Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 8


__ADS_3

Nico terus gelisah sambil menunggu Melisa, banyak pikiran aneh terus melayang dibenaknya. Walau mereka cukup akrab karena melisa sering kesini, namun dia tetep gugup. Hari ini dia sudah boleh pulang dari rumah sakit dan kemarin melisa berkata akan menjemputnya.


Dia telah tau bahwa tidak ada kebaikan gratis di dunia. Dia merasa Melisa akan menjadikannya sebagai kekasih yang lebih muda atau sesuatu seperti itu. Dia panik dan ingin pergi secara otomatis, namun dia tau bahwa Melisa terlalu baik untuknya dan dia mendapat kabar bahwa dia telah memiliki surat adopsinya yang dulu di pegang oleh keluarga Helingga. Otomatis dia akan diurus oleh Melisa sekarang.


Saat pikirannya sedang kacau dengan segala macam pikiran, suara pintu yang berderit membangunkannya dari pikiran aneh. Dia melihat Melisa memasuki pintu dengan anggun diikuti olh bodyguard dibelakangnya. Dengan itu hatinya bahkan lebih panik saat ini, dia tidak tau apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Melisa tidak terlalu memperhatikan Kepanikan di wajah nico dan merasa itu hanya antisipasinya karena dia telah keluar dari keluarga Helingga.


"Apakah masih ada sesuatu yang ingin kamu ambil di rumah keluarga Helingga?" Melisa bertanya pada Nico.


"iya, bisakah saya mengambilnya?" Ucap Nico dengan ragu.


Dengan anggukan Melisa mereka pergi ke tempat parkir segera dan pergi ke keluarga Helingga. Mobil melaju dengan tenang dan segera sampai di mansion keluarga Helingga. Melisa sendiri tidak ingin menggangu Nico, jadi dia menunggu Nico dalam mobil.


Saat datang ke tempat ini lagi Nico tidak memiliki nostalgia mendalam untuk rumah ini. kehidupannya disini berpacu cepat tanpa kenangan indah sama sekali. Jadi mungkin keluar dari rumah ini merupakan kebebasan untuknya.


Segera setelah dia memasuki rumah, Nico merasa mansion itu sepi jadi dia berinisiatif bertanya pada pelayan yang bekerja di sini, "Kemana perginya semua orang."


"tuan pergi ke perusahaan dan nyonya saat ini sedang istirahat di kamarnya." Pelayan itu berkata dengan kesal.


mendengar jawaban yang biasa ini Nico tersenyum ringan, "baiklah."


Nico tau penjelasannya tidak berguna sama sekali. Dia hanya bisa pergi ke atas dan memasuki kamar yang telah dia gunakan selama ini.

__ADS_1


Dekorasi yang sederhana dan tidak perhatian. itulah kesan pertama memasuki kamar itu. Sepertinya tidak ada yang masuk dan membersihkan sejak dia di rumah sakit. Nico segera mengemas barang-barang kenangan dari panti asuhan dan meninggalkan barang-barang yang dibelikan oleh keluarga Helingga. dia merasa itu bukanlah miliknya, dan sudah sewajarnya dia mengembalikan semua itu.


Saat dia menuruni tangga dengan kopernya dia Melihat seorang yang dipanggilnya ibu itu telah bangun dan akan ke dapur. Dia mendekatinya dan akan memberitahunya kepergiannya.


"Apakah kamu akan pergi dengan Nyonya Melisa sekarang." Nada tidak senang terlihat jelas di setiap perkataannya.


"iya." Nico mengkonfirmasi perkataan ibunya. sepertinya sang ibu telah tau tujuannya. Nico tidak bingung karena itu. merekalah yang secara sukarela telah memberikan hak adopsi itu pada Melisa.


"Kemana saja selama ini, apakah kamu telah bersenang-senang dengan wanita yang hampir seumuran dengan ibumu itu?" Sindiran itu keluar dari mulut ibunya yang membuat Nico tidak nyaman.


"Aku..."


"tidak perlu menjelaskan, bukankah kamu sudah menjual tubuhmu dan mendapat naungan dari nyonya Melisa. aku takut kamu akan mengadukan perkataan ku." Perkataan acuh itu seakan dia berbicara dengan orang asing saat ini. walau ibunya sering berkata dengan buruk dan selalu membencinya, perkataan kali ini seperti mengisyaratkan bahwa dia telah menganggap Nico bukan lagi bagian rumah ini.


"aku telah kecewa padamu, memang lebih baik Fiolyn lah anak kandungku dan bukannya kamu. aku tidak pernah berpikir aku telah melahirkan orang seperti kamu." Setelah berkata seperti itu sang ibu berbalik dengan suasana hati yang buruk.


Dengan perkataan ibunya itu Nico merasa bahwa jutaan jarum telah menusuk jantungnya. Berdiri di sana dia menghirup udara dengan berat. Berulang kali dia mengepalkan tangannya dan meregangkan namun rasa sakit itu tidak hilang, seakan itu telah memberinya luka permanen yang tidak akan sembuh sama sekali. Jadi setelah itu dia hanya keluar dengan acuh dan menutupi kesedihannya.


Melisa yang melihat Nico mendekat segera memberikan instruksi kepada bodyguard untuk mengambil dan memasukkan koper Nico ke dalam bagasi.


Saat mobil melaju dengan tenang Melisa baru mengetahui bahwa keadaan Nico tidak benar, dia terlihat linglung. tangannya telah lama memutih karena kepalan tangannya yang kuat. melisa hanya bisa memberi tahu supir didepannya untuk membuka jendela.


Saat jendela mobil terbuka angin hangat segera menerpa samping wajah Nico. Dia melihat keluar dan menghirup udara perlahan. Suara bising kendaraan dan orang mengiringi seperti alunan musik menenangkan di telinganya.

__ADS_1


Menghembuskan nafas, dia mulai tenang sekarang. dengan kekecewaan mendalam di matanya, dia berpikir keluarga itu memang tidak menginginkannya. Hanya ada Fiolyn dimata mereka dan dia tidak ada sama sekali.


Saat sampai di mansion keluarga Cardita yang menyabut Nico adalah halaman yang indah, bunga yang tertata rapi menghiasi taman dengan sempurna. Rumah itu sendiri mungkin tidak terlihat mewah dan terkesan sederhana. namun dia tau benda dan semua dekorasi yang terlihat bukan benda murah sama sekali.


"Duduklah sebentar aku akan mengambilkan air untukmu." Melisa segera menuju ke dapur untuk mengambilkan air. Bibi Ifa sepertinya tidak ada di rumah. jadi melisa berinisiatif untuk mengambilkan air untuk Nico.


"iya" Nico duduk di sofa ruang tamu dengan tenang. dengan kesopanan dia tidak menoleh dan melihat sekelilingnya.


Ketenangan seperti ini membuatnya Canggung lagi. Setelah melupakan masalah dengan keluarga Helingga dia baru sadar mengapa dia di sini.


Tidak diketahui berapa kali dia berpikir bahwa kesediaannya datang kemari adalah kesalahan. Dia mungkin seorang yang cerdas dan kuat. ini telah dipoles dengan pengalaman nya dengan orang-orang dari dia kecil. namun untuk masalah seperti itu dia sangat sederhana dan polos.


langkah kaki mendekat diikuti suara Melisa yang khawatir, "mengapa kamu begitu buruk, sepertinya keadaan pikiranmu tidak baik saat ini." Melisa berpikir itu mungkin karena keluarga Helingga itu. Dia seharusnya tidak membiarkan Nico mengambil barang-barangnya sendiri.


"ti..tidak, aku baik-baik saja saat ini." Nico panik dan menegakkan punggungnya. Nico tidak tau bahwa saat ini dia terlihat seperti siswa sekolah dasar yang siap untuk dimarahi oleh gurunya.


"pffftt..." tawa hampir pecah dari mulut Melisa, namun dia menahannya karena tau bahwa itu tidak cocok dengan suasana saat ini. Dia menyerahkan minuman itu ke Nico dan berkata, "ayo kamu bisa minum terlebih dahulu untuk menenangkan diri."


"hmm.." Nico mengangguk, menerima gelas yang diberikan melisa dan meneguknya. tanpa sadar tangannya saat ini menggosok gelas dengan ringan untuk menyalurkan ketegangannya.


Melisa Yang melihatnya sangat lucu mencondongkan tubuhnya ke arah Nico dan mengulurkan tangannya.


Nico yang tau gerakan Melisa segera menurunkan gelas yang ada di bibirnya dan memejamkan matanya. dia semakin dan semakin gugup saat ini.

__ADS_1


__ADS_2