Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 3


__ADS_3

Saat jam makan siang. Sebuah telfon membangunkannya dari menjadi semakin tenggelam pada pekerjaan.


Di ponsel Melisa tertulis 'bu guru' pada panggilan itu. Dia tau bahwa saat ini Ray pasti mendapat masalah lagi karena sifatnya yang pendiam itu.


“halo” ucap orang di seberang telepon.


“halo, apa terjadi masalah dengan Ray?" Melisa berkata langsung Sambil merapikan meja nya.


“benar, bisakah ibu datang, kami juga telah menghubungi orang tua siswa lainnya.” Kata orang di sebrang telepon dengan hati-hati.


“iya, saya akan datang segera.” dengan itu Melisa menutup telefon sebelum beranjak untuk ke sekolah Ray.


Tidak lupa juga dia memberi tahu sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal karena tau bahwa itu akan memakan waktu lama.


Melisa buru-buru menaiki mobil dan bergegas ke sekolah anaknya. Karena panik dia sendiri tidak sadar bahwa dengan ingatan otak dan otot tubuh asli. dia bisa menyetir mobil dengan baik dan sampai di sekolah Ray dengan naik mobil sendiri, yang bahkan tidak pernah dia sentuh di kehidupannya dulu.


Saat sampai, Melisa segera memarkirkan mobil nya dan berjalan melewati koridor sekolah menuju ke ruang guru. Karena sekolah ini adalah sekolah untuk anak kaya, tentu saja itu sangat mewah. Koridor yang panjang dan juga bangunan di sini mengatakan bahwa kemewahan adalah ciri sekolah ini. meski begitu, tetap saja ini lebih buruk dari pada sekolah internasional dan sekolah SHS.


Di ruang guru kini terdapat dua siswa yang berdiri. Salah satu siswa tersebut berwajah garang yang terus menggerutu kesal, sedangkan satunya memiliki wajah yang tampan, sayang beberapa lebam ada pada wajahnya. Rambut dan seragamnya yang acak-acakan juga kotor, ia terus menundukkan kepalanya.


Saat guru yang ada di depan mereka akan bicara, pintu ruang guru terbuka dan wali dari kedua siswa itu masuk. Itu adalah Melisa dan ayah dari siswa berwajah garang itu.


“apa yang terjadi?” Melisa berbicara langsung sebelum berjalan ke arah Ray yang tengah menundukkan kepalanya.


Siswa berwajah garang itu menjawab Melisa, “dia terus mendekati kekasihku tentu saja aku memberinya pelajaran.”


‘Bohong, saya tidak pernah mendekati Sela, bahkan bukankah dia bukan benar-benar pacaran dan hanya klaim nya’ kata Ray dalam hati sambil melirik siswa itu sebelum menunduk lagi. Gerakan ini pun diketahui oleh Melisa yang ada di samping nya.

__ADS_1


“Ray apa kamu tidak akan berbicara” Melisa menegaskan. Dia tahu bahwa anak itu tidak mau berkata apapun bahkan jika di fitnah sekalipun.


“tidak perlu nyonya, biarkan siswa ini untuk meminta maaf kepada Ray, dan saya akan mengenakan sanksi padanya.” guru yang tadi diam juga berbicara. Sedangkan Ray semakin menundukkan kepalanya.


Melihat ini, Melisa kesal pada Ray dan meninggikan suaranya, “RAYEN JOAN CARDITA, apa kamu tidak akan berbicara?”


Mendengar ibunya kesal, Ray mendongak dan hendak membuka mulutnya, tapi telah didahului oleh ayah dari siswa garang itu. Ayah itu memaksa anaknya untuk meminta maaf pada Ray. Tentu saja karena sang ayah itu tau siapa Melisa sehingga ia memarahi sang putra kesayangan.


“cepat minta maaf!” Sang ayah mendorong anaknya ke depan dengan marah.


“tapi ayah,” siswa itu tidak ingin meminta maaf pada Ray, lagi pula dia marah karena gadis yang disukainya terus menolaknya tapi sangat dekat dengan Ray.


“minta maaf!!!!” ayah dari siswa itu memelototi anaknya dengan garang, bagaimana jika anak bodohnya menyinggung nyonya Cardita.


Melihat ayahnya yang marah, siswa itu tentu saja menuruti ayahnya walau masih terlihat bahwa ia kesal, “aku minta maaf Ray, aku salah, maaf”


Ray mengangguk ringan dan tergagap, “i-iya.”


Guru itu bingung dan panik mendengar perkataan Melisa, ia berpikir bahwa Melisa ingin memindahkan Ray karena ketidakmampuan mereka. “tapi nyonya bukankah masalah ini sudah selesai, siswa itu telah meminta maaf.”


“Saya tahu, walau kejadian ini tidak terjadi saya memang akan memindahkan Ray ke sekolah lain, mohon diurus surat pindahnya.” Melisa melirik guru itu lalu mengajak Ray untuk pulang. Sekolah ini memang telah busuk dari awal, entah apa pikiran Melisa yang asli menyekolahkan Ray disini.


Guru itu menghela nafas lega, pasalnya Melisa adalah salah satu investor yang menyumbang untuk membangun sekolah dan memelihara sekolah ini. dia tidak ingin melisa menarik dukungan keuangannya karena masalah ini.


walau sekolah ini sekolah swasta, ini merupakan sekolah no.3 terbaik setelah sekolah internasional dan sekolah SHS.


sekolah ini merupakan sekolah untuk anak kaya yang tidak mampu masuk ke dua sekolah tadi karena beberapa masalah. Sedangkan mengapa Rai sekolah di sini adalah karena disini lebih bebas. Melisa takut anaknya semakin penakut setelah melihat siswa di sekolah internasional dimana acuh dan saling memusuhi untuk menjadi yang teratas adalah normal.

__ADS_1


Sang guru menghilangkan pikiran nya yang berantakan lalu segera mengurus surat untuk pindah dan menemui kepala sekolah.


Di ruangan kepala sekolah.


seorang pria dengan rambut berwarna putih kini tengah menikmati waktu minum teh nya. dia bersandar pada kursinya, meminum teh sambil melihat tanaman yang hijau dari jendela dibelakang mejanya. aura akademisi yang kuat mengalir di setiap gerakannya.


tok... tok... tok... tok...


sebuah ketukan di pintu menganggu ketenangan pria itu. pria itu segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan membiarkan orang yang mengetuk masuk.


"tuan kepala sekolah, nyonya Melisa memutuskan untuk memindahkan Ray, apakah tidak apa-apa." guru itu menunduk sopan.


"mengapa anda menanyakan ini, bukankah itu bagus." pria itu mengetukkan jari telunjuknya pada meja sebelum tersenyum sambil berkata seperti itu.


"maaf!!!" Guru itu kaget dan berpikir apakah telinganya telah mendengar sesuatu yang salah. Dia tidak pernah berpikir Kepala sekolah akan menanggapi seperti itu.


"mengapa kamu begitu terkejut. Nilai Ray selalu baik dan dia memang tidak seharusnya sekolah disini." pria itu terkekeh melihat reaksi guru itu. kemudian dia mengingat lagi dan berkata dengan marah, "anak itu seharusnya memindahkan Ray sejak lama dari sekolah yang buruk ini."


"Kepala sekolah, bagaimana anda bisa berkata seperti itu." Guru itu berkata dengan tidak berdaya. bukankah kepala sekolah juga bagian dari sekolah ini, bagaimana dia bisa mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya.


"huh, sekolah ini memang busuk. bukankah ini hanya sekolah yang dibangun untuk pamer. Banyak murid bermasalah juga di sekolah ini." Kepala sekolah mendengus jijik. dia tidak merasa ada yang baik tentang sekolah ini.


"ugh.." guru itu tidak bisa menyangkal karena perkataan kepala sekolah memang benar. banyak murid yang buruk dan bahkan melawan guru. terdapat pula guru yang korup dan pilih kasih pada siswa yang memiliki latar belakang yang lebih baik. Meski kepala sekolah telah membersihkan mereka, tapi beberapa masih berani melakukan itu disini.


"Baiklah sebaiknya anda segera keluar. jangan mengganggu istirahat minum teh saya." Kepala sekolah mengibaskan tangannya untuk mengusir guru itu.


Melihat ini sang guru hanya bisa menghela nafas dan pergi keluar dari ruangan.

__ADS_1


Kepala sekolah yang melihat guru itu pergi juga kembali kepada rutinitasnya. dia bersandar ke kursinya sambil menikmati tehnya.


Dalam hati dia berpikir bahwa dia juga tidak mau menjadi kepala sekolah disini. Jika dia tidak dimintai tolong oleh temannya dia tidak akan mau duduk disini. sekarang seharusnya dia pensiun dan menikmati waktu santainya daripada duduk disini untuk mengurus urusan sekolah ini.


__ADS_2