Toko Dimensi

Toko Dimensi
Kertas revisi, Ch 29


__ADS_3

Melisa Dan Nico segera sampai di kantin universitas, mereka mencari tempat duduk yang masih sepi.


Kantin ramai dan dipenuhi siswa yang ingin makan malam, Suasana yang ramai dan tidak sepi juga menggambarkan betapa energik nya para orang muda. Menatap sekitar, Melisa menemukan orang yang familier. Orang yang dilihatnya juga menatap Melisa dan mendekati Melisa untuk menyapa.


Orang itu adalah Mantan suami Melisa dan istrinya. Mereka berjalan kepada Melisa sambil tersenyum. "Kamu juga di sini?"


Mengangguk Melisa menjawab, "Iya, ada sesuatu yang penting."


Nico yang tidak mengenal mereka hanya mendengarkan di samping dan menunduk. Dia tidak terlalu memperhatikannya, karena Melisa tidak mengenalkannya. Sepertinya dia juga tau maksud Melisa bahwa dia hanya ingin berbicara sebentar dengan orang ini sebelum pergi.


"Karena kami ingin mendaftarkan Aditya ke sini, kami ingin berkeliling dan melihat-lihat setelah berbicara dengan dekan." Dira, istri dari mantan suami Melisa berkata sambil tersenyum.


"Ah, jadi Aditya akan berada di universitas ini?" Melisa berkata dengan tenang. walau dia ingin segera mengakhiri percakapan ini dan makan bersama Nico, tapi sifat profesional membuatnya tidak bisa langsung pergi dengan tidak sopan.


"Iya, Dia berkata akan masuk Universitas ini. Yah walau paman Ikhsan tidak terlalu menyukaiku karena peristiwa kita dulu, tapi aku tetap harus mengunjunginya. Aku juga berharap dia akan menjaga Aditya." Davis Mengusap tangan Dira dan tersenyum dengan tenang. Dia berkata seolah dia tidak pernah melakukan semua hal buruk dimasa lalu.


"Ah, Aditya lebih dewasa dari yang terlihat. Tidak akan terjadi masalah apapun." Melisa tau Aditya sebenarnya juga muak dengan suami dan istri yang bermuka dua ini.


Karena sejak kecil Aditya tidak pernah menyukai pamannya ini, dia selalu hanya menyapa Melisa saat mereka datang berkunjung. Walau Davis dan Dira sangat memanjakan Aditya, itu memiliki maksud lain juga. Mereka yang tidak pernah bisa memiliki keturunan hanya bisa bergantung pada putra sepupunya itu saat mereka tua.


Melisa hanya bisa berpikir apa dia harus kagum dengan cinta mereka atau Tidak suka karena kelicikan mereka sehingga mereka menggunakan anak itu.


Untung saja karena kecerdasannya, Aditya telah mengetahui itu sejak lama dan tidak terlalu memikirkannya selama mereka tidak menyentuh peninggalan orang tuanya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi disini. Pantas saja Paman Ikhsan berkata untuk melihat-lihat dengan cepat." Davis berkata untuk mengalihkan topik pembicaraan dan membangunkan Melisa dari pikirannya.


"Iya, memang seperti itu." Melisa menjawab dengan semakin datar.


"Itu, jika kamu ingin makan malam. Bagaimana jika singgah ke rumah kami. Aditya pasti juga merindukanmu." Dira berbicara dengan Melisa dan mengundangnya untuk makan di rumah. Kebetulan sekali mereka membelikan apartemen di sekitar universitas untuk Aditya yang ingin hidup sendiri. Jadi mereka bisa Makan malam disana bersama.


Melisa hanya berpikir sebentar dan menyetujuinya dengan mudah. Dia merasa sudah lama tidak melihat Aditya juga dan tidak menyangka pria kecil itu akan segera masuk universitas.


Memencet bel, David yang didepan menunggu pintu terbuka. Dia melirik beberapa orang di belakangnya dan memberi isyarat untuk menunggu sebentar.


Pintu terbuka dan memperlihatkan pemuda dibelakangnya, Pemuda itu memiliki sedikit ketenangan dan beberapa kekesalan yang terlihat di antara alisnya. Dia memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Nico.


Saat memperhatikan orang yang ada didepan pintu dengan seksama, barulah dia mengenal Melisa dan bergegas untuk memeluknya. "Bibi Melisa, Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu."


Melisa tersenyum dan menepuk ringan punggungnya, "Iya, sudah lama sekali dan kamu menjadi lebih tinggi sekarang."


"Nico, dan ini Aditya. Semoga kalian menjadi teman yang baik." Melisa Memperkenalkan mereka berdua dengan tenang, Dia bahkan tidak tau bagaimana memperkenalkan mereka yang tidak terlihat akur ini.


Dira menepuk tangannya dan berkata, "Oke aku akan pergi memasak dulu. kalian bisa berbicara dengan santai."


"Aku juga akan membantu." Davis berkata seperti itu dan langsung mengikuti istrinya ke dapur untuk membantu.


Berdiri di depan pintu, Aditya mempersilahkan Melisa dan Nico masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Jadi apa kamu akan pidah seterusnya juga?" Melisa menatap Aditya dengan serius, dan berbicara setelah memastikan bahwa orang di dapur tidak akan mendengar percakapan mereka.


Aditya juga tersenyum dan menjawab, "Iya, Saya sedikit risih dengan perhatian berlebihan mereka yang kosong itu."


Melihat Aditya yang bertekad, melisa tidak mengungkapkan pendapat apapun. Lagi pula, Aditya sudah bisa membuat keputusan sendiri tentang apa yang baik untuk dirinya. "Lalu, apa yang kamu lakukan setelahnya?"


Mengerti maksud Melisa, Aditya sedikit melirik pasangan yang pandai berakting itu, "Aku hanya akan mengunjungi mereka saat hari-hari penting saja." Menatap Melisa lagi, dia memberitahu pikirannya, "Bukankah mereka ingin aku mengurus mereka saat tua, Aku akan melakukannya. Selama mereka tidak menyentuh yang bukan hak mereka, aku akan memberikan berapapun yang mereka inginkan selama itu tidak menganggu operasi perusahaan dan meminta sesuatu yang berlebihan."


"Iya, itu juga bagus." Melisa tersenyum pada Aditya, bersyukur kepribadiannya tidak terpelintir atau jatuh untuk memanjakan diri karena kasih sayang berlebihan.


Setelah masakan matang itu segera ditata di meja makan. Karena kursi yang kurang, beberapa kursi cadangan dikeluarkan untuk itu. Makanan itu berlalu dengan tenang dan damai. Jadi Melisa menghela nafas lega untuk tidak lagi harus melihat drama.


Berpamitan pergi, Aditya mengantarkan Melisa keluar. Setelah melihat punggung Melisa yang menuju lift, Aditya berbalik dan masuk kembali ke apartemen.


Masuk kedalam lift, Melisa pergi dengan tenang diikuti oleh Nico. Menekan nomor untuk turun, Melisa kemudian segera mundur dan menunggu pintu tertutup. Baru pada saat itulah, dia merasakan bahwa Nico sedikit tidak nyaman.


"Mengapa?" Melisa berpikir mungkin Nico merasa tidak nyaman karena dia tidak terlalu dianggap oleh mereka tadi. Karena setelah memperkenalkan tadi, Nico kebanyakan diam dan tidak terlalu berbicara. Apa dia merasa dikucilkan atau sesuatu.


Melihat kekhawatirannya Nico menggelengkan kepala ringan dan tersenyum. Nico tidak terlalu memperhatikan pengabaian tadi, Namun dia sepertinya merasa cemburu saat Melisa dekat dengan Aditya tadi. Lagi pula itu adalah pelukan yang tidak dia dapatkan.


Saat ini, beberapa orang telah memasuki lift jadi mereka berdua tidak melanjutkan percakapan itu. Namun karena Melisa melihat Nico yang melankolis tiba-tiba, dia tetap memperhatikan pria itu dengan seksama.


Setelah mengingat potongan kejadian beberapa saat lalu dan mengamati Nico, Melisa kemudian sadar bahwa Nico cemburu saat ini. Dia sepertinya masih mempermasalahkan pelukan tadi.

__ADS_1


Karena lift yang ramai dengan orang, Melisa hanya bisa tersenyum dan menggenggam tangan Nico dengan erat untuk menenangkannya.


Nico yang merasakan genggaman di tangannya segera menoleh pada Melisa yang menatapnya, melihat senyuman di bibir Melisa, Nico juga segera tersenyum dan menenangkan hatinya. Sepertinya kecemburuan itu segera hilang karena kepastian dari Melisa.


__ADS_2