
Di sebuah mansion besar terus terdengar melodi piano yang indah.Kadang sedih, kadang bahagia, dan kadang marah dan kecewa.
Mendengarkan nada kesedihan yang mendominasi nada, seorang wanita paruh baya khawatir dan menghampiri ruang musik yang pintunya terbuka. Didalam seorang pria yang tampan sedang duduk didepan piano untuk memainkannya.
“Sayang, apa kamu ingin pergi ke psikolog lagi. Keadaanmu sepertinya tidak benar.” Wanita paruh baya itu berkata khawatir. Karena putra satu-satunya itu mengalami masalah yang aneh sejak kecil, dia selalu murung dan mengatakan banyak hal aneh.
Dia bahkan menjadi seorang yang pendiam dan sulit untuk bersosialisasi. Untung saja putranya selalu menjadi orang yang lembut dan perhatian, jadi teman lah yang akan datang padanya sendiri.
“Tidak perlu ibu. Aku baik-baik saja, bukankah saya sudah bilang bahwa mimpi aneh itu telah berhenti seminggu lalu.” Pria itu hanya tersenyum menenangkan. Dia bisa melihat kekhawatiran ibunya dan sedikit merasa bersalah dihatinya.
“Baiklah, Naufal menelepon akan kesini nanti. Ibu pergi dulu.” Sang ibu meletakkan telpon pria itu yang ditinggalkannya di sofa bawah di meja kecil. Dia tau kalau anaknya sangat jarang menggunakan smartphone nya dan sering melupakannya.
Pria itu hanya melihat ibunya pergi dengan diam. Dia merasa telah banyak membuat orang tuanya sedih. Dengan mimpi yang selalu dialaminya, itu telah mempengaruhi kehidupannya.
Semua emosi yang dimiliki oleh orang di mimpi, itu tersalurkan pada dirinya yang membuatnya merasakan kekosongan pada hatinya. Walau di mimpi itu dia memiliki orang yang dicintainya kemudian, orang itu pergi dengan cepat dan meninggalkannya.
Menghela nafasnya, dia berdiri dari kursi piano dan berjalan kebawah menuju ruang tamu. Dia mengenal temannya dengan baik bahwa dia akan pergi menganggunya jika dia tidak segera pergi menemuinya.
Jadi dia berjalan dengan cepat dan akhirnya melihat Naufal yang duduk di ruang tamu dengan seringai yang lebar. Naufal memegang kertas di tangannya dan terus membaliknya.
Mendengarkan suara langkahnya yang mendekat, Naufal mengangkat kepalanya dan memandang padanya.
"Nico, kamu turun sangat cepat. Lihat, aku mendapatkan sesuatu yang menarik." Senyum di wajah Naufal bahkan semakin lebar saat berbicara. Dia melambaikan kertas ditangannya dengan semangat.
"Apa yang membuatmu menganggu aku?" Nico sedikit mengernyitkan dahinya dan duduk di sofa samping Naufal.
"Lihat ini. Aku menemukan bahwa Nama pemeran prianya memiliki nama yang sama denganmu. Nico Pandu Helingga." Naufal menunjuk pada sebuah nama yang tertera diantara banyak front.
"Apa? Kamu bercanda kan?" Melihat sesuatu yang ditunjuk Naufal.
__ADS_1
"Benar, namun cerita ini sangat tragis. Pemeran prianya harus hidup sendirian setelah pemeran utama wanita mati." Naufal tersenyum dan ingin mengolok-olok temannya yang selalu serius itu. Namun reaksi Nico diluar dugaan Naufal.
Nico sedikit tersentak mendengarkan deskripsi dari Naufal, karena itulah yang terjadi pada dirinya di mimpi. Perempuan itu memang meninggalkannya. Dengan reaksi yang berlebihan, Nico segera bertanya pada Naufal, "Si-siapa nama pemeran utama wanita itu?"
Naufal terkejut melihat reaksi sahabatnya dan sedikit bingung, "Ah... Namanya Melisa Febia Cardita. Ada apa memangnya?"
Nico mengepalkan tangannya saat mendengar nama itu, namun untuk memastikannya, dia menenangkan dirinya terlebih dahulu. "Bisakah aku meminjamnya untuk dibaca?"
"Ya tentu saja." Naufal yang menyadari keanehan sahabatnya segera memberikan naskah itu padanya untuk dilihat.
Nico mengambil kertas itu dari tangan Naufal dan membacanya secara singkat dan cepat. Dari sana juga dia tau bahwa cerita itu seperti cerita yang dibuat langsung dari mimpinya. Setiap tempat, nama bahkan adegan terlihat seperti orang yang menulis ini juga pernah mengalaminya.
Namun Nico tidak tau apakah mimpinya adalah tulisan tangan seseorang atau ada orang lain yang memiliki mimpi yang sama sepertinya.
Meletakkan kertas itu, Nico menatap Naufal untuk meminta tolong, "Bisakah kamu menghubungi penulis ini?"
"Hah, untuk apa aku harus memanggilnya."
"Tentu saja. Aku akan menelponnya untuk bertemu besok. Bagaimana?" Naufal melihat reaksi temannya sebentar dan tau bahwa pihak lain ingin segera bertemu.
"Tidak apa-apa kalau begitu." Nico menghela nafas pasrah dan merasa terlalu terburu-buru. Dia harus menenangkan dirinya agar tidak terlalu kecewa jika penulis novel bukan Orang itu.
Jadi Naufal menelpon penulis itu dengan cepat untuk membiarkan temannya tidak terlalu khawatir, "Halo."
"Ya, ada apa?" Melisa di sisi lain bingung karena nomor panitia menelponnya. "Apa ada sesuatu yang salah dengan novel itu?"
"Ah, tidak. Aku hanya ingin membicarakan perihal penjelasan dan sesuatu yang lupa diberikan panitia. Bisakah anda datang ke restoran di lantai bawah besok?" Naufal berbicara dengan serius seakan memang benar ada masalah penting yang terjadi.
"Baik, Bisakah anda memberitahu waktu tepatnya?" Melisa yang mendengarkan keseriusan suara itu segera menjadi serius juga.
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu nanti lewat pesan." Naufal segera mematikan telponnya setelah konfirmasi bahwa Melisa setuju dengan pertemuan itu.
Tentu saja, Nico disampingnya juga tau apa yang dibicarakan dan semakin yakin karena mendengar suara itu lagi.
Jadi keesokan harinya dia bersiap dengan sempurna untuk datang menemuinya lagi, dia cepat-cepat dan bergegas ke tempat itu. Berkendara dengan gugup, Nico sedikit takut jika itu bukan Melisanya. Namun harapan dihatinya tidak mudah dipadamkan.
Setelah sampai, dia bergegas menuju tempat yang disepakati. Di sekitar Restoran yang ramai, Nico bisa melihatnya yang menonjol dari kerumunan. Dia akhirnya bisa melihat wajah itu lagi.
mendekat dan duduk didepannya. Nico terus menatap orang di sebrangnya. Melisa yang mendongak untuk melihat panitia yang datang juga tertegun melihat wajah itu, sebelum menghela nafas dengan sedih.
Karena dia tau bahwa walau wajahnya mirip bukan berarti mereka akan menjadi orang yang sama.
"Melisa, itukah kamu?" Melihat wajah Melisa, Nico menjadi sedikit sedih. Dia telah menunggu lama di novel maupun didunia nyata. Dia ingin hidup dengan baik, namun karena mimpi dia tidak bisa. Wanita inilah yang muncul dimimpinya yang bisa membuatnya tenang dan bahagia.
"Iya, dengan saya." Melisa bingung dengan emosi Nico yang tiba-tiba dan sedikit meragukan.
"Ini aku, Nico Pandu Helingga. Anak kandung keluarga Helingga." Nico berkata dengan gemetar dalam suaranya.
"Ah..." dengan kilasan, dia merasa tidak percaya. Karena dia bisa bertemu dengan Nico lagi. Tapi mereka bahkan bisa bertemu di dunia asli ini.
"Jangan meninggalkan aku lagi oke?" Berkata dengan air mata menggenang, Nico melihat melisa dengan sedih.
Mereka tenggelam dalam pikiran mereka, Karena emosi yang menumpuk mereka mengaitkan jari, menangis dalam diam sebelum berhenti.
Berdiri di taman atap bangunan, Melisa Dan Nico menjadi canggung karena kejadian sebelumnya. Awan merah memenuhi langit menandakan sore hari. dengan angin yang kencang karena ketinggian bangunan, mereka bisa merasakan angin mengacak rambut mereka.
Karena dalam dunia ini, mereka tidak saling kenal, itu membuat mereka sedikit malu untuk bersikap seperti dunia yang itu.
Jadi Nico berinisiatif untuk berbicara pada melisa saat ini, "Karena ini sedikit canggung jika kita bersama begitu saja, Bisakah kita memulai dari awal? seperti pasangan sungguhan."
__ADS_1
Menatap Nico lama, Melisa tersenyum dan menjadi rileks karena perkataannya, "Iya, aku juga ingin seperti itu."
saling menatap dengan senyum, mereka berjanji bahwa mereka akan benar-benar menebus kesalahan dan hutang mereka pada yang lain kali ini.