
Pergi berkumpul dengan temannya, Mereka berangkat segera dan sampai di Kota B Pada sore harinya. Karena lelah Akan perjalanan yang panjang, mereka pergi ke hotel segera untuk check in kemudian beristirahat di kamar mereka masing-masing.
Mereka memutuskan akan memulai perjalanan mereka pada keesokan harinya. Jocasta yang sampai ditempat tidur langsung merebahkan tubuhnya yang kelelahan dan segera tertidur. Dia bahkan tidak sempat untuk berganti pakaian karena itu.
Di kota yang sama dengan hotel yang berbeda, Saat ini seseorang juga baru saja sampai di waktu yang sama dengan rombongan Jocasta.
Itu adalah seorang pria yang mengenakan kemeja putih dengan dasi bergaris dan jas yang lurus. Dengan wajahnya yang tampan dan tegas, dia terlihat pantang dengan pakaian yang dikenakannya.
Berbeda dari pria itu, seseorang yang datang bersamanya terlihat sangat santai dan banyak bicara, Dia selalu memiliki senyum yang mencolok di bibirnya.
"Keven, mengapa kamu memesan dua kamar? Bukankah baik jika memesan kamar dengan ranjang ganda saja?" Pria yang tersenyum itu bertanya pada sahabatnya, sambil mengikuti sahabatnya yang baru saja mengambil kartu kamar dari resepsionis.
"Aku disini untuk bekerja, Jadi aku tidak akan bermain denganmu." Keven berbicara dengan jelas pada sahabatnya. Lagi pula saat mereka satu kamar, Orang itu akan selalu menganggunya.
"Oh, kamu terlalu khawatir. Aku tidak akan seperti itu." Pria itu sedikit mengeluh pada Keven yang saat ini memencet lift untuk naik menuju kamar mereka.
"Jangan bercanda Agas, Adakah hari kamu tidak menganggu aku?" Keven menyerahkan kartu kamar milik Agas setelah mereka memasuki lift.
Agas menerima kartu itu dengan sedikit tidak senang. Ini adalah kunjungan pertamanya ke kota ini, jadi dia berharap sahabatnya juga bersenang-senang bersama. Tapi itu adalah hal yang mustahil untuk Keven sang workaholic.
Setelah lift tiba di lantai tujuan, Keven segera pergi ke kamarnya meninggalkan Agas yang merasa kesepian. Agas yang lesu pergi ke kamarnya untuk istirahat, sedangkan Keven segera mengeluarkan laptopnya saat dia sampai di kamar. Dia mulai bekerja dengan serius dan mengabaikan sekitarnya.
Malam hari, Jocasta bangun dengan sendirinya. Dia mengumpulkan kesadarannya yang masih terpecah karena baru bangun dan segera melihat jam pada ponselnya.
Jam itu menunjukkan pukul 18.30, Secara bersamaan pesan dari Rania muncul. Itu memberitahunya bahwa mereka akan segera turun untuk makan malam setengah jam lagi.
Jocasta segera terbangun untuk mandi sebelum bertemu dengan kedua sahabatnya yang telah menunggunya di depan pintu. Setelah berkumpul, mereka turun menuju lantai satu untuk makan.
Makanan di hotel itu adalah makanan prasmanan dan mereka bisa mengambil berapapun yang mereka inginkan. Banyak macam makanan yang ditandai agar mudah untuk dibedakan saat tertutup sekalipun.
__ADS_1
Mengambil secukupnya, Jocasta dan kedua temannya mencari bangku untuk duduk.
"Oca Akhirnya kita bisa liburan bersama, Aku senang sekali." Erina meletakkan piringnya dan memeluk tangan Jocasta.
"Ya, kita akhirnya liburan hanya bertiga." Rania duduk dan menatap kedua sahabatnya dengan lembut.
"Hump... jika dengan pasangan hanya aku yang sendiri kan." Erina menggembungkan pipinya.
Mendengarkan Erina berkata seperti itu Jocasta dan rania tertawa ringan, karena dari mereka bertiga hanya Erina yang masih belum memiliki pasangan.
Bercerita sambil makan, mereka tidak merasakan waktu berlalu. segera setelah malam, mereka memutuskan untuk segera tidur agar keesokan harinya bisa bangun pagi.
Ding... ding... ding...
Telpon berdering dan memenuhi ruangan itu dengan kebisingan. Dengan mata yang masih menyipit, Keven meraih telpon yang dekat dengannya dan melihat pesan dari Agas.
Pria itu telah mengirimkan banyak kalimat sama 'Ayo pergi, cepatlah bangun.' Namun temannya ini bahkan tidak tau bahwa dia baru saja tertidur karena terus bekerja.
Turun dari ranjang, Keven segera membalas pesan Agas.
"Ya, tapi bermainlah sendiri. Aku akan melakukan pekerjaanku."
Agas yang menerima pesan itu segera membalas, "Hanya survei kan? kita bisa berjalan bersama nanti."
Melihat pesan temannya, Keven menghela nafas dan segera pergi ke kamar mandi untuk mandi. Lagi pula, menolak Agas tidak ada gunanya karena pria itu selalu ingin semaunya.
Disisi lain Jocasta dan kedua temannya baru saja turun dari bus dan berjalan menuju tempat tujuan mereka.
Itu adalah taman kota yang cukup luas dengan berbagai macam pohon dan tumbuhan. Jalan yang rapi, dan air kecil yang mengalir membuat tempat itu seperti negeri dongeng.
__ADS_1
Berjalan di jalan itu membuat mereka merasakan perasaan menyegarkan dan melepaskan banyak pikiran yang membebani mereka.
Melihat pemandangan yang indah mereka berfoto bersama sesekali sambil berkeliling. Sampai kemudian Jocasta teringat bahwa dia juga memiliki kamera yang baru dibelinya.
Jadi saat mereka beristirahat karena lelah, Jocasta memotret pemandangan disekitar mereka dengan cermat. Bunga yang indah, serangga yang hinggap dan bahkan suasana yang terjadi. Dia bertekad untuk mengabadikannya dalam setiap frame.
Saat dia menggeser kameranya, untuk memotret bunga anggrek di salah satu pohon, Seorang pria lewat tepat dari belakang pohon yang membuatnya tidak sengaja berada didalam fotonya.
Pria itu mengenakan jas di hari yang panas, dengan wajah tampan dan penuh momentum. Itu sangat indah saat disandingkan dengan bunga anggrek yang berwarna putih, dan keasrian sekitar. Membuatnya seperti seorang peri yang telah tersesat dalam hutan buatan ini.
Jadi Jocasta bahkan tidak menyadari bahwa dia telah menyimpan fotonya sampai dia mendengar perdebatan pria itu dengan sahabatnya.
"Jangan kembali ke hotel dulu, Aku bahkan belum selesai jalan-jalan." Agas berkata dengan kesal karena temannya ingin segera kembali.
"Aku tidak disini untuk bermain." melihat perilaku temannya Keven mengusap keningnya karena pusing.
"Aku akan memberitahu bibi kalau begitu." Agas mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telepon ibu Keven.
Mengetahui itu Keven setuju dengan cepat tentang keinginan Agas. "Oke baiklah, Aku akan berkeliling sebentar lagi bersamamu."
"Nah bagus." Mendengar perkataan temannya, Agas menjadi senang lagi dan menarik Keven untuk terus pergi.
Sedangkan Keven hanya bisa menurut. Itu semua karena ibunya yang ingin dia istirahat dari pekerjaan, jadi ibunya menyuruhnya pergi bersama Agas yang suka bermain ini.
Setelah kedua pria itu jauh dari pandangan Jocasta, dia kemudian baru mengingat kameranya dan sadar bahwa dia telah menyimpan foto itu.
Tapi saat melihat kameranya lagi, itu menjadi gelap dan tidak bisa dinyalakan. dengan sedih dia memberitahu temannya bahwa dia tidak bisa meminjamkan kamera itu untuk mereka karena rusak.
Raina yang mendengar itu mulai bercanda bahwa kamera itu rusak karena Jocasta tidak mau meminjamkannya pada mereka.
__ADS_1
Jocasta mengelak bahwa dia akan meminjamkan saat selesai memotret pemandangan. dan Raina kembali memasang tampang sedih yang lucu dan membuat mereka kembali tertawa.