Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 23


__ADS_3

Melisa telah menyiapkan hadiah untuk Nico dengan rapi dan penuh pertimbangan. Dia juga menaruh Hadiah yang diberikan Ray di dalam ruang piano yang akan diberikannya pada Nico. Menunggu Nico pulang Melisa memasak untuk makan malam.


Jadi saat Nico pulang, dia bisa mencium aroma nasi yang matang dan masakan rumah. Itu bukan kejutan yang membuat terkesan dan bukan pesta yang mewah, Namun perasaan di rumah sangat kuat. Nico tersenyum saat menuju ke dapur dan berpikir dia telah menemukan rumah yang dicarinya.


Melisa yang menata makanan di meja melihat Nico dan berkata, "Kau sudah pulang? Duduk dan kita akan makan bersama."


Nico meletakkan tasnya di kursi dan pergi ke dapur bersama Melisa, "Bisakah aku membantu?"


Melisa menatap Nico sebentar dengan heran sebelum tersenyum, "iya, kamu bisa memindahkan ini bersamaku." Melisa menunjuk pada makanan yang masih di dapur.


Mereka memindahkannya dengan tertib dan menyelesaikannya dengan cepat. Duduk di kursi, Melisa juga membawa kue dengan ukuran kecil dan lilin diatasnya, "Aku tidak bisa membelikan mu yang besar karena itu tidak akan habis jika dengan kita berdua."


Menatap Nico, Melisa menambahkan, "Aku juga membelikan satu lagi untukmu. Bukankah kamu menyukai kue, Kamu bisa memakannya besok lagi."


"Terima kasih." Nico menatap Melisa dengan senang. Berpikir sebentar, Nico bertanya penasaran, "Mengapa kamu bisa berpikir untuk memasak seperti ini untuk ulang tahun?"


Berpikir tentang kakaknya di dunia lainnya Melisa menjawab, "Apa kamu tidak menyukainya? Aku merasa memasak dan makan bersama saat ulang tahun itu lebih hangat. Jadi saya berpikir seperti ini tidak buruk."


"Tidak, saya menyukainya. Itu lebih terlihat tulus." Nico bisa merasakan Kehalusan dan perhatian tanpa harus mengagetkan orang atau mengeluarkan banyak uang untuk pesta. Menikmati suasana yang nyaman ini, Nico sangat ingin membekukan waktu untuk tetap merasakannya.


Melisa yang mendengar jawaban Nico juga senang, pasalnya dia juga melakukannya dengan kak Lia. Dia bingung untuk membuat kejutan apapun jadi dia hanya melakukan apa yang biasa dia lakukan dengan kak Lia.


Mereka akan masak bersama dan makan bersama juga. Mengingatnya membuat Melisa rindu untuk kembali, jadi dia segera menyingkirkan pikiran itu.


Setelah menyelesaikan makannya Nico baru tersadar akan sesuatu, Jadi dia berkata pada Melisa. "Itu aku ingin bertanya, bisakah aku memanggilmu tanpa kata nyonya?"


Melisa yang menyalakan lilin mendongak melihat Nico, " iya, aku pernah berkata bahwa kamu bisa memanggilku apapun yang membuatmu nyaman."


"Terima kasih, Melisa." Nico tersenyum dengan lembut.


"Ini, buat permohonan dan tiup lilinnya." Melisa menyerahkan kue yang lilinnya telah menyala.

__ADS_1


Api bergoyang ringan, membakar lilin dibawahnya. Walau cahayanya kalah dengan lampu diatas mereka, namun kehangatan itu bisa sampai ke hati mereka.


Nico memejamkan matanya dan mulai membuat permohonan. Dia berharap bahwa dia bisa bersama Melisa, dan berharap kebahagiaan ini tidak akan hilang dengan mudah.


Setelah membuat permohonan, Nico membuka matanya dan meniup lilin. Dengan itu Melisa memotong kue dengan bagian Nico yang lebih banyak. Dia juga memberitahu Nico bahwa dia akan membawanya untuk melihat hadiah lainnya setelah ini.


Selesai memakan kue mereka, Melisa mengajak Nico ke sebuah ruangan. Nico ingat itu adalah ruang belajar yang tidak terpakai. Jadi dia sedikit penasaran dengan apa yang telah disiapkan untuknya.


Pintu perlahan terbuka dan menampakkan isi di dalamnya. Sebuah piano berada di tengah ruangan, disebelah jendela yang berdiri dari lantai ke langit-langit. Ruangan itu telah berubah dengan warna dominan putih.


Ruang yang berwarna gelap itu menjadi cerah dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Terlihat pula Melisa membuatnya memiliki dinding yang kedap suara. Itu membuatnya akan sangat tenang dan tidak harus takut suara mengganggunya atau sebaliknya.


Nico terkejut sedikit sebelum berjalan menuju piano itu. Membelai perlahan, dia langsung merasakan keakraban pada piano yang tidak pernah di mainkan sejak kematian kakek.


Melihat Nico senang Melisa bertanya, "Apa kamu menyukainya?"


Nico mengangguk ringan sebelum menjawab, "Iya, aku sangat menyukainya."


Dia telah lama melupakan kesukaannya untuk piano sejak dia meninggalkannya. Namun saat dia melihatnya lagi, dia bisa merasakan bahwa kesukaannya pada piano tidak pernah hilang.


"Apa aku boleh memainkannya?" Nico bertanya dengan ragu pada Melisa.


Melisa yang mendengar hanya tersenyum dan berkata, "iya, lagi pula ini milikmu sekarang."


Duduk pada kursi dia membelai tuts-tuts piano itu untuk berkenalan padanya, Tersenyum Nico mulai memainkan Lagu yang paling banyak dia mainkan dan pelajari saat bersama kakek.


Lampu ruangan yang terang dan kegelapan di luar jendela sangat kontras, membuat nya bercahaya dengan cahayanya sendiri. Deretan nada-nada indah Melompati tuts-tuts nya. Jemari yang ramping mengalir seperti air dan mengikuti pemiliknya untuk membuat nada itu.


Melisa berdiri dibelakangnya, mendengarkan dengan tenang. Walau Melisa asli telah melihat banyak pertunjukan musik piano, dan Melisa sekarang tau bahwa level Nico tidak bisa menandingi para profesional. Namun Melisa juga mendengarkan musik itu dengan cermat, Melisa tau Nico menuangkan semua perasaannya pada setiap nada.


Setelah lagu berakhir, Nico terdiam. Meskipun malu, dia berbalik dan tersenyum lembut pada Melisa.

__ADS_1


Melihatnya tersenyum Melisa kemudian ingat hal utama yang ingin diberikannya, "Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


Nico yang mendengar juga berkata, "Sama, aku juga ingin memberitahu Melisa sesuatu." Tertawa dia menambahkan, "Melisa bisa berbicara terlebih dahulu."


Melisa senang dan berkata, "Aku akan mencantumkan namamu sebagai anakku. Aku telah mengurus semuanya, tinggal mendapat persetujuan kamu. Lagi pula banyak rumor karena aku telah menunda pengubahan nama kamu. Jadi saat kamu setuju, aku bisa membuatmu menjadi keluargaku."


Melisa berkata dengan gembira tanpa tau bahwa wajah Nico perlahan membeku, Senyumnya perlahan menghilang digantikan dengan ketidak berdaya-an.


Tersenyum enggan Nico berkata, "Saya tidak mau."


"Apa?" Melisa bertanya karena sepertinya dia telah mendengar dengan salah. Dia tidak tau kenapa Nico menolak usulannya.


"Aku tidak ingin menjadi putramu, Aku tidak akan pernah menginginkan posisi itu." Nico berkata dengan lembut dan sedikit melankolis.


"Ada apa denganmu Nico??" Melisa bertanya dengan khawatir, apa dia telah melakukan kesalahan yang membuat Nico menolak seperti itu.


“Setelah semua perhatian yang kamu berikan, apa kamu hanya ingin aku hanya menjadi anakmu?" Tidak menjawab pertanyaan melisa, Nico justru memberi pertanyaan pada Melisa. Dia mendekat pada Melisa dan melihat wajah orang yang selalu baik padanya itu dari dekat. Melihat kerutan di ujung matanya, Nico sedikit mengusap sudut matanya dengan ringan.


“Bukankah seperti itu?” Melisa bingung saat ini. Dia tidak mengerti mengapa perubahan suasana ini berbalik sangat cepat.


"Saat pertama bertemu, aku takut karena kamu akan menjadikanku seperti pe***ur pria. Tapi saat ini aku berharap kamu bisa lebih egois untuk memiliki ku." Menurunkan tangannya, Nico mundur perlahan menjauhi Melisa. menunduk, dia menambahkan, "Aku tidak ingin menjadi anakmu, tapi pendamping kamu. Karena aku mencintaimu, Melisa. Bukan sebagai anak, namun sebagai Nico, seorang pria."


Nico berbalik pergi dari ruangan itu dan pergi ke kamarnya.


Melisa tertegun lama sebelum sadar apa maksud dari semua perkataan Nico. Saat dia keluar dari ruang musik, dia melihat Nico membawa kopernya turun dari kamarnya di lantai dua. Melisa berteriak ke Nico, "Mau kemana kamu?"


“Aku akan tinggal di asrama dan hidup sendiri. Aku tidak melakukannya dengan impulsif, hanya ingin tenang dan tinggal di luar.” kata Nico kepada Melisa dengan tegas.


“Mengapa?” Melisa bertanya sambil menghentikan Nico.


Nico tidak menjawabnya dan pergi dengan senyuman yang sangat lembut. Melisa sendiri ingin menghentikannya, namun dia tau bahwa Nico juga butuh ruang untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Nico sendiri ingin keluar karena dia ingin mandiri, karena jika dia tetap di rumah itu, Melisa akan tetap menganggapnya sebagai putra.


__ADS_2