Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 7


__ADS_3

Saat itu pula pintu terbuka diikuti suara hak tinggi yang familier di telinga Nico, suara lembut dan dingin terdengar setelahnya, “apa yang kalian lakukan pada pasien?"


Melisa melihat pemuda yang tampak pucat tengah terjatuh dari brankar. Tangannya telah dicengkeram oleh Toni dengan kuat dan meninggalkan bekas. Perasaan Melisa berkecamuk saat ini.


Toni tidak melepas tangannya sambil berkata “kami hanya ingin dia meminta maaf karena kesalahannya dan dia tidak mau mengikuti”


“apakah pantas membuat keributan di rumah sakit, jika kamu tidak keluar aku akan memanggil satpam untuk menyeret kalian” Melisa berkata dingin pada tiga pemuda itu. Dia berdiri di depan pintu yang terbuka dan mengisyaratkan Toni dan temannya untuk keluar.


Toni melepaskan tangan Nico dan keluar dengan kesal diikuti oleh dua sahabatnya. Nico kini mendongak untuk melihat orang yang menyelamatkannya untuk kedua kalinya ini. Nico melihatnya menutup pintu dengan pelan sebelum berjalan kearahnya.


Melisa yang berjalan kearah Nico mengulurkan tangannya untuk membantu pemuda itu berdiri. “apakah kamu tidak bisa memberitahu suster jika ada yang mengganggu”


“Sulit untuk menjangkaunya tombol saat mereka disini.” Nico kembali ke brankar untuk duduk.


Melisa melirik tangan kiri Nico yang terdapat selang infus. 'untung saja tidak terlepas, apa mereka tidak berpikir sebelum menarik orang.'


“terima kasih,” Nico hanya menundukkan kepalanya.


Melisa tahu bahwa Nico saat ini telah rendah diri dan tidak mudah untuk percaya pada orang, itu juga titik balik seorang Nico yang akan semakin dibenci dunia.


Dari sini pula Nico akan selalu sendiri dan tidak terlalu peduli pada keluarga Helingga. Ia akan menjadi kuat untuk dirinya sendiri dan tidak mudah terbawa situasi. Ia menjadi tenang dan menjadi sukses ke depannya. Tapi tentu saja karena ia bukan protagonis, untuk membuat kejutan untuk pembaca ia membuatnya meninggal.


Melisa memutuskan akan membuat karakternya ini bahagia, hidup bebas, tenang dan memiliki banyak teman yang selalu ada untuknya. Karena umur tubuh ini juga dua kali umur Nico ia bisa menjadi ibunya dan membuatnya bisa merasakan kasih sayang keluarga.


Dengan tekad itu Melisa memutuskan untuk mengurus surat adopsi dari keluarga Helingga dan menjadi wali bagi Nico, ia juga tidak akan membuatnya harus diculik atau bahkan mati terbakar dikemudian hari.


“Apakah kamu selalu dalam situasi seperti ini?” Melisa bertanya. Walau dia sudah tau tapi dia tidak bisa untuk tidak bertanya. Keprihatinan tampak jelas dalam nada suaranya.


“Tidak, tidak apa-apa,” Nico tidak mau untuk membicarakan ini, meski dia selalu menguatkan dirinya bahwa tidak semua orang menyayangi Fiolyn dan membencinya, tapi banyak fakta mengatakan bahwa semua orang akan menyukai Fiolyn. Seolah-olah seluruh dunia berputar di sekitarnya.


Melisa yang tau dia tidak mau membicarakan ini mengganti topik dengan cepat, “dokter berkata bahwa kamu harus dirawat selama 4 hari disini.”

__ADS_1


“Tapi saya tidak bisa untuk terus disini” Nico yang hanya memiliki uang yang sedikit ingin segera keluar dari rumah sakit. Keluarganya juga tidak akan baik padanya juga.


“jika kamu khawatir untuk biaya rumah sakit saya telah menyelesaikannya” Melisa berkata sambil tersenyum.


“terima kasih, tapi....”


Melisa yang tau apa yang akan dikatakan selanjutnya menyelanya, “tidak perlu menolak, saya akan pergi sekarang.”


Nico melihat punggung wanita yang menolongnya pergi. Dia hanya bisa menghela nafas. Dia telah berpikir mungkin bahwa orang yang menolongnya ini akan berbalik keesokan harinya dan menyukai Fiolyn juga. Orang itu akan membencinya dan menatapnya dengan jijik.


Nico segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran buruk itu. Nico memejamkan matanya dan beristirahat kembali.


Esoknya Melisa Membuat janji temu untuk Ayah Nico. setelah disetujui Melisa juga bergegas ke rumah keluarga Helingga untuk menemui orang tua Nico.


Rumah keluarga Helingga


Ayah Helingga kini tengah menunggu Melisa di ruang tamu bersama Sang istri. Dia sendiri juga bingung mengapa nyonya Cardita ingin menemui dirinya.


"aku juga tidak tau, mungkin dia tertarik dengan proyek baru perusahaan kita." Ayah Helingga berkata dengan gugup.


tidak lama suara bel berbunyi. Ayah dan ibu Helingga berdiri dari kursinya. Mereka melihat seseorang yang ada di belakang bibi saat ini. Wanita itu mengenakan setelan rapi dan lurus. Keanggunan dan dominasi tercermin di setiap gerakannya.


"Selamat datang Nyonya Cardita." Ayah dan Ibu Helingga berkata dengan hormat.


"Iya" kata melisa sambil mengamati dua orang tua angkat pemeran utama wanita ini.


"Silahkan duduk kalau begitu." Ibu Helingga mempersilahkan Melisa untuk duduk.


Mereka duduk secara bersamaan dan diikuti keheningan. Dalam ruangan hanya dentingan teko dan cangkir saat pelayan menyajikan teh.


"baiklah saya akan berbicara langsung apa yang saya inginkan." Melisa segera memecah kesunyian di ruangan itu.

__ADS_1


"Bisakah saya bertanya apa itu?" Ayah Helingga berkata dengan penasaran.


Melisa Mengambil cangkir teh dengan anggun dan meminumnya sedikit sebelum berkata. "saya menginginkan hak adopsi Nico dialihkan ke saya."


"Apa?!?! Itu tidak bisa" Ibu Helingga berkata dengan terkejut dan marah.


"Apa itu tentang kekhawatiran putri anda?" Melisa menggosok ringan cangkir ditangannya sambil berkata sarkastik.


"Nyonya, bukan seperti itu." Ayah Helingga mencoba menyangkal dengan ucapannya. pasalnya mereka dikenal baik kepada Nico yang dicap jelek oleh orang lain. Tentu saja itu hanya citra bohong untuk menipu orang luar.


"jangan menolak dengan cepat. bagaimana jika saya memberikan keuntungan kepada anda." Melisa terus memperhatikan kedua orang didepannya. Mata ayah Helingga terlihat beriak dan ragu saat ini. Melisa juga segera menjatuhkan tawaran selagi Ayah Helingga ragu.


"saya akan berinvestasi pada proyek baru anda dan memberikan semua otoritasnya pada anda. juga bukankah anda menginginkan tanah yang ada di barat kota itu? Saya akan menjualnya pada anda."


"tapi..." Ayah Helingga ragu saat ini. tawaran itu sangat mengiurkan. Namun jika dia setuju bukankah Fiolyn menyalahkan dirinya karena terlihat seperti menjual Nico.


"Bukankah Fiolyn akan menikah dengan keluarga Grahadi. jika anda gagal dari proyek ini bukankah kesenjangan antara Fiolyn dan Maul akan besar."


Mendengar itu sang ibu langsung Menyela. "Maul sangat mencintai Fiolyn dia tidak akan menyakitinya karena itu."


"Bagaimana anda bisa tau, Ayah maul adalah orang yang licik dan menginginkan kekuasaan yang besar. jadi dia secara tidak sadar akan mengecualikan Fiolyn, karena perjanjian antara ayahnya tidak berlaku. Fiolyn bukan anak kalian kan." Melisa berkata jujur dan bebas. Ayah Maul memang orang yang ambisius dan tidak mungkin rela untuk membantu keluarga Helingga jika tidak berguna.


Ayah Helingga yang mengenal Ayah Maul dengan baik juga tau bahwa perkataan Melisa memang benar. justru karena itu dia goyah saat ini. jika ini menyangkut Fiolyn Istrinya juga akan setuju dengan itu.


Saat ayah Helingga menoleh ke istrinya, sang istri mengangguk ringan dengan wajah syok. dengan itu Melisa meninggalkan rumah keluarga helingga dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


 


Walau sangat susah untuk meyakinkan keluarga Helingga,mereka tetap setuju pada akhirnya. Selagi dia mengurus pekerjaan dan pengalihan adopsi dia akan menyempatkan diri untuk pergi ke rumah sakit.


Hari Nico diperbolehkan pulang, dia akan membuat ini menjadi kejutan. Dia juga akan membuat mereka lebih akrab agar dia tidak terlalu canggung saat Nico tinggal di rumah Nanti.

__ADS_1


__ADS_2