Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 26


__ADS_3

Hari ini Nico pergi ke perusahaan Melisa dan membawakan makan siang untuknya. Nico juga telah mengkonfirmasi bahwa Melisa belum makan, jadi dia membawakan makanan masakannya untuk makan siang Melisa.


Nico saat ini sedang menunggu di lobi lantai pertama. Duduk di sofa dan menunggu dengan tenang. Nico diam-diam mengamati interior gedung yang megah. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke kantor Melisa dan sedikit penasaran. Dari yang terlihat, Desain interior perusahaan ini terlihat sangat sederhana namun juga memiliki aura. Staf yang datang dan pergi dengan pakaian formal juga terlihat berbudaya dan rapi.


Hanya saja Nico tidak tau bahwa dia telah diperbincangkan dalam grup kantor. Banyak spekulasi dan beberapa orang sengaja lewat hanya untuk melihatnya. Tapi yang pasti banyak yang bergosip dengan bahagia bahwa bos mereka akhirnya bisa jatuh cinta.


Gadis di meja depan juga melirik Nico dan memperhatikan penampilan bocah itu. Nico saat ini mengenakan jaket olahraga kasual tanpa merek dan celana jeans hitam. Dia terlihat seperti mahasiswa muda yang tidak cocok dengan atmosfir perusahaan. Dengan kotak bekal di tangannya, itu terlihat sangat mencolok.


Gadis di meja depan tau bahwa Nico menunggu sekretaris yang akan menjemputnya naik. Melihat pria yang gugup itu, dia juga diam-diam memposting di grup kantor tentang situasi.


Tak lama kemudian, Sekretaris datang dan mengantarkan Nico ke ruangan Melisa di lantai atas.


Menghadapi pintu di depannya, Nico yang telah menguatkan hatinya menjadi gugup. Membuka pintu, dia bisa melihat Melisa sedang menegur dua karyawan dengan tegas.


Nico tertegun sejenak di pintu. Ini adalah pertama kalinya Nico melihat tampilan kerja Melisa. Penampilannya saat bersamanya terlalu berbeda dengan Melisa saat ini. Di tempat kerja, Melisa terlihat serius dan teliti. Ketika menghadapi bawahan yang salah, dia memasang wajah tanpa senyum. Aura yang dia pancarkan sangat kuat dan bahkan sampai ke titik menakutkan.


Kedua karyawan setengah baya yang terlihat seperti manager itu terus mengangguk dan mendengarkan perkataan Melisa dengan tenang. Mereka tau, setiap yang dikatakan bos mereka berguna. Jadi mereka hanya bisa menahan ketakutan dan tetap disana untuk mendapat teguran.


Melisa mengajukan pertanyaan yang dibalas dengan teliti oleh kedua orang itu. Mendengarnya, Melisa mengerutkan alisnya, tetapi dia tidak ingin mempermalukan keduanya dan melepaskan mereka untuk sementara.


Melihat Nico di depan pintu, Melisa segera memanggil pria itu untuk duduk di sofa. Melisa menegakkan punggungnya dan senyuman perlahan muncul di wajahnya. "Mengapa repot untuk membawa makanan?"


Menenangkan dirinya, Nico kembali tersenyum dan duduk di sofa. Tangannya tidak berhenti untuk menata makanan di atas meja, menunggu melisa mendekat dan makan bersama. "Aku sedang memasak tadi dan melihat kamu belum makan. Jadi, bawa saja untuk makan bersama."


Sekretaris membawa keluar dua karyawan itu dan menutup pintu dengan ringan. Dia keluar cepat untuk segera pergi dari pada menjadi obat nyamuk di sini.


"Hmm..." Melisa tersenyum dan berjalan untuk duduk di samping Nico. Dia tidak pernah tau bahwa Nico bisa memasak. Tapi mengingat semua masa lalunya, dia tau bahwa itu telah menjadi insting.

__ADS_1


Memasak sendiri telah tertanam dalam pikirannya dari dulu, karena Nico tidak akan bisa makan jika tidak memasak sendiri. Di rumah keluarga Helingga maupun di panti asuhan, jika dia tidak makan tepat waktu, dia tidak akan bisa makan.


Menatap tangan Nico yang sibuk, melisa memegangnya dan berkata, "Biarkan saja, aku bisa mengambilnya sendiri. Kamulah yang harus makan segera, jangan menata lauk atau sesuatu."


"Iya." Tersenyum, Nico bisa merasakan kepedulian Melisa untuknya. Dia senang karena itu.


Makan dengan perlahan dan tenang, suasana hangat terasa mengalir di udara. Makanan segera habis dan Melisa juga meletakkan sendok dan kotaknya ke meja. Menunggu Nico untuk menghabiskan makanannya, Melisa akan mencucinya sekalian.


Nico yang mengetahui pikirannya segera mendorong Melisa ke arah meja kerjanya dan berkata, "Aku akan mencucinya sendiri, kamu bisa bekerja dengan tenang dan tidak peduli."


Mendengarkan suara tegasnya, melisa tersenyum dan mengangguk, "Baiklah."


Setelah merapikan kotak bekalnya dan akan keluar menuju tempat cuci, Nico berhenti sebentar dan ragu-ragu untuk berbicara.


Melisa yang melihatnya bertanya, "Apa yang ingin kamu katakan? katakan saja dengan berani, jangan ragu."


Melisa memiringkan kepalanya dengan senyum di sudut bibirnya, "Tentu saja. Aku tidak akan mengusir kamu dengan sengaja."


"Terima kasih," Dengan perkataan ringan itu, Nico meninggalkan ruangan untuk mencuci kotak bekal.


Melisa menggeleng pelan dan meneruskan pekerjaannya dengan tenang.


Tak lama, Dia bisa mendengar pintu di buka dan tutup dengan ringan seolah takut untuk menganggunya. Melirik sebentar, Melisa bisa melihat Nico duduk di sofa dengan terkendali.


Beberapa saat kemudian,dia mendengar suara gemerisik dari gesekan antara baju dan sofa. Mendongak dari pekerjaannya, Melisa melihat Nico telah memejamkan matanya untuk tertidur.


Karena postur tubuhnya yang duduk sebelumnya, kepala dan badannya sekarang sedikit condong dan tidak nyaman. Dia akan menggeliat dan mencari posisi ternyaman. Namun dia tidak bisa menemukannya, dan terus bergerak.

__ADS_1


Melisa melihat itu dan segera berdiri ke arah kamar di samping ruangan kerjanya. Melisa mengambil selimut di almari dan membawanya pada Nico.


Dia merebahkan badan Nico dengan pelan sebelum menyelimuti pria itu. Melihatnya tersenyum nyaman, Melisa segera kembali ke mejanya untuk terus bekerja.


...-----...


Nico yang merasa tidur cukup lama terbangun dan merasa linglung. Merasakan selimut yang hangat di tubuhnya dan lampu ruangan yang sedikit redup, Nico langsung tau bahwa itu adalah perawatan Melisa untuknya yang sedang tidur.


Mendengarkan suara keyboard yang bergema di ruangan dan melihat cahaya yang redup di ruangan itu, Nico merasa tertekan. "Mengapa kamu tidak menyalakan lampu saja. Mata kamu akan sakit jika seperti ini."


Nico berdiri dengan cepat, mencari saklar lampu ruangan itu. Melihat juga langit berbintang yang ada di luar jendela, Nico lebih mengeluh pada dirinya sendiri karena tidur seperti babi. "Ini sudah larut kan, bangunkan saja aku."


"Tidak apa-apa." Menjawab ringan, Melisa melihat Nico mencari saklar dan menunjuk di dinding samping rak buku. "Saklar ada di sana."


Menatap arah yang ditunjuk, Nico segera menyalakan lampu ruangan. Dengan klik ringan, lampu segera menyala seperti siang hari. Nico yang baru bangun menyipitkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya.


Setelah, menyalakannya. Dia duduk kembali dan melihat Melisa yang bekerja. "Ayo, aku akan menunggumu. Aku tidak akan tidur lagi."


Melihat rambut Nico yang berantakan dan Jejak mencurigakan di sudut bibirnya, Melisa segera menginstruksikan, "Tidak apa, Aku akan segera selesai. Kamu bisa mencuci muka dahulu di kamar mandi dengan cepat."


Jadi, Nico yang sadar dengan apa yang dikatakan Melisa segera malu dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia juga merapikan rambutnya dengan cepat.


...----...


Seperti perkataan Melisa, Dia segera menyelesaikan pekerjaan nya dan pulang bersama Nico. Membuat Nico tidak harus menunggu lama dan bosan.


Setelah hari ini pun, Nico bertekad dalam hatinya bahwa dia akan sering mengantarkan makanan ke Melisa.

__ADS_1


__ADS_2