanggil dokter kemari." Melisa berkata sambil sedikit mendorong Nico untuk naik menuju kamarnya.

__ADS_1


Setelah membuatnya mau untuk segera mengganti pakaian dan berbaring Melisa memanggil dokter pribadi untuk datang. Masuk ke kamar Nico lagi melisa melihatnya telah mengganti pakaiannya. Dia telah memejamkan matanya dan tertidur di ranjang.


Dokter segera datang dan melakukan pemeriksaan. itu berlalu cepat dan Sekarang tinggal Melisa dan Nico dikamar ini. Melisa yang melihat obat ditangannya dan pemuda yang tidur bingung. dia tidak tega untuk membangunkannya dan dia tidak bisa membuatnya tidak meminum obat ini.


Jadi dengan tekad Melisa mengguncang Nico ringan untuk membangunkannya. perlahan Melisa melihat Nico perlahan membuka matanya. Mata itu saat ini terlihat berkabut dan linglung. dengan kebingungan Nico cemberut karena dibangunkan.


"ayo, minumlah obatnya terlebih dahulu. kamu bisa tidur setelahnya." Melisa berkata dengan lembut pada Nico yang sepertinya kesal saat ini.


"hmm" Nico segera sadar dan mengangguk ringan. Dia duduk segera, mengambil obat ditangan Melisa dan segera meminumnya. Namun karena obat yang terasa di tenggorokannya, Dia mengerutkan alisnya segera.


Melisa bingung dan mencari di saku jasnya. Melisa menemukan permen yang dia makan saat mulutnya terasa kering di kantor. Membukanya dia menyodorkan permen itu ke mulut Nico.


Nico yang melihat permen, membuka mulutnya dan memakannya. Segera rasa manis memenuhi mulutnya dan menetralisir rasa pahit. kesenangan terlihat jelas diwajahnya saat ini.


Melisa yang melihatnya hanya merasa bahwa Nico terlihat seperti anak kecil saat sakit. Melisa kemudian menunggu Nico untuk menyelesaikan permen itu sebelum memperbolehkannya untuk tidur lagi. Sedangkan Melisa tidur di sofa dan menunggu Nico.


Melisa juga akan bangun setiap dua jam untuk mengeceknya. pria itu baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang dia sakit lagi. Melisa terus melihatnya karena takut demam akan kambuh saat malam nanti. Namun untung saja demam Nico segera turun setelah dia meminum obatnya. Jadi Melisa bisa menghela nafas lega dan tertidur juga.


Setengah tertidur, Melisa memikirkan saat Nico dulu. Bukankah tidak ada orang yang merawatnya sampai dia tidak merasakan tingkat sakitnya saat ini. Nico selalu sendiri sejak dulu, bukankah itu kesalahannya sebagai penulis. Jadi dengan pikiran kacaunya Melisa juga segera terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2