
Vino yang mendapatkan hari cuti Memutuskan untuk menemui Nico. Dia pergi ke kampus Nico dan mencarinya. Setelah berjalan sedikit, dia menemukan Nico yang berjalan juga ke arah gerbang Universitas dengan membawa kotak bekal.
Vino berpikir bahwa Melisa mungkin tidak peduli dengan adiknya dan membuat adiknya untuk membawa makanan dari rumah daripada makan di kantin Universitas.
Berjalan menuju Nico, Vino membuat wajah yang sedikit kasihan dan prihatin, "Nico, Kamu di sini. Aku ingin berbicara denganmu."
Menatap kakaknya yang telah lama tidak dilihatnya dan kotak makan siang untuk Melisa. Nico sedikit ragu, karena dia tidak terlalu berhubungan dengan kakak ini. Juga makanan itu akan dingin jika tidak cepat diantar.
Melihat keterjeratan adik di depannya, Vino berkata, "Itu tidak akan lama."
Mendengar itu Nico mengangguk setuju. Mereka pergi ke Cafe yang dekat dengan universitas dan duduk di tempat yang lumayan sepi.
Meletakkan kotak makan siang di sampingnya, Nico berkata, "Jadi apa yang ingin kamu katakan."
"Ayo, jangan terburu-buru, Makan dan minumlah dulu. Aku telah memesan sesuatu yang kamu sukai." Vino menyerahkan minuman dan kue ke depan Nico.
"Tidak perlu, Aku ingin cepat pergi." Nico mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia sedikit curiga mengapa kakak ini perhatian kepadanya. Vino yang dulu sangat dingin dan acuh.
"Baiklah, sepertinya kamu sibuk dengan lainnya." Vino merasa tertekan dan melanjutkan perkataannya dengan senyuman, "Aku minta maaf karena ayah dan ibu tidak bisa menghentikan kepergian kamu."
Menatap curiga, Nico berkata, "Jadi apa yang kamu maksudkan."
"Bukankah kamu enggan tinggal dengan Nyonya Melisa, Aku akan berusaha untuk membantumu agar bisa menjauh darinya." Vino merasa karena Nico adalah adiknya, dia memang seharusnya menyelamatkan dia.
"Tidak perlu untuk itu, Aku tidak mengalami kesulitan atau apapun." Nico langsung menolak usulan Vino.
__ADS_1
"Mengapa? Apa kamu masih marah kepada kami. Jangan menyiksa dirimu untuk berada di samping wanita itu hanya karena kamu marah pada kami." Vino menatap gelisah pada Adiknya.
Tersenyum marah Nico merasa Vino berkata dengan penghinaan pada Melisa, "Aku tidak membutuhkan kekhawatiran kamu. Aku baik-baik saja dengan semua ini."
"Nico, jangan berkata seperti itu. Aku ingin menolong mu saat ini." Vino sedikit sedih dan kesal karena penolakan berulang.
"Mengapa sekarang kamu merasa seperti orang yang paling baik di dunia. Apa kamu datang karena baru menyadari bahwa aku juga adikmu. Apa semua wajah dingin mu saat melihatku dulu hilang," Nico mencibir dengan sedikit sakit hati mengatakannya, "Kamu bahkan tidak pernah tersenyum padaku atau memperlakukanku adikmu."
Vino yang mendengarkan semua itu merasa kepalanya berdengung. Apa yang dikatakan Nico memang benar. tapi dia terus menyangkal dalam kepalanya dan berkata, "Tapi aku setidaknya akan menolong mu sekarang, jadi pulang saja kan."
Mendengarkan pembenaran diri dari perkataan Vino, Nico berkata, "Aku tidak membutuhkannya. Aku baik-baik saja saat ini dan aku menyukai Melisa. Aku juga sudah dewasa untuk memilih ingin berada dimana aku berada."
Nico berdiri dan membawa kotak bekalnya meninggalkan Cafe. Meninggalkan Vino yang tertegun, Nico merasa jika yang diberikan pilihan adalah dia dulu yang masih mengharapkan sesuatu dari keluarga Helingga, dia akan setuju dengan kebaikan Vino dengan cepat sambil tersenyum.
Namun dia yang sekarang merasa bahwa dirinya yang dulu terlalu naif dan tidak tau apa itu kebaikan sehingga merasa bahwa perlakuan keluarga Helingga bisa dimaklumi begitu saja.
Walau tidak bisa menghilangkan kecemasannya, namun itu sedikit efektif untuk menenangkannya. Suara ramai yang memasuki telinganya membuatnya merasa bahwa itu adalah lagu penenang baginya.
Saat sampai di perusahaan Melisa, meja depan yang mengenalnya mempersilahkannya masuk begitu saja. Nico tersenyum sedikit dan naik menuju ruangan Melisa.
Melihat Melisa yang sibuk bahkan saat makan siang, Nico menenangkan dirinya dan duduk dengan akrab di sofa. Menata makanan dan menunggu Melisa untuk menyelesaikan pekerjaan.
Setelah selesai menatanya, Nico merasa bahwa kecemasannya akan terlihat jadi dia pergi untuk membuat teh hangat untuk dirinya sendiri.
Namun karena lamunan dia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya tersiram air panas. Terkejut, Nico menarik tangannya dan mematikan dispenser air. Menghela nafas, dia merasa bahwa kedatangan Vino tadi banyak mempengaruhinya.
__ADS_1
Tidak lagi berpikir untuk membuat teh, Nico pergi ke ruangan melisa kembali dan melihat Melisa selesai dengan pekerjaan dan berjalan menuju sofa. Refleks, Nico menyembunyikan tangannya yang terlihat terbakar karena air panas.
"Apa yang kamu sembunyikan?"Melisa menatap Nico dengan heran. pasalnya dia melihat sedikit kepanikan pada mata Nico.
"Tidak ada." Nico menggeleng ringan.
Melisa menatap curiga pada Nico dan berkata, "Ayo, tunjukkan saja. Atau kita tidak akan menyelesaikan makan ini segera."
Melisa bisa melihat keterjeratan di mata Nico. Sepertinya dia mengalami sesuatu yang buruk sebelum ke sini. Dilihat dari dia yang tidak membawa teh yang ingin dia buat beberapa saat lalu, sepertinya Melisa bisa menebak mengapa Nico menyembunyikan tangannya.
Nico juga melihat bahwa Melisa telah menebak apa yang terjadi mengulurkan tangannya dan berkata, "Tidak apa-apa, Itu hanya merah dan akan sembuh beberapa saat lagi."
Menghela nafas, Melisa tidak menjawabnya dan membawa kotak obat. Mencari salep untuk luka bakar, dia menatap Nico yang masih berdiri dan memberi isyarat kepada Nico untuk duduk.
Nico mengikuti begitu saja dan membiarkan Melisa mengoleskan salep pada tangannya.
"Jangan meremehkan luka lain kali, Atau kamu bahkan tidak tau jika luka itu sudah membusuk." Melisa berkata sambil juga mengingat Nico memang seperti itu. Dia bahkan tidak tau luka di hatinya karena perlakuan keluarga Helingga padanya dan mengabaikan luka itu. Yang akhirnya membuatnya menjadi seorang yang tidak dapat mempercayai dunia itu sendiri.
"Iya, aku tahu." Nico tersenyum dengan lembut.
"Baiklah, itu sudah selesai. Kita bisa segera makan." Melisa segera mengemasi dan mengembalikan kotak obat ke tempat semula.
Namun Melisa tidak mengatakan dan bertanya tentang ketidak senangannya. Nico yang akan menceritakan sendiri apa yang terjadi jika dia menginginkannya. jika tidak Melisa juga tidak masalah dengan itu selama Nico baik-baik saja.
Nico sendiri juga tau bahwa Melisa tidak akan bertanya jika dia tidak bercerita sendiri. Nico juga tidak ingin menyembunyikan masalahnya dari Melisa.
__ADS_1
Jadi saat mereka makan dengan lambat, Nico bercerita tentang apa yang terjadi padanya sebelum kesini. Melisa mendengarkannya dengan tenang dan menjawab saat Nico bertanya.